
Helloo!! Apa kabar semua nyaa ππ»ππ»
Gimana udah siappp?? ππ
Oke let's goo!!
...ππ»ππ»ππ»...
"AAAA!!" Vanca menutupi wajah nya dengan kedua lengan nya saat melihat mobil itu semakin mendekat.
Ckitttt!
Srett
Bugh
Vanca tak merasakan apapun. Saat membuka mata nya ia melihat Regaf berada di bawah nya, menahan tubuh nya seraya memegangi kepala dan punggung nya.
Vanca melihat Regaf dibawah nya sontak bangun. Terkejut dengan kejadian barusan. "Regaf! Kamu gakpapa?!"
"Kalau mau mati bilang dulu, biar gue bantu tabrak!" Ketus Regaf dan berlalu dari hadapan Vanca. Gadis itu pun berdiam diri. Jalanan ini sepi, jika Regaf tadi tidak menolong nya, mungkin saja diri nya sudah berada di rumah sakit sekarang.
***
Malam nya, Vanca berada di kamar. Hanya sendiri, Regaf sedang berada di halaman belakang. Gadis itu tak tahu Regaf melakukan apa di sana, tapi yang ia yakini bahwa Regaf sedang mencari angin segar. Memang setelah makan malam tadi, Regaf tidak berkata apapun, dan langsung pergi begitu saja ke halaman belakang.
Jadi Vanca dikamar sendiri, ia tak melakukan apapun. Hanya duduk merenung di kamar. Ia melihat buku buku di meja belajar nya, tangan nya terulur untuk mengambil buku bermotif kelinci. Itu buku diary nya.
Ia membuka lembar demi lembar kertas kuning itu secara berkala. Lalu mata nya terperangah pada sebuah kalimat singkat di halaman buku nya.
Kamu orang yang aku yakini akan selalu berada di hati ku.
Tidak. Itu bukan tulisan Vanca. Seperti tidak asing, lalu tiba tiba Vanca teringat seseorang. Lalu ia beranjak dari ranjang nya dan mengambil buku tulis milik suami nya itu. Saat ia membuka buku tersebut, mata nya membola sempurna. Tulisan ini jelas sangat mirip.
Jadi.. ini yang menulis Regaf..? Kapan Regaf menulis nya? Kenapa ia tidak pernah tau?
"Kamu itu selalu bikin aku jatuh sama kamu Gaf.." Gumam Vanca pelan dengan senyum yang terbit di bibir nya. Namun tiba tiba ia merasa ada yang meilit di perut nya. Rasa nya seperti di tusuk jarum. Sangat sakit.
"Aws!" Ringis Vanca sembari memegangi perutnya. Buku yang Vanca pegang jatuh begitu saja. Kaki nya seketika lemas membuat nya tak mampu berdiri. Vanca sedikit merunduk dengan tumpuan pada meja dan satu tangan nya lagi memegang perutnya yang amat sakit.
Vanca langsung teringat satu hal, mata nya lantas melihat kalender yang berada di atas meja. Tepat tanggal hari ia datang tamu bulanan. Pantas saja rasa nya sakit. Vanca pun mencoba untuk berjalan menuju kamar mandi.
Sial! Kenapa perut ini rasa nya sakit sekali? Vanca menjadi merutuki diri sendiri sebab melupakan tanggal merah nya. Tiba tiba bunyi pintu terbuka merubah atensi mata nya. Ia melihat Regaf yang baru saja masuk. Vanca pun mencoba untuk bersikap biasa saja, menahan sakit nya.
"Regaf, dari mana?" Tanya Vanca hanya sekedar basa-basi. Regaf melihat gerak gerik Vanca yang berbeda itu pun menimbulkan pertanyaan di otak nya.
"Belakang."
"O-ohh.." Vanca tak tau lagi harus bagaimana bersikap pada Regaf. Ia merasa lebih canggung. Namun saat ini perut nya sangat sulit dikondisikan, rasa sakit nya amat sakit. Jika Vanca tidak pandai menahan sakit nya, mungkin ia sudah menangis sekarang.
Regaf yang melihat Vanca diam sembari memegangi perutnya itu pun bertanya tanya. "Lo kenapa?" Akhir nya Regaf membuka suara.
"Ehmm.. aku.. aws!" Vanca sudah tidak tahan. Perut nya benar benar seperti ditusuk-tusuk jarum yang amat banyak. Ringisan spontan itu keluar begitu saja membuat Vanca mengatupkan bibirnya rapat rapat.
Regaf tak berkata-kata lagi. Dengan sigap Regaf menggendong Vanca ala bridal style, dan tangan Vanca spontan melingkar di leher lelaki itu. Regaf berjalan menuju kamar mandi dan mendudukkan di closed duduk. Ia memperhatikan Vanca lamat yang terus mengiris sembari memegangi perut bawah nya.
"Butuh sesuatu?" Tanya Regaf yang tidak tau kenapa ia bertanya seperti itu. Kata kata itu seperti keluar dengan sendirinya.
"Aku.. boleh minta tolong buat.." Vanca menjeda kalimatnya, ia bingung bagaimana akan mengatakan nya. Ia sedikit ragu untuk mengatakan ini, tapi ia sangat butuh.
Regaf menaikkan alis nya menunggu Vanca kembali bicara.
"Ambilin.. pembalut.." Vanca menundukkan kepala nya, ia tak berani menatap wajah suami nya itu. Ia terlalu malu.
"Dimana?" Seakan tak masalah, Regaf berkata demikian membuat Vanca kembali menatap Regaf. "Gapapa?" Tanya Vanca memastikan.
"Gue gamau ngulang pertanyaan gue." Cetus Regaf.
"Di lemari baju aku Gaf, di laci." Ucap Vanca pelan. Tanpa berkata-kata lagi, Regaf langsung pergi keluar dari kamar mandi. Lalu beberapa saat setelah itu, Regaf kembali dengan membawa pembalut yang masih tersegel. Regaf melempar benda keramat itu kepada Vanca, dan dengan sigap gadis itu menangkap nya. Dan Regaf pergi tanpa berkata apapun lagi.
Selalu begitu.
***
"Enak banget, bentar lagi lulus!" Kata Geo pada Andra dan teman teman nya yang lain. Mereka tengah berkumpul di cafe, karena berhubungan mereka sudah lama tidak kumpul.
"Bentar lagi bakal pake almamater universitas." Geo tersenyum membayangkan nya. "Goodbye tugas SMA welcome tugas kuliah!"
"Emang lo yakin kalo lo bakal lulus?" Tawa meledek itu terdengar dari bibir Yogi. Memang ngajak ribut.
Lantas Geo menoyor kepala Yogi kencang. "Yakin lah! Gini-gini juga, gue pinter kali!" Cetus Geo memandang Yogi kesal.
"Iya, dari belakang." Tambah Andra. Jarang bicara, sekali nya ngomong, nyelekit.
"Lo ngehina gue banget Dra! Gue sebagai sahabat lo, ngerasa kecewa Dra!" Kata Geo dengan mimik wajah yang dibuat buatnya.
"Najis!" Sontak hal itu membuat lainnya tertawa.
"Tapi.. ada yang kurang. Lulusan tahun ini kayak nya bakal jauh dari bayang bayang gue." Geo mengubah mimik wajah nya yang semula dramatis menjadi lebih serius.
"Regaf?" Tebak Raka. Teman sebangku Yogi. Geo mengangguk membenarkan ucapan Raka barusan. Memang, mereka sudah mengetahui tentang Regaf, Geo dan Andra lah yang bercerita pada mereka, hanya mereka. Untuk warga sekolah lainnya, masih belum ada yang tau.
"Gue cuma pengen dia pulih waktu kelulusan nanti. Gue pengen dia inget gue sebagai sahabat nya." Geo berkata dengan mata yang memanas.
"Semoga aja." Sahut Yogi.
"Kenapa jadi mewek gini? Udahlah, gue yakin lambat laun Regaf pulih." Kata Raka menambah. Ia menyeruput minumannya, lalu memandang teman teman nya itu bergantian.
"Denger denger, prom night mau diadain minggu depan. Gue dapet info dari grup kelas." Sambung Raka membaca pesan dari ponsel nya.
"Ga sabar gue, ini yang gue tungguin." Ucap Yogi semangat empat lima. "Lo mah nungguin makannya!" Cibir Raka.
__ADS_1
"Sok tau lo tutup deterjen! Gue nungguin bintang tamu nya lah, lo, kan, tau band yang bakal ikut serta di acara nanti?"
"Pamungkas sama Hivi woi! Ya gak sabar lah gue!" ucap Yogi sangat antusias. Yogi dan Raka memang sangat antusias membahas nya, tapi tidak dengan kedua pria didepan nya kini. Mereka hanya bisa memprediksi kan bagaimana acara nanti jika tidak ada Regaf.
Raka yang mengerti akan tatapan wajah mereka pun menepuk pundak Yogi lalu menunjuk mereka dengan dagu nya. Terlihat sangat tidak bersemangat.
"Dra, Ge. Gue ngerti gimana perasaan lo pada, dilupain sama sahabat lama yang udah selalu bareng itu memang ga enak. Tapi gue yakin, Regaf pasti bakal balik lagi kaya semula," kata Yogi dengan bijak nya.
Raka mengangguk setuju. "Bener. Regaf kan gak amnesia selamanya. Masih ada harapan kan?"
***
"Regaf!" panggil Vanca pada Regaf saat sudah selesai dengan aktivitas nya di kamar mandi. Regaf menoleh menunggu ucapan Vanca selanjutnya.
"Kamu udah tau belom acara prom night di sekolah? Perayaan kelulusan kamu kan?"
"Trus?"
"Cuma mau kasih tau aja, acara nya minggu depan. Jangan lupa dateng ya!"
"Hm."
Lalu setelah nya mereka berdua terdiam. Regaf sibuk dengan ponsel nya, menjelajahi isi ponsel yang di berikan oleh Vanca, saat itu Vanca menyimpan nya.
Regaf tengah melihat isi album foto di ponsel nya, tak ada yang menarik memang, namun tiba-tiba jari nya berhenti meng-scroll saat mata nya menemukan beberapa foto yang menyita perhatian nya.
Foto itu adalah foto diri nya dan Vanca yang diambil saat foto prewedding dan foto pelaminan. Di foto itu mereka sangat dekat. Tapi tidak terlalu dekat.
Regaf tidak tau, kapan foto ini diambil. Jemari nya kembali melihat lihat foto-foto itu, tapi semakin ia lihat semakin ia merasa ada yang menganjal di hati nya.
Regaf tidak ingin melihat itu lagi. Ia meletakkan ponsel nya dengan kasar hingga menimbulkan suara yang cukup keras. Itu mengalihkan perhatian Vanca yang sedang sibuk dengan bukunya.
"Kamu kenapa Gaf?" tanya Vanca melihat Regaf yang sangat gusar.
"Gak," jawaban kelewat cuek itu dilontarkan Regaf untuk Vanca.
Regaf terdiam. Vanca terus memperhatikan Regaf, saat ini yang ada dipikiran Regaf hanya Vanca. Ingin rasa nya ia bertanya untuk mendapatkan penjelasan lebih. Tapi rasa nya mulut nya terkunci rapat.
"Yaudah, aku tidur duluan ya. Kamu jangan tidur malam malam." Setelah mengatakan itu, Vanca menaruh buku nya ditempat semula. Lalu memposisikan diri nya untuk tidur.
Regaf mengamati wajah Vanca yang sedang tertidur. Ingin rasa nya ia bertanya pada gadis itu, mengeluarkan semua pertanyaan yang bersarang di kepala nya. Apa yang telah terjadi pada nya?
Regaf tak memusingkan itu. Ia berjalan mendekati Vanca, lalu mengambil bantal disana. Lelaki itu memilih tidur di sofa yang berada di kamar mereka. Setelah merasa cukup nyaman, Regaf pun memejamkan matanya.
***
Sudah terhitung sejak mereka libur, saat ini mereka kembali masuk tapi tidak belajar karena mereka mendapatkan classmeet. Maka para murid SMA Merpati mendapatkan jamkos, namun ada sebagian murid yang menjalankan latihan untuk acara promnight kelak yang akan diadakan tiga hari lagi.
Sudah terhitung dari Regaf siuman, dua minggu mereka berlibur. Dan dua minggu itu pula tidak ada perubahan signifikan dari Regaf. Sama saja, Regaf yang berubah pada Vanca.
"Enak nya ngapain ya? Bosen gue lama lama!" keluh Geo menyadarkan punggung nya pada dinding dari tempat ia duduk.
"Gak boleh gitu lo Hen! Lo gak liat di absen? Lo udah banyak banget gak masuk, gue gak yakin lo bakal lulus kalo gini," ucap Geo dengan kurang ajarnya.
Hendro tidak terima dengan perkataan yang dilontarkan Geo barusan, ia pun menjitak kepala belakang Geo cukup keras hingga menimbulkan bunyi.
"ADAWW!! SAKIT NYET!" teriak Geo kesakitan memegangi kepala belakangnya.
"Ya lagian lo! Apaan maksud lo ngomong gitu? Nyumpahin gue gak lulus lo hah?!" Hendro memasang wajah kesal nya terhadap Geo.
Geo terkekeh sebentar, "gak gitu Hen, gue tadi cuma mikir aja, lo lulus apa nggak. Kan absen lo banyak yang merah tuh."
"Gue tau absen juga banyak merah, gausah diperjelas. Lagian nih, mana mungkin tu guru mau ninggalin murid nya yang mau lulus? Ya walau emang gak lulus tapi pasti di lulusin. Mereka cape ngajar ulang plus tanggung kalo cuma satu murid."
"Yang penting nilai lo aman." Cetus Andra membuat kedua nya bungkam.
"Kalau pun nilai ujian gue gak tuntas, masi ada nilai harian gue, aman lah gue. Gak dapet rangking gakpapa yang penting lulus." Ujar Hendro dengan santai nya.
Jansen yang sedari tadi sibuk dengan game di layar ponsel nya menutup aplikasi game itu lalu menatap ketiga nya secara bergilir. "Mana tega guru nahan muridnya yang mau lulus? Apa lagi cuma satu, kalau SMP mungkin iya, tapi ini SMA." Jansen mungkin bermain game, tapi ia mendengar semua percakapan mereka.
Hendro lantas menjentikkan jarinya dan berseru, "bener tuh!"
"Ck. Gue seneng sih, mau lulus. Tapi ntar gue pasti bakal kangen sama masa abu abu gue," kata Geo sembari menerawang jauh kedepan. Lantas lainnya turut memikirkan kedepannya bagaimana.
"Terutama.." Geo menggantung kalimat nya mendengar derap langkah kaki menginjak lantai kelas XII IPA 3. Seluruh antesi kelas tertuju pada cowok yang tengah berdiri di ambang pintu.
"Woi Gaf! Itu lo? Kemana aja lo lama gak keliatan?" Hendro berteriak kencang membuat seisi kelas menatap nya. Regaf pun turut memandang Hendro yang bersama dengan Geo, Andra juga Jansen.
"Regaf Argantara akhirnya lo masuk lagi! Apa kabar lo?" tanya Jansen pada Regaf.
Regaf menunduk, melihat name tag di baju nya. Regaf Argantara A.
Satu kelas menatap Regaf. "Lo lama gak keliatan Gaf, kemana aja? Ujian kemarin juga lo gak dateng? Sini lah gabung!" Seru Hendro lalu terkekeh.
Sebuah gumpalan kertas terlempar kearah Hendro. Geo mengode lewat lirikan matanya, pertanda menyuruh cowok itu diam. Geo dan Andra ataupun teman teman Vanca yang dirumah sakit, memang belum memberi tahu soal keadaan Regaf amnesia.
"Lo kenapa sih Ge? Sahabat lo nih, harus nya lo sambut dia dong! Ya nggak Gaf?" kata Hendro.
Regaf tak merespon, ia menatap siswa siswi kelas ini dengan raut wajah tak diartikan.
Geo dan Andra hanya diam membisu melihat Regaf yang seperti memandang heran kearah mereka. Dan seisi kelas yang juga turut heran. Geo dan Anda hanya bisa diam melihat ekspresi wajah Regaf. Kedua nya sama-sama memalingkan wajahnya, tak ingin menatap Regaf.
Regaf menatap siswa siswi kelas 12 IPA 3 tanpa minat terutama ke arah Hendro yang paling antusias sendiri. "Sorry nama lo siapa?" perkataan yang dilontarkan oleh Regaf tentu membuat mereka semua tertegun.
Jansen menatap heran wajah Regaf. "Gaf? Gak lucu lo ah! Gak cocok lo kalau mau ngelawak disini!" Jansen tertawa setelah nya.
"Gue gak kenal lo siapa." ucap Regaf Telak. Sangat telak membuat seisi kelas kembali tertegun untuk kedua kalinya.
Hendro memandang Regaf dengan lamat. "Gaf lo... gak mungkin kalau lo..."
"Iya." Andra spontan menyahuti ucapan Hendro. Lantas semua atensi kelas tertuju pada nya. Menunggu lanjutan ucapan dari nya.
__ADS_1
"Dia lagi gak baik baik aja. Dia memang Regaf, tapi bukan Regaf yang kita kenal dulu. Sosok dia yang dulu udah gak ada." Ujar Andra menatap lurus ke depan. Andra mengeratkan kepalan tangannya yang ada di atas paha nya saat berkata demikian.
"Raga dia lagi sakit." Sambung Andra dengan suara yang kecil tapi masih dapat didengar. Hal yang baru dilontarkan Andra pun membuat seisi kelas ricuh tidak karuan. Ada yang tidak percaya, ada yang menutup mulutnya kaget, ada yang bergosip, ada pula yang membicarakan tentang hal ini dengan sangat histeris.
Sebagian dari mereka tidak percaya, tapi melihat tingkah Regaf yang sangat murni tanpa rekayasa membuat mereka berfikir dua kali. Lalu apa alasan Regaf bisa seperti ini? Itu yang ada di dalam kepala mereka saat ini.
***
Berita mengenai Regaf yang hilang ingatan itu langsung menyebar luas seantero SMA Merpati. Bahkan sampai ke dalam kalangan para guru. Belum lama Andra memberi tahu pada teman sekelas nya tadi, berita ini sudah langsung menyebar begitu saja melewati sosmed akun lambe turah SMA Merpati.
Banyak gosip tentang Regaf. Banyak juga pertanyaan bagi mereka tentang Regaf. Berita yang disampaikan melalui akun lambe turah SMA Merpati itu pun masuk kedalam trending topic no satu yang hangat dibicarakan satu sekolah. Dari kalangan senior hingga junior.
Banyak yang tidak percaya pada apa yang terjadi pada Regaf. Tapi itu lah fakta yang mereka dapatkan. Hingga berita itu masuk pada Vanca. Gadis itu yang membaca komentar-komentar yang dominan berisi komentar perempuan.
'What?! Regaf amnesia?'
'Loh!?! Anjir gue ga percaya'
'Ini seriusan? Pantesan tadi gue liat gaya Regaf aneh bgt'
'Gila gila! Trend topic nih'
'Sumpah?! Regaf kenapa woiii!!'
'Anjir anjir?! Pacar gue hilang ingatan?! Omo jinjja?!'
'Regaf amnesia karena apa ya?'
'Gue jadi kepo Regaf amnesia karena apa'
Kurang lebih begitulah kementar para gadis membuat Vanca muak melihat nya. Vanca yang sehabis dari toilet itu kembali menuju kelas nya dengan tangan yang masih memegangi ponsel.
Tanpa sadar ia menabrak seseorang.
"Aww!" Bahu Vanca terdorong karna tubuh nya lebih kecil. Vanca terjatuh dengan posisi terduduk. Vanca mendongak melihat siapa yang barusan ia tabrak.
"Vanca? Sorry gue gak liat ada lo." Kenzie membantu Vanca untuk berdiri.
"Eh, gapapa Ken. Gue juga yang gak liat jalan tadi." Ringis Vanca malu.
"Sorry Van sekali lagi, sebagai permintaan maaf gue, gimana kita ke kantin? Gue traktir deh."
"Gak deh Ken, makasih. Gue juga gak laper."
"Gitu ya Van, yaudah deh. Tapi Van gue mau tanya deh. Regaf beneran.."
Vanca menggangguk.
"Lo gimana Van? Lo pacar nya kan?"
"Ya.. gak gimana-gimana. Campur aduk lah rasa nya." Vanca tersenyum kecut.
"Van." panggil Kenzie yang membuat Vanca menatap netra hitam itu.
"Gue boleh jujur gak sama lo?"
Vanca menggangguk walau rasa nya ragu.
"Gue.." Kenzie menjeda kalimat nya untuk menghirup udara lalu kembali menatap gadis didepan nya. "Gue suka sama lo Van."
Deg.
"A-apa?" Vanca tak mengerti, otak nya tiba tiba blank.
"Gue suka sama lo Vanca. Gue gatau kapan rasa ini muncul tapi gue serius. Gue suka sama lo."
Pengungkapan Kenzie barusan membuat otak nya bekerja dua kali lipat. Kenzie menyukai nya?
"Tapi Ken sorry gue.."
"Iya Van gue ngerti. Lo udah punya Regaf kan? Padahal Regaf mungkin lupa sama lo."
"Gue.."
"Gue cuma mau bilang itu aja. Lo gak perlu pikirin kata gue tadi. Gue lega aja udah bilang itu ke lo. Lo gak usah canggung ya sama gue, anggap aja gak terjadi apa apa barusan, apa lagi kalau lo sampe jauhin gue." Kenzie menjeda kalimat nya sejenak.
"Gue bisa jadi temen lo, kalau lo butuh apapun, atau lo butuh temen curhat buat kasih solusi, lo bisa hubungin gue." Kenzie menyentuh kepala Vanca lalu mengusap nya sejenak.
"Gue duluan." Kenzie menghilang dari pandangan Vanca.
Vanca masih setia berdiam seperti patung. Namun entah kenapa mata nya membawa nya melirik ke kiri. Dan betapa terkejutnya ia melihat Regaf yang juga turut menatap nya. Namun tanpa ia duga Regaf pergi begitu saja.
Apa Regaf mendengar pembicaraan mereka?
****
To back to continue.
Kenzie sadboy nihh πππ
Hahhaha. Gapapa, manusia diciptakan berpasangan jadi author juga udh siapin pasng buat Kenzie kokkk.
Gmn sama part inii?!?
Mau liat antusias kalian dongg dengan komen kaliannn.
Jangan lupa like, aku gak bosen buat ingetin like, vote and hadiah. π«Άπ»π«Άπ»
Oke segitu dulu papay ππ»ππ»ππ»
__ADS_1