
Pukul 01.33 Vanca belum juga dapat tertidur. Disebelah nya, Regaf sudah tertidur pulas. Vanca memandang langit-langit kamar nya yang gelap gulita.
Hanya suara jarum jam yang mengisi kesunyian malam. Vanca sudah berusaha untuk tidur dan menutup mata nya, tapi tetap tidak bisa terlelap.
Vanca bangun dari posisi tidur nya, lalu mata nya melirik pad a balkon. Kaki Vanca tergerak menuju balkon kamar. Gadis itu membuka pintu geser, dan berdiri dibelakang pagar balkon. Ia memandang kota Jakarta malam dari atas, indah.
Tiba-tiba Vanca teringat akan ucapan Regaf beberapa jam lalu.
"Van, kalau nanti semisalnya aku pergi jauh dari kamu, gimana?"
"Kalau aku pergi sekalipun, aku pasti bakal balik lagi Vanca."
Pikiran Vanca mengelana buana. "Kamu mau kemana sih Gaf emangnya?"
"Pergi? Jauh?" Vanca terkekeh kecil. Ia mengeratkan pegangannya pada pagar balkon. Gadis itu menutup matanya menikmati angin yang berhembus menusuk pori-pori kulit nya.
Ia jadi mengingat disaat Regaf lupa dengan ingatannya. Dimana ia merasa ingin menyudahi semuanya. Namun Regaf diberi kembali ingatannya, dan saat itu pula Vanca merasakan kesenangan yang sangat dalam. Dan sekarang, Regaf berkata akan pergi? Lelucon semesta macam apa ini?
"EOH!" Vanca terlonjak kaget saat Regaf tiba-tiba memeluknya dari belakang.
"Regaf?"
"Kamu—"
"Kenapa gak tidur?" Regaf memotong ucapan Vanca dengan suara beratnya.
Vanca menggeleng lalu tersenyum. "Nggak bisa tidur," jawabnya.
"Kamu sendiri kenapa bisa disini?"
"Kebangun." Regaf melepaskan pelukannya, lalu membalikkan tubuh Vanca agar menghadap padanya. "Kenapa? Apa yang kamu pikirin?" Regaf dapat menebak dengan melihat raut wajah Vanca.
Vanca menggeleng pelan. "Nggak papa, cuma gak bisa tidur. Aku cari angin, siapa tau habis ini bisa tidur," jawab Vanca.
Regaf memandang Vanca dalam, mencari kebohongan dimata Vanca, namun ia tak menemukan nya. "Yaudah, ayo masuk, disini dingin," Vanca menahan tangan Regaf saat cowok itu akan masuk.
"Kenapa?"
"Kamu mau janji sama aku?"
"Janji?" beo Regaf tak mengerti. Vanca mengangguk, "mau?"
"Janji apa?"
"Janji jangan tinggalin aku apapun keadaannya," ucap Vanca yang membuat Regaf tau kemana arah bicara gadis ini.
Regaf tersenyum simpul. Ia memegang kedua lengan Vanca. "Denger, aku gak mau janji, tapi aku bakal usahain," jawab Regaf terdengar ragu.
Vanca diam, tidak menjawab.
"Kamu denger aku kan? Aku juga gak mau pergi jauh dari kamu, jadi kemana pun aku, kembali nya pasti ke kamu."
"Karena kamu itu rumah aku untuk pulang," lanjut Regaf.
Vanca mengangguk sebagai respon perkataan Regaf.
Cowok itu tersenyum kecil. Dibawanya Vanca kedalam dekapannya. Vanca memeluk Regat erat seakan tidak ingin lepas. Regaf mengusap punggung gadis nya, dengan sesekali ia mengecup pucuk kepala Vanca.
Setelah cukup lama diposisi yang sama, kedua nya melepaskan pelukan mereka. Regaf memandang Vanca dengan tatapan dalam.
Entah keberanian dari mana Vanca kembali memangut bibir merah suaminya itu yang bahkan belum menyelesaikan perkataannya. Vanca ******* bibir Regaf, membuat cowok itu menyelami perempuan lebih dalam.
Kala itu tak terdengar apapun selain bunyi jarum jam dan dan hembusan angin. Hawa dingin membuat Regaf merengkuh Vanca lebih erat dan kembali memangut bibirnya lebih dalam, seakan mereka sama-sama terjatuh kedalam telaga asmara.
Dengan suara beratnya, Regaf bertanya. "Boleh, ya?" menatap Vanca dengan mata sayu.
Ketika Vanca mengangguk, itu sudah mengartikan bahwa malam ini akan menjadi malam yang panjang bagi keduanya. Dan malam ini Vanca menyerahkan mahkotanya pada suaminya yang sudah ia jaga dengan baik.
***
Suara ketukan pintu kamar membuat Vanca yang baru tidur satu jam kembali membuka matanya. Ia beralih memandang Regaf disampingnya dengan tangan di perut nya. Lelaki itu tidur dengan pulas.
Mereka hanya terbalut selimut, tanpa busana. Vanca memandang Regaf yang masih saja tampan saat tertidur, ia memindahkan tangan Regaf dari perutnya. Mencoba bangun walau rasa sakit di bagian ************ sangat hebat. Ingin berjalan saja susah rasanya.
Perlahan Vanca berjalan dengan menyangga dinding, sebelum membuka pintu ia menggunakan bathrome ditubuhnya.
Saat membuka pintu, ternyata Gisel sudah berdiri di depan pintu nya.
"Muka lo kusut amat, kaya gak tidur?" tebak Gisel memandangi wajah Vanca.
Bukan gak tidur, baru tidur! Batin Vanca berucap.
"Gue belum cuci muka Sel," kata Vanca pada Gisel. Namun Gisel tak mudah percaya, ia memandang wajah Vanca dengan tatapan intimidasi.
Pandangan Gisel turun pada leher Vanca, gadis itu tersenyum geli saat melihat jejak di leher Vanca. Seperti nya Vanca sendiri tidak menyadari keberadaan tanda itu.
"Minimal tutup lah bekas nya," kata Gisel dengan senyum geli nya. Vanca yang tak mengerti pun tidak menjawab.
"Maksud lo?"
Gisel menunjuk leher Vanca dengan dagu nya, sontak Vanca mengikuti arah pandang Gisel. Betapa terkejutnya melihat leher nya penuh dengan bekas merah kebiruan. Tidak satu, banyak!
Gisel tertawa aneh, ia bingung kenapa Vanca tidak menyadari? "Habis ngapain?" Tanya Gisel semakin kesini. Itu membuat Vanca jengkel.
"Sstttt!" Vanca membungkam mulut Gisel dengan tangan nya. "Lo gak denger apa-apa kan semalem?!" kata Vanca yang sedikit malu.
Denger apa? Orang gue gak denger apa-apa.
Gisel tak mendengar apapun sebenarnya, ia hanya iseng berkata demikian. Kamar Regaf saja kedap suara.
Gisel mengeleng dengen polosnya. Vanca menghela nafas lega. Lalu ia menarik tangan nya yang masih membungkam mulut Gisel.
"Cukup tau," kata Gisel semakin senang menjahili ipar sepupu nya itu.
"Kak!"
Gisel tertawa renyah. "Iya-iya ah. Cepat lo turun, sarapan diajak tante."
"Gue ntaran aja deh sama Regaf. Duluan aja, bilangin sama mami papi."
"Iya deh yang habis—"
Vanca kembali menutup mulut Gisel. "Kak Gisel!"
Gisel yang tak kuasa menahan tawa nya lantas tertawa terbahak-bahak. Vanca menarik kembali tangan nya, ia menatap kesal ke arah Gisel.
__ADS_1
"Yaudah, puas-puasin, byee!!" Gisel pergi sebelum mendapat amukan dari Vanca.
"Gue malu banget," gumam Vanca kecil. Ia kembali masuk dan menuju kamar mandi dengan tertatih. Vanca memandang dirinya dari pantulan cermin. Banyak sekali bekas yang ditinggalkan Regaf disana.
"Kaya habis diperkosa gini," gumam Vanca mengusap leher nya. Vanca menatap ngeri pada diri sendiri, ia membayangkan betapa ganas nya Regaf.
Vanca memukul kepala nya mencoba menghilangkan ingatan itu. Ia tak ambil pusing, ia ingin segera mandi.
Cukup lama Vanca berendam, hingga selesai Vanca keluar dengan batrome, ia melihat Regaf yang masih pulas dalam tidurnya. Bahkan cahaya matahari yang masuk dari fentilasi jendela tak membuat nya terbangun.
Vanca berjalan mendekati Regaf. Ia duduk di pinggiran kasur. Tangan nya mengusap rambut tebal Regaf dan itu pun tidak mengganggu Regaf sama sekali.
Vanca memperhatikan Regaf dalam. Memandang lekuk pahatan wajah yang nyaris sempurna dimata Vanca. Siapa yang tidak menyukai lelaki ini?
"Pagi."
Vanca tersadar dari lamunannya, ia melihat Regaf yang sudah membuka matanya.
"Udah puas liatinnya?" kata Regaf dengan suara seraknya.
"A-apaan? Siapa juga yang liatin!" elak Vanca.
Regaf tersenyum, ia bangun dari posisi tidurnya. Cowok itu memandang Vanca yang masih dengan rambut basah nya. Pandangan nya turun pada leher Vanca yang banyak jejak karena ulahnya. Ia tersenyum melihat itu, menurut nya itu bagus.
"Banyak banget bekas nya," gumam Regaf yang didengar oleh Vanca. "Ulah kamu! Gak nanggung banget!"
"Ini gimana aku nutupin nya coba," kata Vanca memandang cermin.
"Ada foundation? " tanya Regaf.
Vanca mengangguk. "Pake itu aja, ketutup pasti," kata Regaf ada benarnya.
"Bisa jalan?" tanya Regaf saat Vanca berdiri hendak mengambil benda yang dikatakan Regaf tadi di lemari nya. Vanca tersenyum masam. "Kamu pikir aku lumpuh?!" kata Vanca sewot.
"Gak gitu sayang—"
"Apa?!"
Regaf menghela nafas pelan. "Kemarin kan—"
"Stop! Gausah dibahas! Jangan diungkit-ungkit lagi, aku gamau nginget itu!"
Regaf tersenyum jahil. "Kenapa? Kan—"
"REGAF!"
Regaf tergelak melihat rona merah di pipi Vanca. Sangat kentara di kulit nya yang putih. Vanca memandang Regaf dengan decakan kagum, saat tertawa ketampanan Regaf berkali-kali lipat lebih tampan.
"Udah kamu mandi sana!"
Regaf beranjak dari ranjang, namun hal itu membuat Vanca membalikkan badannya cepat. Regaf sialan!
"Kenapa?"
Ingin sekali Vanca mencakar wajah tampan itu, ia bertanya kenapa? Dia bediri dengan santai nya padahal tidak menggunakan apapun?!
"Sana cepet ah!"
Regaf tau kenapa Vanca tak ingin melihatnya, lalu ia mengambil handuk yang ada didekatnya, dan ia lilitkan dipinggang nya.
"Nggak!" tolak Vanca.
"Aku pake handuk."
Vanca ragu, ia takut Regaf berbohong. "Be-beneran?"
"Iya sayang."
Dengan keberanian nya, Vanca membalikkan badan nya, ia bernafas lega saat mengetahui Regaf benar-benar menggunakan handuk.
"Kenapa sih? Kan kemarin juga udah kamu liat," kata Regaf yang terdengar vulgar.
Lantas Vanca memukul lengan Regaf kencang membuat cowok itu meringis.
"Udah sana mandi-mandi!" Vanca mendorong tubuh Regaf sampai ke kamar mandi.
Saat pintu itu tertutup, Vanca kembali akan menggunakan pakaian nya. Namun Regaf kembali membuka pintu dan menyembulkan kepalanya di sisi pintu.
"Gak mau ikut mandi?" tawar Regaf dengan senyum jenakanya.
"Nggak!" sahut Vanca tanpa membalikkan badan nya. Mendengar itu Regaf kembali menutup pintu kamar mandi.
Sembari menunggu Regaf mandi, Vanca berniat akan membereskan kamar mereka terutama ranjang yang berantakan. Namun sebelum itu ia menyempatkan menutup bekas di lehernya dengan foundation terlebih dahulu. Setelah selesai, ia kembali pada niat awalnya.
Vanca membuka selimut, mata nya membola saat melihat bercak merah di sprai. Vanca tersenyum, saat ini ia sudah menjadi istri yang utuh untuk suaminya.
Vanca tak memusingkan itu lagi, ia pun mengganti sprai dengan yang baru. Dan tak lupa merapikan nya agar lebih nyaman dilihat. Ia juga membereskan setiap sudut kamar, agar lebih rapi.
Setelah nya Vanca mengenakan kembali pakaiannya, setelah selesai bertepatan dengan Regaf yang baru menyelesaikan mandi.
Lelaki itu keluar dengan handuk sepinggang, juga rambut yang basah dan berantakan.
"Sini aku bantu keringin," kata Vanca berinisiatif. Regaf tersenyum senang, ia pun duduk lesehan di karpet bulu dan Vanca duduk di pinggiran ranjang.
"Tebel banget rambut nya, panjang lagi," gumam Vanca sembari mengerikan rambut Regaf menggunakan handuk. Lalu setelah itu ia mengambil hairdryer agar lebih cepat kering.
"Apa kamu gak pernah ditegur di sekolah kalau rambut panjang?" tanya Vanca dengan tangan yang masih memegang hairdryer. Gadis itu tampak serius.
"Pernah, tapi aku gak perduli."
"Trus? Kamu gak di razia?"
"Aku kabur kalau ada razia," kata Regaf dengan kekehan renyah. Vanca sendiri geleng kepala dengan sifat suaminya itu.
"Kamu kan udah lulus, kurangi nakal nya, kamu pasti mau kuliah kan? Masa kuliah nanti sifat kamu masih sama kayak waktu SMA."
Regaf terdiam.
"Regaf? Kok diem?"
"Hah? Oh nggak, gak papa," jawab Regaf cepat. Ia hanya memikirkan bagaimana nanti jika ia benar-benar pergi ke London untuk mengurus perusahaan disana. Ia tidak ingin meninggalkan Vanca disini. Ia pusing memikirkan nya.
"Udah," kata Vanca saat menyelesaikan aktivitas nya. Ia menaruh kembali hairdryer itu pada tempat semula.
Vanca menimang-nimang untuk bertanya pada Regaf, tapi ia ragu.
__ADS_1
"Kenapa?" Regaf tampak peka dengan gerak-gerik Vanca.
"Eum, soal tadi malem itu.. em.. gimana ya ngomong nya.."
"Nyesel?"
"EH! ENGGA! BUKAN GITU!" elak Vanca cepat, ia tak mau Regaf salah paham.
"Terus?" Regaf menaikkan sebelah alisnya bertanya.
"Aku takut Gaf.." cicit Vanca pelan.
"Takut kenapa? Gak dosa ini udah sah juga," Regaf masih belum paham kemana arah bicara Vanca.
Vanca menggeleng. "Bukan itu.., tapi, semalem suara aku.." Vanca menjeda ucapannya, cukup malu untuk mengatakannya tapi ia harus memastikan.
Regaf tersenyum tipis. "Gak akan ada yang denger sayang."
"Kamu serius?!" Vanca memicingkan matanya tak percaya.
Regaf mengangguk mantap. "Kamar ini kedap suara."
Vanca mengatupkan bibirnya rapat. Kenapa ia tidak mengetahui hal itu sama sekali?!
"Jangan bohong kamu?!"
"Tuh," Regaf menunjuk alat kecil yang menempel pada dinding kamar, itu adalah alat kedap suara.
Vanca memandang alat itu tak percaya, ia baru melihat nya sekarang. Andai ia tahu, pasti ia tak akan bertanya seperti tadi.
Setidaknya Vanca bernapas lega. Jadi tidak ada yang tahu kan? Tapi Gisel? Ah sudahlah, memikirkan itu tak ada habisnya.
"Yaudah kamu pakai baju kamu, aku tunggu di bawah kita sarapan," Vanca keluar duluan dari kamar meninggalkan Regaf yang akan berganti pakaian.
***
"Dra! Woi! Lama banget lo gila!" teriak Geo dengan kurang ajar nya dirumah Andra.
"Gak pake teriak bisa gak lo?!" Andra menatap tajam Geo. Untung nya rumah Andra tengah sepi, kedua orangtuanya sedang berada di luar negeri.
"Lo nya lama banget! Kaya cewek dandan aja," cibir Geo.
Mereka berdua berniat akan kerumah Regaf, kedua lelaki itu ingin mengajak Regaf pergi jalan-jalan saja. Sudah lama mereka tidak menghabiskan waktu bersama.
"Bacot!" Andra mendahului Geo keluar dari rumah besarnya. Andra menggunakan motornya, ia sedang malas menggunakan mobil. Sama hal nya yang dari awal Geo menggunakan motor dari rumah.
"Woi tungguin!"
Saat di halaman, kedua nya bersiap akan pergi, namun dering ponsel Andra menghentikan niat keduanya. Andra mengangkat telepon itu dahulu, membuat Geo menunggu.
"Tunggu," Andra mematikan sambungan telepon nya, dan memasukkan kembali ponselnya pada sakunya.
"Siapa Dra?" tanya Geo kepo.
"Cewek gue," jawab Andra asal. Geo terkejut menatap Andra. "Gak lucu bercanda lo sumpah," Geo dibuat speechless olehnya.
"Gitu aja percaya, ayo cabut!"
Geo memandang Andra aneh, tapi setelah nya ia menyusul motor Andra yang telah melesat lebih dulu.
***
"Kok sepi? Pada kemana?" tanya Vanca pada Gisel yang berada di ruang tengah yang sedang menonton telivisi. Gisel menengok kesamping, "Ara lagi keluar, tante dikamar, kalau om Alex kayaknya di ruang kerja nya, soal nya gue gak liat beliau pergi ke kantor," jawab Gisel memandang Vanca.
Vanca mengangguk paham. "Yaudah gue turun deh, mau siapin sarapan buat Regaf," Vanca berjalan menuju dapur. Ia berniat akan membuatkan Regaf nasi goreng, simple saja.
Sementara Regaf, saat cowok itu selesai perpakaian, ia berniat akan menemui ayah nya, membicarakan hal penting baginya. Namun sebelum itu ia harus memastikan apakah ayah nya pergi ke kantor atau tidak.
Regaf menuruni tangga rumah nya, lalu saat itu ia langsung menuju dapur, pasti nya Vanca disana. Saat sudah didapur, Regaf melihat Vanca yang sedang memotong bawang. Regaf mendekat, ia memandang Vanca dari belakang.
"Aws!"
Regaf langsung mendekat saat mendengar ringisan dari Vanca. Cewek itu tersentak saat Regaf langsung mengulum jari nya kedalam mulutnya yang tergores pisau.
Regaf mengambil tisue, dan membersihkan sisa salivanya. Cowok itu mengambil plaster di kotak p3k yang dekat dari nya. "Ceroboh banget, lain kali hati-hati pakai pisau nya," kata Regaf yang masih fokus pada jari Vanca.
Bibir Vanca berkendut menahan senyum.
"Untung cuma kegores, kalau kepotong gimana? Bisa gak ada jari kamu," lanjuf Regaf yang membuat Vanca kesal hingga memukul lengan cowok itu. Tidak kuat, hanya pukulan biasa.
"Ngeselin!" Vanca menarik tangannya kembali saat selesai di beri plester. Ia kembali melanjutkan memotong bawang. "Gak terimakasih banget," caletuk Regaf.
"Makasih!" kata Vanca dengan nada kesal.
Regaf tergelak, ia mendekat memandang Vanca dari samping. Tangan nya menyangga pada meja. Bahkan saat sedang serius seperti ini Vanca masih terlihat cantik dimatanya. Seperti nya ia sudah ter-Vanca Vanca.
"Jangan diliatin aku kayak gitu, mending kamu tunggu di meja makan aja sana!" usir Vanca pada Regaf.
"Papi ke kantor hari ini?" tanya Regaf.
Vanca menggeleng disela kegiatannya. "Kata kak Gisel, papi gak kekantor tapi di ruang kerja nya," sahut Vanca.
Regaf mengangguk. "Yaudah, aku ke ruang kerja papi dulu, nanti aku balik lagi."
"Mau ngapain?" tanya Vanca memandang Regaf.
"Ada yang mau aku obrolin sama papi," jawab Regaf. Vanca mengangguk, tidak ingin bertanya lebih. Lalu setelah itu Regaf pergi dari sana dan Vanca yang melanjutkan kegiatannya.
***
Note : Tulisan/text yang miring itu berarti dialog yang diucapkan dalam batin/hati. Jadi bisa ngerti kan? Kalau text nya panjang bisa aja itu flashback.
Hello Geng!! Gimana kabar kaliann??
Kangen gak sama story ini? Gak lama lah ini ✌🏻✌🏻✌🏻
Mau liat antusias kaliann!!
Like vote komen ya ges ya 🖖🏻
Maaf kalau banyak typo hhe
Sekian, terima Haechan 🙏🏻
Ketemu lagi di next chapter babay!! 👋🏻👋🏻
__ADS_1