REGAF ARGANTARA

REGAF ARGANTARA
REGAF ~ 69


__ADS_3

"Regaf!" panggil Vanca cukup kencang. Regaf seakan tuli, ia memilih untuk terus berjalan tanpa repot untuk menoleh kebelakang. Vanca tetap gencar mengejar Regaf mencoba mensejajarkan langkah kaki nya dengan Regaf.


"Regaf ih! Aku panggilin juga!" kata Vanca kesal, namun Regaf tak menggubris. Saat ini mereka sedang berada di lorong yang sepi, murid lainnya banyak yang dikelas ada pula yang di lapangan.


"Regaf kamu.. em.. kamu denger omongan aku sama Kenzie tadi?" tanya Vanca walau ragu. Regaf berhenti, menoleh sebentar ke arah Vanca, lalu kembali meluruskan pandangan nya kedepan.


"Gue gak peduli." cetus Regaf lalu kembali berjalan tanpa memperdulikan Vanca.


"Regaf!" kini Vanca menggapai lengan Regaf. Sedikit melirik Vanca, Regaf langsung melepas tangan Vanca yang memegang lengan nya. Vanca terkejut.


"Regaf kamu kenapa sih!" merasa kesal karena tak kunjung menjawab, Vanca memegang kembali lengan Regaf untuk menatap nya. Kini kedua netra itu bertatapan.


"Apa nya?" tanya Regaf terdengar tak peduli.


"Kapan sih, kamu inget sama aku?! Aku cape harus kaya gini terus!" ungkap Vanca yang sudah lama ia pendam. Regaf gamang. Tak tau harus menjawab apa.


"Gue gak minta lo kaya gini," jawab Regaf benar benar tak perduli.


"Hai Gaf," Meisya datang bersama Vika. "Nih aku ada susu kotak sama roti, dimakan ya Gaf," entah gadis itu lupa lupa tak tau atau bagaimana bahwa Regaf amnesia. Namun hal yang tak terduga, Regaf malah menerima pemberian itu, lantas membuat senyum Meisya mengembang.


Regaf menerima hanya ingin membuat Vanca pergi dari nya dan tidak mendekati nya terus, ia juga sebenarnya tidak mengenal siapa gadis yang membawa roti dan susu untuknya.


"Thanks!"


Geo dan Andra melihat itu dari jauh. Mereka ingin menolong Vanca, tapi apa yang bisa mereka lakukan?


"Iya Gaf, sama-sama. Oh iya, mau kemana?" tanya Meisya sedikit melirik Vanca, sengaja.


"Kantin." Regaf bohong. Ia tak tau ingin kemana, jadi ia beralasan ingin ke kantin saja.


"Oh gituu.. yaudah ayo aku juga mau kesana." kata Meisya semakin menjadi. Vanca terkejut bukan main, melihat interaksi Regaf dan Meisya. Vanca tau bahwa gadis yang berada di depan nya ini adalah gadis yang sempat menjebak Regaf.


Regaf melepas tangan Vanca yang masih memegang lengan nya. "Regaf mau kemana?" tanya Vanca melihat Regaf yang ingin pergi.


"Lo budek apa gimana sih? Lo gak denger kalau gue sama Regaf mau ke kantin?" ucap Meisya dengan nada mengejek.


"Regaf kamu gak mungkin pergi sama dia kan?" kata Vanca yang tersirat nada mohon.


"Kenapa?"


"Gaf kamβ€”"


"Lo gak tau malu banget ya? Udah ditolak tetep aja ngotot," ucap Meisya sarkas.


"Tau! Regaf itu gak mau sama lo, udah deh," sahut Vika ikut memanasi.


"Gaf, aku tau kamu gak inget sama aku, tapi aku mohon jangan jauhin aku kaya gini Gaf, apalagi pergi sama cewe lain," kata Vanca lirih.


Geo dan Andra yang memantau dari kejauhan itu mendekati Vanca, menyuruh gadis itu pergi. "Gak Ge! Gue mau disini!" tolak Vanca.


"Apa hak lo larang gue?" perkataan Regaf membuat Vanca tertegun. Apa cowo itu lupa dengan perkataan nya?


"Jelas ada hak aku buat larang kamu!"


"Tapi gue gak inget apapun tentang lo! Ngerti?" Regaf pergi bersama Meisya dan Vika meninggalkan Vanca dan kedua sahabatnya.


"Segitu benci nya kamu sama aku Gaf?" kata Vanca sudah putus asa.


"Iya, gue gak mau lo ganggu gue." ucap Regaf telak semakin membuat hati Vanca sakit. Dada nya sesak seakan ada yang ingin dikeluarkan. Tapi Vanca berusaha menahan diri.


"Van udah," Andra mencoba membuat Vanca mengerti, sudah ada beberapa siswa siswi yang menjadikan ini tontonan.


Vanca kembali menyusul Regaf dan memegang lengan Regaf. "Kamu ngerasa keganggu sama aku Gaf? Jawab ia sekali lagi biar aku gak ganggu kamu lagi!" pegangan tangan Vanca pada lengan Regaf semakin kuat. Regaf diam membisu.


"Gafβ€”" belum selesai Vanca melanjutkan perkataannya, Regaf sudah lebih dulu menyentak kasar tangan Vanca membuat nya jatuh tersungkur di lantai, siku nya sedikit lecet, tapi rasa sakit itu tak sebanding dengan rasa sakit di hatinya. Geo dan Andra tentu terkejut dengan apa yang dilakukan Regaf. Beberapa murid yang melihat ini pun berteriak histeris, mereka penasaran ada apa dengan Vanca dan Regaf.


"Vanca!" teriak Andra yang baru datang. "Lo gakpapa?" Vanca menggeleng. Mata nya menangkap Geo yang mencengkram kerah baju Regaf. "Buka mata lo! Buka pikiran lo! Dia Vanca, cewek lo! Gue nggak peduli keadaan lo kayak gini, gue gak peduli lo lupa segalanya. Tapi tindakan lo berlebihan Gaf!" bentak Geo dengan amarah.


Siswa siswi yang menonton sedari tadi semakin histeris mendengar Geo berkata bahwa Vanca pacar Regaf.


"Lo cowok! Kemana jati diri Regaf yang gue kenal?!" tanpa melepas cengkramannya, Geo mendorong bahu Regaf cukup kuat. "Kemana Regaf yang gue kenal?!" bentak Geo menggebu.


"Ge! Apa apaan sih lo!" Meisya mencoba melerai tapi melihat tatapan Geo yang kelewat nyalang seketika nyali nya menciut.


"Mei, pergi aja yuk! Kondisi nya lagi gak bagus," ucap Vika, lalu angguki Meisya.


"Lo," Geo menunjuk wajah Regaf dengan telunjuk nya. "Gue pastiin setelah lo sadar sama apa yang lo lakuin, lo bakal nyesel Gaf!" ucap nya.


Andra diam membiarkan Geo berbuat semaunya, jika Geo tidak memukul Regaf duluan, mungkin saja ia yang memukul Regaf saat itu. Jujur ia juga kesal dengan perilaku Regaf pada Vanca tadi.


"Lo jangan ikut campur!" bentak Regaf.


"Gue gak ikut campur!" balas Geo.


"Vanca cewek dan lo cowok. Nggak seharusnya lo kayak gini. Apalagi dia cewek lo. Gue tau lo nggak inget semuanya, tapi lo bisa minta Vanca dengan cara baik-baik, kan?" Geo menepuk pundak Regaf. Geo memandang Regaf dengan tatapan kecewa, sebelum akhirnya menghampiri Vanca yang tengah dibantu oleh Andra.


"Bawa Vanca ke UKS," suruh Geo membantu Vanca Mereka melintasi Regaf. Namun, tak sedikitpun mereka meliriknya. Sedangkan Regaf, cowok itulah menatap ketiganya hingga memasuki UKS.

__ADS_1


***


Vanca berdesis ngilu saat cairan alkohol yang diteteskan Andra, tepat mengenai lukanya. Luka di siku nya tak begitu parah, tapi rasanya sangat perih. Terkena angin saja rasa nya ngilu.


"Tahan. Sakit?" tanya Andra tetap fokus mengobati luka Vanca.


Vanca menggeleng. "Nggak ada." Andra mendongak. "Jangan bohong."


"Beneran, Dra."


"Kalau nggak sakit, kenapa desis gitu?" Andra kembali menatap Vanca dengan alis yang terangkat sebelah.


"Gue nggak bohong, gue nggak kenapa-napa," jawab Vanca.


"Hati lo?" tanya Andra.


Vanca memalingkan wajahnya. Mengingat ucapan serta perilaku Regaf terhadapnya membuat hatinya kembali berdesir ngilu.


"Nih Van, minum dulu," Geo datang membawa air mineral untuk Vanca. Dengan senang hati Vanca menerimanya tak lupa berterima kasih.


"Walaupun Regaf lupa tentang kalian, gue rasa itu berlebihan."


Vanca tersenyum menanggapinya. "Gue nggak apa-apa Ge. Mungkin itu wajar karena Regaf lagi kayak gini, atau dia mungkin ngerasa terlalu diatur sama gue."


"Gue rasa Regaf yang memang berlebihan," imbuh Andra saat selesai mengobati luka yang ada di siku Vanca. Cowok itu duduk di depan Vanca, mengamati wajah gadis cantik itu. "Gue tau lo nahan sesuatu."


Vanca terkejut, Andra sudah seperti cenayang saja bisa mengetahui isi hati dan pikirannya.


"Gue bukan cenayang atau apapun yang ada di pikiran lo," cetus Andra seakan mengerti dengan raut wajah Vanca.


"Kok lo tau?"


"Nebak aja."


Vanca menatap sekeliling ruang UKS yang tampak sepi. "Gak lama lagi kalian bakal lulus kan ya?" tanya Vanca mencoba mengalihkan pembicaraan.


Geo mengangguk. "Besok pembagian raport. Dan lusa tepat perayaan kelulusan. Hari itu juga gue berharap ada perubahan dari Regaf," ucap Geo dengan menatap lantai ruang UKS dengan nanar.


Vanca tersenyum kecut. Bagaimana, ia pun sama, berharap Regaf mengingat memori lama nya. Namun sepertinya itu hanya angan-angan belaka.


"Gue bingung Ge, Dra." Vanca menjeda ucapannya, gadis itu menunduk menatap sepatunya. Andra dan Geo bingung apa maksud gadis itu.


"Cerita," ucap Andra lugas.


"Lo kenapa Van? Semua oke kan?" tanya Geo meski ragu.


Vanca kembali mendongak menatap Geo dan Andra bergilir. Kemudian gadis itu menggeleng. "Gak Ge, menurut kalian, kalau gue pisah sama Regaf gimana?"


"Kenapa lo ngomong gitu?" tanya Geo yang tentu terkejut.


"Gue bingung Ge. Lo, kan tau kalau gue sama Regaf nikah karna perjodohan. Mungkin gakpapa kali ya kalau gue sama Regaf pisah? Regaf udah bener bener lupa sama gue," ucap gadis itu terdengar lirih.


"Kenapa lo jadi putus asa begini sih? Lo jangan mudah putus asa lah Van! Masa segini doang? Regaf pasti bakal inget lo Van!"


"Gue udah cape Ge..,"


"Van, denger. Selupa-lupa nya Regaf sama ingatannya, dia pasti bakal sembuh. Lo lupa, kalau seandainya Regaf ingat nanti, apa lo bisa bayangin gimana keadaan Regaf nantinya? Tanpa lo." ucap Andra, menekan kalimat akhirnya.


Geo mengangguk setuju akan perkataan Andra barusan. "Tapi kita gak bisa ngapa-ngapain. Semua keputusan ada di tangan lo Van. Kita cuma bisa dukung lo aja."


***


Pulang sekolah, Vanca tidak langsung pulang ke rumah mertuanya. Ia pergi ke rumah kedua orang tua kandungnya terlebih dahulu. Dan Regaf, Vanca pastikan cowok itu sudah pulang sejak tadi.


Vanca tersenyum kearah wanita yang bertambah umur didepan nya. Lalu berhambur kedalam pelukan sang ibu. Ratna tersenyum tulus, ia memeluk anak bungsu nya dengan sayang, seraya mengelus punggung putri nya itu.


Tadi Vanca sudah bilang bahwa ingin kesini. "Mamaa.. kangennn," ucap Vanca dengan segala manja nya. Ratna lantas tersenyum kecil. Mereka melerai pelukannya.


"Udah gede kok kaya anak kecil aja," kekeh Ratna.


"Vanca masih kecil di mata mama," lalu kedua nya sama-sama tertawa.


"Udah punya suami lo! Masih gitu aja sifat nya, gak malu lo sama suami lo!" Caren tiba-tiba datang lalu duduk ke sofa.


"Dih, abang jelek!" ucap Vanca kesal.


"Sudahlah, ayo masuk."


Saat Vanca duduk, ayah nya baru juga pulang dari kantor. Momen yang pas. "Pah, baru pulang? Tumben awal pah?" ucap Ratna seraya mengambil alih tas yang dibawa suaminya.


"Iya Ma, hari ini gak terlalu banyak kerjaan. Bisa pulang cepat," ucap Rhyon lalu mata nya mengarah pada Vanca putri bungsu nya.


"Vanca,"


"Papaa!" Vanca kembali memeluk papa nya, seakan sudah lama sekali tidak bertemu.


"Hei putri papa! Apa kabar?"

__ADS_1


"Aku baik," ucap Vanca dengan senyum manis nya.


"Bagus kalau gitu, dimana suami mu?" seketika mimik bahagia Vanca berubah murung. Mendengar nama Regaf saja sudah membuat mood nya turun.


Namun Vanca tetap mencoba tersenyum walau palsu. "Regaf dirumah Mami Papi, keadaannya..,"


"Papa ngerti nak, kamu yang sabar dan terus berdoa," ucap Papi kepada Vanca.


"Papa, Vanca, Caren! Makan dulu, makanan nya udah mama siapin!" teriak sang mama dari arah dapur. Lalu mereka semua makan bersama siang itu.


***


"Regaf! Dimana istrimu?" tanya Wenda pada Regaf yang baru keluar dari kamar nya.


"Dia bilang mau ke rumah orang tua nya, dia cuma bilang itu, selebihnya saya tidak tau," kata Regaf memandang Wenda.


"Kenapa gak kamu anter Gaf!" kata Wenda menatap kesal kearah putranya. Regaf geming, tidak menjawab.


"Kenapa tan?" Gisel tiba-tiba datang dari arah dapur. Sehabis mengambil minum.


"Ini loh, sepupu kamu. Masa istri nya mau kerumah orang tua nya gak dianter?"


"Regaf belum sadar tan, biarin aja," ucap Gisel penuh makna.


"Sudah, sana kamu susulin istri kamu!"


"Saya gak tau tempat nya," ujar Regaf. Memang benar. Bukan tidak tau, lebih tepatnya lupa.


Tiba-tiba bunyi notifikasi ponsel Gisel berbunyi. Antesi mereka teralihkan pada Gisel. Gadis itu membaca pesan yang masuk dari Vanca.


"Vanca pesan tan, dia bilang mau nginep di rumah orangtuanya dulu," begitulah kira-kira Gisel membaca pesannya.


"Kamu ada masalah sama Vanca?" Wenda menatap Regaf dengan tatapan memicing. Dengan polos Regaf menggeleng, walau ia bohong. Ia pun merasa tak enak hati sebenarnya pada Vanca sejak kejadian tadi. Tapi ia tak tau harus apa dia.


"Sudah lah, biar besok papi yang jemput Vanca," Wenda pun berlalu pergi. Regaf pun sama ia kembali ke kamarnya.


Gisel masih menetap disana membaca pesan yang baru saja masuk. Pesan dari Kenzie. Pesan nya adalah Kenzie menawarkan Gisel untuk jalan-jalan karena ia bosan dirumah.


Dengan senang hati Gisel menerima itu, ia pun ingin refreshing. Dengan cepat ia kembali menuju kamarnya dengan hati yang berbunga-bunga.


***


Andra berada dijalan menuju rumahnya. Saat lampu merah ia menghentikan kendaraan roda dua miliknya itu. Ia melihat ke sisi kanan gadis pengendara motor yang terus memandangi nya. Andra menutup kaca helm nya, risih.


Saat lampu hijau, Andra kembali melajukan motornya membelah jalanan yang tidak terlalu padat. Saat tengah asik dengan jalanan, tiba tiba mata nya menangkap gadis yang menyebrang jalan tanpa melihat sekeliling.


Dengan cekatan Andra menarik pedal rem, sedikit lagi, jika tidak gadis itu sudah pasti akan tertabrak.


"Fu*k!" umpat Andra kesal. Ia membuka helm nya lalu turun dari motor nya. Menarik tangan gadis itu dengan sedikit kasar.


"Lo gila hah?! Mau mati lo?! Jalanan rame gini lo main nyebrang aja! Dimata otak lo!" ucap Andra dengan nafas memburu. Sedikit emosi memang, tapi baru kali ini ia bicara panjang lebar dengan orang yang tidak ia kenal.


"Kalau lo ketabrak, lo bisa masuk rumah sakit atau nggak lo meninggal," ucap nya kembali dengan nada rendah. Andra melepas cekalan tangan nya pada gadis itu. Memandang gadis itu.


Gadis itu diam. Tak menjawab apapun. Air mata nya luruh begitu saja. Andra terkejut, kenapa gadis ini malah menangis? Apa karena ia membentak nya?


"Kenapa lo gak tabrak gue aja.." ucap gadis itu dengan sangat lirih. Terdengar nada sedih di ucapannya. Seakan sudah tidak menginginkan hidup.


"Lo gila?!"


"Iya! Gue gila! Gue udah mau mati! Kenapa lo gak tabrak gue tadi!" ucap gadis itu yang mengundang atensi beberapa orang yang melewatinya.


Andra panik bukan main. Ia sudah fikir gadis ini benar-benar gila.


"Stres lo!" maki Andra terakhir, lalu ia pergi menuju motornya. Gadis itu hanya memandang Andra yang pergi begitu saja.


Lalu ada segerombolan orang berpakaian serba hitam berlari kearah nya. Gadis itu kembali panik, ia berlari kearah Andra.


Andra kaget, tiba-tiba gadis itu ada di belakangnya. "Lo kenapβ€”"


"Bawa gue dari sini gue mohon," ada tatapan permohonan dimata gadis itu. Andra tak mengerti, lantas ia mengikuti arah pandang gadis itu. Lelaki dengan badan besar dan berpakaian serba hitam berlari menuju arah mereka.


Andra kembali menatap gadis ini dengan iba. Ia pun segera menyuruh gadis itu naik keatas motornya. Lalu Andra melajukan motornya dengan kecepatan tinggi.


Andra melirik gadis itu lewat kaca spion, tatapan mata itu. Gadis ini sedang ketakutan.


***


kira kira siapa ya yang bareng Andra? πŸ––πŸ»


jangan marah yaa, satu eps lgi menuju.. hhe 😁🫢🏻


tungguin aja lnjut nya okeeeiii


komen 'REGVAN' biar gak sider yaa


like and komen sebanyak banyak nya, 10 komen sabi kalii

__ADS_1


20 like, sesuai target aku up lagiii


next babayy πŸ‘‹πŸ»πŸ‘‹πŸ»


__ADS_2