REGAF ARGANTARA

REGAF ARGANTARA
REGAF ~ 48


__ADS_3

SEBELUM NYA MAAF BANGET AKU UDH LAMA GA UP DI SINI, UDH LAMA BGT AKU GA NULIS. AKU GATAU YA UDH BERAPA LAMA AKU GA NULIS REGAF LG, AKU TU MAU BUKAN NYA GA NIAT LO BIKIN CERITA INI, AKU NIAT BGT, CUMA KDG YG BKIN AKU GA MOOD NULIS ITU YA BNYK YG GA NGEHARGAIN. PLS KALO KALIAN BACA INI, LIKE. APA SUSAH NYA NGE LIKE AJA, GA SAMPE SEMENIT. KALO INI BERKESAN MAKSA, TP EMG AKU MAKSA. KARNA YG BACA TP GA LIKE ITU GA NGEHARGAIN BGT.


JGN LUPA LIKEEE.


KALO KALIAN RAJIN LIKE, APA LAGI KOMEN AKU BKL USAHAIN RAJIN UP.


**


"Nih, ayam mentega buatan aku," ucap Vanca menaruh piring berisi makanan itu di atas meja. Regaf menatap setiap gerak gerik Vanca, dari mulai menaruh makanan hingga manuangi nya air minum.


"Kok bengong?"


"Kamu cantik,"


Blush, dalam hati Vanca sudah berteriak namun tertahan, Vanca berusaha menutupi rasa salting nya dengan wajah datar nya.


"Makan jangan gombal," Vanca memberi Regaf piring yang sudah ia isi nasi sebelum nya. Regaf mengambil satu potong ayam lalu mencicipi nya.


Regaf menikmati makan nya, rasa nya lumayan. "Gimana? Enak ga?" tanya Vanca dengan degup jantung tak karuan, takut saja makanan nya tak enak kan malu.


"Enak," kata Regaf singkat yang mampu membuat hati Vanca senang. Ia merasa bangga makanan milik nya dipuji seperti itu.


"Yaudah habisin dongg,"


***


"Gue jadi kangen sama Kenzie.. dia apa kabar ya?" monolog Gisel di dalam kamar nya. Ia tengah berbaring di kasur milik nya dengan memegang ponsel nya.


"Apa gue telfon dia aja ya?" lagi lagi Gisel bicara dengan diri sendiri, ia jadi bimbang sendiri. "Tapi gue gatau mau mulai ngomong gimana.." Gisel semakin resah dibuat nya.


"Ah udah lah," Gisel pun memutuskan untuk tidak menelepon atau pun meng chat. Namun tiba tiba notifikasi ponsel nya mengalihkan atensi nya.


siapa ? pikir nya.


Mata Gisel membulat sempurna saat melihat siapa yang meng chat nya malam ini. Ia menjerit tertahan, ia memukul bantal nya sendiri saking gemas nya.


Ia mengatur nafas nya pelan, ia pun mulai menjawab pesan tersebut.


Hingga tak lama, notif pesan kembali berbunyi, dan pesan itu semakin membuat Gisel tak karuan. Ia senang, sangat senang. Tuhan sangat berbaik hati pada nya hingga ia pun berkesempatan untuk bisa jalan dengan sang pujaan hati nya yang sudah dari lama ia kagumi.


"Gue harus siap siap sekarang," ucap Gisel menatap pantulan diri nya di cermin kamar nya dengan senyum merekah.


***


Selesai makan malam, Regaf dan Vanca kini berada di ruang tv, dimana kedua nya santai menonton tv tanpa ada gangguan. Enak nya dirumah sendiri.


"Oh iya!" ucap Vanca heboh. Regaf menoleh menatap sang istri dengan tatapan heran. Ada apa lgi?


"Kamu belum jelasin kan soal marah nya kamu di jalan tadi? Yang kamu ngebutan?" tudung Vanca terhadap Regaf.


Regaf menghela nafas kasar, kenapa bisa ingat?


"Aku cuma iseng,"


"Iseng? Gada iseng kaya gitu, iseng kamu bikin orang lain celaka!" omel Vanca tak habis fikir. "Jujur deh, kamu kenapa?" tanya Vanca lagi dengan nada melunak.

__ADS_1


Regaf menghela nafas kembali lalu berkata, "maaf.. aku cuma kesel karena kamu sama si songong itu ngobrol asik banget,"


"Si songong?" ucap Vanca tak mengerti, lalu detik berikutnya ia langsung connect dengan ungkapan Regaf. Ia tersenyum geli pada Regaf yang menatap nya heran.


"Kamu cemburu?" kata Vanca dengan nada menyebalkan. "Cemburu yaaa... ciee kamu cemburu.." kata Vanca lagi dengan tertawa.


Sungguh itu membuat mood Regaf rusak, "ga cemburu!" bantah Regaf. "Ga usah boong gitu, keliatan, masa cuma ngobrol doang marah," lagi lagi Vanca menggoda Regaf.


"Vanca.." Regaf sudah kesal namun ia tahan sekarang.


"Iya iya maaf, lagian ngapain kamu kesel kalo aku ngobrol sama Kenzie?"


"Jangan sebut nama dia!"


"Lah kok marah..?"


"Udah lah," Regaf beranjak akan pergi, namun ditahan oleh Vanca. "Eh mau kemana?"


"Kamar, kenapa?"


"Ikut hehhe," kata Vanca sambil cengengesan.


Mereka lalu kembali ke kamar nya, saat ini di kamar Regaf hanya memainkan ponsel, sementara Vanca? Ia tengah melakukan ritual malam nya yaitu skincare an.


Vanca menatap lamat Regaf melalui pantulan kaca, ia pun beralih duduk di kasur tepat di depan Regaf saat ini.


"Regaf?" panggil Vanca, Regaf langsung mematikan dan menaruh ponsel nya, menatap Vanca yang ada di depan nya.


"Kenapa hm?"


Regaf lantas menimang nimang ucapan Vanca, memang sudah lama mereka tak kesana, pasti Vanca rindu dengan keluarga nya.


"Yaudah, besok kita kesana habis pulang sekolah yaa," kata Regaf sungguh pengertian. Lantas Vanca langsung tersenyum dan memeluk Regaf saking senangnya. Ia bahkan tak sadar dengan apa yang ia lakukan.


Regaf yang mendapat serangan mendadak lantas kaget, ia tersenyum samar lalu mengusap punggung istri nya lembut.


Vanca tiba tiba sadar dengan apa yang ia lakukan, ia ingin bangun dari posisi nya namun tak bisa sebab tertahan oleh tangan kekar Regaf yang masih berada di punggung nya. Lantas Vanca mendongak menatap sang suami.


"Bentar lagi, lagi enak," kata Regaf dengan nada rendah, itu membuat Vanca merinding namun juga senang. Dengan pelan ia menyandarkan kepala nya di dada bidang milik Regaf itu. Jujur ini nyaman.


aku ga nyesel nikah sama kamu Gaf..


***


"Bisa! Bisa banget!" seru Gisel sambil tersenyum lebar. Gisel tengah berbicara lewat telepon dengan Kenzie, dan Kenzie mengajak Gisel untuk keluar bersama nya.


"jam delapan gue jemput"


"yaudah sampai ketemu nanti" lalu Gisel mematikan sambungan telepon itu. Ia berjingkrak kesenangan, sungguh ia sangat senang saat Kenzie mengajak nya keluar bersama nya di malam ini.


"Oke Gisel, lo gaboleh keliatan biasa aja, lo harus perfect poko nya" monolog Gisel menatap diri nya dipantulan cermin.


Ia pun bersiap siap sambil menunggu jam delapan tiba, dari pakaian, tas, sepatu, make up, dan aksesoris lainnya. Gisel sangat bersemangat hari ini.


***

__ADS_1


"Hai!" sapa Gisel dengan tersenyum saat bertemu Kenzie di gerbang. Kenzie baru saja sampai di depan rumah.


"Masuk," kata Kenzie menyuruh Gisel masuk ke dalam mobil milik nya. Gisel pun langsung masuk ke dalam mobil tersebut dan mobil hitam itu pun melesat pergi.


Diperjalanan, tak ada yang membuka suara, hanya deruman mobil yang berbunyi diantara mereka. Gisel canggung di keadaan seperti ini. Ia mereasa atmosfer di sekitar nya menipis.


Duh Gisell, jgn grogi dong pleasee ucap Gisel dalam hati nya. Ia sungguh ingin teriak sekarang, namun ia tahan.


Beberapa saat kemudian pun mobil yang dikendarai oleh Kenzie berhenti tepat di depan sebuah restoran. Gisel menatap resto didepan nya, ia berfikir kenapa Kenzie membawa nya kesini.


"Ayo!" Kata Kenzie mengajak Gisel masuk, Kenzie berjalan lebih dulu dan Gisel mengekori di belakang.


Mereka duduk di salah satu kursi kosong, dan memesan minuman juga makanan ringan. Sambil menunggu makanan tiba, Gisel mulai berfikir ingin memulai topik dari mana.


"Sel!" panggil Kenzie.


"Sebenernya gue ajak lo kesini karena gue mau cerita aja si ke lo" ucap Kenzie memulai pembicaraan diantara kedua nya.


"Mau cerita tentang apa?"


"Gue lagi suka sama seseorang.."


"Oh ya?!" Kaget Gisel.


"Kenapa?"


"Engga, gapapa kok,"


Kenzie suka sama siapa ya? batin Gisel.


"Lo tau kan kalo gue ngulang SMA, dan belum lama ini gue suka sama cewe disana." ungkap Kenzie.


"Siapa?" tanya Gisel hati hati.


"Na-"


"Permisi ini pesanan nya.." ucapan Kenzie harus terpotong sebab pelayan datang membawa makanan pesanan mereka.


"Terimakasih mba," ucap Gisel lalu pelayan tersebut pergi dari mereka. Kenzie menatap Gisel kembali lalu berucap "Dimakan dulu Sel."


"Iyaa.." ucap nya sambil mengangguk samar.


"Ehm.. lo gamau lanjutin cerita lo yang tadi?" tanya Gisel hati hati sebab ia takut menyinggung.


"Kaya nya gue cuma mau cerita itu aja," kata Kenzie seraya memakan makanan nya.


"Sejak kapan lo suka sama 'dia' " tanya Gisel lagi. Ia merasa kecewa karena Kenzie menyukai gadis lain, tapi siapa dia? itu lah yang dipikirkan Gisel.


"Belum lama ini, gue tertarik sama dia, dia keliatan beda dari cewe yang gue temuin" kata nya yang diakhiri kekehan kecil.


***


segini dulu oke, LIKEEE.


OKE TBC.

__ADS_1


__ADS_2