
Bel istirahat berbunyi nyaring di lorong Sma Merpati. Banyak siswa/i yang berbondong bondong keluar kelas menuju kantin. Jika mereka telat sedikit saja pasti sudah tidak akan mendapat tempat duduk.
"Van lo gak kekantin?" tanya Nisa yang melihat Vanca tengah memasukan buku buku nya ke dalam tas dan mengeluarkan satu buku.
Vanca menggeleng. "Gue mau ke perpus aja balikin buku sama nyari buku buat UAS nanti," papar Vanca pada teman teman nya.
Memang sebentar lagi UAS akan dilaksanakan, jadi Vanca ingin belajar materi materi sebelum nya. Untuk persiapan diri nya.
"Elah Van, masi satu Minggu lagi juga," kata Sheryl.
"Iya gue tau, cuma mau ulang materi sebelumnya, kalian duluan aja," kata Vanca lagi dengan tersenyum.
"Oke deh, kita duluan ya!" pamit Nisa lalu ketiga nya meninggal kan kelas juga Vanca yang masih berada di dalam nya.
Vanca menghela nafas pelan lalu keluar kelas dengan buku di tangan nya. Banyak pasang mata yang menuju ke Vanca, ada tatapan kagum, julid dan berseri. Namun Vanca tak memperdulikan nya.
Saat ia tiba di perpustakaan hal yang pertama kali ia lihat ialah sosok yang sedang tidur di salah satu kursi dengan kepala yang di telungkup kan di sela tangan yang terlipat di atas meja.
Vanca merasa tak asing dengan sosok itu, ia pun mendekat ke arah nya ingin memastikan saja. Dan saat jarak mereka tinggal satu meter baru lah Vanca percaya dengan siapa itu.
"Regaf," panggil Vanca namun tak ada sahutan. Ya Regaf lah yang tengah tidur di sana. Vanca kembali bersuara "Regaf bangun!" kali ini lebih keras.
Tak ada respon.
Vanca menghela nafas lelah, ia pun duduk di depan Regaf dan mereka terhalang meja. Vanca menaruh buku yang ia pegang tadi di meja. Lalu ia melipat tangan nya di atas meja.
Memandang Regaf yang tidur dengan pulas seperti tak ada beban sama sekali. Tangan Vanca terulur mengusap rambut Regaf. Sementara Regaf masih dengan posisi yang sama.
"Regaf.." kata Vanca dengan berbisik. Memang disini ia berani melakukan itu karena perpus sedang sepi. Tak ada orang karena pasti semua sedang di kantin. Memang jam istirahat begini banyak yang memilih ke kantin.
"Regaf ayo bangun..," panggil Vanca lagi. Masih sama tak ada sahutan. Hingga Vanca berdiri kembali untuk menaruh buku yang ia bawa tadi. Kembali dengan buku baru di tangan nya untuk ia baca.
Vanca masih mengamati Regaf yang tidur di depan nya. Mungkin Regaf lelah? Mungkin saja.
Adem banget liat Regaf tidur gini batin Vanca.
Ia senyum senyum sendiri melihat nya lalu detik berikutnya ia menggeleng keras.
Duh Van! Lo mikir apa sih!
Vanca memilih kembali membaca buku nya hingga bermenit-menit berlalu. Regaf masih betah dengan mimpi nya hingga belum juga terbangun. Karena hawa dingin dan sunyi membuat Vanca ikut mengantuk.
Tanpa disadari ia pun ikut tertidur dengan posisi tangan kanan nya sebagai bantalan kepala nya. Sebelah tangan nya lagi memegang buku yang ia baca sebelum nya.
"Eughh..," Regaf terbangun dari tidur, dan saat ia membuka mata ia langsung melihat sosok cantik yang tidur pulas di depan nya.
Regaf masih dalam mode linglung sebab baru bangun. Sampai ia sadar siapa di depan nya ini. Regaf tersenyum kecil melihat pemandangan di depan nya.
Vanca kok bisa disini?
Regaf melihat buku yang di pegang Vanca lalu menutup nya. Sampai bel berbunyi menandakan jam istirahat telah selesai.
Vanca pun jadi ikut terbangun akibat bunyi bel yang melengking keras. Ia mengusap sudut mata nya yang berair lalu melihat Regaf yang tengah menatap nya.
"Eh.. Regaf, udah bangun," kata Vanca masih dengan muka bantal nya. Vanca terlihat gemas di mata Regaf. Regaf pun bangun dari duduk nya lalu pindah posisi duduk di samping Vanca.
"Ketiduran disini?" tanya Regaf basa basi. Ia jelas tahu jika Vanca ketiduran.
__ADS_1
Vanca mengangguk.
"Yaudah sekarang ke kelas udah bell, cuci muka dulu," kata Regaf dengan perhatian dan tatapan teduh milik nya. Vanca termangu dengan perkataan Regaf yang sangat indah di telinga nya.
"Kamu juga tidur kan tadi disini? Kamu ga kekelas?" tanya Vanca beruntun. Regaf mengubah mimik wajah nya, ia jadi teringat kejadian di toilet tadi pagi. Itu sungguh membuat mood nya hancur.
"Ini mau ke kelas, kamu duluan aja. Atau mau dianter?" tanya Regaf dengan wajah jenaka nya. Vanca tertawa sebentar membuat Regaf termangu mendengar nya.
"Gausah, tadi nya aku bangunin kamu tapi kamu nya enggak bangun yaudah aku baca buku disini eh ketiduran juga," jelas Vanca menatap Regaf di samping nya.
Regaf mengangguk paham. "Yaudah ke kelas gih, ntar kena marah," Vanca menggangguk. Ia pun berdiri dari duduk nya, sebelum keluar ia menaruh buku yang tadi ia baca di rak. Lalu kembali menatap Regaf.
Regaf menaikkan sebelah alis nya seolah bertanya 'kenapa'
Vanca menggeleng, "Yaudah aku ke kelas duluan ya," pamit Vanca lalu ia keluar dari perpustakaan menyisakan Regaf yang masih duduk di sana.
Regaf pun beranjak, ingin ke kelas. Saat jam pertama tadi ia tidak masuk kelas, dan memilih tidur di perpus.
***
"Van!" panggil Sheryl saat Vanca telah masuk ke kelas. Baru saja Vanca duduk di kursi nya teman teman nya sudah mengerubungi meja Vanca.
"Van lo tadi kemana? Kenapa ga susul kita di kantin?"
"Lo ga kenapa napa kan Van?"
"Lo dari perpus lama amat? Bel udah dari tadi lo baru masuk, untuk aja guru belum masuk kelas,"
Perkataan teman teman nya membuat Vanca pusing mendengar nya. Vanca menghela nafas pelan lalu berkata "Gue ketiduran di perpus dan gue gapapa kok," jawab Vanca menatap satu persatu teman nya.
Sontak ketiga nya mengangguk paham. "Kirain Lo kenapa ga susul kita,"
"WOY BU DAYU TUH!" sorak satu siswi di kelas Vanca. Teman teman Vanca pun kembali duduk di bangku nya masing masing.
"Van!" Panggil Kenzie yang berada di belakang Vanca.
Vanca menoleh ke belakang, "Kenapa Ken?"
"Ntar pulang bareng gue ya?"
"Gue pulang sendiri aja Ken, sorry ya," tolak Vanca dengan halus. Ia bingung gimana menjawab nya.
"Oke, next time aja!"
***
Tiba saat nya dimana saat yang paling ditunggu tunggu ialah saat pulang. Bel pulang berbunyi nyaring membuat para siswa-siswi bersorak kesenangan.
Vanca berjalan di lorong menuju parkiran. Regaf tadi sempat mengchat nya bahwa ia menunggu di parkiran. Jadi Vanca tak ingin berlama lama.
Ia berjalan sendiri sebab lainnya sudah pulang duluan. Saat di jalan Vanca melihat Kenzie yang mendekat ke arah nya.
"Hai Van!" sapa nya.
"Hai Ken, lo belum balik?"
"Belum nih, nungguin lo,"
__ADS_1
"Nungguin.. gue," tunjuk Vanca pada diri nya sendiri.
"Iya nunggu lo,"
"Ngapain?" tanya Vanca yang bingung.
"Gue tau lo ga bawa mobil kan, jadi gue mau nawarin balik bareng gue?"
"Ken gue kan udah bilang gue bisa pulang sendiri--" kalimat Vanca terpotong akibat suara bariton yang sangat ia kenal.
"Ditungguin masih disini?" kata Regaf menatap Kenzie dengan tatapan tajam nya. Vanca takut akan terjadi keributan ia pun memegang sebelah tangan Regaf agar menjauh.
"Aku tadi mau susul kamu kok, cuma ngobrol sebentar sama Kenzie," kata Vanca menjelaskan.
"Pulang!" hanya satu kata. Namun dapat mambuat Vanca merinding. Regaf menautkan tangan nya pada tangan Vanca lalu membawa nya pergi dari Kenzie.
Sementara Kenzie hanya melihat Vanca yang dibawa oleh Regaf.
"Vanca pacar tu cowok?" gumam nya sendiri.
***
"Naik!" titah Regaf dengan nada yang dingin. Tanpa banyak protes Vanca naik di atas motor besar milik Regaf itu.
Dengan cepat Regaf menghidupkan motor nya lalu pergi dari karangan sekolah. Regaf berkendara dengan kecepatan di atas rata rata, banyak yang mengumpati nya namun ia tak perduli. Bahkan perkataan Vanca pun tak sama sekali Regaf respon.
"Regaf!" kata Vanca dengan sedikit teriak. Suara nya kalah dengan suara mesin motor itu. "Regaf pelan pelan!"
"Regaf! Kamu mau kita mati?!"
"Regaf berhenti!"
Regaf diam.
"Regaf! Berhenti atau aku loncat!" ancam Vanca.
"Loncat aja kalau berani," Regaf semakin manambah kelajuan motor nya. Tak perduli umpatan orang maupun perkataan Vanca.
"Regaf awass!!!" Kata Vanca saat melihat kucing menyebrang. Sontak Regaf menarik rem depan nya kuat hingga bagian belakang motor nya terangkat.
Vanca mengerat kan pegangan tangan nya di pinggang Regaf, takut? jelas.
Saat motor Regaf berhenti sempurna Vanca langsung menghela nafas lega. Hampir saja kucing itu tertabrak. Vanca turun dari motor Regaf lalu menatap kesal ke arah Regaf yang hanya memasang wajah tembok nya.
"Kamu gila?!" Maki Vanca.
"Kalau aja tadi ga aku kasih tau, mungkin aja kucing nya udah kamu tabrak kan!"
"Kamu mau kita celaka? Kamu ga mikir apa kelakuan kamu bisa ngebahayain nyawa orang lain!"
"Ngapain ngebut ngebutan di jalan kaya tadi!" Vanca mengeluarkan unek unek nya.
***
Tbc.
Komen dong, satu kata aja udah bikin aku seneng bgt.
__ADS_1
Oke babay !!