REGAF ARGANTARA

REGAF ARGANTARA
REGAF ~ 45


__ADS_3

Regaf jadi bingung Kenapa jadi Vanca yang marah? Harus nya diri nya yang marah karena Vanca malah asik ngobrol dengan cowok lain.


"Udah ah aku pulang naik taxi aja!" kesal Vanca, ia pun memilih untuk pulang menggunakan taxi. Namun belum saja Vanca berjalan tangan nya sudah di cekal oleh Regaf.


"Apaansi Gaf, lepas!"


"Sorry," kata Regaf terdengar lemas. Vanca tersentak karena suara nya yang terdengar tak berdaya.


"Kamu kenapa si sebenernya?" Vanca masih mencoba untuk bertanya walau ia masih kesal dengan orang di depan nya ini.


"Gapapa, ayo pulang," Regaf malah menarik tangan Vanca agar mau menaiki motor nya kembali.


"Gak! Sebelum kamu jawab!" Vanca menepis tangan Regaf dari tangan nya. "Nanti aku jelasin kalau udah dirumah, sekarang naik!" titah Regaf kembali.


Dengan terpaksa Vanca pun naik ke atas motor Regaf, namun tak ada tanda tanda Regaf akan menjalan kan motor nya.


"Kenapa diem?" Regaf menghela nafas lalu menarik tangan Vanca untuk melingkar kan nya di pinggang nya. Vanca tersentak dengan perlakuan Regaf, hanya dengan perlakuan sederhana dapat membuat Vanca senang. Tapi ia menutupi itu rapat rapat.


"Udah kan, jalan," kata Vanca masih dengan tampang kesal.


"Senyum dulu dong," sungguh kali ini Regaf memang menguji kesabaran Vanca. "Mau jalan ga si?"


"Senyum dulu, kalau engga senyum ya ga jalan," jawab Regaf enteng. Vanca menghela nafas lelah, lalu ia senyum dengan paksa. Hanya itu dapat membuat Regaf tertawa. Namun sayang nya tawa itu membuat Vanca jengkel.


***


"Kamu gamau ngomong soal hubungan kita ke orang tua kamu Ra?" tanya cowok yang kini bersama Ara sejak sepulang sekolah tadi mereka berada di taman ini. Duduk di salah satu kursi panjang di taman itu.


Ara menoleh menatap mata cowok itu, ia ragu mengatakan nya, "Kak.. maaf ya, aku belum siap mau bilang ke mami papi, aku takut mereka marah," jawab Ara dengan lesu.


Fariz menghela nafas pelan, lalu ia tersenyum kecil seraya berkata "Gapapa, aku ngerti kok. Aku bakal tunggu kamu siap buat ngomong ini ke orang tua kamu,"


"Makasih ya, aku jadi ga enak sama kamu," kata Ara dengan sorot mata bersalah. Fariz menggeleng pelan dan berkata "Engga sayang.. kamu ga perlu ngerasa bersalah. Aku bisa ngertiin kamu,"


Ara tersenyum, "Tapi kak, selain aku takut sama mami papi, aku juga takut sama abang aku..,"


Fariz menaikkan sebelah alis nya lalu berkata "Abang kamu? Kenapa?" Memang, Fariz ini telah mengetahui keluarga Ara namun belum tahu jika sang kakak Ara sudah beristri.


"Kamu kan tau, kakak aku posesif banget sama aku, takut aja kalo dia tau kamu pacar aku dia malah nuduh kamu macem macem atau bahkan kalian beran--"


"Ra!" ucapan Ara terpotong oleh Fariz. Ara masih menunggu Fariz bicara. Hingga Fariz pun membuka suara nya, "Kalau kamu ga berani bilang ke keluarga kamu, biar aku yang bilang, walau mereka akan marah nanti aku Gapapa,"

__ADS_1


Ara menatap mata Fariz ingin mengorek kebohongan di dalam nya, namun nihil. Hanya tatapan serius yang ia temukan. Kini ia menghela nafas pelan, menatap langit yang mendung seakan mendukung suasana hati nya.


"Kak, kamu orang yang baik. Waktu itu kita ga sengaja ketemu pas aku hampir ketabrak. Dan lucu nya hubungan kita sampai pacaran," Ara menjeda ucapan nya untuk menarik nafas.


"Aku ga nyangka bakal jadi pacar kamu kak, mungkin di sekolah kamu banyak yang lebih cantik dari aku kali ya kak," Ara tertawa miris. Dan itu membuat Fariz tak suka.


"Aku ga suka kamu ngomong gitu, jangan suka bandingin kamu sama orang lain, mereka ya mereka kamu ya kamu."


"Fakta kak.."


"Cewe itu cantik, semua cewe itu cantik. Termasuk kamu,"


"Bisa aja kamu kak," Ara tertawa pelan mendengar ucapan Fariz. Setidaknya mendengar Ara tertawa Fariz sedikit senang.


"Pulang aja yuk kak, mau hujan kaya nya," Ara berdiri dari duduk nya disusul Fariz. Mereka pergi meninggalkan taman yang sepi. Hari pun mulai sore.


***


Kembali pada Regaf dan Vanca mereka kini berada di salah satu ruko yang sudah tutup. Saat di jalan tiba tiba saja hujan turun dengan derasnya, hingga membuat perjalanan Regaf dan Vanca terhenti.


Angin kencang dan petir putih yang menyambar menghiasi hujan sore menjelang malam ini. Vanca menggosokkan kedua tangan nya lalu meniupnya agar mendapat sedikit kehangatan.


Regaf pun mencuri pandang ke arah Vanca, ia mengerti bahwa gadis nya tengah kedinginan. Menengadah menatap langit yang hitam tanpa satu cahaya apa pun, ia berfikir hujan ini akan deras dan lama.


Regaf membuka kancing seragam nya, menyesal ia pergi tak membawa jaket nya, jadi ia hanya bisa menggunakan seragam ini.


"Eh! Mau ngapain!" Tanya Vanca panik saat Regaf mulai membuka kancing seragam nya. Regaf melihat itu pun terkekeh pelan, lalu ia melepaskan seragam putih nya. Tenang saja ia masih menggunakan dalaman kaos hitam.


"Pake, biar ga terlalu dingin. Ntar kamu sakit lagi," kata Regaf seraya memakaikan seragam nya itu pada tubuh mungil Vanca. Jelas di Vanca itu kebesaran. Untuk ukuran tubuh Regaf yang jauh lebih besar dari nya.


"Kamu gimana? Masa seragam nya di kasih ke aku, kamu pasti kedinginan juga kan?" Tebak Vanca yang memang benar. Tapi Regaf menutupi rasa dingin nya.


"Gapapa, pake aja," Regaf tersenyum kala Vanca tak menolak nya. Vanca sempat terpana akan perlakuan Regaf pada nya, tak disangka orang yang dikenal cuek, dingin, kejam dan arogant di sekolah bisa berbuat seperti ini pada orang yang disayangi nya.


"Makasi," ucap Vanca tulus. Lalu ia kembali menggosokan tangan nya untuk menghangatkan telapak tangan nya yang dingin. Sama hal nya dengan apa yang di lakukan Regaf.


"Harus nya tadi aku bawa mobil," ucap Regaf dengan raut penyesalan. Vanca menoleh lalu memegang lengan Regaf yang dingin.


"Gapapa Gaf, cuaca kita ga ada yang tau kalo bakal hujan kan," Vanca selalu penuh pengertian pada Regaf.


"Masih dingin?" Sontak Vanca melepas tangan nya dari lengan Regaf, lalu ia menggeleng. Regaf meraih tangan Vanca yang terasa dingin di tangan nya, Vanca bohong bahwa bilang dia tidak dingin namun nyata nya dia masih merasa dingin.

__ADS_1


Vanca tersentak pelan saat Regaf menggenggam tangan mungil nya dan digosok di tangan nya, Vanca merasa hangat menjalar di tubuh nya. Setiap bersentuhan dengan Regaf ia tak tahu bagaimana menjabarkan perasaan nya.


Vanca tersenyum kala Regaf meniup telapak tangan nya penuh kelembutan, ia merasa dilindungi, dijaga dan merasa aman saat di dekat Regaf.


"Masih dingin?" Vanca membuyarkan lamunannya karena sahutan dari Regaf. "Udah gak terlalu dingin kok,"


"Mau pulang sekarang? Udah mulai reda sisa gerimis kecil aja," kata Regaf sambil melihat germercik air yang turun. Tersisa gerimis kecil berjatuhan.


"Boleh deh, lagian udah mau malam juga, takut nya mami khawatir," kata Vanca.


"Mami udah chat aku tadi siang, kata nya pulang sekolah langsung aja ke rumah kita, barang udah di pindahin," papar Regaf.


"Gak pamit dulu?"


"Mami papi juga udah tau Van,"


Vanca mengangguk, lalu ia mengembalikan seragam Regaf tadi kepada pemilik nya. Regaf mengambil nya lalu memakai nya namun tak ia kancing.


Mereka berjalan menuju motor Regaf berada, setelah nya mereka langsung meninggalkan tempat itu menuju rumah mereka.


***


"Makasih ya kak, udah anterin aku pulang," kata Ara pada Fariz. Mereka masih berada di dalam mobil. Ara mengambil tas nya yang berada di jok belakang mobil. Lalu membuka knock mobil hingga pintu itu terbuka.


"Tunggu Ra!" Ara menghentikan langkah nya yang baru saja ingin keluar, ia urungkan karena panggilan dari Fariz.


"Iya kak, kenapa?"


Fariz seperti menimang nimang perkataan nya sebelum berbicara, ia pun mengurungkan untuk bicara sekarang.


"Gapapa, good night, bersih bersih sebelum tidur,"


Ara tersenyum, lalu mengangguk antusias mendapatkan perhatian dari kekasih. Lalu Ara pun turun dari mobil Fariz, melambaikan tangan nya saat mobil itu mulai pergi.


Ara menghela nafas pelan, lalu langkah nya masuk ke dalam area rumah nya.


***


tbc.


likeee voteee komennn

__ADS_1


aku bakal rajin up kalau kalian komen, tapi aku maklum mungkin kalian gatau mau komen apa atau males ngetik kan.


segitu dulu babay !


__ADS_2