
SPESIAL PART VANCA DAN REGAF!
HAPPY READING ALL!!
JANGAN LUPA LIKE DAN TULIS KOMEN KALIAN DISINII 👇🏻
****
"Mas, kalau seandainya anak kita kembar gimana?" Tanya Vanca dengan binar di matanya mendongak agar bisa memandang wajah Regaf.
Sejak masuk kekamar, Vanca sama sekali tidak lepas dari Regaf. Terus menempel pada Regaf, bahkan disaat Regaf ingin ganti baju, perempuan itu merengek karna kesal Regaf yang meninggalkan dirinya.
Dan kini Vanca bersandar di dada lebar suaminya dan tangan yang ia lilitkan di pinggang Regaf. Cowok itu mengelus halus rambut Vanca. "Bagus dong. Kalau seandainya beneran kembar, aku berharap kembar cewek cowok."
"Kenapa gitu?"
"Kalau dipikir-pikir, asik kan punya anak cewek cowok sekaligus? Kembar lagi." Regaf tersenyum manis pada Vanca.
"Iya ya, nanti rumah kita jadi rame," Vanca membayangkan bagaimana kedepannya. Perempuan itu kembali memeluk pinggang Regaf dengan erat. Seakan tidak ada hari lain untuk memeluk pria itu.
"Kamu kenapa sih hari ini? Tumben banget manja gini?" Regaf tersenyum dalam hatinya. Ia menyukai sikap Vanca yang seperti ini padanya. Dengan telaten cowok itu mengusap rambut hitam perempuannya.
"Gak boleh?" Vanca sontak melepaskan diri dari Regaf.
"Boleh. Boleh banget. Aku malah seneng, sering-sering aja kayak gini." Regaf menarik kembali Vanca kedalam dekapannya. Perempuan itu sangat senang bila Regaf memeluknya.
"Anak kamu kayak nya pengen sama Papa nya terus," celetuk Vanca.
"Anak kita apa kamu nya?"
"Dua-duanya," jawab Vanca dengan lucu membuat Regaf tak kuasa menahan diri untuk tidak mencubit kedua pipi Vanca.
"Gemess banget. Istri nya siapa sih?"
"Istri nya Tuan Muda Regaf Argantara Alexander."
Kedua pasutri itu tertawa bersama. Seakan beban mereka hilang begitu saja. Dan tiba-tiba terbersit satu ide di pikiran Vanca. Perempuan itu sontak melepaskan diri dari Regaf.
"Mas! Besok mau belanja baju-baju buat anak kita nanti gak?"
Regaf berfikir sejenak. "Bukannya Mama sama Mami udah bawain ya bulan lalu?"
"Iya, tapi baju nya gak ada. Ayo kita beli!" Ajak Vanca dengan antusias.
"Kita kan belum tau kelamin anak kita Van."
"Gak papa Mas! Kita beli aja dua-duanya. Dan kita gausah tau dulu, biar nanti nya jadi surprise!"
"Yaudah seterah kamu aja. Besok, sehabis aku dari kampus ya. Kita belanja." Regaf mengacak gemas pucuk kepala Vanca. Perempuan itu mengangguk dengan senyum merekah.
"Yaudah, kamu tidur gih. Capek kan pasti? Aku mau kerjain beberapa tugas kuliah sama kantor dulu."
Vanca menggeleng.
"Kenapa?"
"Mau sama kamu," cicit nya pelan.
"Tidur sendiri dulu ya? Aku ngejar deadline soalnya, gapapa kan?" Regaf menatap mata Vanca yang lesu. Tidak seantusias tadi.
Melihat raut Vanca yang semakin pucat membuat Regaf panik. Apalagi air mata perempuan itu sudah tergenang di kelopak matanya. "Hei.." Regaf mengangkat dagu Vanca agar menatap dirinya.
"Kok nangis?" Ibu jari Regaf bergerak menyisir mata Vanca yang ber-air.
"Mau sama kamuu.."
Regaf langsung membawa Vanca kedalam dekapannya, mengelus punggung istrinya yang bergetar. "Jangan nangis.. Iya sama aku, gausah nangis lagi.." ujar Regaf menenangkan.
"Jangan kemana-mana.." ucap Vanca memohon. Regaf tak kuasa menahan kegemasan dalam dirinya. Cowok itu mencium pelupuk mata Vanca yang tadinya mengeluarkan air.
Cup.
"Udah, gausah nangis lagi. Nanti jelek!" Ejek Regaf bercanda.
Sontak Vanca mengerucutkan bibirnya. "Nak, kamu denger kan kata Papa kamu tadi? Masa tega banget ngatain Bunda kayak gitu," adu nya pada anak didalam kandungannya itu. Vanca mengelus perut yang mulai membentuk.
"Bercanda sayang. Maaf ya Nak, Papa bercanda tadi. Bunda kamu aja yang nganggepin nya serius," ucap Regaf pada perut Vanca.
"Nanti, kalau kamu udah lahir kamu harus bisa jagain Bunda kamu ya. Kalau papa gak ada dirumah, kamu harus jagain Bunda. Oke!" Regaf terus mengajak bicara anaknya yang masih didalam perut Vanca. Perempuan itu nampak senang melihat interaksi Regaf dengan keberadaan anak mereka.
Regaf beralih menatap Vanca. "Boleh aku pegang?" Kata Regaf meminta izin. Vanca langsung mengangguk mengizinkan.
Cowok itu pun mengelus perut buncit Vanca. Tidak ia turunkan senyum di wajahnya. "Anak Papa.. baik-baik ya disana. Papa tunggu sampai kamu lahir ke bumi ini."
"Eh Mas! Kamu ngerasa gak?" Ucap Vanca tiba-tiba.
"Apa?" Regaf tak mengerti.
"Dede nya nendang," ucap Vanca seraya tersenyum.
"Nendang? Serius?" Wajah Regaf berubah sangat antusias mendengarnya. Vanca mengangguk semangat. Ia membawa tangan besar Regaf masuk kedalam bajunya. Regaf awal nya tak merasakan apapun, namun kemudian ia merasakan sesuatu yang mengenai tangannya. Sesuatu yang menonjol dari dalam perut Vanca.
"Eh? Itu tadi?"
Vanca mengangguk. Perempuan itu langsung mengerti maksud dari Regaf. "Itu anak kamu," kata Vanca. "Kayak nya dia seneng diajak ngobrol sama kamu Mas!" Ucap Vanca lagi.
"Sayang nya Papa.. kamu gak boleh nakal ya disana. Kasian Bunda kamu," Regaf mengelus pelan perut Vanca.
"Iya Papa!" Sahut Vanca menirukan suara anak kecil.
Regaf lantas tertawa mendengar nya. "Besok habis belanja mau ke rumah Mama gak?"
"Boleh juga!"
"Yaudah, sekarang kamu tidur ya."
Vanca merentangkan kedua tangannya. "Mau dipeluk!" Kata Vanca. Regaf tertawa, dan langsung membawa perempuan nya kedalam dekapannya. Vanca memeluk pinggang Regaf dengan erat, mencari posisi ternyaman di pelukan Regaf. Regaf mencium kening Vanca lembut. "Good night my wife."
***
Sepulang dari kampus, Vanca langsung mengajak Regaf untuk berbelanja. Tanpa menunggu lagi, Regaf langsung membawa Vanca ke toko peralatan dan perlengkapan bayi.
Sampai disana, Regaf memarkir mobilnya. Sementara Vanca langsung masuk tanpa menunggu Regaf terlebih dahulu. Usai nya Regaf menyusul. Mencari keberadaan Vanca disana.
__ADS_1
Ketika Regaf masuk, ia langsung menjadi sorotan orang-orang disana. Namun Regaf tidak perduli sama sekali, cowok itu mencari keberadaan Vanca. Dan sampai di salah satu rak, Vanca ada disana. Regaf menghela nafas lega.
"Cari apa?" Tanya Regaf menghampiri Vanca. Cowok itu langsung memeluk pinggang Vanca posesif. Vanca menoleh, dan menunjukkan kedua tangannya yang memegang dua benda yang berbeda.
"Bagus nya warna ini apa ini?" Vanca memperlihatkan baju dengan warna yang berbeda namun dengan model yang sama.
"Dua-duanya bagus."
"Aku suruh kamu pilih!" Decak Vanca kesal. Regaf menggaruk tengkuknya yang tak gatal. "Eum, yang kanan bagus," Regaf menunjuk baju berwarna putih cream ditangan Vanca.
"Aku beli dua-duanya!" Vanca pun beralih ke rak selanjutnya meninggalkan Regaf begitu saja. "Ngapain suruh pilih kalau gitu," gumam Regaf sabar.
Regaf melangkah menghampiri Vanca. Cewek itu terlihat tengah memilih model baju yang bagus.
"Sayang, kamu yakin mau beli baju ini sekarang? Gak nunggu anak kita nanti gede aja?"
"Gak papa dong Mas, kan bisa disimpen sampe anak kita udah gede. Kenapa? Kamu keberatan?"
"Engga Vanca. Yaudah seterah kamu aja." Regaf akhirnya mengalah saja, mengikuti kemauan istrinya.
"Mas! Aku mau beli baju ini juga!" Vanca menunjuk baju yang sepasang. Cewek dan cowok. Terlihat lucu dan menarik di mata Vanca.
"Baju couple?" Beo Regaf heran. Vanca mengangguk antusias. "Siapa yang mau pake?"
"Ya kalau nanti anak kita kembar cewek cowok kan? Tapi kalau engga ya kasih ke tetangga atau yang membutuhkan aja."
Regaf mengangguk. "Boleh."
Vanca bertepuk tangan ria. Tangan nya dengan gesit mengambil baju baju itu. Vanca juga mengambil beberapa potong baju laki-laki. Dan beberapa perlengkapan yang lain.
Kedua nya menuju kasir membawa barang yang mereka pilih. Kasir itu menatap kedua remaja didepannya dengan tatapan heran. Namun ia dengan cepat menghitung barang belanjaan Vanca. "Semua nya dua juta delapan ratus lima puluh ribu kak, ada lagi?"
Regaf menggeleng dan langsung memberikan ATM nya pada mbak kasir itu. Selesai dengan transaksi, Mbak kasir itu kembali buka suara. "Baju nya banyak banget Kak, buat hadiah ya?"
"Buat anak kita Mbak." Jawab Vanca kepada Mbak kasir itu.
"Nikah muda." Jawab Regaf langsung menarik tangan Vanca keluar dari toko. Ia risih jujur.
Membutuhkan waktu sekitar satu jam lamanya hingga keduanya selesai berbelanja. Sehabis dari toko perlengkapan bayi, sesuai dengan rencana semalam keduanya langsung menuju ke rumah Mama Ratna dan Papa Rhyon.
"Assalamualaikum Mama Papa!" Teriak Vanca ketika sudah berada di teras rumah. Tanpa permisi lagi Vanca menyelonong masuk. Vanca terkejut kerena didalm ternyata ramai. Ada Mami Wenda, Papi Alex dan juga Ara.
"Eh ada Mami, Papi," Vanca cengengesan. Ia merasa tidak enak sekarang.
Bego banget!
Vanca hanya tersenyum canggung. Sampai ada tangan yang bertengger di pundaknya membuat nya menoleh spontan.
"Kalian ngapain disini?" Tanya Regaf yang ditujukan pada kedua orangtuanya dan adik perempuannya.
"Ya seterah kita dong! Kok Abang yang repot!" Ketus Ara yang tengah asik memakan snack. Regaf yang melihat itu pun langsung menghampiri adik nya. Cowok itu langsung merebut makanan yang dipegang Ara dan membawa nya menjauh.
"IH BANG! ITU PUNYA GUE!" teriak Ara menginterupsi. Semua orang disana sontak menutup telinga. Sementara Regaf, tertawa kencang karna berhasil mengganggu adiknya itu. Jika orang lain yang menganggu adik nya Regaf tidak akan diam, siapapun itu. Hanya dia yang boleh menganggu adik nya.
"Regaf.." Mami Wenda menatap putranya itu agar mengembalikan makanan Ara. Regaf pun mendekati Wenda, dan langsung mencium pipi Wenda tanpa aba-aba. Cowok itu ngibrit pergi menuju adiknya dan memberikan makanan yang sebelumnya ia rebut.
Regaf mengacak gemas kepala Ara. "Gitu doang ngambek." Regaf tau adiknya itu tengah merajuk, karna Ara yang sudah berdekap dada dan tidak mau menatap Regaf. "Nanti gue beliin makanan yang banyak deh buat lo," rayu Regaf pada Ara.
"Benaran ya!" Ara menatap abangnya dengan mata berbinar. "Makanan aja cepet lo! Iya beneran!"
"Yeay! Makan gratis!" Seru Ara kesenangan.
"Sudah, Vanca Regaf duduk disini." Suruh Ratna, dan keduanya langsung duduk di sofa ruang tamu.
"Mami kok bisa disini?" Tanya Vanca pada Wenda.
"Papi katanya ada yang mau diomongin sama Papa kamu, soal masalah kantor. Trus Mami ikut aja kesini," jelas Wenda.
"Ara kenapa bisa ikut?" Sahut Regaf.
"Bosen kata nya dirumah, jadi Mami ajak aja sekalian."
"Kamu habis dari mana?" Tanya Ratna gantian.
"Habis beli baju buat anak Vanca nanti Ma!" Kata Vanca.
"Gak kerasa ya, udah lima bulan kandungannya. Gak ada masalah kan selama ini Nak?" Tanya Alex pada menantunya.
"Gak ada kok Pi, semua nya lancar."
"Nak, kalau kandungan kamu udah semakin besar, Papa rasa kamu gak usah sekolah dulu." Ujar Rhyon.
"Iya Pa, aku setuju. Regaf juga udah bilang gitu sama Vanca, tapi ngeyel. Banyak aja alasan nya, bisa ditutup pake sweater lah, masih gak keliatan lah." Cibir Regaf mengadu. Vanca sontak mencubit paha Regaf dengan tak tanggung. Cowok itu sontak meringis kecil, menatap Vanca yang tersenyum kepadanya seolah tak ad apa-apa.
"Mama khawatir kamu kenapa-kenapa nanti disekolah." Ujar Ratna.
"Mama tenang aja. Vanca bisa jaga diri kok Ma." Kata Vanca.
"Oh ya, Kak Caren dimana Ma?" Tanya Vanca yang sampai saat ini tak melihat keberadaan Kakak laki-laki itu.
__ADS_1
"Di kamar nya. Lagi skripsi-an kata nya." Jawab Ratna kepada Vanca putri nya. Cewek itu mengangguk paham.
"Karna kebetulan semua nya ada disini. Kita makan malam bersama dulu. Jarang-jarang sekali bisa kumpul disini," ajak Ryhon.
"Ayo Pa! Ara juga laper!" Sahut Ara paling semangat.
"Lo kalau urusan makan semangat banget sih," cibir Regaf memandang Ara. "Bodo, wlee," Ara menjulurkan lidah nya pada Regaf.
"Sudah, ayo kita ke meja makan."
***
"Makan yang banyak ya Vanca. Jangan sampe cucu Mami kurang asupan," kata Wenda membuat Regaf tertawa pelan.
"Asal Mami tau aja. Vanca kalau makan gak nanggung-nanggung," ucap Regaf yang dihadiahi tatapan tajam dari Vanca. Namun cowok itu tidak perduli.
"Oh ya? Bagus dong, makan yang banyak, tapi inget jangan asal makan. Buat nutrisi anak kamu." Sahut Ratna yang diangguki Vanca.
"Vanca udah pernah ngidam?" Tanya Alex pada Vanca menantu nya.
"Jangan ditanya Pi, sekali nya ngidam aneh-aneh. Cuma Regaf seneng sih, apalagi kemaren. Ngidam nya nempel terus sama Regaf," cowok itu tertawa kecil. Sudah habis kesabaran Vanca, cewek itu menginjak kaki Regaf yang berada di bawah meja.
Vanca hanya tersenyum canggung menanggapi tatapan dari keluarga nya. "Kamu harus sabar kalau istri kamu udah ngidam ya Gaf. Biasanya kalau gak dituruti mood ibu hamil langsung hancur, apalagi ini kan dari anak kamu." Wenda menasehati.
"Iya Mi, Regaf paham."
"Wih, pada makan-makan nih. Eh ada bumil! Apa kabar bumil?" Caren datang dari kamarnya.
"Apaan sih Kak! Rese banget tau gak!"
"Gak terima lo gue panggil bumil?" Caren tertawa kencang. Spontan Ratna langsung menjewer telinga anak sulungnya itu. "Kamu ya! Gak ada sopan-sopan nya!" Ratna menatap tajam kearah putranya itu.
"Duh! Ma, sakit ini!" Ringis Caren.
"Mampus!" Ucap Vanca tanpa suara namun dapat Caren pahami dari gerakan mulutnya. Awas aja lo!
"Kak Caren gak makan?" Tanya Ara pada kakak iparnya itu. Caren menoleh pada Ara, ia langsung duduk tepat disebelah gadis itu. "Makan dong, karna itu gue turun."
"Jangan macem-macem lo." Peringatan Regaf pada Caren. Kakak laki-laki Vanca itu menatap jahil kearah Regaf. "Emang lo mikir gue mau apain adek lo? Ini juga adek gue kali, gak bakal gue apa-apa in," kata Caren. Tangan nya naik merangkul pundak Ara. Sementara gadis itu diam, tak masalah sama sekali.
"Serah lo deh," jawab Regaf cuek.
"Caren, udah punya pacar belom?" Tanya Wenda pada Caren.
Cowok itu menyengir kuda. "Belum dapet yang cocok Mi," jawab Caren seraya memindahkan lauk ke dalam piringnya.
"Gak usah milih-milih kali lo! Udah muka pas-pasan sok mau pilih-pilih. Emang siapa sih yang mau sama lo? Kayak nya gak ada deh, maka nya lo jomblo mulu?" Ejek Vanca menatap kakak laki-laki itu. Caren sontak mendatar kan wajahnya. "Ngomong lagi lo!"
"Wlee," Vanca menjulurkan lidahnya mengejek.
"Udah, habisin makanan kamu," kata Regaf menengahi.
"Tuh! Denger kata suami!" Cetus Caren. Vanca pun menatap Caren dengan tatapan horor.
"Gak dimana-mana kalau ketemu pasti berantem. Coba sekali-kali akur gitu. Gak bisa?" Lerai Rhyon menatap kedua anaknya itu.
"Kak Caren tuh! Nyebelin!" Adu Vanca.
"Ada-ada saja," Wenda tertawa pelan melihat tingkah kedua anak itu. "Maaf ya Mbak, mereka memang gini. Aku aja pusing liat nya," ujar Ratna pada Wenda.
"Gak papa, maklum. Biasa itu, Regaf sama Ara juga gitu." Sahut Wenda. Kedua keluarga itu kembali melanjutkan makan malam mereka dengan tenang. Hanya deting sendok dan garpu yang berbunyi.
Saat sudah selesai, mereka kembali berkumpul di ruang tamu. Mengobrol ringan, dari hal-hal random hingga hal yg paling konyol. Keluarga itu terlihat sangat harmonis.
Hingga tanpa sadar, sudah menunjukkan pukul 21.15 malam. Keluarga Regaf pamit pulang karna sudah sangat malam. Vanca dan Regaf pun turut pamit, Vanca yang katanya sudah lelah dan membutuhkan istirahat. Jadi mereka memutuskan untuk pulang.
Hingga setibanya dirumah, Vanca langsung masuk kekamar dan membaringkan tubuhnya.
"Ganti baju dulu Sayang," kata Regaf yang baru masuk membawa barang belanjaan mereka tadi. Vanca sontak duduk, ia memandang Regaf yang tengah melepaskan jam tangan juga tali pinggang nya.
"Mas.." ucap Vanca Manja.
"Hm?" Sahut Regaf pendek masih dengan posisi membuka tali pinggang. Cowok itu tidak memandang Vanca, jadi Vanca hanya memandang punggung tegap suaminya.
"Mas Regaf," panggil Vanca lagi. Kali ini dengan sedikit rengekan agar Regaf mau melihatnya. Dan berhasil! Regaf menoleh pada dirinya, malah laki-laki itu berjalan menghampiri nya.
"Kenapa hm?" Regaf mendudukan dirinya tepat di sebelah Vanca. Cowok itu memerhatikan wajah Vanca, tangan nya terangkat membenarkan rambut Vanca yang menutupi wajahnya. "Mau apa?" Kata Regaf lagi.
Tanpa menjawab pertanyaan Regaf, Vanca langsung memeluk pinggang Regaf. Cowok itu tersentak pelan, sebelum akhirnya membalas pelukan Vanca. "Kamu kenapa? Butuh sesuatu?" Tanya Regaf lagi, namun tidak mendapatkan jawaban dari Vanca. Perempuan itu hanya diam.
Tangan Regaf bergerak mengelus pinggang Vanca. Sementara Vanca, cewek itu menyandarkan kepalanya pada leher Regaf dan mendusel disana.
"Jangan nakal," pesan Regaf kala tangan perempuan itu memainkan telinganya. "Cuma pegang doang," cibir Vanca. Gadis itu kembali diam, bersandar dengan tenang.
"Pengen.." ucap Vanca pelan namun didengar oleh Regaf.
"Pengen apa?"
"Pengen itu.." Vanca sedikit kesal karna suaminya ini tidak konek dengan arah bicara nya. Masa iya dirinya harus berucap dengan detail dan jelas? Jelas saja Vanca malu untuk itu.
"Itu apa sayang? Coba, mau apa?" Tanya Regaf lagi dengan sabar. Vanca berecak kesal, akhirnya ia bangkit dari pelukan nya. "Gak. Gak jadi, aku ngantuk." Vanca malah menghindar dari Regaf, perempuan itu membaringkan dirinya dan menutupi sebagian badannya dengan selimut tanpa peduli dengan pakaian yang belum ia ganti.
Kenapa lagi? Regaf menggaruk tengkuknya yang tak gatal. Cowok itu bingung dengan sikap Vanca saat ini. Namun beberapa saat kemudian, ia mengingat permintaan Vanca tadi. Ia baru paham dengan maksud dari perempuan itu.
Regaf tersenyum tipis. Cowok itu menghampiri Vanca yang tengah pura-pura tidur. Cowok itu turut membaringkan diri dan memeluk Vanca dari belakang. "Ayo," ucapnya.
Vanca membuka matanya. "Apa?" beo Vanca.
Regaf tak menjawab, melainkan langsung membawa Vanca menghadap dirinya. "Jenguk Regaf kecil," bisik nya dengan tangan yang mengelus perut Vanca.
"Gak jad—"
Ucapan Vanca langsung terpotong kala Regaf tiba-tiba menyambar bibir pink Vanca. Perempuan itu tidak menolak, Vanca membalas nya. Regaf langsung merubah posisi nya berada di atas Vanca. Tangan Vanca naik memeluk leher Regaf.
"Come on Baby," ucap Regaf dengan suara berat nya.
***
MAAFKAN JIKA ADA TYPO
AKU BEREKSPETASI LEBIH BUAT PART KALI INI 😁
BERHARAP SIH BAKAL RAME YA 😙😙
__ADS_1
30 LIKE FOR NEXT! BABAY! 🤤