REGAF ARGANTARA

REGAF ARGANTARA
REGAF ~ 87 [ Pasangan baru ]


__ADS_3

...HAPPY READING...


"Elys melirik kearah jam tangan nya. Sudah kesekian kali nya ia melirik kearah jam tangannya. Waktu menunjukkan pukul 19.55 WIB. Elys mengelus lengan nya yang terasa dingin.


Elys melihat Andra yang masih sibuk dengan mobilnya. Tiba-tiba saja mati ditengah jalan. Ini salah Andra sendiri yang tidak mengecek mobil sebelum digunakannya.


Andra menghela nafas pelan. Ia mengelap keringat yang bercucuran di dahinya. Sudah dua puluh menit ia berkutat dengan mobil, berusaha membenarkan dengan alat seadanya.


Sebelumnya Andra sudah menelfon orang bengkel, namun tidak ada jawaban. Dan alhasil ia menyuruh Elys menunggu dan ia yang membenarkan nya.


Andra melirik kearah Elys yang tampak kedinginan. Cowok itu menghampiri Elys yang menunggu di samping spion.


Andra melepaskan jaket kulit miliknya dan langsung memakai kan pada Elys. "Eh?" Elys tersentak kaget kala Andra memakai kan jaket miliknya ditubuh dirinya.


"Pakai. Dingin."


"Lo gimana?"


"Gue gakpapa." Sahut Andra singkat. Elys tersenyum dibalik itu semua, aroma khas Andra yang melekat pada jaket menguar begitu saja. Serasa dipeluk oleh Andra rasanya.


"Dra masih lama?" Tanya Elys yang seperti nya sudah lelah berdiri disana, apalagi cuaca yang semakin dingin.


Andra meninggalkan kegiatannya dan menatap Elys. "Kayak nya bakal lama. Lo pulang pake taksi aja ya? Biar gue pesenin," kata Andra menyarankan. Ia tidak ingin gadis itu disini terlalu lama, angin malam tidak bagus untuk gadis itu.


Elys berfikir sejenak namun ia langsung menggeleng. "Gak deh Dra, gue nunggu aja. Pergi sama lo pulang juga harus sama lo," ujar Elys seraya tersenyum hangat. Andra menarik ujung bibirnya yang membentuk seulas senyum. Namun sangat tipis.


"Yakin? Ini mungkin bakal lama. Cuacanya makin dingin."


"Lo khawatir?" Elys menampakkan raut geli nya, yang seketika membuat Andra mendatarkan mukanya.


"Biasa aja."


Elys tertawa melihat perubahan raut wajah Andra. "Bercanda Dra. Gak papa kok gue, nunggu aja biar bareng lo."


"Tunggu dimobil aja. Jangan disini," suruh Andra. Elys yang pegal pun akhirnya mengangguk. Ia masuk kedalam mobil, yang tepatnya disamping kemudi. Elys memilih untuk menyalakan musik dari ponselnya, untuk membuang rasa bosan.


Tiga puluh menit berjalan. Kini waktu menunjukkan pukul 20.40 malam. Andra telah menyelesaikan kegiatan nya. Cukup memakan waktu, badan Andra pegal sendiri karna kelamaan membungkuk.


Andra membereskan semuanya, dan setelah itu ia masuk kedalam mobil. Ia melirik kearah Elys yang tertidur pulas dengan kepala yang bersender di pintu mobil.


Andra tersenyum melihat itu. Wajah tenang Elys yang turut membuatnya damai. Dengan segera Andra memakai sabuk pengaman dan menyalakan mesin mobil. Sebelum menjalankan mobil, ia mengambil bantal kecil di kursi belakang.


Dengan hati-hati Andra menarik pelan kepala Elys, dan menaruh bantal itu tepat sebagai bantalan kepala Elys. Andra hanya tak ingin gadis itu pegal-pegal karna tidur dengan posisi sepeda itu.


Kemudian Andra mengelus pelan kepala Elys, setelah itu Andra langsung menjalankan mobilnya dengan kecepatan sedang agar tidak mengganggu tidur gadis itu yang terlihat sangat lelah.


Setibanya di penginapan Elys, Andra tak langsung membangunkan gadis itu. Andra turun terlebih dulu, lalu membuka pintu masuk Elys. Andra memandang lekat wajah yang terlihat damai itu. Andra pun melepas seat belt gadis itu lalu dengan perlahan dan hati-hati Andra mengangkat tubuh ramping Elys. Cowok itu mengendong nya keluar dari mobil membawa masuk kedalam. Untung Andra tau dimana Elys menaruh kunci, di fentilasi pintu.


Andra meletakkan Elys dikamarnya. Persetan dengan sopan, cowok itu tidak memikirkan itu saat ini. Ia tidak ingin membangunkan Elys dari tidur nya.


Perlahan Andra melepaskan sepatu yang menempel di kaki Elys, memakainya nya selimut dan menurun suhu ruangan. Cowok itu duduk di pinggiran kasur, mengelus sejenak rambut hitam Elys dengan kelembutan. "Good night, sweet dreams." Ucap Andra sebelum ia meninggal gadis itu.


***


Waktu yang sama di tempat yang berbeda. Geo mengantarkan Nesa pulang kerumahnya, karna Nesa yang membawa mobil sendiri jadi Geo mengikuti dari belakang dengan motornya.


Tepat di depan pagar rumah Nesa, gerbang itu terbuka oleh satpam rumahnya, Nesa pun memasukan mobil yang ia gunakan kedalam garasi. Namun setelah itu ia kembali keluar untuk menemui Geo pacar nya saat ini.


"Gue langsung pulang ya," ucap Geo.


"Gak mampir dulu?" tawar Nesa pada Geo.


"Lain kali aja, udah malem juga. Lo pasti capek kan," kata Geo perhatian. Entah kenapa rasa nya Nesa lebih canggung dengan status ini.


"Yaudah, hati-hati dijalan ya Ge. Jangan ngebut-ngebut! Langsung pulang, jangan keluyuran." Nesa mencerocos.


Geo terkekeh pelan. Ia mengangguk dalam helm yang ia gunakan. "Iya sayang."


Blush.


Pipi Nesa seketika panas padahal udara saat ini tengah dingin. Nesa dapat memastikan pipinya merah saat ini, namun ia berharap Geo tidak memperhatikan. Ini pertama kalinya Geo memanggil nya sayang dengan status sebagai pacarnya. Bagaimana ia tidak baper?


Geo tergelak melihat ekspresi Nesa yang mengemaskan di matanya. "Kenapa Nes? Pipi lo kok merah?"


Sialan! Kenapa juga cowok itu menyadari nya. Nesa sontak memegangi kedua pipinya yang benar terasa panas padahal hawa disini dingin.


"Ih Ge! Udah ah, lo mah gombal mulu! Udah balik sana lo!" Usir Nesa dengan tega nya. Gadis itu tidak bisa berlama-lama lagi berhadapan dengan Geo karna itu akan tidak baik untuk jantung nya.


"Yang manis dong, galak banget sama pacar."


Nesa tersenyum, namun tersenyum paksa. "Ehem, Geoo.. pulang yah udah malem.. jangan ngebut ya di jalan.." kata Nesa dengan nada bicara yang dibuat-buat.


Geo terkekeh geli. "Iya-iya. Besok mau gue jemput?"


"Gak usah, kan gak searah sama kampus arahnya. Gue bisa sendiri kok."


Geo mengangguk. "Yaudah deh, gue balik dulu ya. Good night cantik." Setelahnya Geo melajukan motornya pergi dari pekarangan rumah Nesa. Cewek itu memperhatikan punggung Geo yang semakin lama semakin jauh. Nesa tersenyum mengingat momen dirinya dan Geo tadi, sikap akward cowok itu mampu membuatnya tersenyum.


Bahagia itu bukan tentang apa yang harus kita miliki atau kita capai. Dengan hal sederhana pun kita dapat merasakan apa itu bahagia.


***


"Ciee pasangan baruu," goda Sheryl kala Nesa tiba dikelas.


"Apa sih She!" Nesa tertawa renyah mendengar ucapan Sheryl.


"Gimana rasanya jadi pacar Geo?" Risa kini yang membuka suara. "Ya gitu deh."


"Gitu? Yakin gitu?" Sahut Vanca dengan nada dibuat-buat.


"Kalian kenapa sih! Aneh banget." Nesa berusaha menyangkal.

__ADS_1


"Geo gimana sama lo?" Sheryl bertanya lagi dengan menghiraukan ucapan Nesa.


"Gimana apanya?"


"Dia gak macem-macem kan sama lo?"


"Kalau dia berani juga langsung gue tendang anu nya!" Ucap Nesa menggebu-gebu.


"Iya deh. Tapi Nes, cerita dikit dong. Kalian ngapain aja habis dari rumah Andra?" Vanca kini bertanya.


"Gak ada. Cuma ya kayak nya gue bakal kenyang setiap hari sama gombalannya dia. Tapi gue suka si sama sifat dia," Nesa tersenyum membayangkan sikap Geo terhadap dirinya.


"Duh! Panas banget hawanya ya!" Sheryl mengipasi dirinya menggunakan kedua tangan dengan lebay.


Nesa tertawa melihat itu. "Udah ah! Kantin aja lah ayok!"


"Gass!"


***


Beberapa bulan setelahnya.


"Kamu beneran gak papa? Bisa jalan?"


"Mas! Kamu udah ngomong kayak gitu lima puluh kali! Aku gak papa Mas," Vanca menghela napas panjang.


Regaf mengantarkan Vanca ke sekolah sebelum ke kampus nya. Kini mobil Regaf berhenti di depan gerbang sekolah. "Aku bisa jalan, aku gak cacat! Aku cuma hamil!"


"Kandungan kamu udah gede Sayang.. Aku takut aja Dede nya kenapa-kenapa," ujar Regaf khawatir.


Diusia kandungan Vanca yang tengah menginjak 5 bulan atau memasuki minggu ke-21 membuat Regaf semakin posesif dengan pergerakan Vanca.



...[ Kandungan 5 bulan ] 👆🏻👆🏻...


"Gak papa Mas.. Aku masih bisa bawa Dede nya kok. Mas gak perlu khawatir, aku bakal hati-hati." Vanca dengan sweater ukuran besar yang cukup menutup ukuran perut nya yang tidak terlihat buncit seperti wanita hamil pada umumnya.


Regaf menatap Vanca dalam. "Beneran?"


Vanca mengangguk.


"Yaudah kalau gitu. Nih ambil," Regaf mengeluarkan uang berwarna merah sebanyak tiga lembar dari dompetnya untuk Vanca.


Vanca menatap uang itu bingung. "Untuk apa?"


"Buat kamu."


"Gak usah Mas, uang aku masih ada lagian." Tolak Vanca dengan halus agar tidak menyingung perasaan Regaf.


"Gak papa, selagi aku ada gak masalah." Ujar Regaf.


"Boros banget dong kita, mending uang nya disimpen aja buat sewaktu-waktu kita butuh Mas," kata Vanca.


"Yaudah, sekarang kamu turun. Belajar yang bener ya," pesan Regaf pada Vanca.


"Iyaa."


***


"Hai Van!" Sapa Kenzie dikala keduanya tak sengaja berpapasan di koridor.


"Hai!" Sapa balik Vanca dengan ramah.


"Gimana kabar nya?"


"Ya baik lah! Kayak udah lama gak ketemu aja lo!" Vanca tertawa renyah. Ia pikir itu candaan.


"Bukan lo! Geer banget lo Van Van."


"Lah? Trus, lo kan lagi ngomong sama gue?" Vanca menunjuk dirinya sendiri dengan tatapan bingung. Mata Kenzie lantas menunjuk perut Vanca yang tertutup sweater.


Vanca mengikut arah mata Kenzie, dan saat ia menyadari nya lantas bola mata perempuan itu membola sempurna. "Lo?!" Vanca menunjuk Kenzie dengan jari tunjuk nya.


"Gue tau Van, tapi lo tenang aja gue gak bakal bocor ke siapa pun. Percaya sama gue," kata Kenzie yang mengerti tatapan mata Vanca.


Vanca menghela napas lega. "Lo kok bisa tau sih gue lagi isi?" Vanca berkata dengan suara yang sengaja dikecilkan agar tidak ada yang mendengar.


Kenzie tertawa pelan. "Gisel."


Hanya satu kata dan Vanca langsung mengerti. Memang Gisel sudah diberi tau oleh orangtuanya Regaf. Dan Gisel lah oknum yang memberikan info tersebut pada Kenzie.


Vanca membulat kan mulutnya. Ia paham. "Pantesan," gumam nya.


"Jadi gimana kabar nya?"


"Baik kok Ken."


Kenzie mengangguk paham. "Sekarang gue ngerti sih, kenapa lo selalu pake sweater yang ngakunya dingin padahal panas begini. Disuruh lepas juga lo kekeh banget gak mau buka," Kenzie tertawa mengingat hal itu.


"Ytta aja si," Vanca mengedikkan bahunya.


"Yaudah deh, gue duluan mau samper temen gue. Lo baik-baik ya, liat lantai nya takut nya ada batu," pesan Kenzie sebelum akhirnya pergi dari sana.


Vanca hanya geleng-geleng melihat tingkah Kenzie itu.


***


Dikelas, Regaf tak henti-hentinya menguap. Cowok itu lumayan mengantuk sebab kurang tidur malam tadi yang tidur nya larut malam untuk mengerjakan tugas dari Papanya.


"Hukum Konstitusi ialah Hukum Dasar yang menetapkan dan mengatur organisasi Negara. Konstitusi adalah keseluruhan sistem ketatanegaraan suatu negara yang berupa kumpulan peraturan yang membentuk dan mengatur/memerintah dalam pemerintahan suatu negara. " Dosen yang tengah menjelaskan materi pun Regaf hiraukan.

__ADS_1


"Woi Gaf!" Seru Geo dengan pelan. "Gaf!"


Regaf tak mendengar panggilan Geo yang berada di kursi deret belakang. Regaf terlalu ngantuk saat ini. Geo yang kesal lantas melempar bola kertas tepat mengenai kepala Regaf.


"Anj-" umpat Regaf tertahan saat ia mendapat lirikan maut dari dosennya.


"Regaf Argantara!" Tegur Dosen tersebut.


"Maaf pak," kata Regaf. Dosen itu pun melanjutkan materinya. Regaf menoleh kearah belakang menatap Geo dengan tajam. "Anak anjing!" Umpat Regaf pelan yang mampu didengar untuk dirinya saja.


Sementara Geo hanya cengengesan ditempat seperti orang gila. "Gausah digangu." Tegur Andra yang berada di samping Geo.


Kenapa mereka bisa disana dalam kelas yang sama? Karena Geo yang membujuk ketiganya agar memilih jurusan Prodi yang sama. Karena Regaf tak mau mengalah, akhirnya Andra dan Geo lah yang masuk kedalam jurusan itu.


Andra menutup wajahnya dan menelungkup kan wajahnya diatas meja. Cowok itu ingin tidur. Sama hal nya seperti Regaf. Malah cowok itu sudah lelap. Geo pun yang malas dengan materi yang tengah dijelaskan, ia memilih untuk bermain ponsel.


Dosen didepan memperhatikan ketiga cowok itu karna mereka yang paling mencolok. Ketika lainnya tengah sibuk dengan buku, mereka malah lain sendiri.


Dosen itu lelah dengan sikap ketiga cowok itu dikelas. Pria berumur itu memijat pangkal hidungnya yang terasa pening seketika. "REGAF! GEO! ANDRA!"


"Iya Pak!" Geo sontak menaruh ponselnya. Regaf dan Andra pun terbangun dari tidur yang belum lelap.


"Tolong fokus! Bapak capek terhadap sikap kalian!" Omel Dosen itu seraya melepas kacamata nya.


"Bapak aja capek apalagi kita," sahut Geo yang mendapat tatapan dari seluruh mahasiswa disana. Berani sekali cowok itu menyahut.


"Fokus dong! Gini aja gak fokus, apalagi ntar berumahtangga lo pada!" Seru salah satu Mahasiswi.


"Emang udah," cetus Regaf kesal. Namun setelahnya ia merutuki dirinya yang keceplosan.


"Hah?! Lo udah apa? Beristri?!" Kata Tia yang berada di sebelahnya dengan kaget.


"Iya! Asal lo pada tau Regaf udah beristri, malah otw anak satu!" Celetuk Geo dengan suara kencang.


"HAH?!" satu kelas kompak berteriak.


"Bodoh." Andra hanya mampu menutup wajahnya menahan rasa malu.


"Anak anjing!" Umpat Regaf tertahan. Dengan entengnya Geo membuka semuanya.


"Jadi lo?! Lo nikah muda?"


"Lo nikah pas SMA dong?!"


"Kok lo mau nikah muda si Gaf?"


"Sayang banget padahal baru aja mau gue pepet."


Dan banyak lagi celetukan dari berbagai mahasiswa/i di kelas. Regaf sampai pusing mendengar nya.


"SUDAH! INI KENAPA MALAH RIBUT?!"


Semua nya langsung terdiam kala mendengar Dosen mereka mengamuk. Dosen itu menggeleng lelah. "Kalian bertiga, Regaf, Geo dan Andra silahkan keluar."


***


Sepulang sekolah, Vanca pulang dengan memesan taxi online. Karena Regaf yang tidak bisa menjemput karna jadwal cowok itu hingga sore nanti.


Ketika tiba di rumah, Vanca langsung membersihkan dirinya. Dan membereskan rumah yang masih belum sempat ia bereskan.


Hingga pukul 17.58 Regaf baru tiba di rumah. Ketika cowok itu masuk ia tidak melihat keberadaan Vanca di ruangan bawah. Cowok itu langsung masuk ke kamar.


"Sayang!" Teriak Regaf dari luar kamar. Langsung saja ia memasuki kamar, namun tidak melihat siapapun. "Istri gue kemana?" Gumam Regaf bertanya pada dirinya sendiri.


Langkah cowok itu turun membawa ke ruangan bawah. Cowok itu menelusuri dapur, namun nihil. Tidak ada yang ia temui. Dan ia kembali mencari di taman belakangan baru lah ia bisa bernapas lega.


"Kok disini? Udah mau gelap, disini dingin," kata Regaf duduk disebelah Vanca di kursi panjang. Vanca lantas menoleh ke arah Regaf. "Kamu kapan pulang?"


"Barusan. Kamu kenapa?"


"Gak papa. Nungguin kamu aja dari tadi." Vanca mendekat duduk nya dengan Regaf. Dan tanpa aba-aba Vanca langsung memeluk pinggang suaminya.


Regaf tersentak pelan atas perlakuan Vanca yang tiba-tiba. Regaf tersenyum lalu memandang Vanca. Tangan cowok itu mengelus punggung istrinya. "Kenapa?" Tanya Regaf dengan suara berat nya.


Vanca mengeleng disela pelukannya. "Kangen.." cicit nya.


Regaf tertawa mendengarnya. "Kayak gak ketemu setahun aja."


Vanca mendongak menatap Regaf. Hal itu membuat Regaf gemas melihat nya. "Kamu emang gak kangen sama aku?"


"Kangen lah. Banget," Regaf memeluk Vanca kembali, kali ini lebih erat.


"Mas, kamu pengen anak kita nanti cewek apa cowok?"


"Kalau bisa dua-duanya kenapa harus satu?" ucap Regaf bercanda.


"Ih! Aku serius tau!"


Tawa Regaf meledak kala itu. "Apa aja. Yang dikasi Tuhan itu yang aku terima."


"Ayo masuk ke kamar. Disini dingin."


***


PA KABAR SEMUA??


MAAF YA INI AKU SKIP BULAN, KARNA BINGUNG KALO KELAMAAN 😭😭🤏🏻


VOTE NYA YA SAYANGGG 😇😇😇🤝🏻


LIKE KOMEN FOR NEXT!

__ADS_1


BABAY!!


__ADS_2