REGAF ARGANTARA

REGAF ARGANTARA
RERAF ~ 42


__ADS_3

......Happy Reading......


Pukul 21.45 malam. Regaf belum juga kembali. Dari tadi Vanca terus menunggu Regaf namun tidak juga muncul


"Regaf kok belum balik sih.." Vanca menjadi khawatir. Ia pun ber inisiatif untuk menyusul Regaf walau tak tahu Regaf berada di mana. Namun ia yakin Regaf masih di rumah.


Vanca turun mencari di sekeliling rumah, mulai dari dapur, ruang tamu, ruang tv, ruang Musik, hingga ruang keluarga pun tak ada. Vanca tak menyerah begitu saja. Ia mencari di tambah belakang tetap tak ada.


Hingga Vanca memutuskan untuk mencari di taman depan. Dan ia melihat sosok yang duduk di bangku taman itu. Ia yakin itu Regaf.


Langkah Vanca berjalan menghampiri figur itu. Saat sudah tepat berada di belakang kursi, ia pun menjadi kaku.


"Ngapain keluar?" Suara berat itu mengagetkan Vanca. Ia bingung kenapa Regaf tahu ia berada di sini?


"Duduk sini," Regaf memberi Vanca space di samping nya. Lalu menoleh menarik tangan Vanca untuk duduk di samping nya.


Vanca pun tak dapat menolak, ia duduk di samping Regaf menatap langit malam dengan angin yang berhembus tenang.


Regaf menoleh ke samping, Vanca pun ikut menoleh. Mereka beradu pandang sejenak lalu memutuskan itu.


"Kenapa keluar?" Regaf mengulangi pertanyaan awal nya.


"Seharusnya aku yang nanya ke kamu.. kok kamu masih di sini? Ga masuk?" Vanca menatap wajah tampan Regaf dari samping.


"Gapapa, cuma cari angin," alibi nya.


"Angin malam ga bagus.. nanti kamu bisa sakit.." Regaf menoleh, lalu terkekeh membuat Vanca bingung. "Khawatir?" Tanya Regaf dengan wajah menyebalkan nya.


"Jelas aku khawatir.. kalo kamu sakit kan aku yang repot" jawaban Vanca membuat Regaf kesal. Sungguh merusak suasana.


Tiba tiba saja Regaf menggenggam tangan Vanca yang berada di atas paha nya. Vanca tersentak tatkala Regaf mencium punggung tangan nya.


Vanca merasa pasokan udara habis, bahu nya pun lemas. Ia tak mengira akan diperlakukan seperti ini oleh Regaf.


Regaf menoleh kearah Vanca yang kaku menatap nya. Regaf tersenyum ke arah Vanca membuat Vanca semakin merona. Pipi nya terasa panas padahal udara malam ini dingin.


"Kamu kenapa?" Vanca menjadi gugup tak karuan dibuat nya. Vanca menarik tangan nya yang di genggam Regaf lalu menatap ke lain arah.


"Vanca.. hadep sini coba," Regaf menarik dagu Vanca agar mau menatap nya. Pandangan mereka beradu sejenak. Regaf mendekatkan wajah nya di depan wajah Vanca. Tak perlu ditanya lagi bagaimana perasaan Vanca saat ini. Ia sudah menahan nafas sejak tadi. Hembusan nafas hangat Regaf menerpa wajah Vanca.

__ADS_1


Wajah Regaf semakin dekat dengan wajah Vanca. Jarak nya tinggal 5 centi meter saja. Vanca menutup mata nya perlahan hingga benda kenyal itu mendarat tepat di kening Vanca.


Vanca membuka mata nya kembali saat dirasa Regaf sudah menjauh dari nya. Regaf terkekeh melihat wajah Vanca yang memerah entah karena nya atau udara malam yang dingin.


Sebelah tangan Regaf terangkat untuk mengelus pipi Vanca yang sedikit merah. "Jangan pikirin apa pun kata kata Gisel ke kamu," Regaf berujar.


"Kamu ga perlu pikirin kata orang lain," lanjut nya. Vanca menatap Regaf dengan teduh, ia tak mengira cowok yang ia kira bergaul bebas, arogan, cuek, kasar di sekolah bisa berlaku dan berkata dengan dewasa.


"Regaf.. aku pikir ucapan Gisel itu bener, ini udah saat nya aku nge lakuin kewajiban aku sebagai istri kamu," kata Vanca dengan senyum terbaik nya. Tulus, itu yang Regaf lihat.


"Kamu jangan terlalu mikirin itu, aku juga ga terlalu mendesak kamu," ujar Regaf sangat perhatian.


Vanca mengangguk.


"Sekarang kita masuk, udara nya makin dingin."


***


"Regaf," panggil Vanca saat mereka sudah berada di dalam kamar. Regaf menoleh lalu menaikan sebelah alis nya menunggu Vanca bicara.


"Kamu mau ngapain?" Vanca melihat Regaf yang mengambil handuk. "Kamu mau mandi jam segini?" Tanya Vanca lagi.


Hingga 15 menit berlalu Regaf baru keluar dari kamar mandi dengan keadaan segar. Rambut nya yang basah dan handuk melingkar di pinggang nya. Regaf melihat Vanca yang menatap nya dengan pipi yang bersemu.


"Kenapa belum tidur,?" Regaf bertanya namun mata nya masih sibuk mencari kaos nya di lemari baju. "Nunggu..," jawab Vanca pelan nyaris tak terdengar tapi Regaf masih mendengar nya dengan jelas.


"Nunggu?" Beo Regaf. Ia pun mendekati Vanca saat sudah selesai berpakaian. "Nungguin siapa?"


"Nunggu kamu,"


"Ngapain nunggu?"


"Mau tidur bareng kamu," Vanca mengucapkan nya dengan malu. Ia bahkan tak mampu untuk menatap mata suami nya.


"Yaudah tidur," suruh Regaf.


"Kamu tidur juga kan?"


"Iya aku tidur, kamu pikir aku mau ngapain?" Regaf dengan muka jenaka nya.

__ADS_1


"Enggak," dengan cepat Vanca menutupi diri nya dengan selimut tebal hingga batas kepala.


Regaf memainkan surai hitam Vanca dengan halus, ia menerawang ke depan. Entah apa yang dipikirkan Regaf saat ini. Vanca belum tidur sedikit mengintip di cela selimut untuk melihat apa yang dilakukan Regaf.


Ia hanya melihat Regaf melamun dengan tatapan kosong. "Regaf kok belum tidur," cicit Vanca seraya membuka selimut nya.


Regaf mungkin tidak mendengar, ia masih sibuk dengan pikirannya yang berkelana entah kemana.


"Regaf.." Vanca pun akhirnya ikut duduk di ranjang menatap Regaf. Merasa ada pergerakan Regaf pun menoleh menatap Vanca yang juga menatap nya.


"Kenapa?" Tanya Regaf. Tanpa ba bi bu lagi Vanca langsung masuk dalam pelukan Regaf. Memeluk Regaf dengan erat menyandarkan kepala nya di dada bidang Regaf.


Regaf tersentak kaget dengan perlakuan Vanca. Regaf tersenyum kecil lalu tangan nya terangkat untuk mengusap punggung Vanca.


"Kenapa, hm?" Kini suara nya kian merendah. Vanca mendongak menatap wajah Regaf lalu ia menggeleng kecil.


"Aku gatau apa yang kamu pikirin sekarang," kata Vanca masih dengan posisi nya. Seakan mau lepas.


"Aku ga mikirin apa apa," elak Regaf namun Vanca tahu Regaf sedang berbohong. Dua dua nya pun membisu dalam kehangatan.


Setelah lama dalam posisi berpelukan Vanca pun mengurai nya. "Mau tidur," kata Vanca.


"Yaudah tidur gih,"


"Mau sambil peluk," kata Vanca dengan pelan, entah sengaja atau memang malu mengucapkan nya.


"Apa?" Regaf bertanya dengan senyum kecil di bibir nya, ia tahu apa yang diucapkan Vanca barusan hanya ia pura pura tak mendengar.


Vanca menggeleng "Enggak! Ayo tidur," Vanca mengambil selimut lalu tidur membelakangi Regaf.


Regaf yang melihat itu hanya tersenyum geli, padahal mereka sudah menikah tapi masih saja malu malu kucing.


Regaf pun ikut berbaring dan melingkarkan tangan nya di perut rata istri nya. Vanca tersentak karena tiba tiba saja diperlukakan seperti ini.


Regaf memeluk erat Vanca dan menyembunyikan kepala nya di ceruk leher Vanca. Ia menghirup aroma Vanca lalu berkata "Good night," bisik nya dengan suara berat.


Itu mampu membuat bulu kuduk Vanca meremang, tapi Vanca suka dengan posisi ini. Hangat, itu lah yang dirasakan kedua nya.


Vanca tersenyum mendengar nya, sebelum ia tidur ia membalas ucapan Regaf "Good night my husband." Lalu kedua nya larut dalam mimpi yang indah.

__ADS_1


***


__ADS_2