REGAF ARGANTARA

REGAF ARGANTARA
REGAF ~ 39


__ADS_3

"khm.." deheman yang keluar dari bibir gisel memecahkan keheningan diantara mereka. Kini Gisel dan Kenzie sedang berada di sebuah cafe dimana mereka bertemu.


"Kenapa Sel?" Tanya Kenzie menatap Gisel yang tepat berada di depan nya. "Gapapa.. gue seneng aja setelah lama nya gue ga ketemu lo, akhirnya gue bisa ketemu lo disini" kata Gisel dengan senyum manis nya.


"Gue juga seneng bisa ketemu lo lagi, terakhir kali kita ketemu waktu kita Sma di Paris" jawab Kenzie menatap Gisel yang turut menatap nya.


"Lo sekarang kelas 11 Sma ya Ken?" Tnya Gisel.


"Iya.. sebenernya gue males mau lanjut sekolah.. setelah lama gue nunda sekolah gara gara bokap gue yang ga ngebolehin gue sekolah" Kenzie membuang nafas kasar.


"Gue sedih denger waktu itu lo ga dibolehin sekolah gara gara lo harus penuhin keinginan bokap lo kan" Gisel bercerita tentang mereka dengan Kenzie yang masih setia mendengarkan.


"Kita itu seumuran.. cuma beda nya di sini gue mahasiswa dan lo masih siswa sekolah"


"Kenapa lo.. ga langsung kuliah aja?" Tanya Gisel penasaran. Kenzie membuang nafas panjang. "kalo gue ga lanjut Sma, dan gue ga dapet ijazah gimana gue bisa lanjut kuliah?"


"Tapi lo bisa kan langsung ke kelas 12 aja? Kenapa harus dari kelas 11?" Tanya gisel bertubi tubi.


"Sel" Kenzie menatap Gisel sepenuhnya. "Gue rasa gue harus perbaiki semua nilai mata pelajaran gue.. gue mikir kalo gue langsung kelas 12.." Kenzie mengantungkan kalimat nya membuat Gisel penasaran.


"Gue bakal susah buat nangkep pelajaran nanti nya.. jadi ini udah jadi keputusan gue buat ngejar impian gue" jawab Kenzie dengan seulas senyum tipis.


Ya memang, Kenzie ini dulu nya satu Sma dengan Gisel di Paris. Umur mereka berpaut setahun saja. Saat itu mereka masih kelas 10. Dan Kenzie saat itu disuruh memberhentikan sekolah nya oleh ayah nya sendiri karena ayah nya ingin Kenzie langsung belajar masalah perusahaan saja.


Dan Kenzie tak bisa menolak itu, ia pun menuruti keinginan Ayah nya. Dan Kenzie pindah dari Paris ke London.


Kenzie disana tinggal bersama sang kakak laki laki nya. Ia berlajar dari kakak nya tentang beberapa materi perusahaan. Ia pun menyempatkan untuk belajar dengan cara melihat meteri sekolah dari internet.


Dan sampai Ayah Kenzie meninggal. Kenzie pun pindah dengan sang kakak ke Indonesia. Kakak nya berasumsi untuk memasukan lagi Kenzie ke dalam sekolah. Untuk masa depan Kenzie juga kedepan nya.


Jika kalian tanya dimana sang Ibu? Ibu nya telah meninggal saat Kenzie masih berumur 8 tahun. Dan Kenzie tinggal bersama sang Ayah juga Kakak laki laki nya.


"Gue kagum sama lo Ken, lo rela berhenti sekolah demi permintaan bokap lo doang." Ucap Gisel dengan tatapan teduh nya.


"Lo jangan kasiani gue Sel.."


"Gue ga kasiani lo.. gue bangga sama lo."

__ADS_1


gue bangga sama lo dan sampai sekarang gue masih nyimpen perasaan ke lo Ken


"Thanks Sel.. lo emang temen terbaik gue dari dulu" Kenzie memberi senyum manis nya yang membuat Gisel tak karuan.


"Temen ya Ken?" Kekeh Gisel. Ia terlalu berharap pada Kenzie. Dan kenyataan nya Kenzie tak menaruh hati pada nya.


"Iya lah lo kan emang temen gue gimana si lo" Kenzie tertawa ringan.


"Iya Ken" Perasaan Gisel sungguh berkecamuk, ia ingin mengungkap kan ini tapi ia takut hubungan pertemanan mereka malah hancur. Gisel memilih diam.


***


"Stt stt.." Vanca menepuk nepuk pantat bocah itu ketika mulai pulas tidur di atas ranjang empuk milik Vanca dan Regaf tentu nya.


Senyum Vanca tak berhenti terukir, ia sangat menyukai anak kecil. Ia nampak senang bisa merawat anak ini, walau untuk sementara saja.


Regaf sedari tadi pun tak beralih pandangan nya dari Vanca yang sibuk dengan anak kecil itu. Ia merasa Vanca sudah cocok untuk menjadi seorang ibu?


Nttah lah.. mungkin itu hanya angan. Toh mereka juga masih sekolah. Masih sangat jauh untuk itu. Regaf tak henti menatap Vanca, tangan nya terulur untuk mengusap surai hitam itu. Hal itu membuat sang empu menoleh kan kepala nya.


"Seneng banget keliatan nya" ucap Regaf yang diringi kekehan renyah di akhir kalimat. "Aku gatau.. seneng aja gitu ngeliat anak ini" Vanca menatap anak kecil itu dengan tatapan teduh nya.


Sudah hampir sore, dan Mami Papi belum juga pulang. Juga.. Gisel. Kalau Ara jangan di pikirkan, kalau ia sudah bersama teman nya pasti akan lupa waktu kecuali di ingati untuk pulang. Lagi pula sekarang ia sedang menginap jadi tidak apa apa jika tak pulang.


"Udah jam segini.. tapi Mami Papi sama Gisel belum juga pulang" ucap Vanca melirik jam di dinding kamar mereka.


"Ntar malam paling pulang" Jawab Regaf kelebih santai. Vanca juga heran kenapa Regaf sesantai itu. "Kok kamu santai banget si?"


"Mereka udah gede, Mami Papi paling sampe malam di rumah sakit nya, atau engga.. nginep" jawab Regaf sambil memainkan ponsel nya tenang.


Vanca mengangguk kecil, ia memaklumi. Mungkin Mami Papi lama karena memang ingin menemani teman nya yang sedang sakit.


Tiba tiba Regaf melempar pelan ponsel nya ke atas ranjang membuat Vanca bingung. Padahal tadi ia anteng saja bermain ponsel. Beberapa detik kemudian terdengar lengkuhan dari bibir anak kecil itu. Seperti nya tidur nya terusik.


"Ssttt sstt..." Vanca kembali menenangkan anak itu dengan menepuk pantat nya pelan. Dengan sekejap anak itu kembali pulas. Posisi nya anak itu tidur miring dengan menghadap Regaf. Vanca dan Regaf duduk berhadapan di atas Ranjang


"Kamu suka anak kecil ya?" tanya Regaf setelah anak itu kembali tertidur. "Iya.. suka banget.."

__ADS_1


"Gimana dengan omongan kamu tadi pagi?" kata Regaf seraya menaik turun kan sebelah alis nya. Vanca sempat berfikir sebentar, ia tak tahu apa yang dimaksud dengan Regaf saat ini.


"Omongan aku yang mana?" ternyata Vanca belum juga connect. Vanca mencoba mendekati Vanca, menatap anak kecil itu sebentar lalu beralih menatap Vanca yang turut menatap nya.


"Honeymoon?"


Jleb. Vanca meneguk ludah dengan susah payah, ternyata Regaf masih mengingat tentang Itu. Sungguh Vanca tak bersungguh sungguh soal itu ia hanya mencoba meyakinkan Mami Wenda saja.


"Gaf.. a-aku.. aku ga serius soal itu.. lagi pula kita masih sekolah.." sahut Vanca. Ia tak enak hati mengucapkan ini sebenarnya, namun ini lah fakta nya. Vanca menatap Regaf, nampak perubahan dari raut wajah Regaf. Nampak lesu.


"Iya aku ngerti kok.. " Jawab Regaf dengan seulas senyum. Senyum yang membuat dada Vanca sesak melihat nya.


Regaf hendak beranjak turun namun panggilan dari Vanca mengurungkan niat nya.


"Gaf.. gimana kalo kita coba tinggal di rumah yang papi beliin buat kita?" Vanca tak yakin sebenarnya, namun ia juga tak bisa berlama lama disini bersama mertua nya.


Regaf nampak berfikir sejenak lalu memutuskan jawaban yang membuat Vanca tersenyum. "Kalau kamu udah yakin ya gapapa.. tapi kalo terpaksa jangan ya.." ujar Regaf lembut.


"Aku beneran Gaf. Aku juga gaenak disini terus, takut ngerepotin Mami Papi juga.." kata Vanca berasumsi. Regaf kembali memikirkan perkataan Vanca, ada bener nya juga.


"Yaudah, nanti kita omongin lagi ya"


"Kamu mau kemana?"


"Mandi. Mau ikut?" Ucapan Regaf membuat ia blushing . Vanca mengeleng sebagai jawaban.


"Kirain mau ikut" ucap Regaf dengan tertawa Renyah. Sungguh Vanca malu telah menanyakan nya tadi. Harus nya ia tak bertanya.


Regaf pun masuk kedalam kamar mandi untuk bersih bersih. Vanca juga heran, masih jam segini Regaf sudah mandi? Tak biasa nya. Namun Vanca tak ingin memikirkan itu.


Ia kembali menatap anak kecil ini. Pipi yang gembul membuat Vanca gemas sendiri jadi nya. Ingin sekali ia mencubit pipi tembem itu, namun ia tahan. Yang ada anak itu akan terbangun dan menangis.


***


Oke gimana chapter ini?


Maaf bgt klo ngebosenin, susah buat mikir. Nulis itu ga mudah seperti apa yg kalian pikirkan.

__ADS_1


Yaudah babay, segitu aja, kalo suka jangan lupa like, vote dan tinggalkan jejak kalian!!


__ADS_2