
Risa langsung menutup mulutnya rapat-rapat saat mendapat tatapan tajam bak pisau yang siap menghunjamnya kapan saja. Dia lalu memalingkan wajahnya ke arah lain karena tidak sanggup dengan tatapan tajam dari Damian.
Tidak berselang lama, datanglah pelayan ke tempat itu untuk menyajikan makanan dan minuman. Dia lalu mempersilahkan para pelanggannya untuk menikmati apa yang sudah dia sajikan.
Risa melirik ke arah makanan yang ada di atas meja. Perasaan dia belum memesan apapun, tetapi kenapa sudah ada makanan dan minuman untuknya?
"Cih. Pasti dia yang memesannya, dasar gak tau aturan." Risa berdecak dalam hati karena Damian sudah berlaku sesuka hati tanpa bertanya dulu padanya.
"Kau mau terus menatapku, atau makan?" tanya Damian dengan tajam membuat Risa langsung menundukkan kepalanya dengan mencebikkan bibir.
Risa lalu memakan makanan yang ada di hadapannya. Untung saja makanan itu rasanya enak, jika tidak dia sudah melemparnya ke wajah laki-laki itu.
Setelah selesai makan, Damian langsung beranjak dari tempat itu membuat Risa juga terpaksa mengikutinya. Padahal dia masih mau menghabiskan waktu di tempat itu, sayang 'kan, udah bayar makanan mahal-mahal tapi langsung pulang gitu aja?
"Tapi tunggu, ini benar-benar aku yang bayar?" Risa kembali merasa panas dingin. Padahal dia makan bersama dengan laki-laki, tetapi kenapa malah dia yang di suruh bayar? Benar-benar tidak keren sekali.
"Kau tunggu apa lagi?" ucap Damian dengan tajam membuat Risa terkesiap.
"Ba-baik." Risa melangkahkan kakinya dengan cepat menuju meja kasir. Dia lalu mengeluarkan kartu kreditnya dan bertanya berapa jumlah makanan yang baru saja mereka makan.
"Semuanya sudah dibayar oleh kekasih Anda, Nona," ucap wanita itu membuat Risa memgernyitkan keningnya.
"Kekasih?" Risa merasa bingung.
"Benar, Nona. Laki-laki yang tadi bersama dengan Anda."
Risa langsung menganggukkan kepalanya saat baru memahami siapa sosok kekasih yang dimaksud oleh wanita itu. "Cih, dia kan bukan kekasihku." Dia merasa kesal, dan rasanya ingin sekali mengaminkan ucapan yang baru saja terucap.
Risa lalu melangkah pergi untuk mencari keberadaan Damian. Dia melihat ke sana kemari untuk mencari laki-laki itu, tetapi dia tidak menemukannya. Mungkinkah laki-laki itu sudah pulang?
"Apa dia sudah pulang?"
"Siapa?"
Risa terlonjak kaget saat mendengar suara baritone seseorang yang tepat berada di belakangnya. Sontak dia langsung berbalik sambil memegangi dadanya yang berdegup kencang.
__ADS_1
"Apa yang Anda lakukan sih? Kenapa mengagetkan saya?" tanya Risa dengan ketus. Hampir saja jantungnya melompat keluar dari rongga dada karena perbuatan laki-laki yang tidak bertanggung jawab itu.
"Kau saja yang tidak melihat aku ada di sini, malah menyalahkanku," balas Damian dengan tidak kalah ketus. Dia lalu berjalan lurus ke depan di mana mobilnya berada.
Risa langsung berdecak kesal saat melihat apa yang laki-laki itu ucapkan. Dia lalu mengikiti langkah Damian sambil menghentak-hentakkan kakinya dengan kasar.
"Ayo, kita harus memeriksa aula pesta sebelum pergi besok!" ajak Damian sambil masuk ke dalam mobil.
Risa menganggukkan kepalanya lalu berjalan ke arah di mana mobilnya berada, dia lalu menghidupkan mesin mobil itu dan berlalu pergi dari sana.
*
*
Setelah segala persiapan yang menguras tenaga dan waktu selesai, akhirnya hari ini Vicky dan Hyuna akan melangsungkan akad nikah di rumah kedua orang tua Hyuna.
Sudah berdiri tegak teratak dihalaman rumah orang tua Hyuna yang dihiasi dengan bunga-bunga yang sangat indah, tirai-tirainya juga terlihat melambai-lambai karena terkena kipas yang dipasang di setiap sudutnya.
Para tamu undangan terlihat mulai memadati tempat itu, begitu juga dengan semua keluarga yang sudah berkumpul di sana dengan memakai pakaian yang seragam. Keluarga Hyuna memakai gaun berwarna sage, sementara para lelakinya juga memakai batik dengan warna senada.
"Apa Hyuna belum siap juga Bu?" tanya Beni pada sang istri.
"Sebentar, biar ibu liat dulu." Aida beranjak dari tempat itu untuk masuk ke dalam rumah, dan melihat apakah Hyuna sudah siap atau belum.
"Masyaallah, Nak. Kau cantik sekali," ucap Aida dengan tatapan kagum saat masuk ke dalam kamar Hyuna, dan melihat wajah sang putri.
"Iya kan, menantuku memang sangat cantik," seru Vanes. Sejak memijakkan kaki di tempat ini, dia langsung mencari Hyuna dan terus berada di samping wanita itu.
Hyuna menundukkan kepalanya dengan wajah bersemu malu, benar-benar membuat mereka semua merasa gemas.
"Ayo, semua orang sudah menunggumu!" ajak Aida sambil menggandeng lengan Hyuna membuat putrinya itu mengangguk dan beranjak dari tempat itu.
Sementara itu, di luar terlihat Vicky juga sudah siap dengan kemeja dan jas berwarna putih yang membalut tubuh kekarnya. Semua orang berdecak kagum saat melihat ketampanan yang terpancar diwajahnya. Apalagi sejak tadi Vicky selalu tersenyum penuh dengan kebahagiaan membuat wajahnya benar-benar sangat tampan.
Suasana yang tadinya ramai berubah senyap saat sang calon mempelai wanita tampak berjalan ke arah di mana calon mempelai lelaki sedang menunggunya.
__ADS_1
Vicky membulatkan matanya saat menatap wajah Hyuna yang benar-benar sangat cantik, matanya tidak bisa berkedip walau satu detik saja saat melihat wanita yang sebentar lagi akan menjadi istrinya.
"Tuan, Anda diminta untuk ke sana," ucap Damian sambil menepuk bahu Vicky membuat laki-laki itu terlonjak kaget.
Semua orang tertawa geli saat melihat wajah Vicky yang benar-benar terpaku ke arah Hyuna, bahkan tidak dengar jika sejak tadi sudah dipanggil oleh mamanya sendiri.
Vicky melangkahkan kakinya untuk mendekati Hyuna yang saat ini sedang menunduk karena merasa malu, benar-benar membuat Vicky merasa gemas dan ingin langsung membawanya ke dalam kamar.
Vicky lalu mengulurkan tangannya ke arah Hyuna, dan langsung diterima oleh wanita itu. Mereka lalu berjalan ke arah di mana pak penghulu sudah menunggu, dengan diiringi tepuk tangan yang sangat meriah dari semua orang yang ada di tempat itu.
Kini Vicky dan Hyuna sudah duduk di depan penghulu, dan Vicky suduk di depan ayah Hyuna yang akan langsung menikahkan putrinya.
"Bismillahirahmanirrahim, ananda Vicky Kevlar Riandra,"
"Saya, Pak,"
"Saya nikahkan dan kawinkan engkau dengan putri kandung saya yang bernama, Hyuna Isvara binti Beni dengan mas kawin satu set perhiasan berlian dan permata di bayar tunai." Beni menghentakkan tangannya.
"Saya terima nikah dan kawinnya Hyuna Isvara binti Beni dengan mas kawin tersebut di bayar tunaai," ucap Vicky dengan sekali tarikan napas.
"Bagaimana para saksi? Sah?" tanya penghulu.
"Sah!"
"Alhamdulillah."
Semua orang langsung mengucap syukur karena sudah bersatunya Vicky dan Hyuna dalam ikatan suci pernikahan, membuat kedua pengantin meneteskan air mata bahagia.
•
•
•
Tbc.
__ADS_1