Runtuhnya Janji Suci Pernikahan

Runtuhnya Janji Suci Pernikahan
Bab. 40. Gangguan Oma Vanes.


__ADS_3

Vicky langsung menatap Damian dengan tajam saat mendengar ucapan laki-laki itu. "Kau bilang apa, Damian?"


Damian yang baru menyadari akan pertanyaannya mendadak jadi kaku dan tidak berani menoleh ke arah sang tuan. Namun, dia tidak merasa bersalah dengan apa yang ditanyakan karena memang itulah kenyataannya.


"Maaf jika Anda tersinggung, Tuan. Tapi bukankah apa yang saya tanyakan itu benar?"


Damian menoleh ke arah Vicky membuat laki-laki itu langsung buang muka dengan bibir maju beberapa senti.


"Urus saja urusanmu sendiri, Damian. Bukankah selama ini kau tidak pernah dekat dengan seorang wanita?"


Damian langsung menutup mulutnya rapat-rapat saat mendapat balasan dari Vicky. Dia lalu bergegas pamit ke ruangannya karena tidak mau mendengar ucapan tuannya lagi.


Vicky langsung tergelak saat melihat kepergian Damian. Dia benar-benar memberikan serangan telak pada laki-laki itu hingga tidak bisa memberikan balasan lagi.


Setelah rapat, Vicky memutuskan untuk langsung pulang. Hari ini dia akan pulang cepat untuk mengistirahatkan tubuh yang lelah.


Sementara itu, di tempat lain terlihat seorang wanita paruh baya sedang berada direstoran bersama dengan sang cucu.


Pelayan lalu menghampiri mereka, dia memberikan menu makanan dan minuman yang ada direstoran tersebut.


Vanes tersenyum lebar saat melihat foto seorang wanita yang ada di menu makanan itu, dia lalu meletakkan menu tersebut dan menunjuk ke arah sesuatu yang ingin dia pesan.


"Bisakah aku memesan yang ini?"


Pelayan itu menggelengkan kepalanya saat melihat wanita paruh baya itu menunjuk tepat ke arah foto Hyuna. "Apa Anda ingin bertemu dengan Mbak Hyuna?"


Vanes langsung menganggukkan kepalanya saat mendengar ucapan pelayan itu. "Bisakah kau memanggilkan Hyuna sebentar?"


"Baiklah, mohon tunggu sebentar, Nyonya."


Pelayan itu lalu pamit dan berlalu pergi menemui Hyuna, sementara Vanes dan juga Wildan bersorak seneng saat melihat kepergian pelayan itu untuk memanggil Hyuna.


Hyuna yang sedang sibuk menyiapkan pesanan para pelanggan mengalihkan pandangannya saat mendengar panggilan seseorang.


"Mbak, ada yang mau bertemu denganmu."


Hyuna mengernyitkan keningnya saat mendengar ucapan pelayan itu. "Siapa Key?" Tidak mungkin yang datang adalah keluarganya.


"Enggak tau, katanya mau ketemu sama Mbak. Tapi kalau gak salah anak kecil itu sering datang ke sini."


Pikiran Hyuna langsung tertuju pada Wildan yang memang sering datang menunjunginya, tetapi saat ini dia benar-benar sangat sibuk.


"Pergilah sebentar, Mbak. Biar aku yang nyiapkan 2 menu ini," ucap Lisa.


Hyuna bukannya tidak percaya dengan kemampuan asistennya itu, hanya saja dia akan terlihat sangat tidak profesional sekali jika meninggalkan waktu kerja.


"Udah enggak papa, lagi pula pak Dayu sedang tidak ada di tempat, kan?" sambung Lisa sambil mendorong tubuh Hyuna agar keluar dapur.


"Kalau gitu mbak tinggal sebentar ya Lis."

__ADS_1


Lisa menganggukkan kepalanya membuat Hyuna langsung keluar dari tempat itu. Dia membuka celemek yang sejak tadi ada di tubuhnya, dan berlalu keluar untuk menemui seseorang yang mencarinya.


Senyum Wildan dan juga omanya mengembang saat melihat Hyuna, sementara Hyuna sendiri terkejut saat melihat keberadaan wanita paruh baya itu.


"Wildan, Tante?"


Hyuna memilih untuk memanggil orang tua Vicky dengan sebutan tante, mungkin itu akan jauh lebih pantas ketimbang memanggil dengan sebutan mama.


Vanes tersenyum saat mendengar panggilan Hyuna untuknya. "Maaf kalau kami mengganggu waktu kerjamu, Hyuna."


Hyuna menggelengkan kepalanya sambil duduk di samping Wildan. "Tidak apa-apa, Tante. Tapi aku tidak bisa menemani Tante dan juga Wildan lama-lama."


Vanes menganggukkan kepalanya karena mengerti jika saat ini keadaan restoran cukup ramai, dia saja yang tidak ada kerjaan dan merasa ingin bertemu dengan wanita itu.


"Oh ya, bagaimana kabar Tante?"


Mereka lalu saling bertukar kabar dan mengobrol ria dengan akrab. Padahal Hyuna dan juga Vanes baru saja kenal, tetapi mereka terlihat sangat dekat bagai ibu dan anak.


"Kapan-kapan mainlah ke rumah tante lagi, Hyuna. Vicky pasti suka kalau kau menemuinya."


Hyuna langsung mengernyitkan kening saat mendengar ucapan wanita paruh baya itu, sementara Vanes sendiri langsung panik karena tidak sengaja kelepasan bicara.


"Ma-maksud tante Wildan pasti suka kalau kau datang menemuinya."


Hyuna langsung menganggukkan kepalanya, tetapi entah kenapa dadanya malah berdegup kencang.


Setelah mengobrol beberapa menit, akhirnya Hyuna pamit untuk melanjutkan pekerjaannya kembali. Sebelum pergi dia bertanya pada Vanes dan juga Wildan mengenai makanan dan minuman yang ingin mereka pesan.


Sementara itu, Vicky yang masih berada di perusahaan terkejut saat tiba-tiba menerima sebuah foto yang dikirimkan dari sang mama. Matanya membulat sempurna saat melihat seorang wanita yang duduk di samping Wildan.


"Apa yang mama lakukan di sana?"


Tiba-tiba perasaan cemas dan khawatir merasuk dalam diri Vicky membuatnya langsung beranjak keluar dari ruangannya. Terlihat jelas jika foto yang mamanya kirim adalah foto yang diambil sore tadi.


Damian yang sedang berkutat dengan pekerjaannya langsung berdiri saat melihat Vicky keluar dari ruangan.


"Kita pergi sekarang, Damian."


Damian yang akan bertanya kalah cepat dengan langkah Vicky yang sudah beranjak pergi dari tempat itu. Dia lalu segera membereskan pekerjaannya dan berlalu pergi menyusul langkah sang tuan.


Kedua lelaki itu lalu masuk ke dalam mobil dan berlalu pergi dari tempat itu.  Vicky lalu mengatakan jika mereka akan pergi menemui Hyuna membuat Damian langsung menatap bingung.


"Kita mau ke restoran atau ke rumahnya, Tuan?"


Vicky diam sejenak untuk memikirkan pertanyaan Damian. Dia lalu melirik ke arah jam yang melingkar di pergelangan tangannya, dan sekarang sudah menunjukkan pukul 10 malam.


"Kita ke rumahnya saja."


Damian mengangguk paham lalu melajukan mobilnya menuju rumah Hyuna. Dia menyalip beberapa kendaraan yang ada di depannya agar bisa lebih cepat sampai ke tempat tujuan.

__ADS_1


15 menit kemudian, mereka sudah sampai di halaman rumah Hyuna. Vicky dan Damian bergegas turun dari mobil dan berjalan ke rumah wanita itu.


Damian langsung mengetuk pintu rumah Hyuna sambil mengucap salam, dan tidak berselang lama terdengar jawaban dari dalam rumah tersebut.


Aida yang sedang berada di dapur bergegas ke ruang depan saat mendengar pintu rumah itu di ketuk. Dia lalu menjawab salam dari seseorang dan segera membukakan pintu untuknya.


Vicky dan Damian terkejut saat melihat wanita paruh baya yang membukakan pintu untuk mereka. Terlihat jelas kemiripan wajahnya dengan wajah Hyuna, mungkinkah wanita paruh baya itu adalah orang tua Hyuna?


"Maaf, tuan-tuan sedang mencari siapa?"


Lamunan Vicky dan juga Damian langsung buyar saat mendengar suara wanita paruh baya itu.


"Maaf jika kedatangan kami mengganggu, Tante. Kami hanya ingin bertemu dengan nona Hyuna."


Aida menganggukkan kepalanya dan segera mempersilahkan kedua lelaki itu untuk masuk dan duduk di dalam rumah.


"Tunggu sebentar ya."


Vicky dan Damian menganggukkan kepala mereka saat mendengar ucapan wanita paruh baya itu, sementara Aida  berlalu pergi ke dapur untuk membuatkan kedua lelaki itu minuman.


Yudha yang mendengar suara seorang lelaki beranjak keluar dari kamar. Dia terkejut saat melihat Vicky dan Damian sudah duduk manis di ruang tamu.


"Tu-tuan, apa yang sedang Anda lakukan di sini?" tanya Yudha membuat Vicky dan Damian menoleh ke arah laki-laki itu.


"Di mana mbakmu?"


Bukannya menjawab pertanyaan Yudha, tetapi Vicky langsung bertanya tentang keberadaan Hyuna.


"Hari ini mbak Hyuna shif sore, jadi kemungkinan tengah malam nanti dia baru pulang dari restoran," jawab Yudha membuat Vicky menganggukkan kepalanya.


Tidak berselang lama, Aida kembali ke ruang tamu dengan membawa kopi dan juga camilan. Dia meletakkannya di atas meja dan mempersilahkan mereka untuk menikmatinya.


"Terima kasih, Tante."


Vicky mengambil kopi itu dan menyeruputnya, dia lalu melirik ke arah Yudha seolah bertanya siapa wanita paruh baya yang ada di hadapannya saat ini.


"Oh ya, apa kalian ini teman-teman Hyuna?"


Vicky dan Damian mengangguk kompak. "Benar, Tante. Aku adalah teman Hyuna." Vicky mengulas senyum tipis sambil menjawab pertanyaan wanita paruh baya itu.


"Wah, tante enggak menyangka kalau Hyuna punya teman yang sangat tampan seperti kalian."





Tbc.

__ADS_1


__ADS_2