
Semua orang langsung melihat ke arah belakang saat mendengar suara seseorang, dan terlihat Yudha sedang berjalan ke arah mereka untuk menghampiri sang kakak.
"Siapa kau? Berani sekali kau- aaw!"
Laura memekik kaget saat tiba-tiba Yudha mengambil secangkir teh yang ada di atas meja lalu menyiramkan tepat ke tubuhnya. Semua orang terlonjak kaget dengan apa yang laki-laki itu lakukan, terutama Hyuna yang langsung menarik lengan sang adik.
"Beraninya, beraninya kau menyiramku!"
Laura yang akan menyerang Yudha langsung dicekal oleh Aksa, sementara Dayu berusaha untuk menenangkan mereka semua.
"Tolong jangan membuat keributan di tempat ini atau saya terpaksa mengusir kalian semua!" ucap Dayu dengan penuh penekanan.
"Kau bukan hanya harus mengusirnya, tapi juga harus memecat wanita seperti dia."
Laura menunjuk ke arah Hyuna dan sedikit pun tidak menghiraukan ucapan Dayu, sementara Aksa sudah menarik tangan Laura agar pergi dari tempat itu.
"Lepaskan aku, Aksa. Aku harus memberi pelajaran pada wanita penggoda itu!"
Laura berusaha melepaskan cekalan Aksa, tetapi laki-laki itu mencengkramnya dengan kuat sambil menariknya keluar.
"Apa kau tidak punya kaca? Apa perlu, mbakku membelikan kaca untukmu?"
Langkah Aksa dan juga Laura terhenti saat mendengar ucapan Yudha, sementara Hyuna berusaha untuk menyuruh adiknya diam.
"Diamlah, Yudha," ucap Hyuna dengan penuh penekanan sambil menatap Yudha dengan tajam.
"Dan kau juga, Laura."
Hyuna lalu beralih melihat ke arah wanita itu. Sejak tadi dia diam karena tidak mau membuat keributan di tempat kerjanya, tetapi diamnya itu sepertinya membuat Laura semakin menjadi-jadi.
"Sejak tadi kau terus menghina dan merendahkanku, apa kau tidak ingat jika suamimu itu dulu adalah suamiku?"
Semua orang langsung heboh, mereka seperti sedang melihat drama sinetron secara langsung.
"Kau-"
"Sejak tadi aku diam karena tidak mau membuat keributan, tapi kau semakin semena-mena dan merasa paling benar. Kau mengatakan aku pelakor, jadi kau sendiri itu apa, Laura?"
__ADS_1
Laura mengepalkan kedua tangannya dengan erat. "Kau-"
"Aku belum selesai bicara." Hyuna mengangkat tangannya. "Jika aku dinamakan pelakor karena bertemu di tempat ini dengan suamimu, lalu sebutan untukmu yang sudah menjadi kekasih bahkan menikah dengan suamiku itu apa, hah?"
Laura langsung terdiam saat mendengar ucapan Hyuna, sementara Yudha tersenyum senang karena sang kakak mau melawan wanita itu.
"Jadi cukup sampai di sini, Laura. Jangan samakan aku denganmu, dan jangan merendahkan orang lain hanya karena kau wanita rendahan. Intropeksi dirilah."
Hyuna langsung berbalik dan berjalan masuk ke dalam restoran, sementara Aksa menarik Laura dengan kuat dan membawanya pergi dari tempat itu.
Hyuna langsung masuk ke dalam kamar mandi dan membasuh tubuhnya dengan air. Terlihat sebagian kulitnya memerah akibat tersiram oleh air kopi tadi.
"Hah."
Hyuna menghela napas kasar sambil menyandarkan tubuhnya ke dinding. Dia benar-benar merasa lelah dan malu jika harus selalu bertengkar dengan Laura, padahal dia sama sekali tidak berniat untuk kembali pada laki-laki itu.
"Sebenarnya kenapa Laura seperti itu sih? Jika aku memang mau kembali pada mas Aksa, kenapa aku harus repot-repot bercerai darinya? Heran."
Hyuna benar-benar tidak habis pikir dengan apa yang Laura lakukan, terlihat jelas jika wanita itu sangat membencinya padahal seharusnya dialah yang membenci wanita itu.
"Mbak, aku sudah meletakkan baju ganti Mbak di luar."
Setelah selesai, Hyuna segera pergi ke ruangan Dayu untuk meminta maaf tentang keributan yang sudah terjadi.
"Aku harap ini terakhir kalinya ada keributan seperti tadi, Hyuna. Bagaimana jadinya jika pemilik restoran ada di sini saat terjadi keributan? Bukan hanya kau saja yang akan di pecat, tapi aku juga tidak akan selamat."
Hyuna menganggukkan kepalanya lalu kembali mengucapkan maaf dan terima kasih, setelah itu dia beranjak keluar dan segera pulang ke rumah bersama dengan Yudha.
Setelah sampai di rumah, Hyuna segera masuk ke dalam kamar dan merebahkan diri di atas ranjang. Banyak sekali yang terjadi dalam hidupnya satu harian ini, hingga membuatnya merasa benar-benar lelah.
Pada saat yang sama, Aksa dan Laura baru saja tiba di rumah. Laura langsung membanting tasnya ke sofa dengan amarah yang meletup-letup.
"Kau benar-benar hebat ya. Ternyata selama ini kau masih berhubungan dengan wanita itu."
Aksa menghela napas kasar sambil mengusap wajahnya. Sudah banyak sekali masalah yang terjadi hari ini, dan jika ditambah dengan pertengkaran. Maka dia tidak akan sanggup.
"Kenapa diam, hah? Apa sekarang kau mengakui bahwa masih berhubungan dengan wanita itu?"
__ADS_1
"Cukup, sudah cukup, Laura!" bentak Aksa membuat wanita itu terkesiap. "Aku sudah mengatakan jika tidak ada hubungan apapun dengan Hyuna, tapi terserah jika kau mau percaya atau tidak."
"Lalu kenapa kalian bisa berduaan? Tidak mungkin 'kan, kalian tidak sengaja bertemu di tempat kerja wanita itu? Apa kau pikir aku ini bod*oh, hah?"
Aksa kembali menghela napas kasar, sepertinya wanita itu tidak akan percaya apapun yang dia katakan.
"Baiklah, terserah kau saja mau percaya atau tidak. Aku datang ke sana karena ingin membahas tentang sesuatu dengannya, dan tidak lebih dari itu."
Aksa lalu berbalik dan menaiki tangga menuju kamar. Kepalanya berdenyut sakit dengan semua yang sedang terjadi, dia merasa tidak sanggup dengan semua masalah itu.
Laura menatap kepergian Aksa dengan penuh emosi. Lihat saja, dia akan mencari cara agar Hyuna pergi dari restoran itu dan tidak ada kesempatan bagi Aksa lagi untuk menemui wanita itu.
Sementara itu, di tempat lain terlihat seorang wanita sedang bersimpuh dikaki seorang lelaki yang sedang menatapnya dengan tajam. Dia terus memohon agar laki-laki itu mau bertanggung jawab atas kehamilannya, lalu mereka akan menikah dan hidup bahagia.
"Berhenti menggangguku, Riska. Aku sudah mengatakan jika kita sudah tidak ada hubungan apapun lagi, jadi jangan muncul lagi di hadapanku!" ucap laki-laki itu dengan penuh penekanan, membuat Riska menggelengkan kepalanya.
"Tidak, Bima. Jangan lakukan itu padaku, aku sangat mencintaimu dan tidak bisa hidup tanpamu."
Riska terus menghiba mengharapkan belas kasihan laki-laki itu. Sejak dulu dia sangat mencintai Bima, dia bahkan rela memberikan semuanya pada laki-laki itu.
Saat mengetahui tentang kehamilannya, Riska merasa sangat senang dan langsung memberitahukan semua itu pada Bima.
Namun, siapa sangka jika laki-laki itu malah menolak dan memutuskan hubungan mereka. Bima bahkan menyuruhnya untuk menggugurkan kandungan yang saat ini masih berusia 4 minggu.
Bima melepaskan tangan Riska dari kakinya dengan kasar, dia lalu menarik paksa tubuh wanita itu untuk membawanya keluar dari kontrakannya.
"Aku mohon jangan tinggalkan aku, Bima. Aku sangat mencintaimu, aku rela melakukan apapun asal kau tidak meninggalkan aku." Riska menangkupkan kedua tangannya di depan dada.
Bod*oh memang jika mengemis cinta dari seseorang yang sama sekali tidak mempunyai perasaan pada kita, tetapi seperti itulah cinta buta yang kerap kali menghancurkan hidup banyak orang.
Bima menyeringai saat mendengar ucapan Riska. "Baik, aku akan tetap bersamamu jika kau menggugurkan bayi itu. Lalu kita bisa bersama seperti dulu lagi."
•
•
•
__ADS_1
Tbc.