
Air mata Hyuna langsung mengalir deras saat melihat keadaan Riska saat ini. Dia tidak menyangka dengan apa yang terjadi pada wanita itu, padahal beberapa hari yang lalu Riska masih baik-baik saja.
"Apa Mas sudah melaporkan semua ini pada polisi?"
Hyuna lalu menoleh ke arah Aksa yang langsung diangguki oleh laki-laki itu. "Aku sudah melaporkannya, dan saat ini pihak kepolisian sedang melakukan penyelidikan."
Hyuna langsung mengangguk dengan helaan napas lega, para penjahat yang telah menyakiti Riska harus segera ditangkap dan dihukum dengan seberat-beratnya. Mereka bukan hanya sudah menyakiti, tetapi sudah membunuh dan juga menghancurkan masa depan orang lain.
Mona yang terkejut melihat kedatangan Hyuna hanya bisa terdiam kaku di atas kursi. Matanya terus menatap ke arah wanita itu, sementara Hyuna sama sekali tidak melihat ke arahnya.
"Mbak!"
Hyuna lalu memalingkan wajahnya ke arah samping kanan, terlihat Ruby yang baru saja dari toilet langsung berlari dan memeluk tubuhnya dengan erat.
"Kak Riska, Mbak. Kak Riska, huhuhu."
Hyuna memeluk tubuh Ruby dengan erat, dia lalu mengusap punggung gadis itu untuk menenangkannya.
"Sabar, Ruby. Semua ini adalah cobaan untuk kita semua, terutama untuk Riska. Mbak yakin pasti ada hikmah yang luar biasa dibalik cobaan ini."
Ruby menganggukkan kepalanya lalu melerai pelukan itu. Dengan cepat Hyuna mengusap wajahnya yang basah dengan air mata membuat hatinya kian tenang.
Aksa yang melihat perhatian Hyuna benar-benar merasa bahagia, sementara Mona menundukkan kepalanya dengan hati yang sesak.
"Sudah cukup menangisnya, kau harus memikirkan kesehatanmu sendiri, Hyuna."
Semua orang langsung menoleh ke arah Vicky, begitu juga dengan Hyuna yang langsung mengangguk dan tersenyum.
"Ada apa dengan kesehatanmu, Hyuna? Apa kau sakit lagi?" tanya Aksa dengan khawatir. Apa kondisi wanita itu belum baikan?
"Dia baik-baik saja."
__ADS_1
Hyuna yang akan menjawab pertanyaan Aksa kalah cepat dengan Vicky, tentu saja dia langsung menatap laki-laki itu dengan bingung.
"Syukurlah jika kau sudah sehat, Hyuna."
"Tentu saja. Dia akan selalu sehat jika berada dalam lingkungan orang-orang yang sehat pula, tidak dengan orang-orang yang suka merendahkan, menghina, bahkan menuntut sebuah kesempurnaan tanpa sadar jika diri sendirilah manusia yang paling hina."
Deg.
Ucapan Vicky terasa menampar hati Mona dan juga Aksa hingga membuat tubuh mereka menegang, sementara Hyuna sendiri tercengang karena tidak menyangka jika Vicky akan mengatakan hal seperti itu.
Lalu, bagaimana dengan Yudha? Jangan tanya betapa bahagianya dia saat ini, bahkan tangannya sudah mengepal kuat karena ingin tepuk tangan karena ucapan tajam laki-laki itu.
"Jika sudah selesai, ayo kita pulang!" ajak Vicky kemudian. Dia tidak ingin Hyuna berlama-lama ada di tempat itu, apalagi saat melihat seorang wanita paruh baya yang sejak tadi diam di tempat itu. Tentu dia tahu jika wanita paruh baya itulah pemeran antagonisnya.
Hyuna hanya mengangguk saja sambil berbalik dan menghadap ke arah Aksa, bersiap untuk pamit pulang dengan laki-laki itu.
Namun, belum sempat Hyuna mengeluarkan suaranya. Tiba-tiba Ruby berteriak karena melihat Riska membuka mata, dengan cepat Aksa segera memanggil Dokter untuk memberitahukan jika adiknya sudah sadar.
Kemudian para dokter masuk ke dalam ruangan Riska untuk memeriksa kondisi wanita, sementara yang lain tetap berada di luar ruangan dengan perasaan gelisah.
Aksa menganggukkan kepalanya, sementara Mona yang ada di samping Ruby melirik ke arah Hyuna dengan mata berkaca-kaca.
Entah kenapa perasaannya sangat kacau saat kedatangan Hyuna. Rasa sakit terus menusuk-nusuk dadanya, hingga membuat sesak dan merasa tidak nyaman.
Setelah selesai melakukan pemeriksaan, Dokter dan perawat segera keluar dari ruangan itu membuat semua orang langsung bertanya bagaimana keadaan Riska saat ini.
"Kondisi pasien sudah stabil, Tuan. Hanya saja pasien sangat terkejut dengan apa yang sudah terjadi, jadi kami harap agar pihak keluarga bisa mencoba untuk bicara padanya."
Aksa dan yang lainnya langsung bernapas lega saat mendengar penjelasan Dokter, mereka juga sudah boleh masuk ke ruangan untuk menjenguk Riska secara langsung.
Hyuna yang akan ikut masuk langsung dicekal oleh Yudha, membuat dia berbalik dan menatap sang adik dengan bingung.
__ADS_1
"Mbak enggak perlu ikut masuk, cukup mereka yang-" Yudha tidak bisa melanjutkan ucapannya saat bahunya ditepuk oleh Vicky.
"Biarkan mbakmu masuk, Yudha. Tapi berjanjilah untuk tidak menangis lagi, apa kau bisa?"
Hyuna langsung menganggukkan kepalanya, lalu mereka tiga terlonjak kaget saat mendengar teriakan dari dalam ruangan itu.
"Tenanglah, Riska. Ini kakak, Ris. Ini kakak." Aksa mencoba untuk memeluk tubuh Riska yang sedang memberontak.
"Lepaskan aku, jangan sentuh aku!" teriak Riska sambil menepis tangan Aksa. "Jangan mendekat, jangan lukai anakku." Dia menatap semua orang dengan nyalang dan tubuh gemetar takut.
"Ini ibu, Nak. Jangan takut,"
"Jangan mendekat, pergi kalian semua. Jangan sakiti anakku." Riska meringkuk di atas ranjang sambil memeluk perutnya dengan erat. Rambutnya acak-acakan, dan terlihat jelas jika saat ini dia sedang ketakutan.
Mona dan Ruby langsung menangis histeris saat melihat apa yang Riska lakukan, sementara Aksa segera keluar untuk kembali memanggil Dokter.
Hyuna, Vicky, dan juga Yudha yang sudah masuk ke dalam ruangan sangat terkejut saat melihat apa yang terjadi. Kemudian Hyuna berusaha untuk mendekati Riska.
"Riska, ini Mbak. Mbak datang untuk melihatmu."
Riska semakin memundurkan tubuhnya dengan takut, dia menundukkan kepalanya dan enggan untuk melihat ke arah semua orang.
"Riska, coba lihat. Mbak bersama dengan ibu dan juga Ruby, apa kau tidak ingin melihat kami?"
Riska menggelengkan kepala sambil menutup kedua telinganya. "Pergi, pergi kalian semua. Jangan sakiti aku." Dia mengamuk dan hilang kendali. Tangannya melempar semua barang-barang yang ada di tempat itu, termasuk tiang penganggah infus.
"Hyuna, awas!"
•
•
__ADS_1
•
Tbc.