
Wanita itu menatap Yudha dengan sangat kesal, tetapi dia tidak bisa membantah atau membalas ucapan laki-laki itu karena semua orang menetapnya dengan tajam.
Setelah berbincang dengan keluarga besarnya, Hyuna beranjak dari tempat itu untuk masuk ke dalam kamar. Dia lalu memeriksa ponse yang mungkin ada sesuatu yang penting.
"Ya Allah, banyak sekali," pekik Hyuna saat melihat ada banyak pesan masuk dari Vicky. Dia lalu membaca pesan itu dan tergelak karena tidak percaya dengan apa yang laki-laki itu kirim, padahal Vicky bukan lagi anak ABG yang masih labil dan pertama kali jatuh cinta.
Hyuna lalu terkesiap saat mendengar dering ponselnya, dengan cepat dia mengangkat panggilan dari Vicky
"Halo!"
"Halo, apa kau masih hidup, Hyuna?"
Hyuna tercengang dengan apa yang Vicky katakan. "Apa kau mendo'akan aku tiada, Mas?" Dia bertanya dengan tajam.
"Tentu saja tidak, tapi sejak tadi kau tidak menelepon atau pun membalas pesanku. Aku 'kan jadi khawatir," ucap Vicky di sebrang telepon
Hyuna tersenyum lebar. "Aku baik-baik saja kok Mas, aku benar-benar sibuk tadi." Dia berusaha untuk meyakinkan Vicky walau apa yang dia katakan adalah benar.
Vicky menghela napas kasar saat mendengarnya. "Kau boleh saja sibuk, aku tidak akan melarangnya. Tapi, kau juga harus mengingatku."
Hyuna kembali tersenyum dengan hati berbung-bunga. "Iya-iya, aku akan-"
"Mbak, ada teman-teman Mbak di luar."
Hyuna tidak dapat melanjutkan ucapannya saat mendengar ucapan Yudha, dia lalu menganggukkan kepala pada sang adik membuat Yudha segera pergi dari tempat itu.
"Sudah yah Mas, aku benar-benar sibuk. Sampai bertemu 2 hari lagi, Mas. Aku mencintaimu, assalamu'alaikum."
Tut.
Hyuna langsung berkata penjang lebar dan mematikan panggilan itu tanpa memberikan sedikit celah untuk Vicky mengucapkan kata-kata padanya.
Vicky yang berada di dalam kamar langsung salto-salto saat mendengar ucapan Hyuna, walau dia sama sekali tidak diberi kesempatan untuk bicara.
"Semakin lama kau semakin berani dan menggemaskan saja, Hyuna. Bagaimana mungkin aku tidak jatuh cinta dengan sosokmu yang seperti itu?"
__ADS_1
Vicky menggelengkan kepalanya dengan tetap tersenyum cerah. Sepertinya hidupnya akan selalu bahagia dan berwarna saat bersama dengan wanita itu.
Setelah berbicara dengan Vicky, Hyuna bergegas keluar untuk menemui teman-temannya. Sudah lama juga mereka tidak bertemu, hingga akhirnya saling memeluk dengan perasaan terharu seperti saat ini.
Sore harinya, terlihat Damian dan Risa sedang dalam perjalanan menuju hotel di mana pesta pernikahan akan dilangsungkan. Aula yang luas dan kosong itu berubah menjadi taman bunga dengan kilau kemegahan yang luar biasa. Tentu saja semua itu merupakan kemauan Vanes yang ingin agar pernikahan anaknya dirayakan semegah mungkin.
Risa sendiri juga sibuk mempersiapkan gaun pengantin yang akan digunakan, karena Hyuna jauh jadilah dia yang harus mempersiapkan segalanya. Persis seperti sedang mempersiapkan pernikahannya sendiri.
Hari ini gaun untuk akad dan resepsi dikampung halaman Hyuna sudah selesai. Risa segera mengambilnya dan menyuruh supir keluarga Vicky untuk mengantarkan gaun itu ke rumah Hyuna, dan memperingatkan jika gaun itu tidak boleh rusak atau pun berkurang sedikit pun.
Setelah selesai urusan gaun, Risa beralih mempersiapkan souvenir untuk para tamu undangan yang datang ke pesta itu. Vanes sudah mengatakan jika tidak masalah berapa pun uang yang akan di habiskan, yang penting semua lengkap tanpa kurang sedikit pun.
Risa lalu mendudukkan tubuhnya disofa yang ada di aula itu. Kakinya gemetaran karena sibuk ke sana kemari mengurus semuanya. Lalu, di mana Damian? Laki-laki itu entah pergi ke mana meninggalkannya bekerja seorang diri.
"Minumlah."
Risa tersentak kaget saat tiba-tiba ada seseorang yang meletakkan jus di atas pahanya. Untung saja dia sempat memegang jus itu sebelum tumpah ke bajunya.
Risa lalu mendongakkan kepalanya dan menatap Damian dengan sengit. "Apa ini?" Dia bertanya dengan tajam walau pun sudah tahu apa jawabannya.
"Cih." Risa memalingkan wajahnya ke arah lain sambil menyeruput jus dengan bongkahan es yang banyak itu.
"Kenapa, apa kau tidak suka?" tanya Damian sambil menatap heran karena wanita itu mencebikkan bibirnya. Namun, kenapa dia harus peduli?
"Saya 'kan sudah bekerja keras, Tuan. Masak hadiahnya cuma jus saja sih," cibir Risa, padahal dia sudah merasa sangat kelelahan.
"Terus, apa maumu?" tanya Damian kembali. Matanya menatap wanita itu dengan tajam.
Risa menghela napas kasar. "Anda kan bisa membelikan makanan yang enak untuk saya. Seperti steak, kaviar, lobster, ah pokoknya banyak lagi lah." Dia sampai bingung menyembutkan makanan apa-apa saja yang enak.
"Kau sedang mengajakku makan malam?"
"Apa?" Risa memekik kaget. "Ka-kapan saya mengajak Anda makan malam?" Dia bertanya dengan panik. Dia kan hanya membahas makanan, bukannya mengajak makan malam.
Damian tersenyum miring saat melihat kepanikan dan keterkejutan diwajah Risa. "Karena kau sudah mengajakku, pastilah aku tidak boleh menolaknya." Dia berucap dengan penuh penekanan, lalu beranjak pergi dari tempat itu.
__ADS_1
Dengan cepat Risa mengejar langkah laki-laki itu untuk membatalkan apa yang tadi dia ucapkan, walaupun tidak bermaksud seperti itu.
"Aku akan memberi lokasi restorannya nanti malam, jadi siapkan uang yang banyaknya," ucap Damian tanpa memperdulikan ucapan wanita itu, dia berjalan cepat ke arah mobilnya berada
Risa hanya bisa menghela napas kasar karena tidak bisa lagi menolak. Dompetnya pasti akan langsung menangis jika dia pergi ke restoran bersama dengan laki-laki itu.
***
Malam harinya, Damian benar-benar mengirim lokasi restoran kepada Risa membuat wanita itu berteriak kesal. Untung saja dia hanya tinggal sendiri di rumah itu, jadi tidak ada yang merasa terganggu sama sekali.
Tidak mau membuat Damian murka, Risa segera bersiap-siap untuk pergi ke restoran tersebut. Dia memakai gaun selutut berwarna cream dengan leher model sabrina yang sangat cantik, membuat tampilannya berubah menjadi anggun dan kalem.
Sesampainya di restoran, ada seorang pelayan yang menyambutnya dan mengantarkannya menuju meja di mana Damian sudah menunggu di sana.
Dengan langkah pelan, Risa mengukuti pelayan itu sampai ke tempat yang dituju. Terlihat Damian sedang menundukkan kepalanya dan fokus pada ponsel.
"Tuan!"
Damian menegakkan kepalanya saat mendengar suara seseorang, dia lalu melihat lurus ke depan di mana Risa sudah berdiri di tempat itu
Deg.
Pupil Damian terasa bergetar saat melihat penampilannya wanita itu saat ini. Jantungnya juga ikut berdendang ria dengan kedua tangan yang terkepal erat.
"Dasar gila. Kenapa aku seperti ini sih?" Damian merutuki kebod*ohannya yang telah berdebar-debar saat melihat wanita itu.
"Duduklah, mau sampai kapan kau berdiri?" ucap Damian membuat Risa langsung duduk di hadapannya.
Risa lalu memperhatikan ke semua orang yang berada di tempat itu. "Kita seperti sedang berkencan ya, Tuan."
•
•
•
__ADS_1
Tbc.