
Jiwa iri dengki Rayyan meronta-ronta saat melihat betapa sempurnanya tubuh Damian dan calon kakak iparnya. Apalagi saat mereka menyugar rambut yang tertiup angin, dan disinari matahari yang membuat tubuh mereka bersinar indah.
Para kaum emak-emak yang berada di ujung bagian atas sungai beberapa kali menelan saliva mereka. Beruntung sekali sore ini mereka mencuci di sungai, jika tidak maka tidak akan melihat pemandangan yang sangat menakjubkan.
"Kok malah melamun sih Buk? Lihat, bajunya mau hanyut itu," seru seorang lelaki paruh baya yang sedang mengangkat air, sambil menemani istrinya mencuci pakaian.
"His, ganggu aja taunya." Wanita paruh baya itu mencebikkan bibirnya mendengar seruan sang suami. "Mau lihat yang segar-segar pun gak tenang. Liat Bapak lama-lama mataku katarak."
"Apa?"
Laki-laki paruh baya itu menggeram marah saat mendengar ucapan sang istri, sementara orang-orang yang ada di tempat itu tertawa lebar sampai suaranya terdengar ke telinga Vicky.
Vicky tersenyum saat melihat keakraban orang-orang yang ada di desa, berbeda jauh dengan orang-orang yang tinggal di kota. Mungkin ada beberapa orang yang akrab pada para tetangga, tetapi kebanyakan hanya mementingkan diri sendiri. Bahkan ada yang tidak mengenal tetangga sendiri.
"Kak, kok gak masuk-masuk sih?"
Suara teriakan Yudha seketika menyadarkan Vicky dari lamunannya. Dia lalu melihat ke bawah di mana Damian dan kedua adik Hyuna sudah berenang ria.
Damian yang melihat Vicky diam di tempat tampak menahan tawa. Dia berbalik dan enggan untuk melihat ke arah tuannya itu, atau nantinya akan terkena murka beliau.
"Tutup mulutmu, Damian!"
Nah, kan. Baru saja balik badan, Damian sudah mendengar teriakan Vicky membuat tawa yang sejak tadi ditahan hampir terlepas.
Mata Vicky menyala dahsyat saat melihat apa yang Damian lakukan, dia tahu benar jika saat ini laki-laki itu sedang tertawa, karena bahu Damian tampak bergetar naik turun.
"Ada apa? Kenapa kak Vicky gak masuk?" tanya Yudha dengan heran, dia lalu menoleh ke arah Damian seolah meminta jawaban dari laki-laki itu.
Damian berusaha untuk menenangkan diri agar tidak tertawa, dia lalu menggelengkan kepalanya karena tidak mau menjawab pertanyaan Yudha dan beralih melihat ke arah Vicky.
"Saya tidak berkata apa-apa Tuan," bantahnya sambil mendekat ke arah laki-laki itu.
__ADS_1
"Kau memang tidak bicara, tapi tertawa," ketus Vicky. Dia mendudukkan tubuhnya di batu, dengan tatapan tajam yang menandakan jika sedang kesal.
Rayyan yang melihat itu langsung menghampiri calon kakak iparnya. Dia tersenyum simpul seperti sedang mengetahui sesuatu yang tersembunyi.
"Kakak gak bisa berenang, kan?"
Deg.
Tubuh Vicky langsung kaku saat mendengar ucapan Rayyan, sementara Yudha menatap laki-laki itu dengan tatapan tidak percaya.
"Ehem. Setiap manusia kan ada kelemahan masing-masing, termasuk aku," ucap Vicky sambil memalingkan wajahnya ke samping kanan, dia merasa malu.
"Benar. Tuan bahkan pernah tenggelam di- aargh!" Damian memekik sakit saat kaki Vicky yang masih memakai sendal menginjak kakinya, tentu saja rasanya sangat luar biasa.
"Kakak pernah tenggelam?" tanya Rayyan dengan semangat sambil duduk di samping Vicky.
Vicky terdiam sambil menatap Damian dengan kesal. Bisa-bisanya laki-laki itu membongkar aibnya yang sangat memalukan. "I-itu cerita lama, lebih baik kita cepat mandi." Dia beranjak dari tempat itu dan masuk ke dalam sungai, sedalam pinggangnya.
Pada saat yang sama, di rumah Hyuna tampak berbincang dengan semua keluarganya. Tentu saja obrolan mereka berisi tentang Vicky, yang sudah membuat seisi desa menjadi heboh.
Di tengah obrolan itu, terlihat 5 mobil melaju pelan di depan rumah Hyuna membuat dia langsung beranjak bangun. Dia yakin jika itu adalah rombongan keluarga Vicky, apalagi saat melihat Wildan melambai-lambaikan tangannya.
"Mama, aku datang!" teriak Wildan membuat Hyuna terkesiap, begitu juga dengan semua keluarganya yang langsung menatapnya penuh tanda tanya.
"I-itu anaknya Mas Vicky," ucap Hyuna dengan wajah merah padam, sebelumnya dia sudah mengatakan pada semua keluarga jika Vicky punya satu anak.
"Mama!" Wildan langsung berlari ke arah Hyuna saat sudah keluar dari mobil, sementara Hyuna merentangkan tangan dan menangkap tubuh gembul Wildan yang langsung memeluknya dengan erat.
"Aku kangen Mama," ucap Wildan membuat hati Hyuna berdesir. Sudah lama dia menantikan panggilan seperti itu, dan sekarang Tuhan mengabulkannya walau tidak anak kandung.
"Ta-tante juga kangen Wildan," balas Hyuna. Dia merasa canggung untuk menyebut dirinya mama karena belum menikah dengan Vicky. "Tapi, siapa yang menyuruhmu untuk memanggil tante mama, Sayang?"
__ADS_1
"Tentu saja mama, dong. Memangnya siapa lagi," ucap Vanes yang langsung menyambar pertanyaan Hyuna.
Hyuna tersenyum lebar dan langsung menyalim tangan Vanes, tidak lupa saling memeluk dan juga cepika-cepiki.
"Tapi, ke mana Vicky? Sejak tadi mama nelpon dia, tapi gak diangkat-angkat," ucap Vanes. Mulai besok anaknya tidak usah pakai ponsel sekalian jika di telepon tidak pernah diangkat.
"Vicky sama yang lainnya sedang mandi di sungai, Nyonya," jawab Aida memberitahu.
"Apa, sungai?" Vanes memekik kaget dengan apa yang Aida katakan membuat yang lain juga ikut tersentak kaget, sontak tangannya langsung menutup mulut yang hampir kelepasan tertawa.
"A-ada apa, Tante?" tanya Hyuna dengan heran.
Vanes mengangkat tangannya karena tidak bisa bicara akibat menahan tawa. Dia lalu menarik napas panjang dan menghembuskan dengan perlahan untuk menenangkan diri.
"Biasanya Vicky tidak mau pergi ke tempat yang terdapat air. Seperti sungai, laut, atau kolam. Dulu dia pernah tenggelam pada saat Wildan berusia 4 tahun," ucap Vanes membuat semua orang tersentak kaget.
"A-apa yang terjadi, Tante?" tanya Hyuna dengan khawatir, dia tampak panik saat ini.
"Waktu itu ada saudara yang berulang tahun, jadi kami menghadirinya. Pada saat jalan, Wildan hampir masuk ke dalam kolam, jadi Vicky langsung menariknya dan jadilah Vicky yang masuk ke dalam kolam itu dan tenggelam."
Semua orang tampak sangat terkejut saat mendengarnya, dan mereka bertanya-tanya sedalam apa kolam itu sampai membuat Vicky tenggelam.
"Kolamnya sedalam 1 meter,"
"Apa?"
•
•
•
__ADS_1
Tbc.