Runtuhnya Janji Suci Pernikahan

Runtuhnya Janji Suci Pernikahan
Bab. 43. Harga Diri Seorang Wanita.


__ADS_3

Hyuna menatap heran saat melihat Riska ada di tempat itu, dia lalu mendekatinya dengan penuh tanda tanya.


"Riska?"


Riska langsung berbalik dan berdiri dari duduknya saat melihat Hyuna. "M-Mbak Hyuna."


"Kenapa kau ada di sini?"


Riska terdiam dengan kedua tangan yang saling bertautan membuat Hyuna jadi bingung. Sejak dulu mantan adik iparnya ini memang terlalu diam, bahkan jarang bicara dengannya.


"Apa kau ke sini ingin menemuiku?"


Riska langsung menganggukkan kepalanya membuat Hyuna menghela napas kasar. Dia lalu mengajak wanita itu untuk mengikutinya ke ruangan yang ada di samping ruang ganti.


"Ada apa, Riska? Tumben sekali kau ingin bertemu dengan Mbak?"


Riska menundukkan kepalanya dengan sendu. Sejak dulu dia memang tidak dekat dengan siapapun. Jangankan Hyuna, dia bahkan tidak dekat dengan keluarganya sendiri. Namun, saat ini dia sedang terkena masalah dan tidak berani mengatakan semua itu pada keluarganya.


"Kenapa diam? Mbak masih harus kerja loh," ucap Hyuna sambil menundukkan kepalanya agar bisa melihat wajah Riska.


Riska mengangkat wajahnya dan menatap Hyuna dengan ragu. Entah pada siapa lagi dia bisa cerita dan meminta bantuan, jika pada keluarganya maka mereka pasti akan mengamuk.


"Ada, ada yang ingin aku katakan pada Mbak. Tapi, tapi aku takut jika Mbak marah."


Hyuna mengernyit bingung. "Marah? Apa kau sudah membuat kesalahan?"


Riska mengangguk pelan membuat Hyuna menghela napas kasar. "Marah itu sesuatu yang sangat wajar sekali jika kau membuat kesalahan, Riska. Tapi dari semua itu kita belajar untuk memperbaikinya, agar kesalahan itu tidak terulang kembali.


Riska diam sesaat untuk memikirkan apa yang Hyuna katakan. Dia lalu meyakinkan diri jika semua pasti baik-baik saja, dan kakak iparnya itu akan membantunya.


"Jadi, apa kau bisa menceritakan pada Mbak kesalahan yang telah kau lakukan?"


Riska kembali mengangguk. "Aku, aku hamil, Mbak."


"A-apa?"

__ADS_1


Hyuna langsung berdiri dari duduknya saat mendengar ucapan Riska membuat wanita itu terlonjak kaget.


"Kau, kau bilang apa?" tanya Hyuna dengan tajam membuat Riska menundukkan kepalanya dengan terisak.


Sangking kagetnya, Hyuna sampai tidak sadar jika sudah mengejutkan wanita itu. Dia lalu kembali duduk dan mencoba untuk mengendalikan diri.


"Maafkan Mbak, Riska. Jangan menangis lagi ya."


Hyuna mengusap punggung Riska untuk menenangkan wanita itu, sampai akhirnya Riska kembali tenang dan tidak kembali menangis.


"Sekarang ceritakan sama Mbak siapa ayah dari bayi yang kau kandung itu, juga ceritakan kenapa semuanya bisa jadi seperti ini," ucap Hyuna dengan penuh penekanan.


Seharusnya Hyuna sudah tidak ada urusan lagi dengan keluarga Aksa, tetapi sebagai sesama wanita dan dulunya terikat tali kekeluargaan. Tentu saja dia tidak bisa hanya diam saat mendengar kabar seperti ini.


Riska lalu mulai menceritakan siapa ayah dari bayi yang dia kandung, juga sesuatu yang membuat dia sampai hamil seperti itu.


Ternyata sudah beberapa tahun yang lalu Riska menjalin hubungan dengan laki-laki bernama Bima, dan sudah sejak lama juga mereka melakukan hubungan suami istri yang seharusnya tidak dilakukan.


"A-awalnya dia memakai pengaman setiap berhubungan, tapi sejak setahun yang lalu dia tidak mau lagi memakainya dan selalu mengeluarkannya di dalam," ucap Riska saat sudah selesai menceritakan semuanya.


"Aku, aku sudah meminta pertanggung jawaban darinya, tapi dia tidak mau mengakui anak ini dan memintaku untuk menggugurkannya."


Deg.


Dada Hyuna terasa seperti ditusuk oleh ribuan jarum saat mendengarnya. Bagaimana mungkin mereka semudah itu memutuskan untuk membunuh sebuah janin yang bahkan belum terlahir kedunia?


"Astaghfirullahal'adzim."


Hyuna mengusap dadanya yang terasa sesak, sungguh semua ini sangat mengejutkannya. Apalagi saat melihat wajah Riska yang sama sekali tidak merasa menyesal dengan apa yang terjadi.


"Kenapa sampai seperti ini, Riska? Kalian, kalian belum menikah tapi sudah melakukan hal seperti itu?"


Bibir Hyuna bahkan sampai gemetar saat mengatakannya, dia bahkan tidak bisa membayangkan sudah sejauh apa pergaulan para pemuda-pemudi yang ada di daerah ini.


"Aku mencintainya, Mbak. Dan aku harus mau melayaninya supaya dia tidak meninggalkanku."

__ADS_1


Hyuna langsung mengusap wajahnya dengan kasar. Apa sebatas itukah harga diri dari seorang wanita, sehingga laki-laki dengan mudahnya melakukan semua itu?


"Semua itu tidak benar, Riska. Kita punya Tuhan yang jauh lebih penting dari semuanya, bahkan lebih penting dari laki-laki itu."


Riska hanya diam mendengarkan ucapan Hyuna. Tentu saja dia tahu jika Tuhan melarang manusia melakukan hal seperti itu, tetapi manusia mana yang bisa menolak sebuah kenikmatan? Apalagi jika sudah dibutakan oleh cinta, maka apapun pasti akan dilakukan.


"Apa kau tidak menyesali semua ini, Riska?" tanya Hyuna dengan tajam membuat Riska menatap ke arahnya.


"Aku, aku tidak menyesalinya, Mbak. Aku hanya ingin terus bersama dengan Bima, aku sangat mencintainya dan juga anak ini."


Hyuna benar-benar sudah tidak bisa berkata apa-apa lagi, dan rasanya percuma saja jika dia bicara panjang lebar tetapi wanita itu sama sekali tidak peduli.


"Kau sudah berani melakukan hal seperti itu, jadi sekarang kau juga harus menanggung resiko dari apa yang kau lakukan. Hubungi laki-laki itu dan paksa dia untuk bertanggung jawab. Jangan lagi menambah dosa dengan membunuh janin yang sama sekali tidak bersalah, cobalah untuk sedikit saja berpikir dan dekatkan diri pada Tuhan. Karena apa yang kau lakukan ini benar-benar salah, Riska."


Riska kembali diam dan tidak mengatakan apa-apa membuat Hyuna beranjak bangun dari kursi. "Sekarang mbak harus kerja. Jika kau butuh apapun, telepon saja mbak. Tapi tolong pikirkan apa yang sudah mbak katakan tadi."


Riska menganggukkan kepalanya dan ikut beranjak dari tempat itu. Dia lalu keluar dan bergegas untuk menemui Bima dan kembali meminta pertanggung jawaban dari laki-laki itu.


Kepala Hyuna langsung berdenyut sakit dengan apa yang terjadi pada Riska. Andai wanita itu adalah adik kandungnya, dia pasti sudah menghajarnya sampai merasa menyesal telah melakukan dosa besar seperti itu.


"Apakah aku harus memberitahu mas Aksa?"


Hyuna berada diambang kebingungan. Dia tidak bisa mengatasi masalah Riska sendirian, karena ditakutkan keluarga mereka malah akan menuduhnya yang tidak-tidak.


"Baiklah, nanti aku akan memberitahukan semua itu padanya. Sebagai seorang kakak dia berhak untuk tahu, dan aku pasti akan disalahkan jika tidak memberitahu mereka."


Hyuna lalu kembali mengusap dadanya yang berdenyut sakit, dia mencoba untuk mengendalikan diri sebelum memulai pekerjaan hari ini. Jangan sampai masalah Riska mempengaruhinya.





Tbc.

__ADS_1


__ADS_2