
Hyuna terdiam saat mendengar ucapan sang adik. "Mbak baik-baik aja, Yudha. Setelah istirahat, mbak pasti akan kembali sehat."
"Apa yang Yudha katakan itu benar, Hyuna. Kau harus istirahat setidaknya selama beberapa hari, apa gunanya bekerja keras seperti itu jika kesehatanmu bermasalah?"
Hyuna hanya bisa tersenyum saja saat mendengar ucapan Vicky. Bagi orang sepertinya, tentu saja harus bekerja keras agar bisa menghidupi diri sendiri juga keluarga. Jika tidak seperti itu, maka semua harapan dan cita-cita tidak akan terwujud.
"Apa kau paham?" ucap Vicky dengan penuh penekanan membuat Hyuna langsung mengangguk.
Kemudian Dokter masuk ke dalam ruangan itu untuk memeriksa bagaimana kondisi Hyuna saat ini, sementara Vicky bergegas mengupaskan buah untuk wanita itu yang tadi sempat di beli oleh Damian.
Yudha tersenyum saat melihat apa yang Vicky lakukan. Jujur saja awalnya dia mengira jika laki-laki itu orang yang sangat kaku dan juga kejam, tetapi nyatanya ada kehangatan dibalik sifat dingin Vicky. Bahkan laki-laki itu tidak pernah merendahkan orang kecil sepertinya, begitu juga dengan keluarga mereka.
Sementara itu, Aksa yang sudah beberapa jam mencari keberadaan Riska tidak juga bisa menemukan adiknya itu. Rasa khawatir terus menyelimuti hatinya, dia bahkan sudah menyuruh Ruby dan teman-teman yang lain untuk mencari keberadaan Riska.
"Tunggu, jangan-jangan dia pergi ke rumah Bima?"
Aksa langsung memukul setir mobilnya saat baru menyadari hal penting itu, dia lalu memutar haluan dan segera tancap gas menuju kontrakan laki-laki itu.
Di depan sebuah pom bensin terlihat ada banyak orang yang berkerumun membuat jalanan menjadi macet. Mereka sedang memeriksa seorang wanita yang tergeletak di tempat itu, bahkan ada bercak darah yang tampak di kakinya.
Ruby yang sedang mengendarai motor bersama dengan temannya bermaksud untuk mencari Riska di kontrakan Bima. Namun, jalan mereka terhenti saat ada banyak orang yang berkumpul membuatnya langsung turun dari motor.
"Kau mau ke mana, Ruby?" tanya Fadlan, dia adalah jajaran lelaki yang cintanya sama sekali tidak dianggap oleh Ruby.
"Aku mau lihat itu sebentar."
Ruby merasa penasaran dengan apa yang terjadi sehingga membuat orang-orang berkerumun. Dengan tubuh mungilnya, mudah saja baginya untuk masuk dalam kerumunan tersebut. Dia terus berusaha menerobos mereka untuk melihat siapa yang tergeletak di pinggir jalan.
"Astaghfirullahal'adzim. Kak Riska!"
Ruby langsung berteriak kaget sambil menghampiri sang kakak yang ternyata tergeletak di tempat itu.
"Kak, bangun Kak!"
Ruby menepuk-nepuk pipi Riska dengan kuat, tetapi wanita itu sama sekali tidak bangun ataupun bergerak.
"Tolong, aku mohon tolong kakakku. Huhuhu."
Suara tangisan Ruby menggema di tempat itu membuat Fadlan yang berlari untuk menghampirinya. Dia juga sangat syok saat melihat keadaan Riska yang tidak sadarkan diri dengan darah di bagian bawah tubuhnya.
"Kak, bangun kak. Hiks, bangun!"
Fadlan dan beberapa orang lelaki segera membantu untuk mengangkat tubuh Riska dan memasukkannya ke dalam salah satu mobil yang bersedia untuk membawanya ke rumah sakit.
Ruby terus memegangi sang kakak dengan terisak. Sungguh dia tidak menyangka dengan apa yang terjadi pada kakaknya. Bagaimana mungkin semua ini terjadi? Kenapa kakaknya bisa tidak sadarkan diri di tempat seperti itu?
__ADS_1
Berbagai pertanyaan berputar-putar dalam pikiran Ruby. Namun, dia menepis semuanya dan fokus untuk membangunkan sang kakak.
Aksa yang hampir sampai di tempat tujuan terpaksa menepikan mobilnya saat mendapat telepon dari Fadlan.
"Halo, ada apa Lan?"
"Kak, kami sudah menemukan kak Riska,"
"Benarkah?" Aksa langsung tersenyum lebar sambil menghela napas lega saat mendapat kabar baik dari laki-laki itu.
"Benar, Kak. Saat ini kami sedang dalam perjalanan ke rumah sakit, nanti aku akan mengirimkan lokasinya pada Kakak."
Deg.
"Rumah sakit?" Jantung Aksa langsung berdegup kencang saat mendengar apa yang Fadlan katakan.
"Iya, Kak. Aku tidak bisa menjelaskannya sekarang, pokoknya kita bertemu di sana."
"Tapi Lan-"
Tut.
Tut.
Aksa lalu menunggu kabar dari Fadlan dengan tidak sabar. Perasaannya sangat takut sekali saat ini, dan tentu saja dia merasa bersalah karena membiarkan adiknya pergi seorang diri.
Setelah menunggu beberapa saat, akhirnya Fadlan mengirim lokasi rumah sakit tempat Riska berada. Aksa langsung menekan pedal gasnya dan melaju kencang di jalanan. Dia terus menyalip kendaraan lain yang ada di depannya agar bisa cepat sampai di tempat tujuan.
Para petugas medis segera membawa Riska ke ruang IGD untuk melakukan pemeriksaan. Terlihat Ruby terus terisak di tempat itu karena diselimuti ketakutan, dia takut jika terjadi sesuatu dengan kakaknya.
"Tenang, Ruby. Kak Riska pasti baik-baik saja."
Tangisan Ruby semakin kencang saat mendengar ucapan laki-laki itu. "Semua ini adalah kesalahanku, Lan. Andai aku mencegah kakak agar tidak berhubungan dengan Bima, pasti, pasti semua ini tidak akan terjadi. Huhuhu."
Fadlan langsung menarik tangan Ruby dan memeluk tubuh wanita itu dengan erat.
"Tidak Ruby, semua ini bukan kesalahanmu. Kau sudah melakukan semua yang kau bisa, tapi takdir Tuhan tidak ada yang tahu."
"Tidak, itu tidak benar. Seharusnya, seharusnya aku menjaga kakak dan menjauhkannnya dari laki-laki itu. Aku, aku-"
"Ruby!"
Ruby langsung menghentikan tangisannya saat mendengar panggilan Aksa, sontak dia mendorong tubuh Fadlan dan berlari memeluk tubuh sang kakak.
"Kakak, huhuhu. Kak Riska, Kak. Kak Riska, huhuhu."
__ADS_1
Tangisan Ruby semakin menjadi-jadi membuat hati Aksa terasa pilu. dia lalu membawa adiknya itu dan mendudukkannya di kursi.
"Tenanglah, Ruby. Semua pasti akan baik-baik saja."
Walau tidak tahu aa yang terjadi, tetapi Aksa harus tetap menenangkan adiknya. Lalu dia memilih untuk tidak bertanya apa yang terjadi pada Riska karena takut membuat Ruby kembali syok.
Seorang dokter tampak keluar dari ruang IGD membuat Aksa dan yang lainnya bergegas untuk menghampiri dokter tersebut.
"Ba-bagaimana keadaan adik saya, Dokter?"
Dokter itu menghela napas kasar membuat merek semua menatap dengan takut.
"Maaf, Tuan. Kita harus segera melakukan operasi untuk mengeluarkan janin yang dalam kandungan pasien."
Deg.
Aksa dan juga Ruby tercengang saat mendengar ucapan Dokter. Mereka tidak bisa bereaksi apa-apa dan hanya air mata saja yang mengalir deras.
"Pasien mengalami pendarahan yang sangat besar, kami khawatir jika terjadi masalah dalam rahimnya. Itu sebabnya kita harus segera mengambil tindakan,"
"La-lakukan saja, Dokter. Lakukan yang terbaik untuk adik saya, saya mohon selamatkan dia."
Aksa menangkupkan kedua tangan di depan dada membuat Dokter itu mengangguk. Mereka pasti akan melakukan yang terbaik untuk menyelamatkan pasien.
Salah satu perawat lalu mendatangi Aksa untuk meminta tanda tangannya, setelah itu mereka memindahkan Riska ke ruang operasi.
Aksa terduduk lemas di depan ruang operasi, begitu juga dengan Ruby yang saat ini sedang menghubungi ibunya untuk datang ke rumah sakit.
Tiba-tiba ponsel Aksa berdering membuat dia mengambil benda pipih itu dari saku. Terlihat Laura sedang meneleponnya, dia lalu membanting ponsel itu hingga hancur berkeping-keping membuat semua orang yang berada di tempat itu terlonjak kaget. Terutama Ruby dan juga Fadlan.
Aksa merasa benar-benar kesal dengan apa yang terjadi. Dia kesal dengan apa yang sudah Laura lakukan, dia juga kesal dengan dirinya.
"Maaf, Riska. Maafkan kakak."
Aksa menundukkan kepalanya dengan terisak membuat Ruby langsung memeluknya dengan erat. Andai dia bisa menjaga adiknya dengan baik, pasti semua ini tidak akan terjadi. Dia benar-banar tidak bisa melakukan apapun, dia tidak bisa menjaga orang-orang yang sangat dia sayangi.
"Ya Allah, aku mohon selamatkan adikku. Aku tidak ingin apapun dari-MU, ya Allah. Aku mohon berikan kekuatan pada adikku dan selamatkan lah dia. Sungguh aku tidak akan bisa memaafkan diriku sendiri jika terjadi sesuatu dengannya, ya Allah. Aku mohon berikan bantuan-Mu."
•
•
•
Tbc.
__ADS_1