Runtuhnya Janji Suci Pernikahan

Runtuhnya Janji Suci Pernikahan
Bab. 56. Jangan Panggil Aku Tuan!


__ADS_3

Setelah menghabiskan makan malam dan juga buah, saat ini Hyuna benar-benar merasa sangat kenyang. Dia terpaksa menghabiskan semua itu karena paksaan dari Vicky yang terus saja memberikan makanan padanya.


"Terima kasih karena sudah membawa saya ke rumah sakit, Tuan", ucap Hyuna yang baru ingat jika belum memgucapkan terima kasih pada Vicky.


Vicky menganggukkan kepalanya untuk menanggapi ucapan terima kasih dari Hyuna. "Apa kau tidak ada niat untuk membuka restoran sendiri, Hyuna?"


Hyuna langsung terkesiap saat mendengar ucapan Vicky. Tentu saja membuka restoran sendiri adalah impiannya sejak kecil, tetapi sampai saat ini dia belum bisa mewujudkannya.


Melihat reaksi Hyuna, Vicky sudah mendapatkan jawaban atas apa yang dia tanyakan. Dan jika wanita itu membuka restoran sendiri, tentu dia tidak akan terlalu bekerja keras seperti ini. Mungkinkah Hyuna bekerja keras karena ingin membuka restoran sendiri?


"Tentu saja saya memikirkannya, Tuan. Hanya saja rezeki saya belum sampai ke sana," jawab Hyuna.


Masih ada banyak hal yang jauh lebih penting dari semua itu, termasuk pendidikan adik-adiknya. Dan membuka bisnis jelas membutuhkan dana yang sangat besar, belum lagi memikirkan kerugian-kerugian yang terjadi.


Vicky terdiam saat mendengar ucapan Hyuna. Mungkin baginya gampang sekali jika ingin membangun sebuah bisnis, apalagi dia sudah punya pondasi yang sangat kuat dari peninggalan almarhum sang ayah.


Namun, bagi masyarakat biasa membangun sebuah  bisnis itu seperti sedang mempertaruhkan hidup mereka. Jika sukses, maka hidup akan berjaya. Tapi jika gagal, maka tidak ada lagi yang tersisa.


Kemudian Hyuna menyuruh Yudha untuk pulang karena besok adiknya itu harus kuliah, tetapi Yudha menolak dan tetap akan berada di tempat itu.


"Pulanglah bersama dengan Damian, Yudha. Biar aku yang menjaga kakakmu,"


"A-apa?"


Hyuna memekik kaget dengan apa yang Vicky katakan, sementara Damian dan juga Yudha mencebikkan bibir mereka karena paham sekali dengan apa yang laki-laki itu lakukan.


"Kenapa kau terkejut sekali?" tanya Vicky dengan tajam.


"Bu-bukan seperti itu, Tuan. Akan lebih baik jika Anda juga pulang ke rumah. Anda juga harus banyak istirahat, kesehatan Anda 'kan masih belum pulih total," ucap Hyuna dengan senyum lebar.


Dia pasti tidak akan bisa tidur jika Vicky ada di tempat itu, belum lagi jika laki-laki itu terus mengganggunya. Bisa-bisa jantungnya terus berdegup sepanjang malam.


"Aku sudah sehat wal afiat, jadi kau tidak perlu khawatir," bantah Vicky. "Jika kau tidak percaya, buktinya aku bisa mengangkatmu dan membawamu ke sini."

__ADS_1


Damian langsung berdecih. Padahal laki-laki itu hanya mengangkat Hyuna dari dalam restoran menuju mobil, setelah itu menangkatnya lagi pada saat ke rumah sakit. Tapi lagaknya sudah seperti mengangkat dari restoran sampai ke rumah sakit.


"Aku tau apa yang ada dalam pikiranmu, Damian."


Damian langsung tersenyum simpul. "Saya sedang bersiap untuk pulang, Tuan. Ayo Yudha, kita harus segera pulang saat ini juga!" Dia lalu mengajak Yudha untuk pergi sebelum tuannya murka.


Yudha lalu melirik ke arah sang kakak yang melihatnya dengan mengedipkan mata, seperti berkata jangan tinggalkan dia hanya jika berdua saja dengan Vicky.


"Baiklah. Kalau gitu aku pulang dulu, Mbak. Besok aku ke sini lagi."


Yudha memilih untuk memberi kesempatan pada Vicky untuk menghabiskan waktu bersama dengan kakaknya, sementara Hyuna membulatkan matanya saat mendengar ucapan adiknya itu.


"Kami permisi, Tuan. Selamat malam, selamat bersenang-senang,"


"Kau mau mati?"


Damian langsung berbalik dan keluar dari ruangan itu sebelum tuannya benar-benar murka, sementara Yudha juga ikut keluar sambil menahan tawa saat melihat raut wajah Vicky saat ini.


"Tu-tunggu-"


"Tidak perlu khawatir. Sudah lama aku tidak tidur di rumah sakit, itu sebabnya aku memilih untuk menemani mu."


"Tunggu, apa katanya? Memangnya semua itu bisa dijadikan alasan?"


Ingin sekali Hyuna berteriak seperti itu di hadapan Vicky, tetapi lagi-lagi dia merasa tidak enak hati dan juga takut.


Vicky lalu memilih mengambil ponselnya untuk memeriksa beberapa berkas yang siang tadi dikirim oleh Damian, sekaligus memberikan ketenangan pada wanita itu jika dia tidak akan melakukan apapun walau ada kesempatan.


Hyuna sendiri terdiam di atas ranjang. Ingin bermain ponsel, tetapi benda pipih itu tertinggal di restoran. Lalu, tiba-tiba dia merasa ingin ke kamar mandi untuk buang air kecil.


Perlahan Hyuna turun dari ranjang tanpa menimbulkan suara karena tidak mau mengganggu konsentrasi Vicky, dia lalu berjalan pelan ke arah kamar mandi sambil berpegang dinding.


Baru saja dua langkah menjauh dari ranjang, tiba-tiba kepala Hyuna terasa pusing hingga kakinya lemas dan terhuyung ke arah samping.

__ADS_1


Grep.


Hyuna tersentak kaget saat tiba-tiba ada sebuah tangan yang melingkar dipinggangnya dan menahan tubuhnya agar tidak terjatuh, tentu saja yang melakukan semua itu adalah Vicky.


"Kenapa tidak bilang jika ingin ke kamar mandi?"


Tubuh Hyuna langsung kaku dengan jantung berdegup kencang saat mendengar suara Vicky yang berada tepat di telinganya. Dia lalu mencoba untuk mengendalikan diri, dan berpegangan pada tangan laki-laki itu untuk menahan tubuhnya yang bersandar di tubuh Vicky.


"Saya tidak mau mengganggu konsentrasi-"


"Vicky. Namaku adalah Vicky, jadi jangan memanggilku dengan sebutan tuan."


Deg.


Jantung Hyuna semakin menggila saat mendengar ucapan Vicky, apalagi saat melihat senyuman manis yang tercetak jelas di wajah laki-laki itu.


"Ba-baiklah. Kalau gitu bisakah An- em ... maksudnya Vic- itu, anu-"


Hyuna jadi kebingungan sendiri ingin memanggil Vicky dengan sebutan apa. Bukankah sangat tidak sopan jika dia langsung memanggil nama laki-laki itu?


Melihat kebingungan Hyuna, membuat Vicky langsung tergelak dan hampir saja melepaskan pegangan tangannya.


"Ja-jangan tertawa!"


Hyuna semakin meradang. Wajahnya memerah bak kepiting rebus, ditambah lagi dia harus menahan sesuatu yang sudah mendesak ingin keluar.


"Ya Tuhan, tolong hentikan semua ini."




__ADS_1


Tbc.


__ADS_2