Runtuhnya Janji Suci Pernikahan

Runtuhnya Janji Suci Pernikahan
Bab 105. Malam Penuh Cinta.


__ADS_3

Disaat tangan Vicky mulai berlari kesana-kemari, Hyuna langsung menjauh dari suaminya. "Tu-tunggu dulu, Mas. Kita bersih-bersih dulu ya, aku juga masih pakai gaun," ucap Hyuna membuat Vicky sedikit kesal.


"Hem, yayaya. Baiklah, kau duluan sana!" ucap Vicky langsung melepas jas serta dasinya sedikit kasar.


Melihat itu sebenarnya Hyuna tidak tega, tetapi dia tidak mau membuat suaminya tambah kesal bisa dia belum menyiapkan mental untuk menerima serangan demi serangan yang suaminya berikan. Sebab, kegugupan di dalam hati Hyuna sama persis seperti pertama kali dia menikah.


Sekitar 30 menit, Hyuna selesai membersihkan tubuhnya dan dia hanya menggunakan jubah mandi yang ada di hotel. Semua karena Hyuna lupa untuk mengambil pakaiannya sebelum ke kamar mandi.


Melihat penampilan Hyuna, kembali membuat hasrat Vicky semakin tidak karuan. Disaat Hyuna sedang mencari pakaiannya, tiba-tiba Vicky langsung menariknya dan membuat tubuh mereka saling berhempitan.


Napas keduanya semakin memburu, dengan keringat dingin yang mulai mengucur di kening Vicky. Mereka saling menatap satu sama lain, sampai tangan Vicky terangkat mengusap pipi serta membenarkan anak rambut istrinya yang tidak teratur.


"Aku sudah tidak kuat lagi, bisakah kita memulainya sekarang?" ucap Vicky, suara benar-benar sangat berat. Hyuna yang sudah tidak bisa mencari alasan, dia pun menganggukan kecil kepalanya.


Tanpa basa-basi lagi, Vicky perlahan memegang dagu istrinya lalu mencium bibirnya secara singkat untuk memulai pemanasan. Sehabis itu, ciuman berubah menjadi sedikit ganas, membuat Hyuna susah untuk membalas suaminya.


Tidak lupa, Vicky langsung menidurkan Hyuna diatas ranjang dalam posisi Vicky berdiri menatap Hyuna di atas ranjang. Kemudian, Vicku membuka jasnya dan membuangnya ke segala arah.


Tubuh Vicky langsung berada diatas tubuh istrinya dengan memberikan sedikit lu*mmatan pada bibir sang istri, sesekali tangannya mencari pengait tali jubah milik Hyuna.


Sehingga terjadilah penyatuan tubuh mereka dengan penuh keromantisan di temani oleh lilin aromatic serta suara yang cukup berisik, tetapi indah di dalam telinga mereka berdua.


Kata-kata cinta pun menggema di dalam kamar itu, mereka mengucapkannya di sela-sela hubungan indah itu, agar menambah kesan malam yang tidak akan mereka lupakan.


"Aku mencintaimu, istriku," ucap Vicky dengan napas yang memburu.


"Aku, aku ju-juga mencintaimu, suamiku. Te-terima kasih karena sudah mencintaiku."


*


*


Malam yang panjang itu telah terganti dengan pagi hari yang cerah. Dimana Vicky dan Hyuna sudah bersiap-siap untuk ikut gabung bersama keluarganya di Restoran hotel.

__ADS_1


Terlihat jelas sekali, wajah kedua pengantin baru itu sangat bahagia. Walaupun Vicky tidak pernah menunjukkan keromantisannya di depan banyak orang, tetapi ketika berada berdua dia benar-benar memperlakukan Hyuna bagaikan seorang Ratu di dalam hatinya.


"Ekhem, pengantin baru rambutnya pasti masih pada basah," sindir Vanes membuat Hyuna yang baru saja duduk sudah dibuat malu, hingga dia pun menundukkan wajahnya sambil tersenyum.


"Oma juga rambutnya basah, emangnya Oma penganti  baru?" sahut Wildan, membuat semuanya menahan tawa melihat wajah Vanes yang begitu terkejut.


"Ckk anak ini! Udah ayo makan, nanti sore kita pulang bareng dengan keluarga besan yang juga akan kembali ke Desa." ucap Vanes, diangguki oleh semuanya.


Mereka pun akhirnya makan dengan tenang sesekali, berbicara sambil tertawa, terlihat suasana bahagia dia meja mereka.


Tepat pukul 5 sore, akhirnya keluarga Hyuna berpamitan lebih dulu untuk kembali ke Desa. Hyuna hanya bisa menangis setelah kepergian keluarganya, bukan berarti dia tidak bahagia. Dia hanya sedih harus kembali jauh dari keluarganya, tetapi ini sudah jalannya bila sang istri harus ikut bersama suaminya.


Setelah itu, mereka kembali menaiki mobilnya masing-masing menuju rumah dengan jarak tempuh yang cukup lumayan. Tidak terlalu jauh, dan juga tidak terlalu dekat.


Kurang lebih sekitar jam 7 malam mereka telah tiba di rumah kediaman keluarga Vicky. Mereka semua langsung pergi ke kamar untuk bersih-bersih, sehabis itu kembali melanjutkan makan malam bersama dan duduk santai di ruangan keluarga.


Disaat semua sedang fokus menatap layar televisi, kini saatnya Vanes beraksi. Dia menatap wajah anak serta menantunya yang sedang fokus, lalu mulai memecahkan ke seriusan tersebut dengan membuat semua menatap ke arahanya.


"Mama ada hadiah buat kalian, sebagai kado pernikahan," ucap Vanes, dia tersenyum sambil memberikan sebuah kotak kecil.


"Sstt, anak kecil udah banyak mainan. Nanti Oma akan belikan lagi, yang ini khusus untuk Papa dan juga Mamamu," sahut Vanes.


Wildan langsung membuang muka dan kembali menatap hadiah yang saat ini ada ditangan Hyuna.


"I-ini apa, Ma?" tanya Hyuna dengan bingung.


"Udah, buka aja. Paling juga harta gono-gini!" celetuk Vicky dengan acuh, sama sekali tidak tertarik.


"Dasar anak tidak tahu diri, bisa-bisanya mendoakan Mamanya ma*ti!" pekik Vanes, menatap tajam ke arah Vicky.


Hyuna yang begitu penasaran dengan isinya, perlahan membuka kotak tersebut dan melihat ada 2 lembar kertas yang masih kosong. 


"Kertas apa ini?" ucap Hyuna mencoba mengambilnya, lalu membalik dan berhasil membuat kedua matanya membola besar.

__ADS_1


"Ti-tiket hotel?" Bibir Hyuna bergetar, ketika dia mendapatkan sebuat tiket untuk mereka berbulan madu.


Vanes hanya tersenyum sambil menganggukan kepalanya ketika Hyuna menatap mertuanya. Vicky yang terkejut, langsung merebut tiket itu dengan antusias, dan kembali membacanya sangat jelas.


Benar adanya, bila ini tiket hotel untuk mereka pergi ke suatu negara untuk berlibur, sekaligus berbulan madu. Betapa senangnya wajah Vicky saat dia menatap Mamanya.


"Terima kasih. Mama sangat tahu apa yang aku mau!" ucap Vicky, lagi-lagi membuat wjaah Hyuna memerah.


"Tiket apa itu? kok cuma 2, terus Wildan mana?" tanya Wildan, wajahnya mulai sedih.


"Nanti Wildan liburan sama Oma ya, kita pergi ke mana pun yang Wildan mau. Jadi, biarkan Papa dan Mama pergi berdua. Soalnya mereka harus menjalankan tugas berat dari Oma. Kalau nanti Wildan ikut tugas dari Oma enggak bisa berhasil dong."


"Tugas apa?"


"Tunggu saja, Wildan juga tahu."


"Ya udah deh, tapi Wildan mau ke Sidney ya Oma."


"Siap, laksanalan. Kita liburan ke Sidney,"


"Yeeeyy, makasih Oma."


Kali ini tidak ada lagi perdebatan antara Vicky dengan Wildan, sebab Wildan sudah mulai mengerti bila kedua orang tuanya butuh waktu berdua. Sesuai dengan nasihat yang Vanes berikan ketika berada di dalam kamar bersama cucunya.


Mereka pun kembali menonton film bersama sambil menyemil, dirasa jam sudah mulai menunjukkan pukul 10 mereka pun pergi ke dalam kamarnya masing-masing untuk beristirahat.


Tidak lupa Wildan ikut ke dalam kamar Vicky sesuai perjanjian kalau Wildan bisa tidur bersama Mama barunya, walau tetap saja mendapat tatapan tajam dari papanya.




__ADS_1


Tbc.


__ADS_2