Runtuhnya Janji Suci Pernikahan

Runtuhnya Janji Suci Pernikahan
Bab. 80. Perang Antara Kakak dan Adik.


__ADS_3

Keesokan harinya, Hyuna sedang bersiap untuk pulang ke rumah orang tuanya. Besok Vicky dan keluarga laki-laki itu akan melamarnya dengan dalih silaturahmi, tidak mungkin 'kan dia tidak berada di sana?


Walau mulut Hyuna berkata belum bisa menjawab pengakuan cinta Vicky, tetapi saat ini dia terlihat sangat bersemangat menyusun barang-barang yang akan dibawa.


"Apa semua udah siap, Mbak?" Yudha melangkah masuk ke dalam kamar sang kakak, membuat kakaknya yang sedang duduk bersilah di lantai mendongakkan kepala.


"Tinggal masukkan kue-kue ini aja, kok," jawab Hyuna sambil beranjak bangun dari lantai. "Apa kau udah izin sama pihak kampus, Dek?" Dia mendudukkan tubuhnya di atas ranjang, tepat di samping Yudha.


Yudha menganggukkan kepalanya. "Udah, Mbak. Aku izin selama satu minggu."


"Oh, bagus- tunggu, satu minggu?" Hyuna memekik kaget saat mendengar ucapan sang adik. "Kenapa lama sekali? Apa tidak apa-apa?" Dia merasa bingung dan juga cemas.


"Enggak apa-apa, Mbak tenang aja," jawab Yudha dengan santai. Tentu saja dia sama sekali tidak khawatir karena Damian sudah mengurus semuanya.


"Tapi kenapa sampai satu minggu? Kita bisa di rumah ayah dan ibu 3 hari saja," ucap Hyuna lagi, dia merasa khawatir karena adeknya libur terlalu lama.


"Dasar anak durhaka. Masak berkunjung ke rumah orang tua saja, Mbak perhitungan sih?" cibir Yudha membuat Hyuna membulatkan matanya.


"Dasar adik kurang ajar. Mbak kan mengkhawatirkan sekolahmu." Hyuna mengambil bantal yang ada di belakang tubuhnya, lalu memukulkannya ke tubuh sang adik.


Jadilah saat ini mereka perang bantal sambil tertawa bersama. Keadaan kamar yang tadinya rapi, kini berubah jadi berantakan akibat perang yang mereka lakukan.


"Ke sini kau!" Hyuna mengejar Yudha yang berlari keluar dari kamar itu.


"Hahah, Mbak tidak akan bisa menangkapku. Mbak kan lambat. Hahahah." Yudha tertawa terbahak-bahak sambil berlari ke arah ruang tamu, sementara Hyuna menatapnya dengan kesal sambil berusaha untuk mengejar laki-laki kurang ajar itu.


"Enggak kena, enggak kena. Week." Yudha menjulurkan lidahnya untuk mengejek sang kakak. Sangking semangatnya, dia sampai tidak melihat karpet. Alhasil kakinya tersandung dan dia terjungkal ke lantai.


Gubrak.


"Hahahaha." Hyuna tertawa terbahak-bahak saat melihat apa yang terjadi dengan Yudha, sementara Yudha sendiri mengusap-ngusap siku dan kakinya yang terasa sakit.

__ADS_1


"Cih." Yudha mendengus sebal dengan apa yang terjadi.


"Karma dibayar nyata yah, Yudha. Sekarang habis kau ditanganku." Hyuna langsung mendekati Yudha dan memukul-mukul tubuh adiknya itu, sampai akhirnya mereka saling memukul dengan menggunakan bantal.


Gelak tawa Hyuna dan Yudha menggema di seisi rumah itu. Tidak tahu kapan terakhir kali mereka melakukan hal kekanak-kanakan seperti ini, tetapi rasanya sungguh sangat seru sekali.


Sangking serunya bermain, mereka sampai tidak sadar jika sejak tadi ada dua orang lelaki yang berdiri di depan pintu rumah yang sedikit terbuka.


"Apa kita boleh mengganggu mereka, Tuan?" tanya Damian yang sejak tadi melihat adegan perang bantal kedua kakak beradik itu.


"Dasar. Memangnya mereka anak kecil apa?" Vicky mendengus kesal. Kedua tangannya terkepal dengan erat, karena ingin ikut bermain dengan mereka berdua.


Dia lalu membuka pintu rumah itu lebar-lebar, dan melangkah masuk ke dalam rumah.


"Wah. Hebat yah, kalian berdua."


Tawa Hyuna dan Yudha seketika langsung lenyap saat mendengar suara baritone yang sangat mereka kenali, dengan cepat mereka menoleh ke arah pintu di mana Vicky dan Damian berada.


"M-mas di sini?" tanya Hyuna dengan tergagap, wajahnya memerah karena merasa malu.


"Yah, aku di sini. Dan aku melihat betapa gagahnya dirimu," jawab Vicky dengan wajah kaku bak kawat jemuran tetangga.


Blush.


Wajah Hyuna semakin memerah saat mendengar ucapan Vicky, sementara Yudha dan Damian tampak menahan tawa dengan menundukkan kepala mereka.


"Dasar, memangnya aku laki-laki apa?" Hyuna menjadi sebal sendiri, bibirnya sudah maju beberapa senti.


"Jadi, kalian mau lanjut lagi?" tanya Vicky sambil berjalan ke arah sofa dan duduk di sana.


Yudha dan Hyuna menggelengkan kepala mereka dengan bersamaan. "Kami tadi sedang bersiap, Kak. Setelah itu kami akan berangkat ke rumah ayah dan ibu." Yudha menjawab dengan cepat, sambil mengambil bantal yang ada di lantai. Lalu membawanya masuk ke dalam kamar.

__ADS_1


Vicky mengangguk-anggukkan kepalanya dengan senyum tipis, dia lalu menunjuk ke arah sofa yang ada di sampingnya saat bersitatap mata dengan Hyuna.


"Duduklah, kau pasti lelah bukan?"


Hyuna menghela napas kasar, lalu beranjak duduk di sofa yang tadi di tunjuk oleh Vicky.


"Jadi, kenapa Mas ke sini?" tanya Hyuna setelah berhasil mengendalikan rasa malunya.


"Aku ingin mengantarmu pulang ke rumah ayah dan ibu," jawab Vicky dengan santai.


"Hah? U-untuk apa Mas mengantarku? Besokkan Mas juga datang ke sana," tanya Hyuna dengan wajah bingung. Ngapain pula laki-laki itu pergi hari ini jika besok juga datang ke sana?


"Kau tahu istilah tentang sesuatu yang baik itu jangan ditunda lagi, 'kan?" Vicky balik bertanya dengan seringai liciknya, yang terlihat jelas di mata Hyuna.


"Tunggu, jangan bilang Mas mau melamarku hari ini juga?" Hyuna menatap laki-laki itu dengan tajam, dan penuh intimidasi.


"Jangan menatapku seperti itu, Hyuna. Jika kau terus menatapku, maka aku bukan hanya akan melamarmu saja. "Vicky memajukan tubuh hingga wajahnya berada tepat di depan wajah wanita itu.


"Me-memangnya Mas mau melakukan apa?" Hyuna bertanya dengan gugup, sejujurnya dia sudah bisa menebak apa yang akan laki-laki itu katakan, tetapi tetap saja bertanya.


"Tentu saja aku akan langsung menikahimu, memangnya apa lagi?" ucap Vicky dengan bersedekap dada.


Hyuna mencebikkan bibirnya mendengar ucapan Vicky. Apa laki-laki itu sudah sangat tidak sabar, sehingga ingin cepat-cepat menikah?


"Benar. Aku memang sudah tidak sabar."




__ADS_1


Tbc.


__ADS_2