Runtuhnya Janji Suci Pernikahan

Runtuhnya Janji Suci Pernikahan
Bab. 49. Tidak Bisa Dibiarkan.


__ADS_3

Hyuna menatap Vicky dengan tajam, sepertinya laki-laki itu ingin membuatnya malu di hadapan adik dan juga tante Vanes.


"Wah, benarkah?" Vicky memasang smirik iblisnya membuat hati Hyuna cenat-cenut. "Bukankah tadi pagi kau sempat melihat tubuhku yang berharga?"


Deg.


"Apa?"


Vanes memekik kaget dengan apa yang putranya katakan membuat Hyuna dan juga Yudha terlonjak kaget. "Apa itu benar, Sayang?" Dia lalu melihat ke arah Hyuna yang saat ini sedang menundukkan kepala dengan wajah merah padam.


"Apa kau benar-benar melihat tubuh putraku?" Sepertinya Vanes sangat bersemangat sekali.


"Bu-bukan seperti itu, Tante. Tadi pagi, tadi pagi Wildan yang-"


"Tentu saja Ma." Vicky menganggukkan kepalanya. "Dia bahkan melihat celana andalanku."


Vanes langsung tersenyum lebar mendengar apa yang Vicky katakan, sementara Hyuna ingin sekali menjambak bibir laki-laki itu yang sudah seenak jidatnya membongkar aib orang lain.


Yudha yang tidak paham dengan pembahasan mereka hanya diam sambil menatap Vicky dengan tajam. Lalu matanya tidak sengaja melihat seorang wanita yang sedang memperhatikan mereka dari lantai 2.


"Dia 'kan wanita yang ada di pesta waktu itu, apa dia juga tinggal di sini?"


Risa yang sudah berada di dalam kamar mendadak keluar saat mendengar suara kehebohan Vanes, dia yang akan turun ke lantai 1 terpaksa mengurungkan niatnya saat melihat keberadaan Hyuna.


"Apa yang wanita itu lakukan di sini? Apa dia sengaja datang saat larut malam seperti ini?"


Risa mengepalkan kedua tangannya dengan erat, matanya menyorot tajam ke arah Hyuna seakan-akan ingin mencabik-cabiknya menjadi beberapa bagian.


Hyuna yang sejak tadi dinistakan oleh Vicky merasa menyesal karena sudah menjenguk laki-laki itu. Lain kali jika Vicky sakit, dia harus memastikan dulu apakah laki-laki itu bisa bicara atau tidak, karena mulut Vicky benar-benar sangat membahayakan.


Melihat wajah Hyuna yang merah padam, lama-lama Vicky merasa kasihan juga. Sepertinya di terlalu senang saat melihat wanita itu, sehingga tidak bisa mengendalikan diri sendiri.


"Bagaimana keadaan Anda, Tuan? Saya dengar Anda sedang sakit."


Yudha mencoba untuk mengambil alih topik pembicaraan saat melihat kakaknya sudah sangat malu dan juga geram, sementara Vanes jangan ditanya lagi. Wanita paruh baya itu langsung berlari entah ke mana dengan sangat bersemangat.


"Aku tidak apa-apa, terima kasih sudah datang."


Hyuna langsung mencebikkan bibirnya saat mendengar ucapan Vicky. Kenapa saat adiknya bertanya laki-laki itu menjawabnya dengan baik dan benar? Lalu, jika dia yang bicara maka mulutnya akan melebar ke mana-mana.


"Sepertinya kau tidak suka ya, karena aku baik-baik saja?" Vicky menatap Hyuna dengan tajam membuat wanita itu terkesiap.

__ADS_1


"Si-siapa yang tidak suka?" Hyuna mengibas-ngibaskan tangannya untuk membantah ucapan Vicky. "Syukur alhamdulillah jika Anda sudah sehat, jadi bisa kembali beraktivitas seperti biasa."


"Contohnya menemuimu?"


Hyuna diam sesaat saat mendengar ucapan Vicky, sepertinya jika terus dibiarkan laki-laki itu akan semakin merajalela.


"Benar. Sudah beberapa hari ini Anda tidak datang menemui saya 'kan?" ucap Hyuna dengan senyum simpul di wajahnya.


"Kau merindukanku?" Vicky menatap Hyuna dengan tajam, sementara Yudha ingin sekali pulang saat ini juga. Memangnya dia itu manusia transparan, yang tidak terlihat di mata mereka berdua?


"Tentu saja. Biasanya saya selalu melihat Anda, jadi saya merasa rindu. Itu sebabnya saya datang ke sini untuk bertemu dengan Anda."


Blush.


Seketika wajah Vicky langsung memerah saat mendengar ucapan wanita itu, dia lalu beranjak dari sofa dan langsung berbalik menghadap ke arah tangga.


"Aku mau ke kamar sebentar."


Vicky langsung melangkah pergi dari tempat itu tanpa menoleh ke belakang, tentu saja apa yang dia lakukan membuat Hyuna tergelak tanpa suara.


"Apa yang Mbak lakukan?"


Yudha bertanya pada sang kakak karena takut membuat laki-laki itu murka. Pasti akan malu sekali jika tiba-tiba Vicky mengamuk dan mengusir mereka dari tempat ini.


"Benarkah?" tanya Yudha dengan tidak percaya. "Tapi menurutku Mbak bukan sedang memberi dia pelajaran, tapi memberitahunya tentang apa yang Mbak rasakan."


Tawa yang ada di wajah Hyuna langsung lenyap saat mendengar ucapan sang adik, dia lalu menggelengkan kepalanya untuk membantah apa yang adiknya itu katakan.


Vicky yang sudah berada di dalam kamarnya langsung menutup pintu itu dengan kasar. Dia lalu bersandar di dinding sambil memegangi dadanya yang berdegup kencang.


"Si*al. Kenapa aku jadi merasa malu sih?" Vicky mengusap wajahnya dengan kasar.


Untuk pertama kalinya setelah kehilangan sang istri, Vicky kembali merasa malu karena seorang wanita. Bahkan kini jantungnya berdegup dengan kencang seolah ingin melompat keluar dari rongga dadanya.


Namun, apa yang Vicky alami saat ini membuktikan jika dia benar-benar punya perasaan pada Hyuna. Akan tetapi, bagaimana dengan wanita itu? Sepertinya Hyuna hanya menganggapnya sebagai tuan-tuan yang tidak berarti.


Setelah merasa tenang, Vicky kembali keluar dari kamar dan bergabung dengan Hyuna dan yang lainnya. Terlihat sang mama sibuk bercerita panjang lebar dengan Hyuna, padahal saat ini malam semakin larut.


Vicky kembali duduk di samping mamanya dan bersikap biasa saja seolah tidak ada yang terjadi, sementara Hyuna hanya tersenyum simpul saat bersitatap mata dengan laki-laki itu.


Tepat pukul 11 lewat 30 malam, Hyuna memutuskan untuk pamit pada Vicky dan juga tante Vanes. Sudah tidak wajar baginya jika bertamu sampai larut malam begini.

__ADS_1


"Menginaplah di sini, Hyuna. Bahaya jika malam-malam begini pulang," ucap Vanes.


"Terim kasih atas tawarannya Tante, tapi jalanan pasti masih ramai di jam segini,"


"Iya. Tapi angin malam itu enggak baik untuk kesehatan," potong Vanes dengan cepat. "Udah, pokoknya menginap saja di sini. Ayo, Tante antar ke kamar!"


Sepertinya Vanes sengaja mengobrol dengan Hyuna sampai larut malam agar wanita itu tidak pulang, terlihat jelas diwajahnya yang saat ini bersinar dengan terang.


Vicky yang mengatahui rencana sang mama hanya bisa menggelengkan kepalanya. Namun, apa yang mamanya katakan tadi memang benar. Sangat berbahaya jika berkendara dengan menggunakan sepeda motor pada saat larut malam seperti ini.


"Tapi Tante, saya-"


"Vicky, antar Yudha ke kamarnya."


Hyuna hanya bisa menghela napas kasar saat wanita paruh baya itu sama sekali tidak mau mendengar penolakan darinya, sementara Yudha sama sekali tidak masalah asal sang kakak dalam keadaan aman.


Dengan terpaksa, akhirnya Hyuna menginap juga di rumah keluarga Vicky. Dia mengukuti langkah Vanes menuju kamar yang akan di tempati, terlihat jelas betapa luas dan cantiknya kamar tersebut.


"Masyaallah. Kamar tamunya saja cantik begini, bagaimana dengan kamar tuan rumah?"


Hyuna tidak bisa membayangkan betapa cantik dan megahnya kamar pemilik dari rumah ini, dan semua itu menunjukkan jika keluarga Vicky sangat kaya.


"Anggap seperti rumah sendiri, Hyuna. Tanye tidak akan melayanimu sebagai tamu, karena tante sudah menganggapmu sebagai menan- em maksudnya anak tante sendiri."


Hampir saja Vanes kelepasan bicara yang mungkin akan membuat Hyuna tidak nyaman, dia sudah sangat senang saat wanita itu datang dan peduli dengan keadaan putranya.


Hyuna mengangukkan kepalanya. "Tentu saja, Tante. Terima kasih karena sudah mengizinkan kami menginap."


"Tidak perlu berteri kasih, Sayang. Kan tante yang memintamu menginap, jadi sekarang istirahatlah. Tidur yang nyenyak dan mimpi indah."


Hyuna kembali mengangguk dan mengucapkan selamat malam pada wanita paruh baya itu, kemudian dia menutup pintu kamarnya dan berlalu tidur.


Yudha yang juga sudah berada di depan kamarnya mencekal tangan Vikcy yang akan beranjak pergi dari tempat itu.


"Bisakah kita bicara sebentar, Tuan?"




__ADS_1


Tbc.


__ADS_2