Runtuhnya Janji Suci Pernikahan

Runtuhnya Janji Suci Pernikahan
Bab. 38. Sidang Putusan Akhir.


__ADS_3

Vicky menatap Risa dengan tajam serta kening yang mengerut karena tidak mengerti kenapa tiba-tiba wanita itu membahas tentang Hyuna.


"Apa maksudmu?" tanya Vicky kemudian.


"Aku tidak bermaksud apa-apa Kak, sungguh. Aku hanya khawatir jika Wildan dekat dengan orang yang tidak baik, apalagi kita baru mengenal-"


"Aku tau mana yang baik untuk putraku, Risa. Jadi jangan mengkhawatirkan sesuatu yang tidak penting."


Vicky langsung masuk ke dalam kamar meninggalkan Risa yang terdiam di depan pintu. Dia lalu menutup pintu itu dengan sedikit kasar membuat Risa terkesiap.


"Cih, kenapa makin hari kak Vicky makin dingin saja padaku sih? Ini sudah hampir 5 tahun, dan aku belum juga bisa menaklukkan hatinya."


Risa menghentakkan kakinya dengan kesal, dia lalu beranjak pergi dari tempat itu dan berlalu masuk ke dalam kamarnya sendiri.


Sementara itu, Hyuna yang baru saja tiba di rumah langsung membersihkan wajahnya dari debu jalanan. Dia lalu merebahkan diri di atas ranjang sambil menatap langit-langit kamar.


Tidak terasa besok sudah waktunya sidang perceraiannya dan Aksa kembali di langsungkan, sekaligus menjadi sidang putusan akhir atas hubungan baru mereka nantinya.


Hyuna mengusap dadanya yang masih saja berdenyut sakit, tidak bisa dipungkiri bahwa nama Aksa masih terukir jelas di lubuk hatinya yang paling dalam.


Tidak mau terlalu larut dalam rasa yang tidak akan kembali mengudara, Hyuna memutuskan untuk mengambil ponselnya dan berselancar di internet untuk melihat-lihat lokasi yang pas untuk mendirikan restoran.


Ya, sedikit demi sedikit Hyuna mulai merakit impian yang sejak kecil selalu tertanam dalam hati. Walau uangnya belum cukup untuk hanya sekedar membuka rumah makan, tetapi dia berniat untuk mencari lokasinya terlebih dahulu. Tidak rugi juga jika membeli sebuah tanah, karena suatu saat bisa dijual kembali.


"Wah, tempat ini tidak terlalu jauh dari rumah. Juga dekat dengan pusat perbelanjaan."


Hyuna tertarik dengan salah satu lokasi yang baru saja dia lihat di internet, tetapi harganya lumayan mahal karena tempatnya yang strategis.


"Baiklah, aku harus mengumpulkan uang lebih banyak lagi. Sekarang Yudha juga sudah kuliah, dia pasti membutuhkan banyak dana untuk pendidikannya."


Hyuna kembali meletakkan ponselnya ke atas nakas lalu beralih menarik selimut. Dia lalu mematikan lampu di kamar itu dan berlalu masuk ke alam mimpi.


*


*


Keesokan harinya, dengan ditemani Yudha dan juga pengacaranya. Hyuna sudah tiba di pengadilan agama dan duduk di dalam ruang persidangan. Tidak berselang lama, Aksa dan keluarganya juga sampai di tempat itu.

__ADS_1


Hyuna tersenyum saat bersitatap mata dengan ibunya Aksa, tetapi wanita paruh baya itu langsung membuang muka membuat dia menghela napas kasar.


"Senyum itu memang ibadah, Mbak. Tapi jika senyum dengan orang gila, maka kita juga akan ikut gila."


Pengacara Hyuna tergelak saat mendengar ucapan Yudha, sementara Hyuna hanya mencebikkan bibirnya sambil mencubit lengan adiknya itu.


Dari kejauhan, Aksa terus memperhatikan Hyuna yang tampak tertawa bahagia dengan Yudha. Hatinya meringis pilu kala melihat senyum wanita itu, wanita yang telah dia lukai dan sia-siakan.


"Apa sekarang hidupmu bahagia, Hyuna?"


Ingin sekali Aksa menghampiri wanita itu dan ikut tertawa bersamanya, tetapi tidak mungkin dia melakukan itu karena saat ini ada ibu dan juga Laura.


"Bagaimana pekerjaanmu, Laura? Apa semua baik-baik saja?" tanya Mona.


Laura yang sedang asyik dengan ponselnya sekilas melihat ke arah sang mertua, dia lalu mengangguk dan kembali fokus dengan benda pipih itu.


"Begini, besok ibu ada acara arisan di rumah. Apa kau bisa datang dan membantu ibu?"


Laura menghela napas kasar sambil memasukkan ponselnya ke dalam tas. Kesal sekali rasanya jika sedang asyik bermain ponsel tetapi malah diganggu.


"Bagaimana, Laura. Apa kau bisa bantu ibu-"


Mona langsung diam saat mendengar ucapan Laura. Niat hati ingin memamerkan menantunya yang cantik dan seorang model pada teman-teman arisan, terpaksa harus musnah karena penolakan wanita itu.


"Apa kau besok sibuk? Mungkin kau bisa datang sebentar-"


"Aku besok kerja, Bu. Jika aku tidak kerja, bagaimana mungkin gaji suamiku cukup untuk membiayai kebutuhan kita semua?"


Aksa yang sejak tadi memperhatikan Hyuna langsung menoleh ke arah Laura saat mendengar ucapan wanita itu. "Apa maksudmu, Laura?" Dia menatap wanita itu dengan tajam.


"Hah, apa maksudku?" Laura berdecak kesal. "Aku kan mengatakan yang sebenarnya saja. Apalagi jika aku sudah mengandung nanti, pasti kebutuhan kita akan bertambah banyak."


Mona langsung tersentak kaget saat mendengar ucapan Laura. "Me-mengandung? Apa, apa kau sudah mengandung?" Dia menatap wanita itu dengan berbinar-binar."


"Tentu saja belum, Bu. Tapi aku yakin jika sebentar lagi aku pasti akan hamil, untuk itu bisakah aku meminta pengertian dari Ibu?"


Mona mengernyitkan keningnya dengan bingung. "Pengertian? Pengertian apa?"

__ADS_1


"Dilamlah, Laura. Jika kau berbicara satu kata lagi, maka aku-"


"Tenanglah, Sayang. Kenapa kau marah?" Laura mengusap lengan Aksa dengan lembut. "Aku hanya meminta pengertian dari Ibu agar bisa berhemat, semua itu kan untuk persiapan cucunya juga."


Aksa menatap Laura penuh dengan kemarahan, bagaimana mungkin wanita itu mengatakan hal demikian pada mertuanya sendiri?


"Kau-"


"Tidak apa-apa, Aksa. Ibu paham dengan apa yang Laura katakan, dan perkatannya itu memang benar." Mona menatap Laura dengan senyum tulus, tentu saja di balas dengan tidak kalah tulus oleh Laura.


"Mulai sekarang kau hanya perlu mengirim setengahnya saja pada ibu, Aksa. Dan sisanya untuk tabungan anak kalian kelak."


Laura hampir saja bersorak senang saat mendengarnya, sementara Aksa terlihat sangat tidak setuju.


"Bagaimana dengan biaya sekolah adik-adik, Bu. Mereka masih butuh biaya banyak,"


"Sudahlah, untuk hal itu kau tidak perlu pusing. Biar ibu yang memikirkan semuanya."


Mona pasti akan melakukan apapun yang membuat hati Laura nyaman, karena jika wanita itu merasa senang, maka janin akan mudah tumbuh di rahimnya.


Beberapa saat kemudian, hakim dan juga jajarannya memasuki ruang sidang. Ketua hakim langsung membuka persidangan hari ini dengan pembacaan hasil persidangan yang lalu, tidak lupa pembacaan gugatan yang dilayangkan oleh lihak penggugat.


Duak


Duak


Duak


Hakim mengetuk palu sebanyak tiga kali sebagai tanda dimulainya sidang hari ini, lalu hakim meminta agar pihak penggugat dan tergugat duduk di tempat yang sudah di sediakan.


Hakim lalu bertanya pada Hyuna sebagai pihak penggugat dan meminta semua keterangan. Begitu juga dengan Aksa sebagai pihak tergugat yang harus menjawab apa-apa saja pertanyaan dari hakim.


Setelah 2 jam berlalu, akhirnya sidang itu selesai dan hakim membacakan putusan atas kasus perceraian antara Hyuna Isvara dengan Aksa Dharmendra. Tentu saja sekalian penunjukakn bukti-bukti yang sudah diberikan pada persidangan yang lalu.



__ADS_1



Tbc.


__ADS_2