
Vicky tersentak kaget saat mendengar suara seseorang, apa lagi saat melihat keberadaan Hyuna yang sedang berjalan ke arahnya.
"Hyuna?"
Kedua pupil mata Vicky melebar saat melihat Hyuna. Dia memejamkan matanya, lalu kembali mengerjap untuk memastikan apakah wanita itu nyata atau hanya halusinasinya saja. Sangking terkejutnya, dia bahkan sampai menjatuhkan berkas yang sempat dia pegang.
Hyuna terkekeh lucu saat melihat raut wajah Vicky, dia merasa sedikit bersalah karena sudah membuat laki-laki itu terkejut apalagi sampai menatap dengan tidak percaya.
"Hyuna, kau, kau ada di sini?" tanya Vicky dengan tidak percaya.
Hyuna menganggukkan kepalanya. "Maaf karena sudah membuatmu terkejut, Mas. Maaf juga karena sudah lancang masuk ke dalam ruanganmu." Dia menundukkan kepalanya dengan tidak enak hati.
"Ti-tidak apa-apa, Hyuna. Kau boleh datang kapan saja dan juga masuk ke dalam ruangan ini," ucap Vicky sambil berjalan keluar dari meja kerjanya. Dia menghampiri wanita itu dengan senyum lebar.
Hyuna tersenyum saat mendengar ucapan Vicky, mereka lalu kembali duduk di atas sofa yang tadi dia duduki.
Wajah Vicky tampak berseri-seri saat melihat Hyuna di dalam ruangannya. Sebenarnya dia merasa sangat terkejut, dan berpikir mungkin saja sedang berhalusinasi. Namun, ternyata semua ini adalah nyata membuat hatinya berbunga-bunga.
"Ke-kenapa Mas terus menatapku? Apa, apa ada sesuatu di wajahku?" tanya Hyuna dengan gugup, tangannya terulur menyentuh wajah yang mulai panas dan memerah.
Vicky tersenyum sambil menggelengkan kepalanya. "Aku benar-benar senang melihatmu ada di sini, Hyuna. Apa kau datang ke sini karena ingin memberi jawaban secara langsung padaku?"
Deg.
Hyuna terdiam. Sejujurnya dia datang ke sini karena dipaksa oleh Yudha, tetapi tidak mungkin 'kan jika dia mengatakannya?
"A-aku, aku hanya ingin melihat Mas saja," jawab Hyuna dengan asal. Dia belum punya jawaban untuk pernyataan Vicky waktu itu, dan belum yakin jika hatinya juga mencintai laki-laki itu.
Vicky menghela napas kasar, dia mengira jika wanita itu datang untuk memberi jawaban atas ungkapan cintanya waktu itu.
"Maaf," ucap Hyuna sambil menundukkan kepalanya.
"Jangan minta maaf. Sudah ku bilang 'kan, kalau aku akan menunggu? Tadi aku hanya sekedar bertanya saja." Vicky mencoba untuk menenangkan Hyuna dengan senyum hangatnya. Dia lalu bertanya apakah wanita itu sudah makan atau belum, dan berniat untuk mengajaknya pergi ke restoran yang berada tidak jauh dari perusahaan.
__ADS_1
"Tapi, apa Mas tidak sibuk?" tanya Hyuna dengan tidak enak. Apalagi tadi dia sempat mendengar ucapan laki-laki itu.
"Aku tidak sedang sibuk kok, ayo!" Vicky menggenggam tangan Hyuna membuat tubuh wanita itu langsung menegang, padahal dia melakukannya tidak dalam keadaan sadar sangking semangatnya.
Vicky dan Hyuna lalu keluar dari ruangan itu, membuat Yudha dan Damian langsung mendongakkan kepala mereka dari pekerjaan.
"Kami akan pergi," ucap Vicky pada Damian membuat laki-laki itu menganggukkan kepala.
"Baik, Tuan. Selamat bersenang-senang." Damian tersenyum lebar saat melihat raut bahagia diwajah sang tuan, sementara Yudha juga tersenyum cerah melihat tangan sang kakak yang saling berpegangan dengan tangan Vicky.
Hyuna yang tahu arti senyuman sang adik langsung menatap Yudha dengan tajam. Padahal adiknya mengatakan ada hal penting yang ingin di bicarakan pada Vicky, tetapi buktinya malah datang untuk bekerja.
"Tapi, mau sampai kapan dia terus menggandeng tanganku?" Hyuna merasa malu untuk hanya sekedar mengatakan jika sejak tadi Vicky terus menggenggam tangannya. Tidak tahu apakah dia benar-benar merasa malu, atau memang menyukainya.
Mereka lalu keluar dari tempat itu menuju restoran. Semua orang yang melihat Vicky langsung menundukkan kepala mereka sambil menyapa, juga merasa terkejut saat melihat tangan laki-laki itu menggandeng tangan Hyuna.
Vicky menganggukkan kepalanya sambil tersenyum tipis untuk membalas sapaan mereka, sementara Hyuna hanya menundukkan kepalanya menahan malu.
Hyuna menoleh ke arah Vicky saat mendengar ucapan laki-laki itu. "Aku, aku malu Mas."
Vicky tersenyum. "Kau harus mulai terbiasa, karena setelah ini kau akan menjadi pusat perhatian."
Deg.
Langkah Hyuna terhenti karena ucapan Vicky, sontak dia melihat ke arah laki-laki itu dengan tajam. "Ke-kenapa aku menjadi pusat perhatian?"
"Karena kau akan menjadi Nyonya Kevlar Riandra."
Deg.
Jantung Hyuna berdegup kencang saat mendengar ucapan Vicky. Tubuhnya menegang sempurna, dengan mata terbelalak.
Bruk.
__ADS_1
Vicky dan Hyuna tersentak kaget saat mendengar suara benda terjatuh, sontak mereka melihat ke arah pintu di mana Risa sudah berdiri di sana.
"Risa?"
Hyuna menatap wanita itu dengan nanar, sementara Vicky menatapnya dengan tajam dan tampak jelas ketidak sukaan dari sorot matanya.
Untuk beberapa saat mereka saling pandang di tempat itu, sampai akhirnya Risa menundukkan kepalanya.
"Se-selamat siang, Tuan. Saya ke sini ingin menyerahkan berkas pada tuan Damian," ucap Risa dengan suara tertahan, terdengar jelas getaran suaranya menandakan jika dia sedang menahan tangis.
"Dia ada di ruangannya," balas Vicky membuat Risa langsung mengucapkan terima kasih.
Risa lalu menundukkan kepalanya dan berlalu pergi tanpa menatap mereka, sungguh hatinya terasa sangat sakit sekali saat ini.
"Jangan lupa kemasi barang-barangmu, aku sudah meletakkan kunci rumahnya di kamarmu," ucap Vicky membuat langkah Risa terhenti.
Risa mengepalkan kedua tangannya dengan erat untuk menahan gejolak emosi yang kembali membara. "Te-terima kasih, Tuan." Dia lalu melanjutkan langkahnya dan segera masuk ke dalam lift.
Hyuna melihat ke arah Risa dengan sendu. Sejujurnya dia merasa kasihan pada gadis itu, hanya saja apa yang Risa lakukan benar-benar sudah sangat keterlaluan.
"Ayo, kita pergi!" ajak Vicky kemudian membuat Hyuna mengangguk dan mengikuti langkah laki-laki itu.
Risa yang sudah berada di dalam lift langsung menumpahkan air matanya. Rasa sesak, sakit, dan juga malu bercampur jadi satu dalam dadanya saat ini.
"Ya Tuhan. Aku sudah berjanji untuk tidak mengganggu mereka lagi, jadi tolong keluarkan dia dari dalam hatiku, atau aku akan kembali melakukan kejahatan."
•
•
•
Tbc.
__ADS_1