
Hyuna menatap Risa dengan tajam, tidak ada sedikitpun keramahan dan kelembutan yang biasa terpancar dalam sorot matanya.
Risa sendiri juga menatap Hyuna dengan tidak kalah tajam. Kemarahan dan rasa malu menyeruak dalam dadanya, sampai akhirnya dia menyambar segelas minuman yang ada di atas meja dan melemparnya ke arah wanita itu.
Pyar.
Suara nyaring dari gelas yang membentur lantai menggema di tempat itu, membuat semua orang terlonjak kaget.
Hyuna yang memejamkan kedua matanya akibat lemparan Risa, kini mulai mengerjap dan terkejut saat melihat seseorang berdiri di depannya.
"Yu-Yudha?"
Yudha mengepalkan kedua tangannya dengan erat. Wajahnya memerah penuh kemarahan, dengan gigi yang saling bergesekan menahan luapan emosi yang membara.
"Dek, kau-"
Yudha langsung berbalik dan menatap Risa dengan tajam membuat wanita itu bergidik ngeri, sementara Hyuna tidak bisa melanjutkan ucapannya saat melihat kemarahan sang adik.
Dengan cepat, Yudha berjalan ke arah Risa dan mencengkram kuat tangan wanita itu, hingga Risa mengernyit kesakitan.
"Yudha, tunggu!" panggil Hyuna.
Tanpa pikir panjang, Yudha menarik paksa Risa untuk keluar dari tempat itu membuat Hyuna tersentak kaget. Sementara Risa sendiri juga terkesiap dengan apa yang laki-laki itu lakukan.
"Lepaskan aku! Sakit, tanganku sakit."
Yudha sama sekali tidak memperdulikan ucapan Risa atau pun panggilan kakaknya, dia terus membawa wanita itu sampai keluar dari restoran.
Begitu sampai di luar, Yudha menghempaskan tangan Risa dengan kuat sampai tubuh wanita itu menghantam salah satu mobil yang ada di sana.
Brak.
"Aargh!"
Risa memekik kaget saat tubuhnya menghantam mobil. Dia lalu terduduk di tanah sambil menahan sakit di sekujur tubuh.
__ADS_1
"Ya Allah."
Hyuna menutup mulutnya dengan tangan saat melihat apa yang Yudha lakukan, dengan cepat dia memeluk lengan adiknya itu.
"Hentikan, Dek. Mbak sudah-
"Sudah aku peringatkan untuk tidak menganggu Mbakku, tapi kau malah menjadi tidak waras," ucap Yudha dengan tajam membuat Risa menunduk takut.
Hyuna berusaha untuk menenangkan Yudha yang sedang diselimuti kemarahan, dia bahkan sampai memeluk tubuh adiknya itu dengan erat.
"Ada apa ini?"
Semua orang langsung melihat ke arah kanan saat mendengar suara seseorang, terlihat Vicky dan Damian sudah berdiri di tempat itu.
Vicky yang baru sampai terkejut saat melihat apa yang terjadi, apalagi saat ini Risa sedang terduduk di atas tanah.
"Kak Vicky," ucap Risa dengan bibir bergetar. Dia tidak bisa menggerakkan tubuhnya akibat takut, dan terkejut dengan apa yang Yudha lakukan.
"Lihat, apa Kakak melihatnya?" tanya Yudha pada Vicky sambil menunjuk tepat ke arah Risa. "Wanita gila ini sudah bertindak di luar batas, apakah aku boleh menginjaknya sampai hancur?"
Deg.
"Aku akan mematahkan tangannya yang sudah dengan berani memukul, dan hendak menyiram mbakku," sambung Yudha membuat Risa semakin ketakutan.
"Yudha, dengarkan Mbak!" Hyuna mengguncang tubuh Yudha dengan kuat, sampai laki-laki itu melihat ke arahnya.
"Cukup, sudah cukup. Sekarang ayo kita pulang!" ajak Hyuna kemudian. Dia tidak mau kembali terjadi keributan, apalagi sampai adiknya melukai Risa.
Yudha terdiam sambil membuang muka kesal, membuat Hyuna menghela napas lega karena adiknya masih bisa dikendalikan. Dia lalu melihat ke arah Vicky dengan sayu.
"Tolong jaga adikku sebentar, Mas. Aku ingin menemui manager dulu," pinta Hyuna yang langsung diangguki oleh Vicky. Dia lalu kembali masuk ke dalam restoran.
Hyuna langsung menghampiri Dayu yang sudah pasti menunggu kedatangannya, mereka berdua lalu pergi ke ruang kerja laki-laki itu.
"Sebelumnya aku sudah mengatakannya padamu, Hyuna. Aku tidak mau lagi terjadi keributan," ucap Dayu dengan kecewa.
__ADS_1
Hyuna mengangguk paham. "Maafkan saya, Pak. Seharusnya saya bisa mengendalikan diri, sehingga tidak membuat para pelanggan tidak nyaman."
Dayu menghela napas kasar. Dia takut nama baik restoran mereka akan tercemar dengan apa yang terjadi, apa lagi melibatkan karyawannya sendiri.
"Sekali lagi saya minta maaf, Pak. Tapi Anda tidak perlu khawatir, saya akan mempertanggung jawabkan semuanya. Dan saya akan langsung menyerahkan surat pengunduran diri pada tuan Abian."
Dayu terkesiap saat mendengar ucapan Hyuna. "Kau, kau akan mengundurkan diri?"
Hyuna tersenyum, lalu menganggukkan kepalanya. "Benar, Pak. Saya mengundurkan diri bukan karena saya salah, tapi karna saya sudah mencemarkan nama baik restoran. Dan saya bertanggung jawab penuh dengan semua itu."
"Tapi kau tidak perlu sampai mengundurkan diri, Hyuna," ucap Dayu.
"Tidak apa-apa, Pak. Sebenarnya sudah lama saya memikirkan tentang hal ini, dan mungkin inilah saat yang tepat."
Dayu tidak bisa lagi berkata apa-apa saat mendengar ucapan Hyuna, dia hanya meminta agar wanita itu kembali memikirkan tentang keputusannya.
Sementara itu, Yudha dan yang lainnya masih terdiam di tempat itu. Setelah Hyuna pergi, Vicky terus menatap Risa dengan tajam. Kemarahan dan kekecewaan terpancar jelas di matanya, hingga Risa tidak berani untuk mendonggakkan kepala.
"Selama ini aku sudah menganggapmu sebagai adikku sendiri, Risa. Walau semua itu sangat berat untukku, karena aku tidak suka dengan kehadiran orang lain dalam hidupku," ucap Vicky dengan penuh penekanan.
"Tapi semua itu tidak menjadi masalah, karena kau adalah adik dari seseorang yang aku cintai. Tapi akhir-akhir ini aku marah dan tidak suka dengan kelancanganmu yang ikut campur dalam kehidupanku, karena kau sama sekali tidak punya hak untuk itu."
Risa terdiam dengan dada berdenyut sakit, rasanya seperti sedang di remmas-remmas dengan sangat kuat.
"Aku marah, tapi aku masih menganggapmu adik walau hanya sedikit saja. Tapi sekarang, kau benar-benar membuat aku kecewa. Kebaikanku sama sekali tidak kau hargai, kau bahkan berniat untuk menyakiti wanita yang aku cintai. Ya, aku mencintai Hyuna. Jadi jangan muncul lagi di hadapanku, atau di hadapan wanita itu sekali pun. Atau kau akan benar-benar melihat kemarahanku."
Semua orang terdiam saat mendengar ucapan Vicky, begitu juga dengan Hyuna yang ternyata sudah kembali ke tempat itu.
"Ci-cinta?"
•
•
•
__ADS_1
Tbc.