Runtuhnya Janji Suci Pernikahan

Runtuhnya Janji Suci Pernikahan
Bab 101. Mohon Ditahan Ya.


__ADS_3

Tangis bahagia menggema di tempat itu membuat suasana terasa sangat mengharukan sekali. Pak penghulu segera membacakan do'a untuk sepasang suami istri itu, agar nantinya rumah tangga mereka selalu dirahmati dan diberkahi oleh Allah SWT. Selalu diberikan kebahagiaan dan dijauhkan dari segala mara bahaya dan orang-orang jahat. Contohnya pelakor dan pebinor.


Hyuna segera menyalim tangan Vicky, sementara Vicky mengusap puncak kepala Hyuna sambil memanjatkan do'a yang sudah dia hapal setiap hari sebelum akad nikah terlaksana.


Hyun kembali meneteskan air matanya, sungguh dia sangat bersyukur sekali sudah diberikan jodoh yang baik seperti Vicky. Semoga apa yang terjadi di masa lalu tidak terjadi lagi dalam rumah tangga mereka.


Vicky juga mengusap sudut matanya yang basah karena air mata. Hatinya terasa benar-benar lega dan bahagia sudah menikah dengan Hyuna, apa yang dia rasakan saat ini benar-benar tidak bisa untuk diungkapkan dengan kata-kata.


Semua keluarga bergantian untuk mengucapkan selamat pada sepasang suami istri yang baru saja menikah beberapa saat yang lalu, para teman-teman Hyuna yang ada di tempat itu juga ikut mengucapkan selamat untuk mereka.


Setelah acara akad selesai, Hyuna dan Vicky dibawa masuk ke dalam kamar untuk berganti pakaian. Setelah ini, mereka akan melakukan semua prosesi adat yang ada di desa itu. Malam harinya, tepatnya selepas maghrib. Mereka semua baru akan berangkat menuju kota dengan semua keluarga besar. Baik dari pihak laki-laki, juga pihak wanita.


"A-aku mau ganti baju dulu, Mas," ucap Hyuna yang saat ini berdiri di samping ranjang. Dia masih merasa malu jika harus berganti pakaian di depan laki-laki itu, walaupun beberapa saat yang lalu sudah menjadi suaminya.


Vicky tersenyum simpul saat melihat wajah Hyuna merah padam, dia lalu berjalan ke arah pintu membuat Hyuna menghela napas lega.


Namun, Vicky berjalan ke pintu bukan karena ingin keluar dari kamar itu, tetapi karena ingin mengunci pintunya.


Hyuna yang masih menghadap ke arah ranjang tersentak kaget saat tiba-tiba ada sebuah tangan yang memeluknya dari belakang. Sontak dia memegang tangan laki-laki itu dan melihat ke belakang.


"Mas? Apa, apa yang kau-"


"Ssst, biarkan aku seperti ini 5 menit saja," pinta Vicky membuat Hyuna langsung terdiam.


Tubuh Hyuna menegang seperti sedang terkena aliran listrik, tetapi dia mencoba untuk tetap tenang dan harus membiasakan diri mulai dari sekarang.


"Terima kasih. Terima kasih karena sudah mau menjadi istriku, Hyuna. Aku mencintaimu," ucap Vicky dengan suara yang sedikit parau karena sedang menahan tangis bahagia.


Hyuna terdiam dengan jantung berdegup kencang saat mendengar kata-kata yang suaminya katakan, sungguh hatinya benar-benar sangat bahagia saat ini, hingga air mata juga sudah berjatuhan membasahi wajah.

__ADS_1


"Terima kasih juga karena telah memilihku untuk menjadi istrimu, Mas. Aku juga mencintaimu, aku sangat mencintaimu," ucap Hyuna sambil membalikkan tubuhnya dan bersitatap mata dengan sang suami.


Tatapan mereka seakan terkunci satu sama lain hingga tidak sadar jika saat ini wajah mereka sudah sangat dekat. Vicky memindahkan pandangannya ke bibir Hyuna yang masih dipoles lipstik berwarna merah, membuat jakunnya naik turun.


Hyuna sendiri sudah memejamkan kedua matanya dan bersiap untuk menerima ciuman dari sang suami. Napas mereka berdua saling beradu, dengan ujung hidung yang sudah saling bersentuhan karena sama-sama mancung.


Tok, tok, tok.


"Vicky!"


Vicky yang sudah mendaratkan bibirnya di atas bibir Hyuna terdiam saat mendengar suara panggilan sang mama, begitu juga dengan Hyuna yang langsung membuka kedua matanya dan langsung bertatapan dengan kedua mata Vicky.


"Vicky, buka pintunya!"


Hyuna langsung mendorong tubuh Vicky saat kembali mendengar suara sang mertua, dengan cepat dia berjalan ke pintu dan membuka kuncinya.


"Mama tau kalau kalian udah enggak sabar untuk saling memadu kasi, tapi tolong ditahan dulu karena kita harus lanjut ke acara selanjutnya. Apa kalian mengerti?" ucap Vanes dengan pelan tetapi penuh dengan penekanan, apa lagi sorot matanya sangat tajam penuh dengan ancaman.


"Ba-baik, Ma," ucap Hyuna sambil menunduk malu, sementara Vicky tampak mencebikkan bibirnya dengan kesal.


Setelah dimarahi oleh Vanes, akhirnya mereka berdua segera berganti pakaian dan kembali di makeupin oleh para perias. Jam sudah menunjukkan pukul 11 siang, jadi mereka harus cepat karena masih ada banyak acara yang akan dilakukan.


Damian yang saat itu baru selesai mengobrol dengan Yudha tampak mengedarkan pandangan ke semua tempat untuk mencari seseorang. Dia menajamkan pandangannya ke tempat-tempat terpencil, juga ke tempat yang ada di belakang pelaminan.


"Ke mana dia, apa dia menangis lagi?" Damian meletakkan minuman yang ada ditangannya ke atas meja, lalu beranjak dari tempat itu untuk mencari Risa.


"Lihat, dia tampan sekali kan? Hahah."


Langkah Damian terhenti saat mendengar suara seseorang, dia lalu menoleh ke arah samping di mana ada Risa dan dua orang wanita sedang bersenda gurau.

__ADS_1


Deg.


Damian terpaku di tempatnya berdiri saat melihat tawa yang ada diwajah Risa. Untuk pertama kalinya dia melihat gadis itu tertawa lepas tanpa beban, biasanya Risa akan tertawa di hadapan Vicky hanya untuk mencari perhatian dari laki-laki itu saja.


"Dasar gila! Sebenarnya apa yang aku lakukan sih?" Damian mengusap wajahnya dengan kasar. Bisa-bisanya dia terpaku hanya karena melihat tawa gadis itu.


Tidak mau semakin gila, Damian segera berbalik dan memutuskan untuk menjauh dari tempat itu. Terutama menjauh dari hidup wanita itu, sepertinya dia sudah melewati batasan antara dia dan Risa.


"Ris, tadi tuan Damian terus melihat ke arahmu loh," ucap salah satu wanita yang sedang bersama dengan Risa, membuat tawa yang ada diwajah Risa langsung lenyap.


"Benarkah?" tanya Risa dengan wajah panik, dan dijawab dengan anggukan kepala gadis itu.


"Gawat, aku harus sembunyi sebelum dia menyuruhku untuk melakukan sesuatu," ucap Risa yang merasa semakin panik. Dia tahu jika Damian pasti akan kembali menyusahkannya, padahal dia sedang merayakan kesenangannya karena tidak merasa sedih saat melihat Vicky dan Hyuna menikah.


"Memangnya kenapa sih?" tanya gadis lainnya yang merasa penasaran, padahal banyak para wanita di perusahaan yang mengidolakan sosok Damian setelah Vicky.


"Duh, laki-laki itu sudah gila. Pokoknya kalau dia bertanya, bilang aja aku pergi entah ke mana. Oke?" pinta Risa dengan penuh harap.


Setelah permintaannya diiyakan oleh dua gadis itu, Risa beranjak pergi dari tempat itu agar tidak dilihat oleh Damian. Dia lalu mengayunkan kakinya ke arah sungai yang ada di belakang rumah Hyuna, rasanya pas sekali menenangkan diri ditempat itu.


"Tapi kenapa aku tidak menangis saat kak Vicky menikah ya? Aku malah merasa senang seperti saat dia menikah dengan kakak."





Tbc.

__ADS_1


__ADS_2