
Aksa terpaku di depan rumah Hyuna sambil menatap ke arah kepergian wanita itu. Untuk beberapa saat dia terdiam di sana sambil memikirkan apa yang Yudha katakan tadi. Benarkah Laura keluar masuk hotel dengan laki-laki lain?
"Tidak, untuk apa dia melakukannya?"
Aksa menggelengkan kepalanya, dia lalu beranjak pergi dari tempat itu menuju rumah sakit. Lelah sekali rasanya setiap hari harus bolak-balik ke rumah dan rumah sakit, belum lagi harus ke perusahaan yang arahnya berlainan dari rumah sakit.
Beberapa saat kemudian, dia sudah sampai di parkiran rumah sakit. Dia segera keluar dari mobil dan beranjak masuk ke dalam tempat itu.
Jam sudah menunjukkan pukul 2 siang, jadi dia harus cepat menemui adik dan juga ibunya sebelum terlembat kembali ke perusahaan.
Aksa melangkah masuk ke dalam ruangan yang di tempati ibunya, terlihat sang ibu sedang tertidur di atas ranjang. Semalam ibunya ditemukan pingsan di ruangan Riska akibat kelelahan, juga tingginya kadar gula darah dalam tubuh sang ibu.
"Bu, Ibu!"
Aksa menggoyang lengan ibunya membuat wanita paruh baya itu mengerjapkan kedua mata, dia lalu menoleh ke arah Aksa.
"Aksa, kau di sini Nak?"
Aksa mengangguk. "Bagaimana keadaan Ibu, apa Ibu sudah makan?" Dia menatap ibunya dengan senyum tipis.
"Ibu baik-baik saja, ibu juga sudah makan. Kamu sendiri bagaimana, apa sudah makan?"
Aksa kembali menganggukkan kepalanya walaupun sebenarnya dia sama sekali tidak sempat untuk makan. "Ya sudah, lebih baik Ibu istirahat lagi. Aku mau lihat Riska sebentar." Dia beranjak dari kursi dan hendak keluar dari ruangan itu.
Mona menahan tangan Aksa yang sudah berbalik, membuat anaknya itu kembali menoleh ke arahnya dengan bingung.
"Apa, apa kau sudah bicara dengan Hyuna?" tanya Mona membuat Aksa menatapnya dengan sayu.
"Aku sudah mengatakannya, Bu. Tapi saat ini Hyuna sedang sibuk, jadi dia tidak bisa menemani Riska," jawab Aksa. Sebenarnya atas ide ibunya lah dia sampai menemui Hyuna untuk meminta bantuan pada wanita itu.
"Lalu bagaimana dengan istrimu, Aksa? Sebenarnya pekerjaan apa yang dia lakukan, apa tidak bisa dia menemani Riska 2 sampai 3 jam saja?" tanya Mona dengan kesal. Hampir setiap hari dia menelepon Laura untuk menyuruh wanita itu datang, tetapi jawabannya selalu sibuk dan juga sibuk.
"Entahlah Bu, aku tidak tau." Aksa mengendikkan bahunya. Dia lalu bergegas pamit pada sang ibu dan berlalu keluar dari ruangan itu.
__ADS_1
Mona menatap putranya dengan getir. Lingkaran hitam dikedua mata Aksa memperlihatkan betapa lelahnya laki-laki itu saat ini, dan dia juga paham kalau Aksa harus ke sana ke sini untuk mengurus mereka.
"Wanita itu benar-benar tidak peduli pada suaminya sendiri."
Dengan cepat Mona menyambar ponsel yang ada di atas meja dan langsung menelepon Laura, awas saja jika wanita itu tidak mengangkat panggilannya.
"Halo,"
"Halo Laura, kau ada di mana?" tanya Mona dengan cepat begitu mendengar suara wanita itu.
"Kerja lah, jadi di mana lagi?"
Terdengar jawaban ketus dari sebrang telepon membuat Mona menjadi geram. "Cepat datang ke sini dan temani Riska, kata Dokter dia butuh diajak banyak bicara oleh keluarga."
"Apa Ibu tidak tau kalau aku sedang kerja? Selalu saja menyuruh aku ke sana, gak penting sekali," ucap Laura di sebrang telepon, dari suaranya terdengar jelas jika dia sangat kesal.
"Apa kau bilang, gak penting?" bentak Mona. "Sekarang cepat kau datang sebelum-"
"Halo, Laura!"
Ternyata pamggilan itu langsung dimatikan begitu saja oleh Laura sebelum Mona menyelesaikan kata-katanya, membuat wanita paruh baya itu langsung melempar ponselnya ke ranjang.
"Dasar wanita tidak tau diuntung. Nasib baik putraku mau dengannya, tapi dia malah bertindak kurang ajar!"
Mona benar-benar merasa geram. Tiba-tiba dia memegangi kepalanya yang kembali berdenyut sakit, dia lalu membaringkan tubuhnya ke ranjang.
"Awas saja kau Laura, setelah sehat aku pasti akan memberimu pelajaran!" Mona mendengus sebal. "Masih jauh lebih baik Hyuna walaupun tidak bisa memberi anak, tapi dia mau mengurusku dan juga anak-anakku. Tidak seperti wanita licik itu."
Mulai timbul penyesalan dalam hati Mona karena telah menikahkan Aksa dengan Laura, padahal sampai saat ini pun mereka belum dikaruniai seorang anak.
Sementara itu, di tempat lain terlihat Hyuna dan Yudha sudah sampai di perusahaan Vicky. Mata Hyuna membulat sempurna saat melihat betapa mewah dan tingginya perusahaan milik laki-laki itu, sampai kakinya tidak sanggup untuk melangkah masuk.
"Ayo, Mbak! Kenapa berdiri di sana?" ajak Yudha yang sudah berada di lobi perusahaan.
__ADS_1
Hyuna menggelengkan kepalanya. "Ka-kau saja yang masuk, Dek. Mbak tunggu di luar aja." Tiba-tiba dia merasa insecure dengan apa yang Vicky miliki.
Yudha mengernyitkan kening bingung, dia lalu kembali keluar dan menarik tangan sang kakak. "Ayolah Mbak, kita bahkan sudah sampai di sini." Dia menarik paksa tangan sang kakak lalu membawanya masuk.
"Tapi Dek, Mbak merasa gak enak kalau datang tiba-tiba seperti ini." Hyuna masih berusaha untuk keluar, rasanya dia sangat tertekan sekali saat ini.
"Tenang aja, aku kan udah buat janji," ucap Yudha sambil mendekat ke meja resepsionis.
Hyuna menatap adiknya dengan bingung, apalagi saat melihat dua wanita yang ada di resepsionis menundukkan kepala mereka di hadapan Yudha.
"Sebentar." Hyuna menarik tangannya membuat langkah Yudha terhenti.
"Ada apa lagi sih Mbak? Kak Vicky ada di lantai-"
"Kenapa kau mudah sekali masuk ke dalam perusahaan ini, apa kau sudah sering keluar masuk ke tempat ini?"
Glek.
Yudha menelan salivenya dengan kasar. Dia lupa belum memberitahu sang kakak jika saat ini dia bekerja dengan Vicky, dan berada langsung di bawah Damian.
"I-itu, Itu Mbak-"
"Kau sedang menyembunyikan sesuatu dari mbak?" Hyuna menatap Yudha dengan tajam membuat adiknya itu mengkerut takut.
"Sebenarnya aku bekerja dengan kak Vicky, Mbak."
•
•
•
Tbc.
__ADS_1