Runtuhnya Janji Suci Pernikahan

Runtuhnya Janji Suci Pernikahan
Bab. 97. Rencana Buruk.


__ADS_3

Laura menatap Mona dengan tajam dan nyalang. Berani sekali wanita tua itu melayangkan tamparan padanya, memangnya siapa dia itu?


"Kenapa, apa kau pikir aku tidak bisa memberi pelajaran pada wanita tidak tahu diri seperti mu?" balas Mona dengan sarkas. Selama ini matanya benar-benar sudah buta sehingga tidak bisa melihat siapa wanita itu yang sesungguhnya.


Plak.


Laura membalas apa yang Mona lakukan, memangnya wanita itu saja yang bisa menamparnya?


"Kau yang tidak tau diri, dasar tua bangka si*alan!" ucap Laura dengan nada membentak. "Sekarang dengarkan baik-baik. Aku peringatkan kalian, jangan lagi mengganggu Aksa atau aku akan memberi pelajaran pada kalian." Dia menunjuk tepat ke wajah Mona.


Mona langsung menepis tangan Laura yang ada di depan wajahnya. "Kau pikir siapa kau ini, hah? Aksa adalah putraku, seharusnya kau yang menjauh darinya." Dia berucap dengan geram.


"Kau lah yang harus menjauh dasar benalu! Kau selalu saja membuatnya susah dan menghabiskan uangnya, dasar orang tua tidak tau diri!"


Brak.


Tubuh Mona langsung terduduk dengan keras ke atas kursi roda karena di dorong oleh Laura, dengan cepat wanita itu mencengkram dagunya membuat dia mengernyit menahan sakit.


"Lepaskan tanganmu,"


"Diam!" bentak Laura. "Kau benar-benar benalu yang tidak tau diri. Sebagai orang tua, seharusnya kau memberi kebahagiaan untuk putramu, tapi kau malah selalu menyusahkannya!" Dia menghempaskan wajah Mona dengan kasar.


Mona terdiam dengan tatapan nyalang, sementara Riska menutup kedua telinganya dengan tubuh gemetaran.


"Tau apa kau tentang putraku, hah? Kau hanyalah istri yang-"


"Tentu saja aku tau. Kau telah menghancurkan masa depannya, kau juga menghancurkan rumah tangga kami karna harus mengurus anakmu yang gila itu. Kau kan orang tuanya, kenapa harus suamiku yang mengurus kalian semua, hah?" teriak Laura dengan nada bentakan, membuat Mona terdiam dengan jantung berdebar kencang.


Laura terus saja mengucapkan kata-kata yang mengguncang jiwa Mona, seakan-akan dia tidak memikirkan putranya dan hanya selalu menyusahkan.

__ADS_1


"Aksa bahkan pernah berpikir untuk memasukkanmu ke panti jompo."


Deg.


Mona terkesiap saat mendengarnya, dia lalu menatap wanita itu dengan tatapan tidak percaya. "Tidak, putraku tidak seperti itu!" Dia membantah dengan tajam.


"Tau apa kau, hah? Setiap malam akulah yang bersamanya, apa kau tidak lihat kalau tubuhnya semakin kurus. Wajahnya pucat, dia juga lebih banyak diam. Itu semua karnamu, hidup anak-anakmu hancur semua karenamu!" ucap Laura dengan tajam dan penuh pekenanan.


Mona menggelengkan kepalanya dengan tidak percaya. Tidak, Aksa tidak akan pernah melakukan itu. Dia yakin jika putranya hanya sedang lelah, tidak mungkin Aksa setega itu padanya.


"Jangan berpikir tidak mungkin, karna kau orang tua yang pantas untuk dibuang. Kau sangat buruk, bahkan menghancurkam masa depan anak-anakmu sendiri. Apa kau pikir Riska jadi seperti ini bukan karena perbuatanmu, hah?" Laura semakin menjadi-jadi, membuat Mona menutup kedua telinganya karena tidak mau lagi mendengar apa yang wanita itu ucapkan.


"Dengarkan aku!" ucap Laura sambil menarik tangan Mona, dan menahannya. "Karena perbuatanmu Riska pergi dari rumah, karena kau tidak menerimanya dia jadi disiksa oleh pacarnya, karna kau juga dia jadi gila. Semua ini karnamu, karna perbuatanmu!" Dia lalu melepaskan tangan Mona dengan kasar.


Seluruh tubuh Mona bergetar karena apa yang Laura katakan, sekuat tenaga dia meyakinkan diri jika ucapan wanita itu tidak benar.


"Awas saja kalau kau masih saja menyusahkan suamiku, aku akan membuatnya benar-benar membuang kalian," ucap Laura dengan penuh penekanan, dia lalu berbalik dan berjalan keluar dari tempat itu.


"Tidak, jangan dengarkan ucapan wanita gila itu." Mona mencoba untuk menenangkan diri walau tubuhnya masih gemetaran. Tidak berselang lama, datanglah Dokter yang akan memeriksa kondisi Riska sekalian persiapan untuk memindahkan wanita itu ke rumah sakit lain.


Setelah selesai mengatakan yang tidak-tidak pada Mona, Laura pergi dari rumah sakit itu dengan senyum lebar. Lihat saja, dia akan menghancurkan mental mereka semua dan memasukkannya ke rumah sakit jiwa. Dengan begitu, tidak akan ada lagi yang mengganggu Aksa.


Sementara itu, di tempat lain terlihat Damian sedang berkutat dengan segudang pekerjaan. Dia harus segera menyelesaikan semuanya sebelum hari pernikahan tuannya dan Hyuna, apalagi dia harus menyiapkan acara pernikahan mereka juga.


"Permisi, Tuan. Apa Anda memanggil saya?"


Damian menghentikan pekerjaannya saat mendengar suara seseorang, dia lalu mendongakkan kepalanya dan menatap orang tersebut. "Duduklah."


Risa menganggukkan kepalanya, lalu duduk di kursi yang ada di hadapan laki-laki itu.

__ADS_1


"Apa kau sudah menyelesaikan pekerjaanmu?" tanya Damian tanpa  melihat ke arah wanita itu, sambil kembali melanjutkan pekerjaannya.


"Be-belum, Tuan. Saya masih mengerjakannya," jawab Risa dengan gugup. Sebenarnya dia sama sekali belum mengerjakannya karena merasa lelah akibat perjalanan jauh.


"Selesaikan semua itu 2 hari sebelum acara pernikahan, setelah itu ikut aku untuk mempersiapkan semuanya."


Glek.


Risa menelan salivenya dengan kasar saat mendengar ucapan Damian. Kenapa dia harus ikut juga sementara bukan dia yang menikah?


"Bu-bukannya sudah ada tante Vanes yang menyiapkan semuanya Tuan?" ucap Risa dengan takut, dadanya bahkab sudah berdegup kencang sekarang.


"Kau pasti pernah berpikir akan menikah dengan tuan Vicky, 'kan?" tanya Damian, tetapi dari nada suaranya terlihat jelas jika dia sedang mencibir wanita itu.


Risa langsung menatap Damian dengan tidak suka, kenapa laki-laki itu terus saja mengungkit tentang perasaannya? Benar-benar membuatnya kesal saja.


"Kenapa kau diam?" tanya Damian kembali, membuat Risa terkesiap.


"Saya tidak pernah berpikir sampai menikah, Tuan. Sumpah!" Risa sampai mengangkat tangannya dan menunjukkan angka dua agar laki-laki itu percaya.


Damian tersenyum miring dengan raut wajah penuh ejekan, seperti tidak percaya dengan apa yang wanita itu katakan.


"Setidaknya kau harus membalas kebaikan yang selama ini tuan Vicky berikan untukmu, 'kan? Jadi persiapkan pernikahan ini dengan sangat mewah dan indah, sampai tidak ada satu pernikahan pun yang menandinginya."




__ADS_1


Tbc.


__ADS_2