Runtuhnya Janji Suci Pernikahan

Runtuhnya Janji Suci Pernikahan
Bab. 36. Undangan Pesta.


__ADS_3

Beberapa hari telah berlalu sejak Mona menelepon Aksa dan bertanya mengenai uang bulanan yang biasa dia terima, tetapi sampai saat ini putrnya itu tidak juga mengirim uang padanya.


Mona lalu bergegas pergi ke rumah Aksa untuk menemui putranya secara langsung. Sekarang sudah pukul 6 sore, pasti laki-laki itu sudah pulang dari perusahaan.


Dengan menaiki taksi, Mona sampai juga di rumah Aksa dan bergegas masuk ke dalam rumah. Dia melihat ke sana kemari karena tempat itu terlihat sunyi.


"Aksa!"


Aksa yang sedang membuat kopi di dapur langsung menjawab panggilan dari sang ibu. Tentu saja dia tahu jika suara itu adalah milik ibunya.


"Ada apa, Bu?" tanya Aksa saat melihat ibunya masuk ke dapur.


"Kenapa kau belum mengirim uang pada ibu, Aksa?" Mona langsung menanyakan tentang tujuannya datang menemui putranya itu.


Aksa menghela napas berat lalu menyuruh ibunya untuk duduk. "Maaf, Bu. Uangnya masih dipakai oleh Laura, tapi lusa aku akan mengirimnya pada Ibu."


"Apa dia tidak tau, jika kau mengirim uang pada ibu?" Mona duduk di samping Aksa sambil mengambil buah apel yang ada di atas meja.


"Dia tau kok, makanya lusa baru dikembalikan."


Aksa terpaksa berbohong karena tidak mau memancing keributan, tetapi setelah ini dia tidak akan lagi memberikan uang gajinya pada Laura.


"Ya sudah. Tapi, di mana Laura?" tanya Mona kemudian.


"Dia belum pulang, mungkin sebentar lagi."


Mona menganggukkan kepalanya lalu mulai bercerita tentang perkuliahan Riska dan juga Ruby. Kedua putrinya itu butuh banyak biaya, apalagi Riska sedang dalam proses skripsian.


Pada saat yang sama, terlihat di tempat lain Hyuna sedang berkutat dengan pekerjaannya. semalam dia mendapat undangan ulang tahun dari Wildan yang akan di adakan malam ini tepat pukul 8, itu sebabnya dia harus menyiapkan semua pekerjaan agar tidak terlambat.


"Apa Yudha sudah sampai?"


Hyuna mengecek ponselnya sebentar untuk memastikan jika Yudha sudah sampai di restoran, dia merasa khawatir karena adiknya itu belum terbiasa dengan tempat ini.


Tepat pukul 7 malam Hyuna sudah menyiapkan segala pesanan dan berganti shif dengan yang lain, dia segera keluar dari dapur menuju ruang ganti.


Bruk.


Sangking buru-burunya, Hyuna sampai tidak sengaja menabrak tubuh Dayu dan hampir tersungkur ke lantai jika tidak dipegangi oleh laki-laki itu.

__ADS_1


Tangan Dayu melingkar tepat dipinggang Hyuna dan menahan tubuh wanita itu agar tidak terjatuh. Sampai tidak sadar jika tubuhnya dan Hyuna berdempetan dengan sangat dekat.


Deg.


Hyuna tersentak kaget saat mendongakkan kepalanya dan langsung bertatapan dengan wajah Dayu, sementara Dayu sendiri menatap wajah Hyuna dengan tajam yang hanya berjarak beberapa senti saja darinya.


Untuk beberapa saat mereka saling tatap seolah waktu berhenti berputar, sampai akhirnya Hyuna mendorong tubuh Dayu saat laki-laki itu hampir mengecup bibirnya.


Dayu tersentak kaget dan langsung melepaskan pelukannya saat Hyuna mendorong tubuhnya.


"Te-terima kasih, Pak. Kalau gitu saya permisi dulu."


Hyuna menundukkan kepalanya lalu berbalik dan hendak pergi dari tempat itu. Namun, langkahnya terhenti saat tangannya di cekal oleh Dayu membuat dia menatap laki-laki itu dengan tajam.


"Maaf, aku tidak bermaksud untuk memelukmu tadi."


Hyuna tersenyum kaku sambil menarik tangannya dari cekalan Dayu membuat laki-laki itu terkesiap.


"Saya permisi, Pak."


Hyuna langsung berjalan cepat ke ruang ganti sebelum terjadi sesuatu yang tidak diinginkan. Dia lalu mengunci pintu ruangan itu karena takut jika ada orang lain yang masuk.


Hyuna mengusap dadanya yang berdebar-debar. Bukan berarti dia jatuh cinta, tetapi lebih kepada takut dan juga terkejut.


Setelah merasa lebih baik, Hyuna lalu membersihkan diri dan segera bersiap untuk pergi ke pesta ulang tahun Wildan. Dia bergegas menemui Yudha yang sudah menunggu di depan restoran.


"Ayo kita pergi, Dek!"


Yudha menganggukkan kepalanya dan segera berjalan ke arah motornya berada. Ya, semalam sang kakak membelikan motor untuknya. Padahal dia sudah mengatakan jika tidak perlu motor karena masih bisa naik kendaraan umun.


Namun, tiba-tiba sebuah mobil datang dengan membawa sepeda motor berwarna hitam dengan merk CBT yang saat ini sedang laris manis di pasaran.


Mereka lalu berangkat ke rumah Vicky yang alamatnya sudah diberitahu oleh Damian, tidak lupa mereka juga membawa hadiah untuk Wildan.


Beberapa saat kemudian, mereka sudah sampai di depan gerbang sebuah rumah yang sangat mewah. Hyuna segera turun dari motor saat petugas keamanan menghampiri mereka.


"Selamat malam, Nona. Apa ada yang bisa saya bantu."


Hyuna segera membalas sapaan perjaga itu lalu menunjukkan undangan ulang tahun Wildan. Tentu saja mereka tidak bisa masuk ke dalam tempat itu jika tidak punya undangan pesta.

__ADS_1


"Saya akan memeriksanya dulu, Nona."


Penjaga itu lalu berbalik dan menghampiri temannya yang sedang duduk berhadapan dengan laptop.


"Orang kaya memang beda ya Mbak, mau masuk aja pake konfirmasi dulu," bisik Yudha membuat Hyuna langsung tergelak.


"Itu kan demi keamanan mereka, Dek. Takutnya ada orang jahat yang masuk ke dalam rumah,"


"Apa seperti yang ada di film-film?"


Hyuna langsung menggelengkan kepalanya saat mendengar ucapan Yudha. Adiknya itu memang suka sekali menonton film.


"Jangan kebanyakan nonton film."


Yudha langsung mencebikkan bibirnya saat mendengar ucapan sang kakak, lalu petugas keamanan kembali menghampiri mereka dan mempersilahkan untuk masuk ke dalam gerbang.


Mata Hyuna dan Yudha membulat sempurna saat melihat kemewahan dan keindahan rumah itu. Mereka juga berdecak kagum saat melihat taman bunga yang tumbuh indah di sekeliling rumah itu.


Tidak mau membuang waktu, mereka segera berjalan ke arah samping sesuai dengan petunjuk yang ada di tempat itu. Terlihat suasana cukup ramai dengan banyaknya anak-anak yang berlarian ke sana kemari, wajar saja karena yang ulang tahun juga anak-anak.


Hyuna dan Yudha segera bergabung ke dalam pesta tersebut. Terlihat jelas jika semua tamu yang datang adalah orang kaya, tentu saja dengan pakaian yang sangat bagus.


"Mbak, aku jadi insecure mau bergabung dengan mereka," ucap Yudha saat memperhatikan penampilannya bagai langit dan bumi dari orang-orang.


"Tidak apa-apa, memangnya apa yang salah dari kita?" Hyuna menggelengkan kepalanya sambil melihat ke semua arah untuk mencari keberadaan Wildan.


"Tante!"


Wildan yang melihat kedatangan Hyuna langsung berlari ke arah wanita itu, membuat Hyuna tersenyum dan langsung memeluk tubuh bocah kecil itu.


"Siapa dia?"





Tbc.

__ADS_1


__ADS_2