
Beni dan semua keluarga menganggukkan kepala mereka dengan senyum cerah secerah sinar rembulan malam ini. "Kami sekeluarga merasa terhormat dengan maksud baik dari Anda semuanya. Tapi, alangkah baiknya jika yang punya badan sendirilah yang menjawab keinginan dari saudara Vicky." Dia melihat ke arah sang putri yang sedang menunduk malu.
"Anda benar, Pak Beni. Jadi, langsung saja saya serahkan pada Vicky yang mungkin ada kata-kata yang ingin dia ucapkan secara langsung pada Hyuna," ucap lelaki paruh baya itu sambil menepuk bahu Vicky yang ada di sampingnya.
Vicky tersenyum sambil menganggukkan kepalanya. Dia lalu melihat ke arah Hyuna yang juga sedang meliriknya dengan sedikit menunduk.
"Saya tidak pintar merangkai kata-kata indah untuk mengungkapkan perasaan saya pada Hyuna, jadi saya akan langsung mengatakan keinginan yang sudah sangat lama terpendam dalam hati," ucap Vicky. Suaranya menggema di tempat itu karena semua orang fokus mendengarnya, dan tidak ada satu pun yang bicara.
Risa yang sejak tadi berada di sudut ruangan tampak memegangi dadanya yang berdenyut sakit. Namun, dia merasa kagum pada dirinya sendiri karena bisa mengendalikan diri sejak sampai di tempat ini. Jika dulu, mungkin dia akan membuat kekacauan yang akhirnya akan membuat diri sendiri merasa malu.
"Bismillahirrahmanirrahim, dengan menyebut nama Allah, izinkanlah aku untuk meminangmu, Hyuna. Menjadikanmu pendamping hidup yang aku harapkan bisa selalu menemani dalam suka dan duka, sakit dan sehat, muda dan tua sampai maut yang memisahkan. Aku tidak bisa berjanji untuk tidak menyakitimu suatu hari nanti, tapi aku berjanji akan selalu memberikan yang terbaik untuk kebahagiaanmu," ucap Vicky dengan tegas dan penuh penekanan, membuat dada Hyuna berdegup kencang seakan ingin meledak.
"Hyuna Isvara, maukah kau menerima lamaranku dan menjadi pendampingku untuk selamanya?" tanya Vicky dengan senyum lebar yang membuat ketampanannya bertambah berkali-kali lipat, apalagi tatapan matanya yang dipenuhi cinta saat menatap ke arah sang pujaan hati.
Semua orang yang ada di ruangan itu mendadak jadi tegang. Mereka yang tadi terbuai dengan ucapan Vicky, langsung berubah panik karena menunggu jawaban dari Hyuna.
Vicky sendiri sudah siap dengan apapun jawaban yang akan Hyuna berikan padanya. Jika diterima, syukur alhamdulillah. Jika tidak, maka dia akan berjuang lebih keras untuk mendapatkan hati wanita itu dan mencobanya dilain waktu.
"Hyuna." Aida menepuk punggung tangan Hyuna saat belum mendengar jawaban dari putrinya, membuat Hyuna menoleh ke arah sang ibu tercinta.
Mata Hyuna berkaca-kaca saat melihat wajah ibunya. Dia tersenyum, lalu menganggukkan kepala sambil melihat ke arah Vicky.
__ADS_1
Untuk beberapa saat mata mereka saling menatap dan seakan terkunci untuk selamanya. Hyuna meyakinkan hatinya jika pilihan yang akan diambil bisa membawa kebahagiaan dalam hidup, dan apa yang terjadi di masa lalu tidak akan terulang kembali.
"Bismillahirrahmanirrahim, Mas melamarku dengan nama Allah, maka aku juga akan menjawabnya karena Allah." Lirih Hyuna. Suaranya sudah terasa berat dan sesak karena sedang menahan tangis.
"Sebagai seorang wanita, aku merasa terhormat karena mendapat lamaran dari seorang lelaki yang luar biasa baiknya. Dan aku juga bukan wanita sempurna yang bisa selalu membahagiakan, tapi aku akan mengizinkan Mas Vicky untuk bertanggung jawab atas hidupku. Aku mengizinkannya untuk berbagi suka dan duka denganku, aku mengizinkannya untuk mengarungi bahtera hidup ini menjadi imamku. Mas Vicky, aku menerima lamaranmu dan insyaallah akan menjadi pendampingmu sampai akhir hayatku."
Deg.
Air mata Vicky langsung meluncur bebas diwajahnya saat mendengar jawaban Hyuna. Dadanya berdegup kencang, dengan wajah tercengang karena tidak menyangka jika lamarannya akan diterima.
"Alhamdulillah."
Semua orang mengucap syukur karena lamaran Vicky telah diterima oleh Hyuna. Tangis bahagia menggema di ruangan itu dari para orang tua, yang benar-benar merasa bahagia karena anak mereka sudah melangkah ke jenjang pernikahan.
"Papa, Will udah punya Mama lagi," ucap Wildan dengan riang gembira membuat hati Vicky berdesir.
"Iya, Sayang. Papa udah dapat mama yang baik untukmu, lihatlah." Vicky mengusap air mata yang ada diwajahnya, lalu melerai pelukan Wildan agar putranya melihat ke arah Hyuna.
"Dia mamamu, mama Hyuna," ucap Vicky membuat air mata Hyuna menetes membasahi wajah.
Dengan cepat Wildan menghampiri Hyuna yang sedang merentangkan tangan, mereka lalu saling memeluk dengan sangat erat hingga membuat mata Wildan juga ikut berkaca-kaca.
__ADS_1
"Mama," ucap Wildan dengan lirih.
"Iya, Sayang. Ini mama," balas Hyuna sambil melerai pelukannya. Dia mengecup kedua pipi Wildan membuat bocah berumur 5 tahun itu merasa malu, dengan rona merah di kedua pipinya.
Semua orang tampak tertawa gemas saat melihatnya. Suasana haru yang sempat terjadi berubah dengan penuh keceriaan.
Vicky kembali menatap Hyuna yang saat ini sedang mengobrol dengan anaknya. Dia benar-benar tidak menyangka jika bisa kembali jatuh cinta bahkan sampai pada tahap akan menikah, padahal luka yang terjadi di masa lalu benar-benar membuat hidupnya berantakan.
Setelah lamaran Vicky diterima, semua keluarga lalu mulai membahas tentang rencana pernikahan mereka. Vanes menyarankan jika pernikahan diadakan minggu depan, karena tidak ada alasan lagi untuk menunggu terlalu lama.
Semua keluarga besar menyerahkan keputusan itu pada kedua mempelai dan orang tua masing-masing. Jika tidak ada halangan dan sanggup menyelesaikan semuanya, maka sesuatu yang baik memang seharusnya tidak ditunda lagi.
"Tenang saja, Damian akan menyiapkan semua acaranya," ucap Vanes. Jangankan minggu depan, dua hari ke depan pun dia bisa menyiapkan acara pernikahan bila mereka mau.
Suasana yang ada di tempat itu, berbanding terbalik dengan suasana hati seorang gadis yang saat ini berada di samping mobil. Risa memilih untuk pergi saat dadanya terasa benar-benar sesak. Walau dia sudah tidak menginginkan Vicky lagi, tetapi hatinya tetap terasa sakit saat melihat laki-laki itu bersama dengan wanita lain.
"Semoga kebahagiaan akan selalu menyertaimu dan Mbak Hyuna, Kak. Aku berharap semoga tidak akan ada masalah yang terjadi di antara kalian, seperti apa yang pernah kakakku rasakan."
•
•
__ADS_1
•
Tbc.