Runtuhnya Janji Suci Pernikahan

Runtuhnya Janji Suci Pernikahan
Bab. 70. Susahnya Mencari Uang.


__ADS_3

Tidak mau ketahuan oleh Damian, Risa cepat-cepat memejamkan kedua matanya. Bisa gawat jika laki-laki itu melihatnya sudah bangun, hingga tanpa sadar dia benar-benar kembali terlelap.


Setelah memakai semua pakaiannya, Damian melirik ke arah Risa yang tidurnya tampak sangat nyenyak sekali. Dia lalu mendekati wanita itu, dan memastikan jika Risa benar-benar tidur. Takutnya wanita itu malah kebablasan, dan tidak akan bangun-bangun lagi.


"Tidur udah kayak orang mati, enggak bangun-bangun," gerutu Damian dengan kesal. Dia lalu beranjak keluar dari kamar itu dan duduk di sofa yang ada di depan televisi.


Damian menghela napas kasar. Tubuhnya benar-benar sangat lelah, tetapi matanya tidak kunjung ingin terpejam.


Dia lalu mengambil ponsel yang sejak tadi tergeletak di atas meja. Ada banyak sekali pekerjaan yang harus di selesaikan, tetapi dia benar-benar merasa terbantu dengan keberadaan Yudha. Tidak disangka pemuda itu benar-benar sangat berbakat, bahkan dia dulu tidak secepat itu untuk memahami segalanya.


Dulu, Damian mengalami masa-masa sulit saat Vicky gila kerja. Apalagi sejak istri tuannya itu meninggal, hampir setiap hari mereka pulang dini hari. Pulang jam 2 atau bahkan 3 pagi, dan besoknya jam 8 sudah kembali bekerja. Benar-benar sangat menyiksa jiwa dan raga.


Lalu sekarang, Damian kembali mengalami masa-masa sulit itu. Bukan karena Vikcy gila kerja, tetapi karena tuannya itu tidak mau kerja dan hanya memikirkan Hyuna saja.


"Kenapa manusia bisa berubah-ubah sih?"


Damian mengusap wajahnya dengan kasar. Sungguh berat menjadi sekretaris dari seorang Vicky, tetapi jika bukan karena laki-laki itu. Mungkin dia tidak akan bisa menjadi sesukses ini.


Menjadi anak pertama, dan tulang punggung keluarga. Tentu saja membuat Damian harus kerja keras untuk menghidupi seluruh keluarga, apalagi ayahnya sudah meninggal saat dia masih berumur 15 tahun. Tanggung jawab berpindah ke pundaknya, untuk mencari nafkah bagi ibu dan kedua adiknya.


Damian menguap sampai membuat sudut matanya basah, dia lalu beranjak dari sofa dan berjalan ke arah kamar yang ada di samping kamarnya sendiri. Kamar itu sudah lumayan lama tidak ditempati, dan khusus untuk ibu dan adik-adiknya jika datang berkunjung.


Damian merebahkan tubuhnya lalu menatap langit-langit kamar. Tidak butuh waktu lama, dia langsung terlelap dan bersiap memasuki alam mimpi.


*


*


Damian yang masih tidur tersentak kaget saat tiba-tiba mendengar suara nyaring dari benda yang terjatuh, dengan cepat dia melompat turun dari ranjang untuk melihat apa yang terjadi.

__ADS_1


"Apa-apaan ini?"


Risa yang sedang berada di dapur terlonjak kaget saat mendengar suara baritone seseorang, sontak dia berbalik dan langsung membeku saat melihat keberadaan Damian.


Baju kusut, rambut berantakan, dan wajah yang masih sembab sangat jauh berbeda dengan tampilan Damian selama ini. Tentu saja Risa langsung beku saat melihatnya. Namun, kenapa laki-laki itu malah terlihat sangat tampan?


Risa menggeleng-gelengkan kepala yang sepertinya sudah mulai rusak, tentu saja membuat Damian benar-benar geram.


"Apa kau tidak bisa membuat orang lain tenang, hah?" bentak Damian membuat Risa langsung menunduk.


"Ma-maaf. Aku, aku tadi ingin memasak sesuatu, tapi tiba-tiba ada kecoa yang sedang lewat. Aku terkejut dan tidak sengaja menjatuhkan benda ini."


Damian menghela napas frustasi. Memangnya sejak kapan dia menyuruh wanita itu untuk masak? Tidak bisakah wanita itu diam, atau segera angkat kaki dari apartemennya?


"Apa kau sudah sadar sekarang?"


"Hah?"


"Jika kau sudah sadar, cepat angkat kaki dari apartemenku," usir Damian sambil menunjuk ke arah pintu.


Risa tercengang saat melihat Damian mengusirnya. Namun, hal itu kembali mengingatkannya dengan Vicky yang juga sudah mengusirnya.


"Kalian semua mengusirku, apa aku benar-benar menyusahkan kalian?" tanya Risa dengan lirih.


"Tentu saja. Jadi cepat pergi dan jangan membuat kekacauan di apartemenku!" ucap Damian dengan penuh penekanan, dia lalu berbalik dan berjalan cepat ke kamarnya.


Jika laki-laki lain, mungkin akan iba saat mendengar ucapan Risa. Namun, jangan harap itu akan terjadi pada Damian.


"Cih. Dia benar-benar tidak punya hati."

__ADS_1


Risa menghentakkan kakinya dengan kasar, dia lalu berjalan ke arah luar dan bersiap untuk pergi dari tempat itu.


Pada saat yang sama, terlihat Vicky baru saja sampai di kawasan apartemen Damian. Sudah hampir 2 jam dia menunggu laki-laki itu di rumah, tetapi Damian tidak kunjung datang. Dia bahkan sudah menelepon, tetapi tidak juga di angkat.


"Apa dia baik-baik saja?" Vicky merasa khawatir. Dia segera keluar dari mobil dan berjalan masuk ke dalam apartemen.


Pagi ini, mereka harus meninjau lokasi untuk proyek baru. Itu sebabnya mereka harus pergi lebih awal, dan Damian sendiri yang mengatakan jika mereka akan pergi tepat pukul 8. Namun, laki-laki itu tidak kunjung menampakkan diri. Padahal sekarang sudah hampir pukul 10.


"Kenapa kau masih belum pergi?" tanya Damian dengan tajam saat sudah selesai bersiap, dia tampak terburu-buru karena sudah sangat terlambat.


"Aku tidak bisa keluar karena tidak tau passwordnya." Risa juga berucap dengan tidak kalah tajam, saat ini mereka berdua sedang saling berhadapan di samping tangga.


"Ck."


Damian langsung berdecak kesal membuat Risa mencebikkan bibirnya. Dia lalu berjalan ke arah pintu dan bersiap untuk pergi, tentu saja dengan diikuti oleh wanita itu.


Vicky yang sudah sampai di depan unit apartemen Damian, bersiap untuk mengetuk pintu apartemen laki-laki itu.


Namun, siapa sangka jika Damian membuka pintu apartemennya tepat disaat Vicky juga mengetuknya. Hingga pintu terbuka lebar dan mereka sama-sama terkejut saat melihat satu sama lain.


"Tu-tuan?" Damian memekik kaget saat melihat keberadaan Vicky, sementara Vicky sendiri terkejut saat melihat Risa  berada di belakang Damian.


"Kenapa kau ada di sini?"




__ADS_1


Tbc.



__ADS_2