Runtuhnya Janji Suci Pernikahan

Runtuhnya Janji Suci Pernikahan
Bab. 47. Pemandangan Luar Biasa.


__ADS_3

Ruby bergegas pergi dari tempat itu. Sejak awal dia sudah tahu tentang hubungan kakaknya dengan laki-laki bernama Bima, bahkan dia sudah pernah mengingatkan kakaknya itu jika Bima bukanlah laki-laki yang baik.


Namun, apa mau dikata saat kakaknya cinta mati pada laki-laki itu. Mereka bahkan pernah bertengkar saat Ruby menampar Bima ketika memarahi kakaknya di depan banyak orang, tentu saja harga diri seorang wanita akan hancur jika mendapat perlakukan seperti itu.


Akan tetapi, semua itu tidak berlaku untuk Riska. Bukannya marah pada Bima, wanita itu malah marah pada Ruby karena sudah ikut campur urusannya dan laki-laki itu.


Riska bahkan mengancam akan pergi dari rumah jika Ruby mengatakan semuanya pada Aksa, sejak itulah Ruby tidak pernah lagi ikut campur urusan mereka.


Setelah selesai berbicara dengan Riska, Aksa lalu bergegas pergi dari tempat itu menuju perusahaan. Dia bahkan tidak menghiraukan panggilan sang ibu yang mengajak sarapan bersama.


Pada saat yang sama, Hyuna sedang menyiapkan sarapan untuk Yudha. Setelah semuanya siap, dia lalu bergegas mandi dan bersiap untuk pergi kerja.


Pada saat akan masuk ke dalam kamar mandi, tiba-tiba ponsel Hyuna berdering membuat dia segera berbalik dan mengambil benda pipih itu.


"Siapa ini?"


Terlihat ada panggilan masuk dari nomor yang tidak dikenal membuat Hyuna enggan untuk menjawabnya, tetapi nomor itu terus menelepon membuatnya terpaksa menjawab panggilan tersebut.


"Halo, ini siapa ya?" tanya Hyuna pada saat panggilan sudah tersambung.


"Apa yang sedang kau lakukan?"


Hyuna mengernyitkan keningnya saat mendengar ucapan seseorang yang ada disebrang telepon. "Maaf, ini siapa?" Dia tidak tahu siapa yang saat ini sedang bicara dengannya.


"Kau tidak mengenal suaraku?"


Hyuna berpikir sejenak, sampai akhirnya dia menggelengkan kepalanya walau sih penelepon tidak bisa melihat apa yang dia lakukan.


"Tunggu, kenapa suaranya terdengar tidak asing?" Hyuna seperti sering mendengar suara orang tersebut.


"Aku Vicky,"


"Ah, jadi rupanya Anda, Tuan. Hampir saja saya matikan karena mengira jika telepon dari orang iseng." Entah kenapa Hyuna merasa lega padahal hanya sekedar telepon saja.


"Ini memang telepon dari orang iseng,"


"Hah?"


Hyuna merasa bingung saat mendengar ucapan Vicky, lalu tiba-tiba panggilan telepon itu berubah menjadi video membuat dia langsung kalang kabut.


"Kenapa pake video segala sih?"


Hyuna meletakkan ponselnya dan segera menyambar hijab yang ada di dalam lemari. Dia segera memakai hijab tersebut lalu berkaca sebentar, setelah itu baru mengangkat panggilan video dari Vicky.

__ADS_1


"Tante!"


Hyuna tersenyum simpul saat melihat wajah Wildan, dia lalu menghela napas kecewa karena tidak bisa melihat wajah Vicky.


"Dasar gila. Kenapa aku merasa kecewa?"


Hyuna langsung merutuki dirinya sendiri yang malah merasa kecewa saat melihat wajah Wildan. Memangnya apa yang sedang terjadi? Kenapa dia harus merasa kecewa?


Vicky yang melihat raut wajah Hyuna langsung terkekeh pelan, apalagi saat mulut wanita itu komat-komit seperti sedang membaca mantra.


"Tidak usah gelisah. Aku ada di sini kok."


Blush.


Wajah Hyuna langsung memerah saat mendengar suara Vicky. Dia mengira jika laki-laki itu tidak sedang bersama Wildan, tetapi ternyata dari suaranya Vicky berada tepat di samping bocah itu.


"Aku sedang tidak pakai baju, makanya tidak muncul di ponselmu."


Wajah Hyuna semakin memerah dengan apa yang Vicky katakan, dia lalu beralih bicara pada Wildan dan mengabaikan apa yang laki-laki ucapkan.


"Tante, papa sedang sakit."


Hyuna tersentak kaget saat mendengar ucapan Wildan. "Sa-sakit?"


Untuk sekian detik Hyuna menatap layar ponselnya dengan tidak berkedip, sampai akhirnya terdengar benturan kuat yang berasal dari benda pipih itu akibat terjatuh membentur lantai.


Hyuna langsung mengusap wajahnya dengan kasar sambil beristighfar kepada Allah sebanyak-banyaknya. Bisa-bisanya dia melihat tubuh Vicky dengan tidak berkedip seperti itu, benar-benar tidak tahu malu sekali.


"Astaga. Kenapa aku bod*oh sekali sih?" Hyuna langsung menghentak-hentakkan kakinya dengan kesal. "Apa yang akan dia pikirkan saat melihatku seperti itu?" Dia mulai berubah menjadi reog dan meloncat ke sana kemari membuat Yudha yang ada di depan kamarnya langsung mengetuk pintu.


"Mbak, apa Mbak baik-baik aja?"


Hyuna kembali beristighfar untuk menenangkan jiwa dan raga, sementara Yudha menempelkan telinganya ke pintu untuk mendengar apa yang sedang kakaknya lakukan.


Setelah merasa lebih baik, Hyuna lalu membuka pintu dan mengatakan pada Yudha jika semuanya baik-baik saja. Kemudian dia kembali masuk ke dalam kamar dan segera bersiap sebelum terlambat bekerja.


Sementara itu, di tempat lain terlihat Wildan sedang menundukkan kepalanya di hadapan sanga papa. Dia yang terkejut karena tiba-tiba mendengar suara benturan langsung menjerit, membuat papanya melompat kaget.


Tentu saja Vicky langsung bertanya apa yang sedang terjadi, dan dia kembali terkejut saat anaknya itu menunjukkan tubuhnya yang seksi pada Hyuna.


"Lihat, tante Hyuna pasti sekarang sedang pingsan," ucap Vicky membuat mata Wildan berkaca-kaca.


"Kalau kau mau nunjukin tubuh papa, seenggaknya bilang dulu. Masak iya papa kayak gembel gini dilihat sama tante Hyuna."

__ADS_1


Wildan semakin menundukkan kepalanya walaupun dia tidak tahu di mana letak kesalahan yang telah dia lakukan. Dia lalu melirik ke arah tubuh sang papa untuk melihat apakah papanya seperti gembel atau tidak.


Vicky sendiri menghela napas kasar. Niat hati ingin mencari semangat melalui suara Hyuna malah berakhir seperti ini. Untung saja dia pakai celana, jika tidak mungkin seumur hidup dia akan tinggal di dalam lubang semut.


"Wah, apa kalian sedang bermain?"


Vicky langsung menarik selimut untuk menutupi tubuhnya saat tiba-tiba Risa masuk ke dalam kamar, dia lalu menatap wanita itu dengan tajam.


"Aku buatkan bubur ayam kesukaan Kakak, ini."


Risa meletakkan bubur itu ke atas meja lalu duduk di atas ranjang, tepat berada di samping Vicky.


"Bagaimana keadaan Kakak, apa masih 6⁶demam?"


Vicky menggeser tubuhnya saat wanita itu akan meletakkan tangan ke keningnya. "Aku baik-baik saja, Risa. Lalu, bagaimana denganmu?"


Risa mengernyit bingung saat mendengar ucapan Vicky. "Apa maksud Kakak? Aku kan baik-baik saja."


"Tidak." Vicky langsung mengglengkan kepalahya. "Sepertinya ada sesuatu yang menganggu kinerja otakmu, Risa. Sehingga kau terus saja melupakan apa yang aku katakan. Bukankah aku sudah bilang untuk tidak masuk ke dalam kamarku tanpa izin?"


Risa langsung diam dengan kepala tertunduk. "Ma-maafkan aku, Kak. Aku terlalu khawatir dengan keadaan Kakak sehingga melupakan hal penting seperti itu."


Vicky menghela napas kasar. "Sekarang keluarlah, dan ingat apa-apa saja yang pernah aku katakan."


Risa menganggukkan kepalanya lalu beranjak keluar dari kamar itu. Dia hanya bisa menggerutu kesal karena lagi-lagi kehadirannya ditolak olah Vicky.


"Sabar, sabar Risa. Kau harus menahan semua ini untuk mendapat kemenangan. Bukankah cinta butuh perjuangan?"


Risa berbicara pada dirinya sendiri dan memberi semangat agar tidak menyerah. Dia lalu beranjak pergi ke kamarnya untuk bersiap-siap pergi ke kampus.


***


Waktu berlalu dengan sangat cepat dan pagi sudah berganti dengan malam. Sepanjang hari Hyuna terus memikirkan tentang keadaan Vicky, tidak lupa dengan sesuatu yang tadi pagi dia lihat.


"Ya Allah. Sepertinya aku harus di ruqyah untuk mengeluarkan setan-setan yang ada dalam tubuh ini."





Tbc.

__ADS_1


__ADS_2