Runtuhnya Janji Suci Pernikahan

Runtuhnya Janji Suci Pernikahan
Bab. 51. Kemarahan Mona.


__ADS_3

Setelah menunggu beberapa saat, akhirnya semua orang berkumpul di meja makan. Wildan terlihat sangat senang sekali saat melihat keberadaan Hyuna. Sejak tadi dia terus berceloteh panjang kali lebar kali tinggi pada wanitu itu, dan tidak menghiraukan manusia lain yang berada dj tempat itu.


"Tante, Tante tau gak kalau-"


"Orang bisa mati kalau bicara sambil makan."


Vicky langsung memotong ucapan Wildan membuat putranya itu langsung diam. Sejak tadi dia sudah memperingati Wildan agar menghabiskan makanannya terlebih dahulu, baru bicara. Namun, putranya itu sama sekali tidak menghiraukannya.


"Kamu bisa tersedak kalau bicara saat sedang makan, Will," ucap Risa yang duduk di samping Vanes. "Seharusnya Mbak Hyuna juga tidak menanggapi ucapannya, dengan begitu dia pasti akan diam."


Tak.


Vicky langsung membanting sendok yang berada di tangannya hingga membentur mangkok, dan menimbulkan bunyi yang sangat nyaring.


"Tidak bisakah kalian berhenti bicara saat sedang makan?" ucap Vicky dengan ketus. Tentu saja aksinya kali ini bukan karena perbuatan Wildan, melainkan kata yang keluar dari mulut Risa.


"Sekarang tutup mulut kalian dan makan makanan itu, jika tidak mau buang saja dan cepat pergi dari sini."


Semua orang langsung diam dan tidak ada lagi yang berani bersuara. Wildan bahkan sampai mengcengkram erat tangan Hyuna sampai membuat wanita itu meringis sakit.


Akhirnya mereka semua kembali menikmati makanan yang tersaji di hadapan masing-masing. Rasa nikmat dari makanan tersebut berubah menjadi hambar karena ketegangan yang dirasakan, terutama Vicky yang langsung menghabiskan semuanya tanpa sisa.


Yudha dan Hyuna yang sejak tadi diam tampak saling pandang, seolah sedang memberi semangat agar bisa melewati keadaan yang sangat mencekam ini.


Selesai makan, Risa langsung pergi dari tempat itu ke dalam kamarnya. Jelas dia merasa tersinggung dengan apa yang Vicky lakukan, apalagi laki-laki itu melakukan hal tersebut di hadapan Hyuna.


Melihat kepergian Risa, Vanes menghela napas kasar. Terkadang dia merasa kasihan saat Vicky mengucapkan kata-kata kasar atau ketus pada wanita itu, tetapi sudah begitu pun Risa terus saja mendekati putranya.


Hyuna dan Yudha lalu pamit pada Vicky dan yang lainnya untuk kembali ke rumah, sementara Vicky juga berlalu pergi menuju perusahaan sambil mengantar Wildan ke sekolah.


Hari ini Hyuna banyak tahu tentang sifat Vicky dan juga keluarga laki-laki itu. Ada perasaan senang yang menyeruak di dalam dada, walaupun dia merasa penasaran dengan sosok Risa yang selalu menatapnya dengan sinis.


Sementara itu, saat ini sedang terjadi keributan di rumah orang tua Aksa. Mona mengamuk saat mengetahui jika Riska sedang mengandung, tentu saja dia tahu karena kerap memergoki wanita itu muntah-muntah di pagi hari. Bahkan dia menemukan tespek dan juga vitamin untuk ibu hamil di dalam lemari pakaian.


"Dasar anak tidak tau diuntung. Apa kau sudah puas mencoreng nama baikku seperti ini, hah?" teriak Mona membuat suaranya menggema di ruangan itu.


Aksa yang juga ada di sana karena diberitahu oleh Ruby bergegas untuk menenangkan sang ibu, sementara Laura terkekeh di tempatnya saat mengetahui jika sang adik ipar sedang mengandung.


"Hebat juga kau, Riska. Diam-diam sudah hamil,"

__ADS_1


"Tutup mulutmu, Laura!" bentak Aksa dengan tajam, sementara Riska hanya menundukkan kepalanya tanpa bisa berkata apa-apa.


"Apa kau tidak punya otak untuk berpikir, hah? Kau pikir selama ini aku membesarkanmu hanya untuk membuatku malu seperti ini, hah?"


Mona terus saja melampiaskan amarahnya dengan wajah merah padam. Dia segera menepis tangan Aksa dan berjalan cepat ke arah Riska, dia lalu menjambak rambut putrinya itu dan melayangkan sebuah tamparan.


Plak.


Plak.


"Hentikan, Bu!"


Aksa dan Ruby segera menghentikan aksi sang ibu yang saat ini terus memukuli Riska, sementara Laura hanya duduk sambil melihat pertunjukan yang sedang terjadi.


"Lepaskan ibu! Biar ibu bunuh anak si*alan itu," teriak Mona saat tubuhnya di tarik paksa oleh Aksa, sementara Ruby segera membawa Riska ke dalam kamar sebelum terjadi sesuatu yang tidak diinginkan.


"Berhenti di situ, anak kurang ajar! Aku sudah membesarkanmu dengan susah payah, tapi kau malah melempar kotoran ke wajahku. Apa kau tidak memikirkan apa kata orang-orang, hah?"


"Cukup, Bu!"


Aksa terpaksa membentak sang ibu supaya tidak memaki Riska lagi, sementara Riska menutup kedua telinganya dengan terisak.


"Kau juga, Aksa. Kenapa selama ini kau diam dan tidak memberitahu ibu? Apa kau senang dengan apa yang adikmu itu lakukan?"


"Bagaimana lagi kau bilang? Cepat katakan siapa bajing*an yang telah menghamili Riska dan bawa dia kehadapanku!"


Kali ini Mona benar-benar murka, dia bahkan menghancurkan barang-barang yang ada di rumah itu dan melemparnya ke tubuh Riska.


"Aku sedang mengurusnya, Bu. Sekarang aku mohon tenanglah." Aksa mendudukkan ibunya di atas sofa sambil melirik Laura dengan tajam.


Aksa lalu beranjak menuju kamar Riska untuk membawa adiknya itu ke kantor polisi. Mereka harus segera melaporkan Bima sebelum masalah ini berlarut-larut, dan tentu saja semua tidak semudah yang di harapkan.


Setelah selesai dari kantor polisi, Aksa bingung harus membawa Riska ke mana. Jika wanita itu tinggal bersama ibunya, tidak menutup kemungkinan jika sang ibu akan kembali murka. Dia lalu memutuskan untuk membawa sang adik ke rumahnya, setidaknya Laura jarang berada di rumah sehingga tidak menganggu Riska.


Aksa menyandarkan tubuhnya ke sofa karena merasa sangat lelah, bukan hanya tubuh saja yang lelah tetapi pikirannya jauh lebih mengkhawatirkan.


Dia harus mengurus semuanya sendiri, tidak ada tempat untuk hanya sekedar bersandar dan berbagi keluh kesah. Hingga rasanya dia tidak sanggup untuk menjalani semuanya.


Ketika akan memejamkan kedua matanya, tiba-tiba ada sebuah tangan yang mengusap wajah Aksa membuatnya langsung menatap orang tersebut dengan tajam.

__ADS_1


"Kau terlihat sangat kacau sekali, Aksa," ucap Laura sambil duduk di samping sang suami.


Aksa memijat pelipisnya yang semakin berdenyut sakit karena melihat Laura, sementara wanita itu bergegas membuka pakaiannya hingga menyisakan bra dan cd saja.


"Apa yang kau lakukan, Laura? Aku sangat lelah,"


"Ayolah, Aksa. Bukankah sudah lama kita tidak melakukannya?"


Laura langsung naik ke atas tubuh Aksa dan menindihnya, dia lalu menggoyang pantatnya sampai membuat laki-laki itu mendessah.


"Nikmat bukan? Apa kau tidak merindukannya?"


Bohong namanya jika Aksa tidak menginginkan semua itu, tetapi saat ini keadaannya sedang tidak mendukung untuk bercinta.


"Aku benar-benar lelah, Laura. Kepalaku emp-"


Aksa tidak dapat melanjutkan ucapannya saat tiba-tiba Laura langsung melummat mulutnya, dengan cepat wanita itu membelit lidahnya hingga dia tidak bisa menolak. Mereka berciuman dengan sangat panas dan saling bertukar salive.


Setelah merasa kehabisan oksigen, Laura segera melepaskan ciuman itu dan beranjak turun dari tubuh Aksa. Dia lalu berjongkok sambil membuka celana laki-laki itu untuk mengeluarkan sesuatu yang sudah tegak menantang.


Aksa hanya diam dengan apa yang Laura lakukan, sementara Laura langsung mengullum benda tumpul nan berurat dan menghisapnya dengan kuat.


Aksa mendessah hebat dengan apa yang Laura lakukan, sampai tidak sadar jika wanita itu sudah kembali naik ke atas tubuhnya, dan membenamkan pusaka itu ke dalam lembah kenikmatan.


Riska yang ingin bicara dengan Aksa langsung membuka pintu kamar sang kakak tanpa tahu jika sedang ada pertempuran hebat di dalam kamar.


"Kak-"


Riska tidak dapat melanjutkan ucapannya saat melihat apa yang sedang kakaknya lakukan, sementara Aksa langsung mendorong tubuh Laura dan membenahi celananya saat melihat Riska.


Bruk.


Tubuh Laura terhempas ke lantai karena di dorong oleh Aksa, dengan cepat dia bangun tanpa memperdulikan jika saat ini dia sedang telanj*ang bulat.


"Kenapa dia ada di sini, Aksa?"



__ADS_1



Tbc.


__ADS_2