Runtuhnya Janji Suci Pernikahan

Runtuhnya Janji Suci Pernikahan
Bab. 71. Kegelisahan Vicky.


__ADS_3

Vicky menatap Damian dan Risa dengan tajam, sementara Risa sendiri juga terkejut saat melihat kedatangan Vicky.


"Kenapa kau ada di sini, Risa?" tanya Vicky dengan tajam sambil melirik ke arah Damian.


Damian langsung membeku saat mendengar pertanyaan sang tuan, keberadaan wanita itu benar-benar membuatnya semakin menderita.


"Maaf, Tuan. Tadi malam dia tidak mau pulang-"


"Dia yang mengajakku ke sini, Kak."


Damian langsung menoleh ke belakang saat mendengar apa yang Risa ucapkan, sementara Risa terus menatap Vicky karena takut jika bersitatap mata dengan Damian.


"Ka-kalau gitu aku duluan, permisi."


Risa langsung berlari pergi dari tempat itu membuat Damian mengepalkan kedua tangannya penuh amarah, sementara Vicky menatap laki-laki itu penuh curiga.


"Saya tidak mengajaknya, Tuan." Damian melakukan pembelaan, dan tentu saja dia harus membersihkan nama baiknya.


"Aku tidak bertanya apapun," ucap Vicky sambil berbalik dan beranjak pergi dari tempat itu. Dia lalu tersenyum tipis saat mendapat sebuah ide bagus di dalam kepalanya.


Lagi-lagi Damian berdecak kesal. Memang Vicky tidak bertanya, tetapi dia tahu jelas apa arti tatapan mata laki-laki itu.


"Awas saja kau, Risa. Aku pasti akan membalasmu." Damian benar-benar merasa kesal dan geram secara bersamaan.


Mereka berdua lalu masuk ke dalam mobil, dan beranjak pergi dari tempat itu menuju lokasi untuk proyek baru yang harus ditinjau.


"Aku sudah menunggu lama, Damian. Bukankah kau mengatakan akan pergi jam 8?" ucap Vicky dengan sinis. Bertahun-tahun Damian bekerja dengannya, baru kali ini saja dia harus menunggu sampai 2 jam lamanya.


"Maaf, Tuan. Saya tidak sengaja bangun kesiangan." Damian menganggukkan kepalanya sebagai permintaan maaf.


"Jelas kau bangun kesiangan, kau pasti tadi malam tidak tidurkan?" Vicky menyipitkan kedua matanya, dan menatap Damian penuh maksud.


"Semua tidak seperti yang Anda pikirkan, Tuan."

__ADS_1


"Memangnya apa yang sedang aku pikirkan?" Vicky membuang pandangan ke arah jalanan sambil menahan senyum.


Anak kecil saja mungkin tahu apa yang ada di dalam kepala Vicky saat ini, apalagi Damian yang jelas-jelas sangat paham.


"Saya terpaksa membawanya ke apartemen karna dia tidak mau pulang ke rumah Anda. Saya tidak mau dia membuat masalah diluaran sana, itu sebabnya dia tidur di sana tadi malam."


Damian menjelaskannya agar Vicky tidak salah paham. Namun, lihatlah tatapan mata laki-laki itu yang penuh dengan ejekan.


"Risa kan tergila-gila pada Anda,"


"Kau mau mati?"


Akhirnya tatapan Vicky berubah menjadi kemarahan, tentu saja membuat Damian tersenyum cerah.


"Berhenti membahas wanita itu," ucap Vicky dengan kasal membuat Damian langsung berdecih. Padahal sejak tadi laki-laki itulah yang membahasnya.


Untuk beberapa saat, suasana menjadi hening. Apalagi jalanan yang dilewati tampak sunyi, karena memang mulai memasuki perbatasan kota.


"Aku sudah mengungkapkan semua isi hatiku pada Hyuna, dan dia meminta waktu," ucap Vicky dengan helaan napas frustasi. Dia menyandarkan tubuhnya sambil melihat ke arah jalanan.


Vicky langsung melihat Damian dengan tajam. "Maksudmu?" Dia tidak mengerti.


"Bukankah sudah seharusnya, jika nona Hyuna meminta waktu untuk berpikir? Itu artinya beliau benar-benar memikirkan perasaannya dan masa depanya. Dia tidak mau salah mengambil keputusan. Andai saja wanita lain yang berada diposisinya, mereka pasti akan langsung menjawab iya tanpa pikir panjang. Kapan lagi bisa dicintai dan dinikahi laki-laki kaya seperti Anda?"


Betul juga. Vicky membenarkan apa yang Damian ucapkan, dia bahkan tidak berpikir jauh sampai ke sana. Jika wanita lain, pasti akan memanfaatkan keadaan. Apalagi dia laki-laki sukses yang hartanya tidak bisa diragukan lagi, memangnya wanita mana yang akan menolaknya?


"Tapi, jika dia menolakku bagaimana?" Vicky mulai dirundung gelisah. Hyuna memang berbeda dari wanita lain, lalu jika sampai wanita itu menolaknya bagaimana?


"Itu artinya Anda dan dia tidak berjodoh, Tuan."


"Apa?"


Vicky langsung menggelengkan kepalanya dengan tidak terima. Apapun yang terjadi, dia harus bersama dan menikah dengan wanita itu. Jika sekarang Hyuna menolaknya, maka dia akan mencoba dilain waktu. Dan terus seperti itu sampai wanita itu menerimanya.

__ADS_1


Damian yang melihat kegelisahan Vicky tersenyum simpul. "Tidak mungkinlah nona Hyuna menolak, semua juga tahu jika dia juga menyukai Anda." Dia sengaja tidak mengatakannya karena ingin melihat sang tuan terus gelisah, karena raut wajah tuannya itu benar-benar sangat menggemaskan sekali.


Sementara itu, di tempat lain terlihat Hyuna sedang duduk di dalam rumah pemilik dari restoran tempatnya bekerja. Dia sudah izin pada Dayu untuk langsung menemui atasan mereka, untuk mempertanggung jawabkan keributan malam itu sekaligus menyerahkan surat pengunduran diri.


"Apa Anda sudah menunggu lama?"


Hyuna langsung beranjak berdiri dari sofa saat melihat kedatangan seseorang. "Tidak, Tuan. Maaf karena sudah mengganggu waktu Anda." Dia menundukkan kepala sebagai permintaan maaf.


"Tidak apa-apa, duduklah." Laki-laki itu mempersilahkan Hyuna untuk duduk, lalu Hyuna mengucapkan terima kasih dan duduk di tempatnya tadi.


Pelayan datang membawa minuman dan makanan ringan untuk mereka, dia meletakkannya di atas meja lalu mempersilahkan Hyuna untuk menikmatinya.


Hyuna kembali mengucapkan terima kasih. Dia lalu kembali menatap ke arah lelaki bernama Abian, dialah pemilik dari restoran tempatnya bekerja selama ini.


"Saya sudah mendengar keributan yang terjadi di restoran, dan saya pun berniat untuk pergi ke sana hari ini. Tapi karena Anda datang, jadi saya mengurungkannya," ucap Abian.


"Saya ingin meminta maaf yang sebesar-besarnya pada Anda, Tuan. Semua keributan itu terjadi karena saya, dan saya juga tidak bisa mengendalikan diri hingga membuat para pelanggan tidak nyaman." Hyuna benar-benar merasa menyesal, padahal selama ini Abian sudah sangat baik padanya.


"Yah, hal seperti itu memang sering terjadi. Tapi masyarakat pun bisa melihat mana yang benar dan mana yang salah. Jadi jika Anda tidak bersalah, maka tidak perlu sampai mengundurkan diri," ucap Abian. Dia sudah tahu akar permasalahan yang terjadi pada malam itu.


Hyuna merasa senang karena atasannya masih saja membela, tetapi keputusannya untuk keluar sudah bulat.


"Apa kau mau menikah dengan tuan Vicky?"


"Hah?"





Tbc.

__ADS_1



__ADS_2