Runtuhnya Janji Suci Pernikahan

Runtuhnya Janji Suci Pernikahan
Bab. 111. Serangan Panik.


__ADS_3

Tawa yang selama ini Aska rindukan, sekarang benar-benar telah kembali. Matanya pun berkaca-kca saat melihat adiknya begitu banyak perubahan, walau msih sedikit belum terlalu normal. Akan tetapi, ini sudah sangat baik atas perkembangan mentalnya.


Mona menepuk punggung Aska, agar dia bisa kuat ketika menyaksikan adiknya yang mulai membaik. Sebab, Mona juga sering kali menangis disaat dia membandingkan keadaan Riska yang dulu dan sekarang.


Aska membuang muka menghapus semua air matanya sebelum Riska melihatnya, lalu dia kembaki tersenyum sambil mengusap kepala sang adik penuh kasih sayang.


"Tapi, kenapa aku dengar pas Mamah telpon kaktanya Kakak sama Kak Laura pisah? Apa Kak Laura punya salah?" tanya Riska, penasaran.


"Eee ... I-itu, eee a-anu ...."


Aska bingung mau menjawab apa pertanyaan adiknya ini, karena dia tidak mau menambah pikirannya. Apa lagi Riska masih dalam proses pemulihan yang cukup memakan waktu.


"Sudah kamu main aja, naanti kalau sudah sehat. Kakakmu juga pasti akan menceritakannya." ucap Mona, membantu Aksa.


"Janji?


"I-iya, Kakak janji, kok. Ya udah, sekarang kamu itu harus semangat biar cepat sehat ya."


Riska mengangguk antusias, dia sangat bahagia setelah ketemu sang Kakak. Rasanya Riska ingin secepatnya sembuh bisa bisa kumpul lagi dengan keluarganya.


Setelah cukup untuk melepaskan rindu satu sama lain, tiba-tiba seorang suster datang membawakan makan siang kepada Riska beserta obat yang harus dia minum setiap saat setelah habis makan.


Mona menerima semua itu, dan ingin menyuapini anaknya. Akan tetapi, Riska menolak. Dia meminta agar Aska saja yang menyuapininya sekali-kali mumpu Kakaknya ada disini.


Riska tahu, kalau Aska itu sangat sibuk. Jadi jarang sekali Aska datang ke rumah sakit seperti ini. Tanpa rasa berat hati, Aksa begitu sigap menerima permintaan adiknya.


Perlahan dia menyuapini makana ke dalam mulut Riska, hingga habis tak tersisa. Setelah itu, Riska pun meminum obatnya agar dia bisa secepatnya pulih.


Tak lama, Riska merasa ngantuk akibat efek dari obatnya. Lalu, dia merebahkan tububnya disamping Aksa. Kemudian Aska menyelimutinya dan mengelus kepalanya sesekali menciumnya.


Di rasa Riska sudah pulas tertidur. Kini saatnya Mona berbicara berdua dengannya, sebab dia benar-benar sangat penasaran dengan apa yang sudah terjadi.


Mona membawa Aska ke taman rumah sakit, mereka duduk berdua di kursi taman sambil menatap beberapa pasien yang depresi sedang bermain.


"Jelaskan sama Mamah, ada apa kamu ke rumah sakit?" tanya Mona, serius.

__ADS_1


Aska menarik napasnya dalam-dalam, kemudian mengeluarkannya dan menjelaskan apa yang sudah terjadi diantara Aska dan Laura.


Penjelasan Aska itu berhasil membuat Mona terkejut. Dia tidak menyangka bila menantunya bisa seliar itu sampai membu*nuh wanita lain yang di ketahui sebagai selingkuhanan cowoknya.


"Astaga, wanita itu benar-benar memalukan! Terus bagaimana proses kalian?" tanya Mona kesal.


"Lagi berjalan, Mah. Tinggal nunggu sidang aja, setidaknya aku sudah menjelaskan pada Laura secara baik-baik agar dia mengerti." jawab Aska, menatap lurus dengan suara yang cukup berat.


"Terus langkah apa yang akan kamu lakukan setelah ini?" tanya Mona kembali, menatap wajah anaknya yang sangat terlihat setres.


"Entahlah, Aska sudah tidak kuat dengan semua ini. Rasanya Aska benar-benar menyerah. Aska tidak tahu mau melakukan apa, yang ada di pikiran Aska saat ini. Aska cuman ingin pergi dari dunia ini. Agar semuanya tidak lagi menjadi beban Aska!"


Degh!


Perkataan Aska benar-benar menusuk ke dalam hati Mona, bayang-bayang tentang perkataan Lauran langsung berterbangan di dalam ingatannya.


Dimana Laura sering mengunjunginya tanpa sepengetahuan Aska, lalu dia meluapkan semua perasaan kesal terhadap mertuanya dengan kata-kata yang cukup menyakitkan.


Mona yang tadinya tidak percaya bila anaknya merasa lelah serta muak dengan semua masalah yang menggunjangnya.


Sampai akhirnya kedua ponsel mereka berbunyi beberapa kali. Mona yang masih syok tak habis pikir dengan perkataan anaknya, kembali di gunjangkan dengan kabar-kabar yang memberitakan mengenai perselingkuhan Laura.


Banyak teman kerja Aska yang mengetahui semua itu hingga mereka menyudutkan Aska, ataupun Mona. Sebab dari semua kisah tentang keluarga mereka tidak ada satu orang pun yang benar.


Riska dengan gangguan mentalnya akibat dianiyaya oleh kekasihnya, lalu Aska diselingkuhi dengan Laura akibat karmanya Dan sekarang beredar berita dimana wajah Laura terpampang jelas di semua media sosial.


Kejadian ini benar-benar berhasil mbuat jantung Mona langsung berdetak tidak karuan, dia memegangi dadanya. Sementara Aska, tiba-tiba membanting ponselnya di penuhi dengan rasa kekecewaan yang sangat mendalam.


"Aarrghhh ... Kenapa hidupku jadi begini Tuhan, kenapa! Semua keluargaku berantakan, semua pekerjaanku kacau. Dan sekarang, kau kembali memberikanku cobaan sebesar ini?"


"Hahah ... Aku lelah, Tuhan. Aku lelah! Jemput aku sekarang, jemput! Aku sudah tidak kuat lagi menjalani semua penderitaan ini seorang diri. Satu persatu semuanya hancur hanya karena keegoisan!"


Degh!


Jantung Mona semakin berdetak cepat hingga membuat dia terguncang sangat hebat. Aska yang tadinya benar-benar marah oleh takdir, kini tertunda akibat melihat Mamahnya berteriak seperti itu langsung terkejut.

__ADS_1


"Seharusnya orang tua itu ngebantu anaknya, bahkan menjaganya agar mereka bisa bahagia dengan kehidupannya. Bukan malah menyusahkannya seperti ini, orang tua macam apa dirimu!"


"Kau hanya tega menyusahkan, merepotkannya sampai akhirnya anakmu selalu mengatakan padaku bila dia sudah lelah untuk mengurusmu. Bahkan dia pun menyuruhku mencarikan panti jompo yang terbaik, agar Aska tidak akan lagi repot-repot memikirkan kondisimu. Sebab, kau sudah ada yang mengurusnya, jadi dia bisa fokus dengan kebahagiaannya sendiri!"


Perkataan Laura yang kurang lebih seperti itu terngiang-ngiang di dalam ingatannya. Sampai akhirnya mental Mona terguncang habis-habisan saat mengetahui bila Aska benar-benar telah lelah mengurusnya.


Padahal sebenarnya, Aska tidak lelah untuk mengurus Mona. Melainkan dia hanya tidak terima dengan takdir yang terus menerus menguras tenaganya untuk tetap bisa bertahan menjalani kehidupan yang sulit ini.


"Tidak, tidak, tidak!"


"Aku tidak mau di masukan panti jompo!"


"Aku janji aku tidak akan menyusahkan anakku lagi. Aku janji, asalkan kalian jangan samapi buangku. Aku mohon hiks ..."


"Aska, aska tidak akan membuang Mamah 'kan? Aska sayang Mamah 'kan? Iya? Pasti Aska sayang Mamah, dia tidak mungkin meninggalkanku. Dasar oembohon haha ...."


"Aska, ohh Aska. Kamu memang anak Mamah yang terbaik. Kamu pasti tidak tega membuang Mamah karena Mamah ini adalah Mamahmu 'kan? Hahah ..."


"Ohh ... Aska anakku sayang, kamu dimana, Nak? Kamu dimana?"


"Mamah disini? Kamu tidak akan ninggalin Mamah 'kan? Kamu pasti bakalan jemput Mamah 'kan? Hiks ... Aska anakku, Mamah mau pulang. Mamah mau gendong kamu, Mamah rindu haha ...."


Teriakan, tangisan dan tawaan telah menjadi satu kesatuan. Yang bisa di pastikan saat ini mental Mona benar-benar sudah terganggu.


Mona menjadi despresi akibat semua masalah yang hadir membuatnya sangat malu, dan berhasil mengguncang kesehatannya.


Mona berlari mencari Aska. Padahal sudah jelas-jelas Aska berada didekatanya. Malah Aska ikut berlari untuk menggapainya. Aska tidak percaya setelah adiknya mulai membaik, kini Mamahnya yang malah menjadi depresi.


Sampai akhirnya Aska berhasil menangkap Mamahnya dengan bantuan para suster, kemudian dibawa ke suatu ruangan untuk di cek semua kesehatannya.


Setelah sang dokter yakin, kini dia menetapkan Mona sebagai salah satu pasien depresi yang terbilang sangat berat. Bahkan lebih berat dari depresi yang alami oleh Riska, adiknya.



__ADS_1



Tbc.


__ADS_2