
Keesokan harinya, Laura yang sudah mulai membaik meskipun masih sangat pusing akibat efek minuman yang dia minum cukup banyak. Langsung dimintai nomor keluarga yang bisa di hubungi. Sebab, Laura belum bisa di mintai keterangan dengan benar.
Laura hanyaingat dengan nomor Aksa, sampai akhirnya dia memberikanya. Lalu, salah satu polisi menciba untuk menghubunginya.
Tak perlu membutuhkan waktu lama, Aska mengangkat panggilan yag tidak dia kenal itu. Dikarenakan Aksa takut jika itu panggilan penting, jadi dia mengangkatnya dan betapa terkejutnya saat dia mendapatkan sebuah informasi mengenai Laura.
Awalnya Aksa ingin bebas dari sebuah hubungan yang sebenuhnya belum tuntas, tetapi kejadian Laura benar-benar membuatnya sangat frustasi.
Namun, mau bagaimanapun Laura. Dia tetap seseornag yang pernah ada di dalam hidupnya, selepas dari proses perceraian. Laura cukup masih menjadi istrinya walaupun hanya secara negara bukan agama.
Dengan cepat Aksa langsung pergi ke kantor polisi yang sudah di berikan alamat lengkap.
Setibanya Aska disana, dia langsung menemui polisi yang berjaga. Kemudian dia menjelaskan penyebab kenapa Laura bisa sampai disini.
Perlahan mendengarkan kata demi kata yang polisi itu jelaskan, membuat beban Aksa kembali bertambah. Dia tidak menyangka bila aksinya yang sekedar mengusir Laura, berhasil membuat Laura menjadi seliar itu.
Akan tetapi, Aksa juga tidak membenarkan ataupun menyalahkan Laura. Sebab ketika dia mengetahui Laura selingkuh pun, dia marah sangat marah. Jadi wajar bila Laura seperti itu.
Haya saja, keadaannya berbeda. Aksa tidak sampai menyiksa atau membu*nuh selingkuhan Laura. Sementara Laura dia sampai melukai salah satu pegawai BAR hingga mengakibatkan gegar otak dan tempurung belakang tengkorak retak.
Walaupun wanita itu berusaha melindungi kepalanya tidak menutup kemungkinan tenaga Laura sangat keras. Dan membuat penda*rahan di dalam otaknya, lalu dia melakukan operasi tetapi nyawanya sudah tidak bisa di selamatkan.
Semua berita itu baru saja polisi dapatkan setelah salah satu rekannya mencoba untuk mengunjungi korban. Diperlihatkan juga hasil visum atau otopsi, agar membuat polisi bisa memberikan semua bukti berdasarkan apa yang Laura lakukan.
Itu artinya Laura bisa di kenakan pasar percobaan pembu*buhan, meskipun khasusnya tidak sengaja akibat terbawa efek minuman. Hanya saja semuanya tetap sama, karena korban telah meninggal dunia.
"Maaf, Pak. Boleh saya bertemu dengannya? 5 menit saja, tak masalah. Yang penting saja bisa memastikan keadaannya seperti apa di dalam sana." ucap Aksa mencoba meminta izin.
"Sebenarnya pelaku tidak bisa di kunjungi sebelum berkas semuanya masuk, tetapi untuk kali ini saya kasih izin selama 5 menit saja tidak lebih." jawab polisi, menatap Aksa.
"Terimakasih, Pak. Saya akan sangat menghargai waktu yang telah diberikan ini."
Polis itu menganggukkan kepalanya, lalu memanggil salah satu rekannya untuk membawa Aksa bertemu dengan Laura.
Aksa duduk menunggu Laura sambil memainkan tangannya, meskipun perasaan Aksa sudah hilang dengan Laura. Akan tetapi, mendengar nasib Laura seperti ini malah membuatnya merasa kasian.
Namun, mau bagaimana lagi. Mungkin ini karma yang harus Laura terima, sama sepertu karma yang dia terima karena telah menyakiti Hyuna, mantan istrinya.
__ADS_1
"A-aksa?" ucap Laura yang terkejut melihat kedatangan Aksa.
Disitu Aksa berdiri, lalu dia menatap ke arah Laura. Dengan rasa bersalah, Laura langsung berhambur memeluk Aksa dengan sangat erat.
Ingin sekali menjauhi tubuh Laura. Setelah melihat keadaannya membuat Aksa tidak tega, dia membiarkannya sebentar. Hingga tangis Laura pecah, dia berusaha meminta maaf pada Aksa tanpa berhenti. Tak lupa memohon agar tidak menceraikannya, tetapi semua itu tidak bisa.
Aksa mengajak ngobrol Laura secara baik-baik membuatnya mengerti atas semua kejadian ini. Perlahan Laura mulai mengerti, dia juga sudah sadar atas apa yang dia lakukan pada suaminya.
Jadi, suka tidak suka Laura harus mengikuti semua prosedur kepolisian serta hubungan yang akan dia terima atas semua ini.
Sudah cukup 5 menit Aksa pun berpamitan pada Laura meninggalkan Laura yang masih terus nangis akibat dia meminta di bebaskan. Aksa tidak berkuasa atas itu, karena semua ini akibat perlakuan Lauran sendiri bukan dirinya.
Seperginya Aksa, Laura kembali mengamuk tidak terima dengan semua takdir yang saat ini sedang dia alami. Rasanya Laura tidak sanggup bila harus mendekam di dalam penjara seperti ini.
Apa daya, semua sudah terjadi dan tidak bisa diputar kembali. Aska yang sudah di dalam mobil pun bergegas pergi ke rumah sakit dimana adiknya di rawat.
*
*
Hanya saja, sisa-sisa ingatannya belum sepenuhnya terhapus. Sebab, ketika Riska tidak sengaja kembaki teringat kejadian itu dia masih sering sedih dan ketakutan.
Namun, tidak separah ketika awal-awal. Jadi kemungkinan tak lama lagi Riska bisa dinyatakan sembuh tetal, setelah dia berhasil menghapus cerita masa sedihnya dan menggantinya ke kisah yang lebih bahagia lagi.
Sesampainya disana Aska berjalan menuju kamar Riska, terlihat betul bila Riska sangat bahagia setelah ketemu sang Kakak.
"Assalammualaikum."
"Waalaikumsalam."
Riska berlari langsung memeluk Aska dengan wajah cerianya. Keadaan seperti inilah yang berhasil membuat Aska merasa senang, setelah melihat sececar harapan bila adiknya akan segera kembali pulih dari traumanya.
Begitu juga Mona yang senantiasa menjaga anaknya, sebab dia merasa bersalah dan kasian terhadap nasib anaknya yang sangat malang.
"Bagaimana keadaanmu, hem?" ucap Aska tersenyum melepaskan pelukan adiknya dan mengusap pipinya serta menatapnya dalam-dalam.
"Aku baik, Kak. Kakak sendiri gimana?" tanya Riska, tersenyum lebar.
__ADS_1
Aska yang tidak tahu harus menjawab apa lagi, dia cuman bisa tersenyum sambil menganggukan kepalanya perlahan. Aska tidak mau bila adiknya yang baru saja sembuh harus menerima kabar yang kurang menyenangkan.
"Mamah gimana, sehat?" tanya Aska yang juga memeluk Mamahnya.
"Sehat, kamu abis dari mana kok kelihatannya ellah banget?" tanya, Mona sedikit curiga.
Riska duduk sambil menarik Aska agar mereka mau duduk di ranjangnya. Lalu, Riska menunjukkan mainan boneka terbarunya yang dibelikan oleh Mamahnya sambil bercerita-cerita mengenai kesehariannya bersama teman-teman lainnya.
Aska hanya tersenyum menatap adiknya, kemudian kembali menjawab pertanyaan Mona.
"Habis dari kantor polisi, Mah." jawab Aska, tersenyum.
"Kantor polisi? Ada masalah apa?" tanya Mona, cemas.
"Nanti Aska ceritain, sekarang Aska mau main sama Riska dulu." sahutnya, yang diangguki oleh Mamahnya.
Melihat perkembangan demi perkembangan, membuat Aska terharu. Adik yang awalnya terlihat begitu ceria, bisa menjadi sangat menyedihkan ketika berada di tangan pria yang salah. Akan tetapi, setelah lepas dari kekasihnya keceriaan itu kembali muncul membuat Aska bangga atas kemajuan Riska.
"Ohya, bagaimana Kakak sama Kak Laura?" tanya Riska, menoleh ke arah Aska.
"Ba-baik hehe ... Ohya kalau udah sehat, nanti Kakak akan langsung menjemputmu dan Mamah, terus kita jalan-jalan sepuas-puasnya. Mau?"
Aska mencoba mengalihkan pembicaraan agar Riska tidak terpokus pada rumah tangganya.
"Aaaa ... Mau, mau, mau. Nanti kita ke luar negeri ya, Kak. Boleh?"
"Boleh, nanti Kakak nabung dulu ya buat kita jalan-jalan ke luar negeri."
"Oke, nanti kalau aku udah keluar dari tempat ini. Aku juga mau cari kerja, biar nanti aku bisa bantuin Kakak ngumpulin uang terus kita habisin deh di negeri orang hehe ...."
•
•
•
Tbc.
__ADS_1