Runtuhnya Janji Suci Pernikahan

Runtuhnya Janji Suci Pernikahan
Bab. 98. Kesibukan Calon Pengantin.


__ADS_3

Risa menatap Damian dengan tatapan tidak percaya. Bagaimana mungkin laki-laki itu menyuruhnya membalas kebaikan Vicky dengan cara seperti itu, sementara Vicky sendiri tidak mempermasalahkannya?


"Anggap saja kau sedang menyiapkan pernikahanmu sendiri, walaupun cintamu tidak berhasil," tambah Damian lagi. Entah apa yang sedang dia lakukan, sepertinya dia suka sekali membuat wanita itu kesal.


Risa mengepalkan kedua tangannya dengan geram. Ingin sekali dia mencakar wajah laki-laki yang ada di hadapannya saat ini, tetapi sayangnya dia belum punya keberanian sebesar itu.


"Baiklah, Tuan. Saya akan mempersiapkan semuanya seperti pernikahan saya sendiri, apa ada lagi yang Anda inginkan?" tanya Risa dengan memasang wajah lebar penuh senyuman, tetapi dari suaranya terdengar jelas jika dia sedang kesal setengah mati.


"Untuk sekarang tidak ada, jadi cepat selesaikan pekerjaanmu," jawab Damian dengan datar, tanpa rasa bersalah sedikit pun.


"Baik, saya permisi," ucap Risa, dia lalu beranjak keluar dari ruangan itu menuju ruangannya sendiri sambil menahan kekesalan yang luar biasa.


Begitu Risa keluar, Damian langsung tersenyum tipis. "Dengan begitu kau pasti tidak akan merasa sedih saat mereka menikah. Aku sudah memenuhi permintaanmu, Friska. Jadi tenanglah di syurga-Nya." Dia bergumam dengan menghela napas kasar.


Dulu Damian dan Friska berteman baik yang bertemu pada saat berada di panti asuhan. Bukan karena dia tidak punya orang tua, tetapi saat ada acara di tempat itu.


Damian juga lah yang mengenalkan wanita itu pada Vicky, sampai akhirnya mereka menjalin hubungan serius dan memutuskan untuk menikah.


Namun, ternyata Friska tidak berumur panjang. Wanita itu meninggal saat melahirkan Wildan, setelah mengalami kontraksi hebat karena sesuatu hal.


Sebelum meninggal, Friska sempat menitipkan Risa padanya walaupun dia langsung menolaknya mentah-mentah. Dia tidak ingin direpotkan oleh wanita itu, itu sebabnya Friska meminta Vicky untuk menjaga adiknya.


Damian menggelengkan kepalanya saat mengingat kenangan lama. Setelah itu dia kembali fokus untuk mengerjakan pekerjannya agar lebih cepat selesai.


***

__ADS_1


Setelah hari pernikahan Vicky dan Hyuna di putuskan, Vanes tampak semangat sekali untuk mempersiapkan semuanya. Dia merasa senang saat mendengar jika Risa akan ikut membantu semua persiapannya, padahal dia tidak tahu jika gadis itu dipaksa oleh seseorang.


Sementara itu, Vicky sang calon pengantin tampak sedang uring-uringan di dalam kamarnya. Sejak semalam dia tidak bisa mendengar suara Hyuna karena wanita itu sedang sibuk, dan ketika dia mengirim pesan juga tidak dibalas.


"Sebenarnya dia sibuk apa sih? Calon pengantin itu seharusnya duduk manis sepertiku, tapi kenapa dia malah sok sibuk seperti itu?" Vicky memukul-mukul udara yang ada di hadapannya karena merasa kesal.


"Tunggu, jangan-jangan dia berubah pikiran? Atau ada sesuatu yang mengganggunya?" Pikiran negatif mulai menjalar ke dalam pikiran Vicky, membuatnya menjadi tidak tenang.


Dengan cepat dia menyambar kunci mobil yang ada di atas nakas, tidak lupa dompet dan jaket juga karena ingin langsung menemui wanita itu.


"Mau ke mana kau?"


Langkah Vicky terhenti saat mendengar suara seseorang, tentu saja suara itu berasal dari mulut sang mama. Dia lalu berbalik dan tersenyum pada mamanya.


"Aku ingin keluar sebentar, Ma. Bosen di rumah terus," jawab Vicky memberi alasan. Tidak mungkin dia mengatakan jika ingin bertemu dengan Hyuna.


Vicky menghela napas kasar saat mendengarnya. "Aku cuma mau cari angin aja, Ma. Kenapa Mama gak percaya sih?" Dia berucap dengan kesal.


"Kalau gitu tunggu Damian, setelah itu kau baru bisa pergi," ucap Vanes dengan penuh penekanan. Pikirnya dia bisa dibohongi oleh laki-laki itu apa? Tidak akan bisa.


Vicky lalu berbalik dan berjalan gontai kembali ke kamarnya. Dia tidak akan bisa menang dari sang mama, apalagi mamanya sangat susah dibohongi.


Vicky membaringkan tubuhnya ke atas ranjang sambil menatap langit-langit kamar. Sesuatu yang selama seharian ini dia lakukan karena terus berada di dalam kamar, tentu saja karena perintah dari sang mama dengan alasan sebentar lagi akan menikah.


"Orang kalau mau nikah itu senang, sedangkan aku malah depresi dan tertekan," gumam Vicky dengan kesal. Padahal dia hanya ingin bertemu dengan Hyuna, setelah itu akan kembali lagi ke rumah.

__ADS_1


Sementara itu, Hyuna yang sedang berada di rumahnya tampak sibuk menjamu para keluarga besar yang baru saja datang. Dia menyalami mereka semua sambil bertegur sapa dengan ramah, dan menanyakan bagaimana perjalanan mereka menuju ke rumahnya.


"Alhmdulillah lancar, Nak. Tidak ada hambatan sama sekali," jawab salah satu suadara Hyuna yang berasal dari luar kota.


"Iya benar. Jalanan sangat lancar, sama seperti pernikahanmu yang kedua ini," ucap saudara Hyuna yang lain, yang mulutnya sama persis dengan mulut netizen.


Semua orang menatap wanita paruh baya itu dengan tajam. Dari dulu sampai sekarang mulutnya masih saja sama, lebih pedas dari cabai tetangga.


"Tentu saja pernikahan kedua Mbakku ini sangat lancar. Tapi bukannya pernikahan anak Bibi juga lancar?" tanya Yudha dengan senyum sinis, membuat kedua orang tuanya menjadi gelisah.


"Apa maksudmu, kenapa anak kecil sepertimu berani bicara tidak sopan seperti ini?" ucap wanita paruh baya itu dengan ketus. Dia yang memulai pertengkaran, tetapi dia jugalah yang panas duluan.


"Bukankah apa yang aku katakan ini benar adanya? Sangking lancarnya, anak Bibi sampai menikah beberapa kali karena tidak ada yang nyangkut dalam hidupnya," balas Yudha, membuat wajah wanita paruh baya itu langsung merah padam.


"Kau-"


"Sudahlah, hentikan semua ini, Eva. Kau selalu saja mencari keributan di mana pun berada," potong suami dari wanita paruh baya itu dengan suara tertahan. Dia merasa malu karena istrinya selalu saja membuat keributan.


"Kenapa kau malah marah padaku? Anak itulah yang duluan memancing keributan!" bantah wanita paruh baya itu, enak saja jika dia yang harus disalahkan.


Hyuna menggelengkan kepalanya saat bersitatap mata dengan sang adik, sementara Yudha tersenyum lebar tanpa merasa berdosa sama sekali.


"Oh ya, satu lagi. Jangan lihat siapa yang bicara, tapi dengarlah apa yang dia bicarakan. Jika Bibi menganggap aku anak kecil, seharusnya Bibi yang sudah dewasa merasa malu."


__ADS_1



Tbc.


__ADS_2