
Semua orang terkikik geli saat mendengar ucapan Rayyan, adik bungsu Hyuna itu memang lain dari pada yang lain, bahkan sampai membuat Vicky ikut tertawa.
Namun, tidak sedikit juga yang tampak mencibir Hyuna. Apalagi mereka tidak mengetahui masalah apa yang terjadi dalam rumah tangga wanita itu, hingga membuatnya bercerai dengan Aksa.
"Padahal suaminya baik, tapi kenapa mereka bisa berpisah ya?"
"Iya benar. Kita aja gak tau kapan pisahnya, eh sekarang udah bawa yang baru aja. Kayaknya karna laki-laki itu lebih ganteng deh."
Senyum yang ada diwajah Vicky langsung lenyap saat mendengar suara bisik-bisik yang membuat darahnya mendidih, begitu juga dengan Damian yang mendengar bisikan-bisikan manusia jelmaan iblis itu.
Vicky tersenyum sinis lalu berbalik dan menatap orang-orang itu dengan tajam, membuat mereka terkesiap dengan wajah panik.
"Saya sangat beruntung mendapat wanita baik seperti Hyuna, dan saya sangat berterima kasih dengan mantan suaminya yang telah menyia-nyiakan dia. Hingga akhirnya saya bisa mendapat pujaan hati sepertinya," ucap Vicky dengan pelan, tetapi penuh dengan penekanan membuat Hyuna menatap dengan sendu.
"Hari ini adalah hari yang sangat bahagia untuk saya dan Hyuna, jadi saya harap Anda-Anda semua tidak mengacaukannya, Anda paham, 'kan?" tanya Vicky dengan tajam, dan terlihat jelas ada sebuah ancaman dalam setiap ucapannya.
Beberapa wanita yang tadi menceritai Hyuna langsung menutup mulut mereka rapat-rapat. Dada mereka berdegup kencang, dengan tubuh bergetar karena takut dengan tatapan intimidasi dari Vicky.
Ayah Hyuna kemudian mempersilahkan Vicky untuk masuk ke dalam rumahnya, begitu juga dengan yang lain sebelum terjadi sesuatu yang tidak diinginkan.
Hyuna terus menatap Vicky dengan haru. Dia tidak menyangka jika laki-laki itu akan berkata seperti itu di hadapan banyak orang, sungguh rasanya sangat bahagia dan terharu sekali.
"Aku tau kalau aku tampan, dan ketampananku tidak akan luntur walau terus ditatap seperti itu," ucap Vicky sambil menoleh ke arah Hyuna membuat wanita itu terkesiap.
Wajah Hyuna merah padam menahan malu karena sudah ketahuan menatap wajah Vicky, apalagi saat mendengar ucapan laki-laki itu.
__ADS_1
"Ya Allah, apa aku bisa menghabiskan seluruh hidupku bersama dengan makhluk ciptaan-Mu yang luar biasa indah dan baik itu? Apa jantungku tidak akan meledak setiap kali dia menatapku dengan hangat? Apa mataku tidak akan buta karena terlalu lama menatap wajahnya yang sangat tampan?"
Hyuna benar-benar merasa sudah tidak waras. Bagaimana mungkin dia bisa berpikir seperti itu? Dia benar-benar tidak habis pikir dengan dirinya sendiri.
Vicky tergelak tanpa suara saat memperhatikan wajah Hyuna sedang menunduk malu, tetapi tampak tersenyum sambil menggeleng-gelengkan kepala seperti ada sesuatu yang sedang dipikirkan.
Beni dan Aida menatap putri mereka dengan mata berkaca-kaca. Apalagi saat melihat tatapan hangat dan perlakukan Vicky pada Hyuna, membuat hati mereka yakin jika laki-laki itu adalah jodoh terbaik yang Tuhan beri untuk putri mereka.
"Selama ini Hyuna sudah banyak menderita, ibu hanya bisa berdo'a agar rumah tangga keduanya nanti akan selalu diberikan kebahagiaan, dan dijauhkan dari segala masalah." Lirih Aida. Dia mengusap sudut matanya yang sudah basah dengan air mata.
Beni menepuk punggung tangan istrinya dengan pelan, sambil tersenyum hangat. "Kita sebagai orang tua hanya bisa mendo'akan saja, biarlah tangan Allah yang bekerja. Tapi yakinlah, apa yang kita tanam itu yang akan kita tuai. Semoga kesabaran dan ketabahan Hyuna selama ini dibalas dengan kebahagiaan."
Aida menganggukkan kepalanya sambil mengaminkan ucapan sang suami, dia benar-benar bersyukur jika Hyuna bisa mendapatkan laki-laki yang benar tulus mencintainya.
Semua orang lalu saling bercengkrama dengan hangat. Sifat dingin dan angkuh Vicky benar-benar tidak terlihat sama sekali, dia terlihat nyaman dan banyak melempar senyum untuk semua keluarga Hyuna.
Hyuna lalu menyuruh adik-adiknya untuk mengantar Vicky mandi ke sungai, karena kamar mandi yang ada di rumah sedang digunakan banyak orang.
"Apa kau tidak mau menemaniku?" tanya Vicky membuat Hyuna langsung mengibas-ngibaskan tangannya.
"Ti-tidak. Bagaimana mungkin aku menemani laki-laki mandi disungai?" seru Hyuna dengan wajah merah padam. Membayangkannya saja sudah membuatnya malu.
Vicky tersenyum saat melihat wajah malu Hyuna. "Ya sudah, tapi nanti kalau sudah nikah kau harus menemaniku mandi di sungai. Jika tidak, mungkin akan ada wanita lain yang akan menemaniku." Dia berucap dengan nada menggoda.
Hyuna menggelengkan kepalanya dan bergegas meninggalkan laki-laki itu. Semakin lama dia bersama dengan Vicky, maka akan semakin membuat dadanya berdegup kencang.
__ADS_1
"Ayo, Kak!" ajak Yudha yang sudah membawa handuk dan juga pakaian ganti mereka.
Mereka lalu segera pergi menuju sungai yang berada tepat di belakang rumah Hyuna, hanya butuh waktu 10 menit saja dengan berjalan kaki untuk sampai ke sungai tersebut.
"Wah, sungainya jernih sekali," seru Damian sambil memasukkan kakinya ke dalam air. Dia jadi mengingat masa kecilnya saat masih tinggal dihutan dulu, tentu saja setiap hari dia akan mandi disungai.
Vicky juga tersenyum senang saat melihat sungai yang jernih dengan suara air yang terasa menenangkan. Sepertinya dia akan betah jika tinggal beberapa waktu di desa itu.
"Orang kota beda ya Kak, masa sama sungai aja kagum," bisik Rayyan pada sang kakak yang ada di sampingnya.
"Itu karna di sana tidak ada sungai, kalau pun ada banyak yang udah tercemar," ucap Yudha sambil membuka pakaiannya, dan hanya menyisakan celana pendek selutut saja.
Rayyan mengangguk-anggukkan kepalanya. Tanpa menunggu lama, dia langsung melompat masuk ke dalam sungai dengan gaya kupu-kupu.
Byur.
Beberapa orang yang juga ada di tempat itu menelan salive saat melihat tubuh Vicky dan Damian ketika sudah membuka pakaian, tampak jelas dada bidang dan otot-otot yang terbentuk dengan sempurna ditubuh kedua lelaki itu.
"Bisa-bisanya mereka punya tubuh sempurna kayak gitu. Wajah tampan, dada bidang, perut kotak-kotak. Apa anunya juga sepanjang pisa*ngnya ayah?"
•
•
•
__ADS_1
Tbc.