
Riska terdiam saat mendengar ucapan Bima, tangannya terulur mengusap perutnya yang masih rata.
"Jika kau tetap ingin bayi itu, maka jangan ganggu aku lagi dan pergi dari tempat ini sekarang juga!"
Untuk kesekian kalinya Bima mengusir Riska dari tempat itu membuat teman-temannya yang lain merasa iba, tetapi wanita itu tetap saja mau bersama dengan laki-laki sepertinya.
"Aku, aku akan menggugurkannya."
Deg.
"Benarkah?" tanya Bima dengan tidak percaya membuat Riska langsung menganggukkan kepalanya.
Bima lalu tersenyum lebar dan merangkul tubuh Riska. "Gitu dong, Sayang. Jadi kita bisa bersenang-senang kembali seperti dulu." Dia lalu membawa Riska masuk ke dalam kamar, dan seperti biasa mereka akan melakukan kegiatan yang menguras tenaga di atas ranjang.
*
*
Keesokan harinya, pagi-pagi sekali Aksa sudah berangkat dari rumahnya menuju rumah sang ibu. Dia harus biacara langsung dengan Riska mengenai apa yang terjadi.
Tepat pukul 6 pagi, Aksa sudah sampai di rumah ibunya. Dia segera mengetuk pintu rumah itu membuat Mona berjalan ke arah pintu dengan tergesa-gesa.
"Loh, Aksa? Kenapa pagi-pagi udah datang ke sini?"
Aksa langsung masuk ke dalam rumah lalu kembali menutup pintu tersebut. "Tidak ada, Bu. Aku hanya ingin bicara dengan Riska tentang kuliahnya."
Mona mengernyitkan kening bingung, tidak biasanya Aksa datang pagi-pagi begini jika hanya ingin membicarakan tentang perkuliahan.
"Kenapa pagi-pagi kayak gini? Riska aja masih tidur."
"Kalau siang aku kerja, Bu. Yaudah, kalau gitu aku ke kamarnya dulu ya."
Walau merasa aneh, tetapi Mona tetap menganggukkan kepalanya dan beranjak ke dapur untuk menyiapkan sarapan.
Aksa langsung membuka pintu kamar Riska dan kembali menutupnya dengan erat, terlihat adiknya itu masih bergelung di bawah selimut.
Dengan perlahan Aksa menarik kursi yang ada di lemari kaca dan meletakkannya di samping ranjang. Dia lalu duduk di kursi tersebut sambil menatap Riska yang sedang membelakanginya.
Air mata Aksa tiba-tiba keluar membasahi wajah saat menatap wajah sang adik. Sejak dulu Riska memang anak yang pendiam dan tidak pernah menuntut apapun darinya, adiknya itu bahkan selalu menuruti apa yang dia katakan.
Namun, sejak kapan Riska menjadi seperti ini? Apakah dia sudah salah pergaulan, hingga membuatnya sampai hamil? Entahlah, Aksa tidak tahu di mana letak kesalahannya.
__ADS_1
Riska yang masih tertidur karena kelelahan benar-benar tidak sadar jika sang kakak sedang berada di kamarnya, maklum saja karena dia baru pulang ke rumah pukul 2 dini hari. Dan selama itu tubuhnya terus dihentak oleh Bima sampai perutnya terasa sakit.
Setelah menunggu selama 15 menit, Aksa terpaksa membangunkan Riska karena tidak ada tanda-tanda jika wanita itu akan terbangun.
"Riska, Riska."
Aksa menggoyang-goyangkan lengan Riska agar adiknya itu bangun, dan tidak berselang lama Riska mengerjapkan kedua matanya sambil berusaha untuk beranjak duduk.
"Kau sudah bangun, Riska?"
Riska terlonjak kaget saat baru menyadari kebeberadaan sang kakak, sementara Aksa menatap adiknya dengan sayu dan menggeser kursi itu agar bisa lebih dekat lagi.
"Ka-kakak? Apa, apa yang kakak lakukan di sini?" tanya Riska dengan bingung.
Tanpa menjawab pertanyaan Riska, Aksa langsung mengulurkan tangannya untuk menyentuh perut adiknya itu membuat Riska tersentak kaget.
"Berapa usia kandunganmu?"
Deg.
Wajah Riska langsung pias saat mendengar ucapan sang kakak, sementara Aksa sendiri menatap adiknya dengan tajam.
"Katakan saja, Riska. Kakak sudah tahu semua yang terjadi padamu."
"Sudahlah, semuanya sudah terjadi. Tapi kakak mohon jangan pernah melakukan hal seperti ini lagi, Riska. Hati kakak sangat sakit saat mendengarnya, kakak bahkan merasa gagal menjadi seorang kakak untukmu."
Riska semakin menundukkan kepalanya dengan apa yang kakaknya katakan. Dia tidak bisa membantah ucapan sang kakak karena apa yang laki-laki itu katakan adalah benar.
"Sekarang katakan pada kakak siapa laki-laki yang sudah melakukan semua ini padamu."
Riska langsung mengangkat kepalanya dan menatap ke arah Aksa. "Aku sangat mencintainya, Kak. Aku, aku ingin bersamanya."
Aksa mengernyitkan keningnya saat mendengar ucapan sang adik. "Kau mencintainya? Kau mencintai laki-laki yang tidak mau bertanggung jawab atas apa yang sudah dia lakukan, begitu?" Dia menatap adiknya dengan tajam.
Riska kembali menundukkan kepalanya dengan tangan yang saling bertautan. "Dia pasti takut dan belum siap untuk punya anak."
"Kau masih bisa membelanya, ya," ucap Aksa dengan pelan.
Sepertinya sang adik sangat mencintai laki-laki yang salah, bahkan karena rasa cintanya itu membuat hidupnya jadi seperti ini.
"Dek, kakak tau kalau kau sudah dewasa dan bisa menentukan jalan hidupmu sendiri. Kau juga sudah punya seseorang yang sangat kau cintai, tapi apakah laki-laki itu juga mencintaimu?"
__ADS_1
Riska terdiam. Ingatan demi ingatan tentang hubungannya dan Bima terasa berputar-putar dalam kepalanya, dan kebanyakan kenangan itu tentang kegiatan mereka di atas ranjang. Bahkan sehari mereka bisa sampai melakukannya sebanyak 3 kali.
"Dia memperlakukan aku dengan baik, Kak. Jadi tidak mungkin 'kan, jika dia tidak mencintaiku?"
Aksa menatap sang adik dengan sendu. Sepertinya lelaki yang bersama dengan adikny itu memanfaatkan sifat polos dan pendiam sang adik, hingga memperdaya adiknya agar mau menuruti apa yang laki-laki itu inginkan.
"Jika dia memang mencintaimu, setidaknya dia akan menghargaimu dengan bertanggung jawab atas apa yang sudah kalian lakukan. Kalau pun dia belum siap, dia bisa mengatakannya pada kakak. Kakak hanya butuh tanggung jawabnya saja."
Aksa menggenggam kedua tangan adiknya dengan erat, dia merasa geram dengan laki-laki itu. Apalagi saat mengetahui jika laki-laki itu menyuruh Riska untuk menggugurkan bayinya.
"Bayi ini adalah sebuah anugrah, Dek. Kau tau kan, jika kakak dan Hyuna berpisah karena masalah anak?" tanya Aksa membuat Riska mengangguk.
"Tidak semua orang punya kesempatan untuk hamil sepertimu, bahkan banyak orang yang menghalalkan segala cara agar mendapat anak. Jadi kakak mohon jangan sia-siakan anugerah ini, janin yang ada dalam kandunganmu pasti ingin bertemu dan melihat bagaimana wajah ibunya yang cantik ini."
Riska terdiam dengan mata berkaca-kaca. Dia merasa bersalah karena sudah berniat untuk menggugurkan kandungannya, dia bahkan sudah membeli suatu obat keras yang sangat berbahaya untuk ibu hamil agar bisa menggugurkan bayi itu.
"Kakak akan bicara pada laki-laki itu. Jika dia tetap tidak mau tanggung jawab, maka kakak akan mengurusnya sampai selesai. Sekarang katakan pada kakak, apa kau lebih memilih laki-laki itu dari pada anakmu sendiri?"
Riska terkesiap saat mendengar pertanyaan sang kakak. Batinnya bergejolak karena tidak tahu harus memilih yang mana.
Namun, dia mengingat apa yang kakaknya katakan tadi. Lalu tangannya mengusap perutnya dengan penuh kelembutan.
"Aku, aku lebih memilih anakku, Kak."
"Bagus. Kakak sangat menyayangimu, Dek."
Aksa langsung memeluk tubuh Riska dengan erat, dia senang karena bisa meyakinkan sang adik agar tidak menggugurkan bayi yang sedang dikandung.
"Sekarang aku akan membereskanmu, laki-laki brengs*ek. Akan ku pastikan kau menyesal karena sudah melakukan hal seperti ini pada adikku."
Aksa mengepalkan kedua tangannya dengan erat. Giginya saling bergesekan dengan luapan emosi yang membara.
Tanpa mereka berdua sadari, sejak tadi Ruby berdiri di depan pintu kamar sang kakak dan mendengar semua ucapan mereka. Dia benar-benar sangat terkejut dengan apa yang terjadi, dan tidak menyangka jika saat ini kakaknya sedang hamil.
"Tidak, laki-laki seperti Bima tidak akan mau mengakui anak itu."
•
•
•
__ADS_1
Tbc.