Runtuhnya Janji Suci Pernikahan

Runtuhnya Janji Suci Pernikahan
Bab. 64. Kebingungan Yudha.


__ADS_3

Setelah menghabiskan beberapa waktu di rumah Vicky, Hyuna dan juga Yudha bergegas pamit untuk pulang ke rumah dengan menaiki taksi. Awalnya Vicky ingin mengantar mereka karena tadi dialah yang sudah mengajak kakak dan adik itu ke rumahnya, tetapi Hyuna menolak dan memilih untuk naik taksi.


Sepanjang perjalanan pulang, Yudha terus memikirkan apa yang Vicky ucapkan tadi. Dia yakin jika laki-laki itu pasti tidak main-main dengan ucapannya, hingga membuat dia jadi bingung seperti ini.


"Bagaimana caranya aku memberitahu mbak Hyuna? Tidak mungkin 'kan, aku tidak memberitahunya?" Yudha menghela napas frustasi.


"Dek."


Yudha tersentak kaget saat tiba-tiba Hyuna menepuk bahunya. "I-iya, ada apa Mbak?" Dia gelagapan sambil memperhatikan sekitaran tempat itu.


"Kita sudah sampai."


Yudha mengangguk dan segera turun dari taksi, dia lalu berjalan masuk ke dalam rumah membuat Hyuna menatap dengan heran.


Hyuna lalu membayar biaya taksi itu dan ikut masuk ke dalam rumah. "Tunggu, Dek."


Yudha yang akan masuk ke dalam kamar mengurungkan niatnya, lalu kembali berbalik dan melihat ke arah sang kakak.


"Apa ada masalah, kenapa dari tadi kau melamun?"


Yudha menggelengkan kepalanya. "Enggak kok Mbak, aku cuma lagi mikirin tugas kuliah. Sebentar lagi 'kan ujian."


Hyuna mengangguk-anggukkan kepalanya, dia lalu memberikan uang pada Yudha sebanyak 400 ribu rupiah.


"Ini untuk apa, Mbak?" tanya Yudha saat mendapat uang dari sang kakak.


"Ini uang untuk beli minyak, kayaknya udah lama kau enggak minta uang dari mbak."


Glek.

__ADS_1


Yudha menelan salivenya dengan kasar. Memang selama dia bekerja di kafe, dirinya tidak pernah lagi meminta uang dari Hyuna. Apalagi dia sering mendapat tips dari para pelanggan dengan alasan wajahnya yang tampan.


"Itukan karena uang dari mbak masih ada. Lagi pula aku hanya pulang pergi kampus aja, jadi gak makan minyak banyak.


Hyuna menyipitkan kedua matanya. "Kau enggak kerja 'kan, Dek?"


Deg.


Yudha langsung menggelengkan kepalanya. "E-enggak lah Mbak, memangnya aku mau kerja di mana?" Dia mencob meyakinkan sang kakak jika tidak bekerja, padahal saat ini dia sudah bekerja dengan Vicky.


"Ya sudah, sekarang istirahatlah."


Yudha mengangguk dan segera masuk ke dalam kamarnya. Dia menyandarkan tubuhnya di balik pintu. Untuk pertama kalinya dia berbohong pada sang kakak, hingga membuat jantungnya berdegup kencang.


Setelah membersihkan diri, Hyuna membaringkan tubuh lelahnya di atas ranjang sambil menatap langit-langit kamar.


Tiba-tiba pikiran Hyuna tertuju pada Aksa dan keluarga laki-laki itu. Sungguh dia tidak menyangka jika keadaan mereka akan jadi seperti itu, bahkan dia tidak melihat keberadaan Laura bersama mereka.


Hyuna menghela napas kasar. Sesungguhnya dia sudah tidak mau berurusan lagi dengan Aksa. Namun, hatinya tetap tidak tega saat melihat Riska dan juga Ruby. Baginya kedua gadis itu sama seperti Yudha dan sang adik bungsu, itu sebabnya dia merasa tidak tega.


*


*


Tidak terasa, beberapa hari telah berlalu dengan sangat cepat. Selama beberapa hari tersebut, Hyuna beberapa kali menjenguk Riska walau keadaan wanita itu masih belum ada perubahan.


Sementara itu, para polisi sudah berhasil menangkap Bima dan juga teman-teman laki-laki itu. Mereka semua segera diperiksa dan langsung di tetapkan sebagai tersangka.


Tentu saja semua itu atas bantuan dari Vicky. Dia merasa geram saat melihat keadaan Riska yang hampir saja melukai Hyuna, itu sebabnya dia menyuruh Damian untuk membereskan orang-orang yang sudah melukai Riska sebelum ditemukan oleh polisi.

__ADS_1


Saat ini, Vicky sedang duduk di ruang kerjanya sambil melamunkan sesuatu. Sejak semalam dia terus memikirkan Hyuna, apalagi dia sudah berniat untuk melamar wanita itu 3 hari lagi.


"Tidak, aku tidak bisa melamar Hyuna jika belum membereskan tentang Risa."


Vicky mengusap wajahnya dengan kasar. Entah kenapa semunya menjadi rumit, bahkan Risa selalu menghindarinya jika dia ingin mengatakan sesuatu.


"Apa yang harus aku lakukan, Friska? Apa kau tidak suka jika aku jatuh cinta dan menikah dengan wanita lain?"


Vicky menyandarkan tubuhnya sambil membayangkan wajah almarhum sang istri. "Anak kita sangat menyayanginya, begitu juga dengan wanita itu yang menyayangi putra kita dengan tulus."


Vicky seperti sedang mengadukan semuanya, dan teringat jelas bagaimana senyum Friska saat dulu dia sedang mengadu tentang apa yang terjadi.


"Aku bukannya tidak mau menjaga adikmu, Friska. Hanya saja saat ini dia sudah dewasa dan memiliki perasaan padaku yang seharusnya dia berikan pada laki-laki lain. Aku tidak bisa membiarkannya terus berada di sisiku, apalagi ketika aku dan Hyuna bersatu nanti."


Vicky teringat dengan kejadian beberapa tahun yang lalu, di mana sang istri memgucapkan kata-kata terakhir untuknya sebelum tiada.


"Aku sangat mencintaimu, Vicky. Aku sama sekali tidak menyesal telah melahirkan anak kita ke dunia ini, sayangi dan jagalah dia dengan nyawamu sendiri."


"Dan aku mohon jagalah adikku, Vicky. Dia sama sekali tidak punya keluarga selain aku, dia pasti akan menderita jika hidup seorang diri. Aku mohon jaga dia hingga dewasa."


Tanpa sadar air mata menetes dari sudut mata Vicky saat mengingat tentang semua itu, di mana itulah saat-saat terakhirnya bersama dengan Friska.


Setelah wanita itu meninggal, Vicky mengambil tanggung jawab penuh pada Risa. Dia memenuhi semua kebutuhannya, bahkan Risa berhak memakai berapa pun uang yang Vicky berikan.


"Sekarang kau sudah dewasa, Risa. Janjiku pada kakakmu sudah aku tepati, kini saatnya kau hidup bebas tanpa terikat apapun denganku."



__ADS_1



Tbc.


__ADS_2