Runtuhnya Janji Suci Pernikahan

Runtuhnya Janji Suci Pernikahan
Bab. 44. Keributan di Restoran.


__ADS_3

Setelah semua pekerjaannya selesai, Hyuna segera membersihkan diri dan bergegas menuju ruang VIP restoran itu. Sebelumnya dia sudah menyuruh Aksa untuk datang, dan memesan satu ruang VIP agar mereka bisa bicara 4 mata.


Aksa yang sudah berada di ruang VIP menunggu Hyuna dengan jantung berdebar-debar. Wanita itu mengatakan jika ingin membicarakan sesuatu yang sangat penting, mungkinkah Hyuna ingin kembali padanya?


Aksa lalu memalingkan wajahnya ke arah pintu saat mendengar suara seseorang, sontak dia berdiri dari duduknya saat melihat kedatangan Hyuna.


"Duduklah, Mas."


Aksa menganggukkan kepalanya dengan senyum lebar. Dia lalu kembali duduk ke tempat semula yang berada tepat di depan Hyuna.


"Apa kau mau memesan sesuatu?" tawar Aksa yang langsung dijawab dengan gelengan kepala Hyuna.


"Aku sudah kenyang, Mas."


Aksa lalu menganggukkan kepalanya dengan debaran jantung yang semakin menguat, apalagi saat melihat raut wajah Hyuna yang tampak gelisah bercampur dengan ragu-ragu membuat  dugaannya semakin terlihat jelas.


"Ada sesuatu yang ingin aku bicarakan denganmu, Mas. Tapi sebelum itu berjanjilah agar tidak mengatakan masalah ini pada siapapun, terutama pada ibu."


Aksa langsung menganggukkan kepalanya dengan semangat, sementara Hyuna terpaksa membuat perjanjian seperti itu mengingat bagaimana sifat mantan mertuanya.


"Aku ingin membicarakan tentang Riska, Mas."


Aksa langsung mengernyitkan keningnya saat mendengar ucapan Hyuna. "Riska?"


Hyuna mengangguk. "Iya, Mas. Saat ini, saat ini dia sedang hamil."


"A-apa?"


Reaksi Aksa sama persis dengan reaksinya saat mendengar semuanya dari Riska, bahkan laki-laki itu sampai menggebrak meja dengan wajah merah padam dan tangan kedua tangan terkepal erat.


"Kau, kau bilang apa, Hyuna?"


Aksa menatap Hyuna dengan tajam membuat Hyuna mengehela napas kasar. "Tenangkan dirimu, Mas. Aku-"


"Tenang kau bilang? Bagaimana mungkin aku busa tenang saat kau mengatakan jika adikku sedang hamil?" teriak Aksa yang sudah diliputi oleh kemarahan.


"Aku mengerti bagaimana perasaanmu saat ini, Mas. Tapi kemarahan tidak akan bisa menyelesaikan semuanya."


Hyuna lalu menceritakan apa yang sudah Riska katakan, dia juga mengatakan jika laki-laki yang menghamili wanita itu tidak mau bertanggung jawab.


Aksa terdiam saat mendengar cerita Hyuna. Dia lalu mengusap wajahnya dengan kasar karena diliputi oleh perasaan bersalah.

__ADS_1


"Aku telah gagal, Hyuna. Aku gagal menjaga adikku sampai dia, dia-"


Aksa tidak sanggup untuk mengatakan apa yang terjadi pada adiknya. Hati kakak mana yang tidak hancur saat mendengar berita tentang kehamilan adiknya sendiri yang belum menikah, bahkan adiknya itu mengaku sudah sering melakukan hal seperti itu hingga akhirnya menjadi seperti ini.


Hyuna menatap Aksa dengan sendu, dia tahu benar bagaimana perasaan laki-laki itu sebagai seorang kakak karena dia sendiri juga punya adik.


Aksa menundukkan kepalanya dengan terisak. Bagaimana mungkin semua ini bisa terjadi? Dia sudah sangat lalai dan tidak bisa menjaga adiknya sendiri, lalu masih pantaskah dia dipanggil seorang kakak?


"Tenangkan dirimu, Mas. Jangan seperti ini."


Hyuna menepuk bahu Aksa membuat laki-laki itu mendongakkan kepalanya. Andai Hyuna masih menjadi istrinya, dia pasti bisa bersandar dan berbagi keluh kesah dengan wanita itu.


"Aku tidak pantas menjadi seorang kakak, Hyuna. Aku, aku tidak bisa menjaga adikku sendiri," ucap Aksa dengan terbata-bata.


Hyuna menggelengkan kepalanya. "Itu tidak benar, Mas. Selama ini kau selalu memberikan semua yang terbaik untuk mereka, dan kau juga memastikan pendidikan mereka tetap berjalan lancar."


Aksa mengusap air mata yang membasahi wajah, sungguh dia benar-benar merasa sangat hancur saat ini.


"Kita sebagai seorang kakak hanya bisa menasehati dan mengingatkan mereka saja, Mas. Kita hanya mengarahkan mereka ke jalan yang baik, lalu sisanya mereka sendiri yang mengambil keputusan untuk semua yang dilakukan. Dan semua itu diluar kendali kita.


Hyuna mencoba untuk menenangkan Aksa agar laki-laki itu tidak terpuruk. Jika Aksa terus seperti ini, lalu siapa yang akan menyelesaikan masalah Riska?


Aksa menganggukkan kepalanya karena mengerti dengan apa yang Hyuna maksud. Dia lalu mengucapkan terima kasih karena wanita itu masih peduli dengan keluarganya.


"Semoga semuanya bisa diselesaikan dengan baik, Mas. Aku hanya bisa membantu dengan do'a."


Aksa tersenyu simpul. Dia senang karena saat ini Hyuna berada di sampingnya walau tidak berstatus sebagai istri, setidaknya dia bisa tenang dan kuat untuk menghadapi setiap masalah.


Setelah selesai memberitahukan semuanya pada Aksa, Hyuna bergegas untuk pulang sementara laki-laki itu juga akan pulang ke rumah orang tuanya.


"Sekali lagi terima kasih untuk semuanya, Hyuna. Aku tidak tau akan jadi seperti apa jika kau tidak ada di sampingku," ucap Aksa saat sudah berada di depan restoran.


Hyuna hanya tersenyum tipis saja sambil menganggukkan kepalanya. Kemudian dia menoleh ke arah seseorang yang saat ini sedang berdiri sambil menatapnya dengan tajam.


Deg.


"La-Laura?"


Aksa langsung memalingkan wajahnya saat mendengar ucapan Hyuna, dia lalu terkejut saat melihat Laura ada di tempat itu.


Laura yang baru saja selesai kerja mengemudikan mobilnya dengan pelan, dan saat melintas di depan restoran tempat Hyuna bekerja. Matanya membulat sempurna saat melihat suaminya sedang berduaan dengan wanita itu. Dia segera memarkirkan mobilnya dan bergegas keluar untuk menghampiri mereka.

__ADS_1


Laura berjalan cepat ke arah Hyuna dan juga Aksa, lalu tiba-tiba dia menyiram wanita itu dengan air kopi yang tadi sempat dia beli.


"Aah."


Hyuna memekik kaget dengan apa yang Laura lakukan, begitu juga dengan Aksa yang langsung berteriak dengan marah.


"Apa kau sudah gila, Laura?"


Aksa segera membantu Hyuna untuk mengelap air kopi yang terasa panas dikulit, sementara Hyuna mengatakan tidak apa-apa dan menyuruh Aksa untuk menjauh.


"Dasar pelakor. Berani sekali kau menggoda suamiku dan menyuruhnya untuk datang ke tempat ini, hah?" teriak Laura membuat semua orang yang ada di tempat itu langsung memperhatikan mereka.


Hyuna sama sekali tidak peduli dengan apa yang Laura katakan, dia lalu bergegas masuk ke dalam restoran untuk membersihkan tubuhnya.


"Mau ke mana kau?"


Laura langsung mencekal tangan Hyuna yang sudah masuk ke dalam tempat itu, sementara Aksa berusaha menarik Laura agara wanita itu melepaskan Hyuna.


"Lepaskan dia, Laura!" bentak Aksa.


"Oh, ternyata kau membela j*a*l*a*n*gmu ini ya?"


Hyuna yang sudah merasa tidak sabar langsung menghempaskan tangan Laura dengan kasar, sementara orang-orang yang ada di sana mulai bisik-bisik tetangga.


"Ada apa ini?"


Dayu yang sedang berada di ruangan langsung beranjak keluar saat mendengar keributan. Sontak dia terkejut saat melihat keadaan Hyuna.


"Apa yang terjadi padamu, Hyuna? Kenapa-"


"Tolong ajari karyawan Anda ini untuk berperilaku baik dan tidak merebut milik orang lain. Dasar p*e*l*a*c*u*r!"


"Bukankah kau yang lebih dulu merebut miliknya?"





Tbc.

__ADS_1


__ADS_2