Runtuhnya Janji Suci Pernikahan

Runtuhnya Janji Suci Pernikahan
Bab. 108. Netizen Julid.


__ADS_3

Pantai Bondi, adalah pantai yang ada di Sydney. Pantai yang sangat indah dengan nuansa pasir putih di pinggiran serta air laut yang sangat bersih.


Tak lupa disana juga terdapat banyam turis-turis luar negeri yang sangat dominan. Sebab, mereka memang sangat senang dengan sinar matahari yang begitu cerah. Berbeda sama penduduk Indonesia yang malah memilih untuk berada di dalam ruangan dari pada di luar, demi menjaga warna kulit yang mudah sekali berganti.


Ada banyak tenda kecil yang hanya ada kursi panjang dan juga payung besar. Akan tetapi, disini Damian mengajak Risa dan Wildan sedikit kearah pojok yang tidak terlalu ramai pengunjung.


Semua itu untuk mengi dari Wildan dari pandangan tak sedap saat dia melihat cara berpakaian orang luar. Itu malah akan merusak pikirannya, di saat otaknya masih sangat polos untuk menangkapnya.


Wildan bermain pasir sesekali ke pinggir pantai dengan pengawasan Damian dan Risa. Hanya saja mereka duduk santai kurang lebih 2 meter dari Wildan yang asyik bermain membuat sebuah istana.


Damian melihat ke arah sambilnya, dimana Risa tersenyum menatap Wildan yang asyik bermain. Awalnya dia ingin sekali berenang, tetapi keadaan cuaca yang sangat panas tidak berani membuatnya berenang.


Kemungkinan besar dia bisa berenang ketika matahari sudah mulai tenggelam. Hanya saja Wildan tidak membolehkannya, cukup bermain air di pinggir saja. Sebab cuaca benar-benar tidak mendukung.


"Ke depannya nanti, kamu mau bagaimana?" tanya Damian, sekilas menatap Risa dan kembali menatap Wildan.


"Ma-maksud Tuan, ke depannya gimana? Aku tidak paham." jawab Risa menoleh, sedikit menyipitkan matanya karena terlalu silau melawan sinar matahari.


"Ya, setelah berhasil melupakan Vicky, apa kau tidak berniat untuk mencari penggantinya?" tanya Damian, yang sudah mulai menurunkan sedikit perkataan kasarnya. Akan tetapi masih tetap cuek, seperti biasanya.


"Oh masalah itu, ya untuk saat ini aku


cuman fokus bekerja dan berkarier. Namun, kalau memang sudah ada jodohnya atau ada yang mau denganku. Ya, bisalah aku pikirin lagi."


Risa menjawab pertanyaan Damian dengan santai sambil terus menatap laut, dan sesekali menjawab panggilan dari Wildan yang terlihat bahagia saat prlahan istananya sudah mulai jadi.


"Seandainya jodohmu sudah ada di depan mata, terus dia langsung mengajakmu menikah tanpa berpacaran. Apakah kamu bersedia?"


Perkataan Damian membuat Risa syok, dia langsung menoleh ke arahnya dengan tatapan penuh arti.


"Maksud Tuan, jodoh di depan mata itu Tuan gitu? Tuan mau ngelamar saya tanpa melalui proses pacaran gitukah?"


Degh!


Hati Damian pun mulai goyang, dia benr-benar terkejut ketika Risa bisa langsung mengerti apa maksud dan tujuannya berbicara seperti itu.


"Astaga, kenapa dia bisa secepat itu menanggapi perkataanku. Niatnya aku cuman ingin memancingnya, untuk mencari informasi siapa yang sedang dekat dengannya. Namun, kenapa malah aku terjebak sendirin!" gumam batin Damian, membuatnya jantungnya berdebar tidak karuan.


"Kok Tuan diam, berarti apa yang aku bicarakan itu be--"


"Ckk, apaan sih. Si-siapa juga yang mau melamarmu, itu cuman seandainya ya. Jadi masih angan-angan, bukan pasti!" sahut Damian, mencoba membantah semuanya demi menutupi rasa gugupnya.


"Oalah, aku kira Tuan. Kalau memang Tuan jodohku, ya aku tak masalah. Selagi sama-sama suka, ya 'kan? Toh juga kita tidak tahu ke depannya seperti apa. Bisa aja Tuan yang jadi jodohku, atau---"

__ADS_1


"Ucapanmu udah mulai melantur! Dah sana mending kau temani Wildan. Aku mau beli minuman dulu!"


Damian yang sudah tidak kuat menahan rasa gugupnya di saat jawaban Risa mulai menyudutkan dirinya, segera pergi mencari minuman untuk merek bertiga dan sedikit cemilan.


Sebenarnya itu hanya alasan klasik bagi Damian agar dia bisa lepas dari semua jawaban Risa yang semakin membuatnya grogi. Apa lagi tangannya sudah sangat dingin, begitu juga jantungnya yang seakan mau copot.


Bila Damian teruskan, itu bisa jadi akan membuat dia masuk ke rumah sakit secara tiba-tiba dikarenakan terkena serangan jantung secara mendadak.


Sementara Risa yang melihat Damian pergi hanya bisa terkekeh kecil, sebab dia berhasil membuat seorang Damian yang terkenal dingin, cuek dan juga masa bodo bisa menjadi salah tingkah. Hanya karena mendengar semua jawaban yang memang asli dari dalam hati Risa.


Namun, Risa malah menganggap itu sebagai rasa jahilnya kepada atasannya itu. Berbeda sama hatinya yang merasa sangat senang, melihat reaksi Damian.


Itu artinya Risa bisa merasakan jika Damian juga sebenarnya memiliki perasaan padanya, sama dengannya. Hanya mereka masih sangat gengsi untuk mengungkapkannya


Risa kembali bermain dengan Wildan sesekali tertawa sambil menjahilinya. Entah mengapa setelah melihat respon Damian, membuat hati Risa sangat senang sehingga dia mengapreasikannya dengan menggangu Wildan.


*


*


Sementara itu di sisi lain terlihat Yudha sedang setres di Kantor karena di tinggal sendirian bekerja. Bayangkan saja Vicky pergi berbulan madu bersama istrinya, sedangkan Damian juga pergi bersama Risa untuk mengasih Wildan.


Kini, hanya tinggal Yudha seorag diri di ruangan itu yang sibuk mengerjakan semua pekerjaan mereka. Dia sampai tidak mengerti yang mana dulu harus dia kerjakan. Apa lagi dia baru beberapa bulan bergabung di Perusahaan itu, ibarat kata Yudha ini seperti karyawan baru yang lagi magang.


Dia harus lebih ekstra belajar untuk bisa memahami semua itu dalam waktu singkat. Rasanya Yudha ingin sekali menyerah dengan keadaan, disaat kepalanya sudah hampir pecah.


"Ayo, Yudha. Semangat! Kau pasti bisa, anggap saja kau sedang beradaptasi dengan pekerjaan ini. Nanti juga lama kelamaan kau akan bisa mengerjakan tugas ini dalam waktu hitungan detik!"


Yudha berbicara di sendiri bersama semua pekerjaan yang semakin lama semain menumpuk. Hanya saja Yudha tetap harus percaya diri, bila dia bisa mengerjakan semua itu sesuai dengan apa yang Damian inginkan.


Tepat di jam makan siang, Yudha langsung pergi menuju kantin Perusahan. Disana Yudha memesan beberapa menu andalannya, meskipun tidak mewah tetapi bisa mengenyangkan perutnya.


Di saat Yudha sedang asyik menikmati makanannya, tiba-tiba dia mendengar suara bisik-bisik yang berasal dari beberapa karyawan yang senang menggosip.


"Eh, lu tahu enggak sekarang Tuan Vicky lagi liburan sama itu istrinya yang baru, si janda kurang belaian."


"Hahh? Serius? Enak bener jadi tuh janda, udah dari keluarga miskin terus ketiban duren pula. Langsung dah, tajir melintir keluarganya."


"Begitu caranya gua juga mau kali, siapa yang bisa nolak duren, duda keren kaya Tuan Vicky. Cuma, sikapnya aja yang gua enggak suka. Dia terlalu kaku, cuek terus juga dingin."


"Huhh, bener tuh. Pasti sekarang istrinya lagi tidur belakang-belakangan, niat mencari bela*ian malah dapet pan*tat. Hahah ...."


"Bhahaha ... Benar tuh, pasti nyesel nikah sama si kutub."

__ADS_1


"Lagian penampilan pas-pasan malah cari orang berduit, akhirnya dapet dah tuh spek kanebo kering hahah ...."


Tawa mereka semua pecah ketika bersamaan, dimana ada 3 wanita biang kerok yang memang tidak menyukai pernikahan Vicky dan juga Hyuna.


Makanan yang ada di mulut Yudha benar-benar tidak ketelen sama sekali. Dia begitu panas saat mendengar gosip tentang Mbakknya yang dijelekan oleh karyawan di Perusahan Vicky.


Andaikan Vicky yang mendengarnya mungkin mereka sudah langsung di pecat secara tidak hormat. Akan tetapi, ini berbeda. Yudha tidak memiliki kekuasaan apapun.


Jadi dia hanya meletakkan alat makannya, lalu berdiri sedikit mendorong kursinya. Kemudian dia berjalan mendekati meja ketiga wanita itu dan pada akhirnya terdengar suara yang sangat keras.


Brak!


Yudha menggebrak meja mereka membuat ketiga wanita itu terkejut bukan main. Bahkan makanan serta minuman mereka pun menjadi berantakan di atas meja akibat pukulan tangan Yudha yang sangat keras.


"Heh, apa-apan ini, hah? Lihat, semua makanan kami jadi tumpah!" bentak salah satu wanita di meja itu, langsung berdiri menatap tajam ke arah Yudha.


"Disini tempatnya orang makan bukan menggosip, paham!"


"Dan satu lagi, kalian itu di tuntut untuk bekerja dengan sangat baik dan juga profesional. Akan tetapi, kenapa kalian sangat lancang membicarakan mereka?"


"Kau lupa, atasanmu itu pemegang kendali atas semua karyawan disini. Jadi, jika gosip ini sampai ke telinganya maka sudah di pastikan sampai kapanpun kalian tidak akan pernah diterima di Perusahaan manapun!"


Perkataan Yudha tidak membuat gentar mereka bertiga, meskipun mereka tahu bila Yudha ini adalah adik dari Hyuna. Akan tetapi bagi mereka Yudha tidak berkuasa sama sekali, jadi mereka tetap menganggap Yudha setara sama mereka.


"Ckk, dasar tukang ngadu mentang-metnang Kakaknya udah nikah sama Tuan Vicky. Lagaknya udah kaya atasan!"


"Cihh, lihat aja. Sampai kapanpun Tuan Vicky tetap akan menganggapmu sebagai bawahannya, bahkan jabatanmu juga tidak akan pernah lebih tinggi dari Tuan Damian. Jadi enggak perlu sok jagoan membela Kakakmu itu, dasar kacung!"


Mendengar semua perkataan itu membuat da*rah Yudha semakin mendidih. Dia marah bukan karena namanya di jelekkan, melainkan dia lebih menjaga nama Hyuna. Karena sampai kapanpun Yudha akan tetap menjadi tameng Hyuna, dari semua orang yang akan menyakitinya.


"Sudah puas berbicaranya? Baiklah, Nona-nona yang terhormat. Tinggu saja, Tuhan tidak akan pernah tidur. Satu persatu dari kalian pasti akan menerima apa yang sudah kalian perbuat!"


"Saya tidak memikirkan tentang jabatan, karena saya lebih memilih membela Mbak saya. Walaupun saya harus menjadi kacung, saya tetap bahagia. Setidaknya pernikahan Mbak saya dan Tuan Vicky selalu di berikan kelanggengan dan juga terhindar dari wanita gatel macam ulet!"


"Ohya, satu lagi. Jangan lupa perbaiki kinerja kalian, sebelum di tendang dari Perusahaan. Karena kualias kinerja lebih jelek dari pada ngegosip!"


Yudha langsung pergi meninggalkan kantin yang semakin ramai menyaksikan perdebadan mereka. Hampir semua karyawan mendukung Yudha, hingga membua ketiga wanita itu merasa kesal dan juga marah.


Napsu makan Yudha yang awalnya membara seketika langsung kenyang, hanya karena 2 suapan nasi dan segudang gosip yang menjelekan pernikahan Hyuna dan Vicky.



__ADS_1



Tbc.


__ADS_2