
Risa benar-benar tidak bisa mengendalikan jantungnya yang berdegup kencang. Sangking kuatnya, Damian sampai bisa mendengar suara dari jantungnya itu.
"Ada apa dengannya? Apa dia sedang sakit?" Damian merasa terkejut saat mendengar detak jantung Risa yang berdegup sangat kencang. Dia lalu melirik wanita itu yang saat ini sedang menundukkan kepala sambil mengerjakan apa yang dia perintahkan.
Damian menggelengkan kepalanya dan mencoba untuk tidak memikirkan tentang semua itu, lalu fokus mengawasi pekerjaan kedua manusia itu.
Setelah acara lamaran selesai, Vicky dan keluarganya terpaksa tidur di rumah tetangga Hyuna karena rumah orangtuanya tidak cukup untuk menampung semua orang.
Biasanya, mereka akan langsung pulang jika sudah selesai acara. Namun, karena lokasi rumah Hyuna yang jauh dari kota, membuat mereka harus menginap untuk malam ini.
"Maaf karena Tante harus tidur di rumah tetanggaku," ucap Hyuna dengan lirih. Sebenarnya dia sudah menyiapkan kamarnya untuk orang tua Vicky, tetapi wanita paruh baya itu malah tidak mau dan menyuruh Risa saja yang tidur bersamanya.
"Tidak apa-apa, Hyuna. Mau di mana pun 'kan sama aja," balas Vanes dengan senyum hangatnya. Dia lalu segera menyuruh Hyuna untuk istirahat juga karena memang sudah larut malam.
Hyuna menganggukkan kepalanya dan bergegas pergi dari rumah itu. Dia berjalan kembali ke rumahnya yang hanya berjarak beberapa meter saja.
"Hyuna."
Langkah Hyuna terhenti saat mendengar panggilan dari seseorang, dia menoleh ke arah samping dan terkejut saat melihat keberadaan Vicky di tempat itu.
"Mas, kok belum tidur?" tanya Hyuna dengan menyipitkan matanya. Padahal tadi Vicky lebih dulu masuk ke dalam rumah itu untuk menidurkan Wildan.
"Aku tidak bisa tidur, rasanya semua ini enggak nyata. Lihat, dadaku masih berdebar-debar," ucap Vicky sambil memegang dadanya, membuat Hyuna langsung memalingkan wajah malu.
"Apa sih kamu, Mas!"
Wajah Hyuna merah padam mendengar ucapan Vicky. Bisa-bisanya laki-laki itu mengatakan sesuatu yang membuatnya malu seperti ini, dan sejak kapan Vicky menjadi lelaki yang bermulut manis?
Vicky tergelak saat melihat wajah Hyuna merah padam. Ah, rasanya dia ingin sekali mencubit pipi wanita itu yang memerah seperti tomat.
"Ka-kalau gitu aku masuk ke dalam dulu, Mas. Gak enak nanti dilihat sama tetangga," ucap Hyuna kemudian.
__ADS_1
Jika di kota, mungkin mereka biasa bicara berdua seperti ini, tetapi jika di desa dengan adat istiadat dan keagamaan yang masih sangat kental. Tentu akan menjadi masalah besar, dan akan membuat malu keluarga.
"Baiklah. Tapi bisakah kau memberikan sesuatu untukku?"
Hyuna mengernyitkan kening dengan bingung. Apa ada perlengkapan tidur Vicky yang kurang? "Mas mau apa, Bantal?" Hyuna bertanya dengan tatapan bingung.
"Em ...." Vicky berpikir sejenak sambil mendongakkan kepalanya dengan berpangku tangan, membuat Hyuna semakin dilanda kebingungan.
"Ucapan selamat malam penuh cinta,"
"Hah?"
Hyuna semakin tidak mengerti dengan apa yang Vicky ucapkan. Sebenarnya apa yang laki-laki itu inginkan? Dan apa maksud dari ucapannya tadi? Dia menatap laki-laki itu dengan tatapan bingung, membuat Vicky langsung tergelak.
"Mas!"
Hyuna menunduk untuk mengambil batu kecil di samping kakinya, lalu melemparkan batu itu ke arah Vicky saat baru memahami apa yang laki-laki itu ucapkan. Dia lalu memajukan bibirnya sampai beberapa senti ke depan, sambil bertolak pinggang.
"Cih." Hyuna mendengus sebal. Bisa-bisanya laki-laki itu mempermainkannya seperti ini, benar-benar membuatnya malu dan kesal secara bersamaan.
"Sudahlah. Aku mau tidur," ucap Hyuna dengan sedikit ketus, dia lalu kembali melangkahkan kakinya untuk masuk ke dalam rumah.
"Hyuna."
Lagi. Suara panggilan Vicky kembali terdengar membuat Hyuna yang sudah berada di teras kembali berhenti, dia berbalik dan kembali menatap laki-laki itu dengan tajam.
"Selamat malam, Hyuna. Mimpi indah ya," ucap Vicky sambil menatap Hyuna dengan hangat, seolah ingin menunjukkan betapa besar cinta yang dia punya.
Hyuna tersenyum simpul dengan rona merah dikedua pipinya. "Selamat malam juga, Mas. Mimpiin aku ya, aku mencintaimu." Dia langsung berbalik dan masuk ke dalam rumah.
Vicky mematung di tempatnya berdiri saat mendengar apa yang Hyuna ucapkan. Dia tidak menyangka jika wanita itu akan mengatakan kata-kata selamat malam yang berhasil mengguncang jiwanya.
__ADS_1
"Terus, apa itu tadi? Dia, dia mengatakan cinta padaku?"
Dada Vicky kian berdegup kencang saat kembali mengingat kata-kata yang Hyuna ucapkan beberapa saat yang lalu. Senyum lebar terbit dibibirnya, dengan hati berbunga-bunga.
"Aku juga mencintaimu, Hyuna. Aku sangat mencintaimu," ucap Vicky dengan suara tertahan.
Ingin sekali Vicky berteriak dengan sekencang mungkin agar semua orang tahu jika dia sangat mencintai Hyuna, tetapi tidak mungkin dia melakukannya tengah malam begini. Atau alat-alat dapur para tetangga akan terlempar ke tubuhnya.
Hyuna sendiri langsung masuk ke dalam kamarnya dengan wajah merah padam. Dia menutup wajahnya dengan kedua tangan karena merasa benar-benar malu, dan baru pertama kali dia merasakan perasaan seperti ini.
"Dasar gila. Sebenarnya apa yang aku pikirkan sih? Bisa-bisanya aku berkata seperti itu," ucap Hyuna dengan lirih. Dia memukul keningnya sendiri karena sudah melakukan sesuatu yang sangat memalukan. Dia yakin saat ini Vicky pasti sedang menertawakannya.
Sangking fokusnya dengan diri sendiri, Hyuna tidak sadar jika saat ini ada orang lain yang berada di dalam kamarnya.
"Sepertinya Mbak sedang bahagia sekali, ya."
Hyuna tersentak kaget saat mendengar suara seseorang. Sontak matanya membulat sempurna saat melihat Risa sedang duduk diranjang sambil menatap ke arahnya.
"Ri-risa, kau di sini?" tanya Hyuna sambil tersenyum canggung.
Risa menganggukkan kepalanya. "Tadi tante ngechat, dan dia bilang kalau aku tidur di sini." Dia menghela napas kasar, padahal pekerjaannya masih belum selesai.
"Ah, begitu ya." Hyuna mengangguk-anggukkan kepalanya. "Ya sudah, kalau gitu istirahatlah. Aku akan memasang obat nyamuk." Dia berjalan ke arah nakas yang berada di samping ranjang.
"Apa Mbak sangat mencintai Kak Vicky?"
•
•
•
__ADS_1
Tbc.