Runtuhnya Janji Suci Pernikahan

Runtuhnya Janji Suci Pernikahan
Bab. 81. Persiapan Pulang Kampung.


__ADS_3

Hyuna terkesiap. Bagaimana mungkin Vicky tahu apa yang dia pikirkan? Apa laki-laki itu cenayang?


"Jangan banyak berpikir. Aku haus, apa aku boleh minta air?"


Lamunan Hyuna terhenti. Dia lalu tersenyum canggung karena lupa menawari laki-laki itu minum, tetapi salah Vicky sendiri karena datang dan mengejutkannya seperti ini.


"Mas mau minum apa?" tanya Hyuna menawarkan. Biasanya dia akan membuatkan kopi, tetapi mana tahu saat ini laki-laki itu ingin minuman yang berbeda.


"Aku ingin kopi pakai susu," jawab Vicky sambil tersenyum penuh maksud, membuat Damian yang ada di sampingnya memutar bola mata malas.


"Susunya enggak ada. Aku beli sebentar, ya."


Hyuna beranjak pamit untuk pergi ke warung sebentar. Dia tidak suka minum susu, apalagi dengan Yudha. Itu sebabnya tidak pernah membeli susu, tetapi tumben sekali saat ini Vicky ingin dibuatkan kopi pakai susu olehnya.


"Kalau gak ada juga gak papa. Aku bisa minum saat kita sudah menikah nanti,"


"Hah?"


Hyuna menatap Vicky dengan bingung. Apa maksudnya? Apa sesudah menikah laki-laki itu akan rajin minum susu? Dia merasa tidak mengerti.


Sementara itu, Damian dan Yudha sama-sama memalingkan wajah ke arah yang berlawanan. Mereka merasa kesal dengan apa yang Vicky katakan, bagaimana mungkin laki-laki itu membahas sesuatu yang tidak sen*onoh seperti itu? Lagi pula 'kan, mereka berdua belum menikah.


"Apa yang kalian berdua pikirkan? Aku benar-benar ingin minum susu, sampai menikah nanti pun aku akan rajin minum susu," ucap Vicky menjelaskan.


Namun, siapa yang akan percaya ucapannya itu? Memangnya sejak kapan laki-laki itu suka susu? Mungkin, Vicky memang akan minum susu, tetapi berasal dari jenis susu yang berbeda.


Merasa tidak mengerti, Hyuna bergegas ke dapur untuk membuatkan kopi. Dia membuat 3 gelas, untuk ketiga lelaki yang saat ini ada di rumahnya.


Setelah selesai, Hyuna kembali bergabung dengan mereka. Dia meletakkan ketiga gelas kopi itu ke atas meja, lalu mempersilahkan mereka untuk menikmatinya.


Vicky tersenyum simpul lalu mengambil kopi itu dan menyeruputnya. Kemudian dia kembali meletakkannya di atas meja.


"Apa persiapanmu sudah selesai?" tanya Vicky sambil memperhatikan beberapa barang yang tersusun rapi di samping kamar. Ada 2 tas besar, juga beberapa kardus berisi entah apa.

__ADS_1


Hyuna menganggukkan kepalanya. "Sudah, tinggal dibawa saja." Dia lalu beranjak mendekati barang-barang yang akan dibawa, menyusun beberapa kardus agar bisa diikat jadi satu.


"Ya sudah, kalau gitu kita harus segera berangkat. Takutnya sampai sana terlalu sore," ucap Vicky. Dia lalu menyeruput kopinya sampai habis, dan beranjak bangun dari sofa.


Tidak bisa lagi menolak antaran Vicky, Hyuna memutuskan untuk ikut saja. Dia membereskan bekas kopi itu ke dapur, lalu mencucinya agar tidak ada lagi perlengkapan dapur yang kotor.


Setelah selesai, dia kembali masuk ke dalam kamar untuk berganti pakaian, tidak mungkin hanya memakai daster berlengan pendek kesukaannya saja.


Damian dan Yudha mulai memasukkan semua barang-barang yang akan dibawa ke dalam mobil. Mereka menyusunnya agar semua barang bisa masuk, dan bisa dibawa pulang ke kampung.


Selesai bersiap, mereka semua segera keluar dari rumah untuk segera berangkat ke kampung di mana tempat kelahiran Hyuna dan Yudha.


Namun, saat mereka semua hampir masuk ke dalam mobil. Tiba-tiba datanglah seorang lelaki dan wanita yang sangat mereka kenali, dan tentu saja membuat semua orang menatap dengan sangat tajam.


"Mas Aksa, Ibu?"


Hyuna sendiri terkejut saat melihat kedatangan kedua orang itu, apalagi saat melihat keadaan mantan mertuanya yang sedang duduk di atas kursi roda.


"Kenapa Ibu dan Mas Aksa datang ke sini?" tanya Hyuna sambil kembali menutup pintu mobil yang akan dinaiki.


"Bisa kita bicara sebentar, Hyuna?" pinta Aksa dengan penuh harap. Dia menatap dengan sendu, seolah ada sesuatu yang mencubit hatinya.


Hyuna menghela napas kasar, sebenarnya kenapa mereka masih saja terus menganggunya? Apa dia tidak bisa hidup tenang dengan kehidupannya sendiri?


Yudha yang sudah berada di dalam mobil kembali keluar saat melihat kedatangan dua orang itu, sementara Vicky dan Damian hanya menatap mereka dengan tajam.


"Maaf, aku harus segera pergi," ucap Hyuna. Dia tidak punya waktu lagi untuk bicara, dan sejujurnya dia juga tidak mau bicara dengan mereka.


"Jika ada sesuatu yang penting, bicarakan saja melalui ponsel. Calon istri saya harus segera pergi."


Deg.


Aksa dan Mona tersentak kaget saat mendengar ucapan Vicky, begitu juga dengan Hyuna yang tidak menyangka jika laki-laki itu akan mengatakan hal seperti itu.

__ADS_1


"Ca-calon istri?" tanya Mona dengan tidak percaya. Kedua pupil matanya membesar, dengan mulut terbuka seakan apa yang dia dengar benar-benar mengguncang jiwanya.


"Tentu saja. Mbakku sebentar lagi akan menikah, nanti aku akan memberi undangan untuk mantan suami dan juga mantan mertuanya."


Jleb.


Ucapan Yudha menancap tepat ke dada Aksa dan Mona membuat mereka terdiam. Kata-kata yang laki-laki itu ucapkan seakan menegaskan bahwa saat ini mereka sudah tidak punya hubungan apapun, apalagi saat ini Hyuna sudah menjadi milik orang lain.


"Kalau gitu kami permisi," ucap Hyuna kemudian membuat lamunan Aksa dan Mona terhenti.


Dengan cepat Mona meraih tangan Hyuna sampai tubuhnya terjatuh dari kursi roda, tentu saja membuat semua orang memekik kaget atas aksinya tersebut.


"Ibu!"


"Astaghfirullah."


Aksa segera membantu Ibunya untuk kembali duduk di atas kursi roda, sementara Hyuna terdiam kaku karena terkejut dengan apa yang wanita paruh baya itu lakukan.


"Maafkan Ibu, Hyuna. Ibu minta maaf atas semua kesalahan yang telah ibu lakukan," ucap Mona dengan terisak. Dia menepis tangan Aksa yang akan mengangkat tubuhnya.


"Bangunlah, Bu. Jangan seperti ini." Hyuna memegangi kedua bahu Mona, dan memaksanya untuk kembali duduk di atas kursi roda.


"Ibu akan tetap seperti ini sebelum kau memaafkan ibu, Nak."


Hyuna tersenyum miris. "Ternyata Ibu tidak berubah juga, ya. Masih tetap egois seperti dulu. Apa Ibu minta maaf supaya aku mau merawat Riska?"





Tbc.

__ADS_1


__ADS_2