Runtuhnya Janji Suci Pernikahan

Runtuhnya Janji Suci Pernikahan
Bab. 102. Entah Apa yang Terjadi.


__ADS_3

Risa menghirup udara segar sedalam-dalamnya. Kakinya menginjak batu yang ada di sekitaran pinggir sungai. Sungguh, udaranya terasa sangat sejuk. Apa lagi diiringi suara gemercik air yang akan semakin menambah ketenangan di tempat itu.


Dikarenakan adanya acara resepsi semua orang pun sibuk untuk membantu di rumah Hyuna. Sehingga sungai itu tampak sunyi, tidak ada satu pun orang di sana kecuali dia sendiri.


Risa duduk di bebatuan yang cukup besar sambil mengambil beberapa batu krikil yang bisa dia lembarkan ke dalam liran sungai tersebut.


"Rasanya aku sudah tenang bila perasaan itu telah benar-benar menghilang. Sekarang aku tinggal fokus dengan kehidupanku selanjutnya, terutama menghindari atasan gila itu!"


Pluk!


Satu krikil kecil Risa lemparkan ke aliran itu dengan segala kekesalan di raut wajahnya, ketika dia mengingat betapa menyebalkannya sosok Damian di matanya.


Di rasa Risa sedang melampiaskan kekesalnya itu, tiba-tiba saja dia mendengar suara yang sangat samar, bagaikan suara seseorang yang terbawa oleh angin.


"Risa!"


Risa yang mendengar panggilan samar itu hanya sedikit sambil menoleh, tetapi tidak menemukan siapapun segera kembali menatap aliran sungai.


"Si-siapa yang manggil namaku? Tunggu, kayaknya aku kenal dengan suara itu. Tapi, tidak mungkin dia ada di sini." Keluh Risa dalam keadaan bingung.


Risa kembali melanjutkan aktifitasnya, hanya demi membung semua perasaan kesal di dalam hatinya. Jika saja dia memiliki uang yang banyak, sudah bisa dipastikan Damian akan menjadi bawahannya sama seperti apa yang laki-laki itu lakukan padanya.


"Risa!"


Suara panggilan itu kembali terdnegar sehingga Risa mulai menyadari jika dirinya di panggil oleh seseorang, dia bergegas berdiri dan menatap ke segala arah untuk mencari siapa yang sebenarnya sejak tadi memanggilnya.


Lagi-lagi dia tidak menemukan seseorang di tepi sungai itu. Sampai seketika Risa mulai merasa ada yang tidak beres, mungkinkah ada hantu di tempat ini?


Akan tetapi, tiba-tiba Risa di kejutkan dengan kedatangan seseorang dari arah belakang yang langsung memarahinya tanpa sebab.


"Kau itu tuli, apa memang tidak mau mendengar?"


"Tu-tuan Damian?"


Risa berbalik sambil memundurkan langkahnya akibat terkejut karena melihat laki-laki itu ada di tempat ini, apa itu artinya sejak tadi Damian yang memanggilnya?


"Kenapa kau sekaget itu?" tanya Damian dengam ketus sambil menatap tajam.


"Ti-tidak apa-apa Tuan," jawab Risa dengan mengulas senyum tipis, tidak mungkin 'kan dia mengatakan jika terkejut saat melihat seseorang yang dihindari malah ada di depan mata?


"Kenapa kau ada disini?" tanya Damian kembali dengan tatapan yang sama sekali tidak mengendur.


"Sa-saya ...."


Wajah Riska terlihat bingung, tidak. Dia tidak mungkin mengatakan yang sebenarnya atau laki-laki itu akan murka. Lalu, apa yang harus dia katakan sekarang?


"Mau ngomong apa, hah?"

__ADS_1


"Sa-saya hanya ingin istirahat di sini, Tuan. Saya 'kan sangat lelah karena menyiapkan acara pernikahan mereka," jawab Risa dengan cepat. Dia benar-benar kesal dengan sikap Damian, akan tetapi sebisa mungkin Risa berusaha untuk menahannya agar tidak kelepasan.


Damian hanya diam saat mendengar jawaban Risa, dia lalu tersenyum miring membuat wanita itu begidik ngeri.


"Kau ingin istirahat, atau ingin menangis karena melihat tuan menikah dengan Hyuna?"


Deg.


Risa mengepalkan kedua tangannya dengan kesal. Kenapa Damian selalu saja membahas perasaannya? Apa menurut laki-laki itu perasaannya hanya sekedar candaan belaka?


"Kenapa diam? Apa yang aku katakan benar, bukan?" ucap Damian lagi yang membuat kesabaran Risa benar-benar berada di ujung tanduk.


"Kenapa Anda terus saja membahas perasaan yang coba saya lupakan? Apa menurut Anda semua itu hanya sekedar candaan belaka?" tanya Risa dengan tajam. Matanya memerah karena menahan kesal dan tangis secara bersamaan.


"Selama ini saya diam bukan berarti tidak merasakan apa-apa, tapi saya menahan semua itu karena menghargai Anda. Tapi Anda semakin kurang ajar dan tidak tau diri! Memangnya apa hubungannya semua itu dengan Anda?" teriak Risa dengan kekesalan tingkat tinggi.


Damian diam sejenak, dia lalu berjalan memutari Risa dalam kondisi kedua tangan berada di dalam saku celana. Tatapannya terus menatap Risa, hingga berhasil membuat tubuh Risa menjadi merinding.


Seketika Risa tersadar sedang berhadapan dengan siapa. "Ma-maafkan saya, Tuan. Saya tidak sengaja mengatakannya." Dia menunduk takut.


Damian tersenyum tipis, lalu berdiri tepat di hadapan wanita itu sambil membungkukkan tubuhnya dan memajukan wajahnya ke wajah Risa.


Deg.


Risa terkejut saat dia menatap wajah Damian dalam jarak kurang lebih satu jengkal. Untuk yang pertama kalinya, Risa bisa melihat wajah tampan seorang Damian dalam jarak sedekat ini.


Tubuhnya yang mulai melemah karena syok, membuat keseimbangan kakinya tidak stabil dan akhirnya Risa terpeleset bebatuan.


Kedua bola mata mereka saling menatap satu sama lain. Memberi kesan yang begitu dalam, tanpa sedikit pun ada perkataan yang keluar dari mulut mereka.


Hanya ada kesunyian, kicauan burung berterbngan, gemericik aliran sungai yang semakin deras. Semua itu malah membuat tatapan itu semakin mendalam.


Selama kurang lebih 5 menit mereka setia beradu pandang, bersamaan dengan wajah yang semakin mendekat membuat jantung keduanya berpacu dengan cepat.


Dag, dig, dug!


Suara detakan jantung yang mulai berkerja sangat cepat, membuat aliran napas mereka tidak beraturan. Sampai pada akhirnya suara parau Damian memecahkan kesunyian tersebut.


"Lain kali hati-hati, jangan menyusahkan orang!" celetuk Damian, berusaha untuk menutupi wajahnya yang mulai memanas dengan sikapnya yang dingin.


"Ma-maaf, Tuan. Te-terima kasih sudah menyelamatkan saya." ucap Risa, dengan salah tingkah. Dia langsung berusaha untuk berdiri dengan baik dan benar.


"A-ada apa Anda mencari saya? Jika tidak ada yang penting, saya ingin kembali ke acara," ucap Risa kemudian. Dia mencoba untuk melakukan apa yang terjadi di antara mereka, termasuk teriakannya tadi.


"Ti-tidak!" jawab Damian cepat, tetapi sedikit terbata dan terdengar gugup. Seakan-akan apa yang ingin mau dia sampaikan hilang begitu saja bersamaan dengan detak jantungnya yang sudah tidak karuan.


"Ba-baiklah, kalau begitu saya permi-- arrghh ...."

__ADS_1


Baru saja Risa ingin berbalik, kakinya kembali terpeleset sampai membuat kakinya terkilir. Perlahan Risa duduk sambil memijat kakinya yang malah bertambah sakit.


"Bukan gitu cara mijatnya!" ucap Damian langsung berjongkok, dan menangkis tangan Risa cukup kencang.


"Sstt, Tu-tuan sakit! pelan - pelan,"


"Berisik!"


Damian membentak Risa, lalu fokus untuk memijat kakinya. Meskipun Damian bukan tukang pijat, tetapi dia sedikit mengerti letak bagian-bagian urat tersebut.


Suara ringisan serta tangisan Risa membuat seorang menduduk yang ingin mengambil alir dari sungai menjadi salah paham. Kurang lebih ada 3 orang yang langsung berlari mencari sumber suara rintihan itu.


"Aargghh ... Tu-tuan, sakit!" jerit Risa, menangis sesegukan.


"Sedikit lagi, tahan sebentar kenapa sih!" pekik Damian dengan kesal.


"Ehh, kalian! Sedang apa di sini, hahh? Jangan-jangan kalian lagi berbuat tidak baik di sungai ini!" teriak satu orang yang sudah mencapai tempat Risa dan Damian lebih dulu dari kedua temannya.


Damian menoleh, lalu mendongak menatap seorang penduduk yang sedang membawa ember cukup besar yang akan diisikan air dari sumber mata air.


"Ckk, apaan sih. Enggak lihat, ini kakinya terkilir!"


Setelah melihat sendiri apa yang di katakan Damian benar adanya, membuat mereka langsung menatap satu sama lain sambil menyengir serta


menggaruk kepalanya yang tidak gatal.


"Ma-maafkan kami, Tuan. Kami kira---"


"Makannya lain kali lihat dulu jangan asal nuduh!" jawab Damian dingin.


"Su-sudah, Tuan. Ka-kakiku sudah membaik, aku mau kembali ke acara pesta aja. Sebelumnya maaf, Pak. Kami tidak seperti apa yang Bapak-bapak pikirkan, tadi kaki saya terkilir dan dia atasan saya, yang membantu saya."


Risa menjelaskan sedikit, membuat Bapak-bapak itu mengerti. Kemudian mereka kembali meminta maaf dan pergi menuju sumber mata air yang tidak jauh dari sungai.


Risa berusaha berjalan walaupun pincang, membuat keseimbangan dia kembali hampir terjatuh jika bukan Damian yang langsung menolong.


"Ck, menyusahkan saja!"


Damian langsung memapah Risa dalam keadaan wajah kesal, membuat Risa terkejut hingga jantungnya kembali berdetak semakin cepat. Rasanya Risa ingin jatuh pingsan, tetapi dia menahan semua itu agar tidak membuat Damian semakin menang banyak.


Selama perjalanan kembali ke acara, mereka masing saling berdebat, dan membuat Risa langsung mengalah. Sebab, berdebat dengan Damian sama saja dengan dia menghabiskan energi. Apa lagi, perkataannya yang nyelekit selalu membuat Risa kesal.


"Sebenarnya apa sih, mau laki-laki gila ini?"



__ADS_1



Tbc.


__ADS_2