
Setelah semua acara adat-istiadat selesai, mereka segera bersiap-siap untuk berangkat ke kota malam itu juga. Semua keluarga besar akan ikut pergi, baik keluarga Hyuna dan juga Vicky bersiap-siap menuju kota.
Rombongan yang terdiri dari keluarga inti wanita dan pria itu menggunakan 3 mobil. Yang pertama mobil khusus untuk pengantin yang terdiri dari Hyuna, Vicky dan juga anaknya Wildan. Lalu, mobil kedua khusus keluarga Vicky dan yang ketiga keluarga Hyuna.
Mereka saling beriringan satu sama lain, untungnya semakin malam jalanan semakin kosong. Mereka yang awalnya bisa menghabiskan waktu di jalan kurang lebih 5 jam, kini bisa menjadi 3 jam lebih cepat dari biasanya.
Ketiga mobil semua menggunakan supir pribadi, termasuk mobil pengantin pun sama. Sebab, mereka tidak akan kuat menyetir sendiri karena sudah terlalu lelah dengan acara pernikahan.
Di dalam mobil pengantin, Wildan duduk di tengah-tengah antara Vicky sang papa dan juga Hyuna mama barunya.
"Pa, Ma," ucap Wildan sedikit mendongak menatap Vicky dan Hyuna secara bergantian.
"Apa, Sayang?" jawab Hyuna tersenyum menatap anak sambungnya.
"Hem, kenapa?" sahut Vicky, menunjukkan kedatarannya.
"Will seneng deh, sekarang Wildan sudah punya Mama. Rasanya itu bahagia banget, akhirnya Wildan bisa merasakan punya keluarga yang utuh kaya teman-teman Wildan yang lain."
"Mama sama Papa seneng 'kan, bisa jadi Papa sama Mama Wildan?"
Anak yang masih kecil itu, menunjukkan betapa dia sangat bahagia ketika Hyuna telah sah untuk menjadi Ibu sambungnya. Selama ini Wildan kekurangan kasih sayang seorang Ibu, jadi bisa dipastikan setelah Vicky menikahi Hyuna itu pasti akan berdampak kepada putranya. Walau ada Vanes dan Risa yang selama ini menjaga dan merawatnya, jelas rasanya sangat berbeda.
Hyuna menatap suaminya sekilas, kemudian dia memeluk anaknya begitu erat sambil mencium pucuk kepalanya.
"Hem, Mama juga sayang sama Wildan. Jadi, Mama cuma minta Wildan harus jadi anak baik ya. Terus juga Wildam enggak usah takut lagi sama Papa, karena sebenarnya Papa itu sayang sama Wildan." ucap Hyuna, membuat Wildan tersenyum dan sedikit berkaca-kaca sebab dia tidak bisa mengapreasikan perasaannya dengan kata-kata.
"Hanya saja sikapnya yang masih terlalu dingin," sambung Hyuna di dalam telinga Wildan. Meski, Hyuna membisikan perkataan tersebut. Telinga Vicky sangatlah tajam, dia bisa mendengar apa yang Hyuna bisikan.
"Ekhem, ngomong apa kamu sama dia?" tanya Vicky, melirik ke arah istrinya.
"bu-bukan apa-apa. Ya kan, Sayang?"
__ADS_1
Hyuna terbata-bata di selingi cengiran untuk menutupi kegugupannya. Begitu juga Wildan, dia menganggukkan kepalanya dengan wajah yang masih sedikit takut pada Papanya.
"Udah, mendingan kalian tidur. Perjalanan masih jauh!" titah Vicky, menggunakan bahasa yang sedikit ketus. Dia kesal sekali karena tidak bisa berduaan dengan Hyuna, dan malah direpotkan oleh iblis kecil ini.
Hyuna pun terus memeluk Wildan, dan menyuruhnya untuk memejamkan mata disaat dia mulai menguap. Sama halnya Hyuna, dia pun mencoba untuk memejamkan matanya bersama anak sambungnya akibat sedikit kelelahan.
Tak lupa Vicky untuk siap siaga menjaga anak serta istrinya agar tidak terjatuh, bahkan tangannya kanannya pun dia rentangan untuk menjadi menjaga kepala istrinya agar tidak terbentur pinggiran pintu mobil.
*
*
Keesokan harinya, tepat pukul 8 pagi. Semua keluarga Vicky dan juga Hyuna sudah siap berada di sebuah gedung yang sangat mewah, megah dan juga luas.
Di sana mereka sudah menggunakan gaun masing-masing beserta jas khusus untuk menyambut para tamu yang hadir. Sama halnya Vicky, Hyuna dan juga Wildan yang sudah terlihat bagaikan pangeran dan juga putri di atas panggung pernikahan.
Acara resepsi ini benar-benar berkali-kali lipat dari acara di Desa tempat Hyuna tinggal. Bila di Desa keluarga Hyuna bisa mengundang 1 kacamatan, disini Vicky mengundang ribuan para tamu termasuk rekan bisnisnya yang sangat penting. Begitu juga teman satu kerjaan Hyuna.
Suasana pernikahan memang di desain sangat elegan, mewah serta tidak bisa di hadiri oleh sembarangan orang. Semua para tamu harus mengunakan undangan khusus atau bisa juga menunjukkan barkot agar acara resepsi tersebut bisa berjalan sangat lancar.
Gedung yang di desain bagaikan sebuah istana membuat orang begitu takjub. Mereka semua benar-benar seperti sedang menghadiri undangan seorang Pangeran besar.
Lampu, kursi dan juga meja semuanya bercorak berwarna putih bersih dengan sedikit gradasi warna cream disertai bunga warna warni di pinggiran. Semua itu sengaja di buat sesimpel mungkin, tetapi malah terlihat sangat mewah.
Mereka sengaja memilih dominan warna putih, sebab putih menunjukkan lambang kesucian. Sebagai simbol dan harapan mereka yang sangat ingin pernikahan ini menjadi pernikahan abadi, layaknya seorang bayi yang baru saja di lahirkan.
Mobil-mobil mewah semua memenuhi parkiran gedung yang sangat luas, belum lagi. Gaun, jas ataupun seragam semuanya banyak yang menggunakan merek ternama.
Contohnya, penampilan Vicky dan juga Hyuna. Mereka menggunakan gaun putih yang cukup panjang menyapu lantai, serta jas yang berwarna biru marun. Semua itu semakin menambah kesan kecantikan serta ketampanan mereka yang tiada tandingannya.
Di saat semua orang sedang asyik memberikan selamat kepala mempelai yang sudah resmi itu, tiba-tiba saja dari kejauhan ada seorang pria yang tidak lain adalah Aksa. Mantan suami dari Hyuna, dia hadir seorang diri dengan segala keberanian dan juga persiapan mentalnya.
__ADS_1
Melihat senyuman Hyuna yang sangat bahagia itu, berhasil menyayat hati Aksa dengan segala kerinduannya.
"Kamu cantik sekali dengan gaun itu, Hyuna. Bahkan lebih cantik dari saar kita menikah. Riasan wajah yang simpel, tetapi elegan menambahkan kecantikan alami dari wajah serta hatimu sendiri."
"Andai saja dulu aku tidak selingkuh, mungkin hubungan kita sampao detik ini akan baik-baik aja, Hyuna. Rasanya aku sangat menyesal, setelah perselingkuhan itu berhasil memisahkan kita."
"Aku sadar, bila aku ini bukan suami yang baik untukmu. Akan tetapi, kenapa rasanya sangat sakit ketika aku harus menyaksikan kamu berdiri di sana dengan pria lain? Apakah di dalam hati ini masih ada cinta yang tersisa untukmu?"
"Entahlah, aku tidak mengerti. Kenapa aku bisa sebo*doh itu menyakiti hatimu dan juga keluargamu. Bila waktu bisa di putar kembali, aku ingin kita sama-sama lain. Hanya saja, semua itu sudah todak bisa lagi."
"Anggap saja semua ini memang takdir kita yang tidak lagi berjodoh, aku cuma bisa mendoakan semoga suamimu bisa lebih mencintaimu dari pada aku. Dan kalian bisa hidup bahagia untuk selamanya."
Aksa berbicara kecil sambil matanya menatap ke arah atas panggung, melihat Hyuna dan Vicky sedang menyambut para tamu dalam keadaan wajah yang terlihat sangat bahagia.
Tak terasa air mata menetes di pipi Aksa, dia benar-benar sangat menyesal telah menyia-nyiakan wanita sebaik Hyuna. Hingga akhirnya pria lainlah yang menjadi pemenang untuk bisa memiliki Hyuna selamanya.
Di saat perasaan Aksa tidak karuan, seseorang menepuk punggungnya dari arah belakang membuat Aksa langsung menoleh ke arah kanan. Dimana seorang pria gagah berdiri di sampingnya.
"Bagaimana, mantan suami? Sakit ya?" tanya Yudha dengan nada sindira. "Nyesel? Baguslah, itu yang namanya karma. Kau menderita atas ulahmu, dan Mbakku bahagia diatas penderitaamu. Sama seperti kau bahagia diatas penderitaannya!" Dia berucap dengan tajam, membuat Aksa hanya bisa terdiam dengan segudang luka.
"Anggap saja Mbakku sedang selingkuh, akan tetapi beda versi denganmu. Kau selingkuh jalur haram, dan Mbakku selingkuh jalur halal! Impas bukan? Untung, Mbak Hyuna bisa mendapatkan pria yang jauh lebih baik diri pada dirimu. Dari pada dia bertahan denganmu, yang ada makan hati!" Kata-kata yang Yudha lontarkan bak air garam yang menyiram luka Aksa yang menganga lebar.
"Namun, aku hanya bisa berdoa. Semoga perubahanmu ini bukanlah berubahan semata untuk mencari perhatian banyak orang, sebab cukup Mbakku yang menjadi korbanmu!" ucap Yudha dengan tajam, berharap agar hidup Aksa bisa jauh lebih baik lagi.
Aksa yang mendengar itu, hanya bisa terdiam. Dia tidak bisa membantah semua itu, karena ini memang kesalahannya. Sehingga dia cuma bisa tersenyum, dan meminta maaf.
"Kau benar. Hukum karma sedang berjalan sekarang, dan membalas semua yang sudah aku lakukan."
•
•
__ADS_1
•
Tbc.