
Setelah mengambil keputusan, Vicky segera mengambil ponselnya dan mengirim pesan untuk Risa. Dia harus segera menyelesaikan masalah dengan wanita itu, setelahnya baru bisa memboyong Hyuna untuk dijadikan sebagai istri.
Tepat pukul 8 malam, Vicky dan Damian keluar dari perusahaan menuju salah satu restoran yang berada tidak jauh dari tempat itu.
Sesampainya di tempat tujuan, kedua lelaki itu segera turun dari mobil dan masuk ke dalam restoran.
Senyum seorang wanita yang sedang menunggu kedatangan Vicky tampak mengembang sempurna saat melihat laki-laki itu, dia bahkan sampai berdiri untuk menyambut Vicky yang sedang berjalan ke arahnya.
"Damian sudah memesan ruangan, kenapa kau menunggu di sini?" tanya Vicky dengan heran.
Risa tersenyum manis sambil menyingkirkan anak rambut yang menutupi matanya. "Aku di sini karena ingin menunggu Kakak, enggak enak kalau di ruangan itu sendirian."
Vicky mengangguk paham lalu segera melanjutkan langkahnya menuju lantai 2, di mana Damian sudah menyiapkan private room untuknya dan juga Risa.
Risa memandang Vicky dengan mata berbinar-binar, tentu saja dengan debaran jantung yang seakan sedang berpacu dengan sangat cepat.
"Silahkan, Nona."
Risa tersentak kaget saat mendengar suara Damian. "Ba-baiklah." Dia segera melangkahkan kakinya untuk mengikuti Vicky, sementara laki-laki itu tetap berdiri di tempat itu.
Setelah berada di ruang private, para pelayan menyuguhkan makanan dan minuman untuk Vicky dan juga Risa. Kemudian mereka keluar dari tempat itu setelah tidak ada lagi yang dibutuhkan.
"Makanlah, Risa," ucap Vicky sebelum menikmati makanan yang sudah tersaji di hadapannya.
Risa mengangguk dengan kepala tertunduk. Dia merasa gugup, bahkan sangat gugup jika berduaan seperti ini dengan Vicky.
"Jantungku rasanya mau meledak."
Risa menekan dadanya dengan sebelah tangan, jangan sampai laki-laki itu mendengar suara detak jantungnya yang berdegup kencang.
Sebenarnya Risa masih tidak percaya saat melihat pesan yang Vicky kirim sore tadi. Dia yang saat itu sedang berada di kampus langsung bergegas pulang ketika mendapat ajakan makan malam dari laki-laki itu, walau merasa ada sedikit yang mengganjal pikirannya.
Risa lalu mencoba untuk menikmati hidangan yang telah tersedia, walaupun dia tidak bisa merasakan apakah makanan itu enak atau tidak karena kegugupan yang sedang di rasakan.
__ADS_1
Beberapa saat kemudian, Vicky sudah menyelesaikan makannya membuat Risa buru-buru memasukkan makanan yang masih tersisa di piringnya.
"Tidak perlu buru-buru, aku akan menunggumu sampai selesai," ucap Vicky sambil mengusap mulutnya dengan tisu.
Risa kembali mengangguk, tetapi dia tetap cepat-cepat mengunyah makanannya karena merasa tidak nyaman jika membuat Vicky menunggu.
Vicky melirik ke arah Risa yang sudah selesai makan, dia yang sempat mengeluarkan ponsel kembali memasukkannya ke dalam saku jas.
"Aku mengajakmu ke sini karena ingin membicarakan sesuatu, kau pasti sudah tahu 'kan?"
Risa kembali mengangguk. Tentu saja dia tahu jika Vicky ingin membicarakan sesuatu, jika tidak maka mustahil laki-laki itu mengajaknya bertemu, apalagi makan malam.
"Apa yang ingin Kakak bicarakan?"
Risa merasa cemas. Sangat kecil kemungkinan jika Vicky ingin membahas sesuatu yang akan membuatnya bahagia, malah laki-laki itu seperti akan membuatnya patah hati.
Namun, sebelum bertemu dengan Vicky. Risa sudah menyiapkan hati. Tidak peduli apapun yang akan laki-laki itu lakukan, tetapi malam ini dia akan mengungkapkan semua isi hatinya. Vicky harus tahu jika selama bertahun-tahun dia sudah mencintai laki-laki itu.
"Aku sudah mencarikan rumah untukmu, mulai besok kau sudah bisa menempatinya."
Tubuh Risa menegang saat mendengar ucapan Vicky. "Ka-kakak mengusirku?" Dia menatap laki-laki itu dengan tidak percaya.
"Tentu saja tidak." Vicky menggelengkan kepalanya. "Sudah saatnya kau menjadi wanita mandiri, dan aku tidak akan ikut campur lagi dalam hidupmu. Setelah wisuda, kau akan langsung bekerja di perusahaan."
Risa menghela napas getir. Tatapannya terlihat nyalang, dengan degup jantung yang berubah di penuhi kemarahan.
"Apa semua ini karena wanita itu?" tanya Risa dengan bibir bergetar, bahkan kedua matanya sudah memerah hendak mengeluarkan cairan.
Vicky mengernyitkan kening dengan tidak mengerti. "Apa maksudmu?"
"Semua ini karena Hyuna, 'kan? Kakak seperti ini karena wanita itu!" teriak Risa dengan penuh kemarahan, membuat Vicky mengepalkan kedua tangan.
"Jangan membawa-bawa Hyuna, Risa," ucap Vicky dengan penuh penekanan.
__ADS_1
Risa tertawa miris. Dia segera mengusap air mata yang berhasil lolos dari kedua matanya, padahal sudah ditahan dengan sekuat tenaga.
"Aku mencintaimu, Kak. Sejak dulu aku-"
"Hentikan!"
Vicky langsung berdiri dari duduknya membuat Risa terkesiap, dia bahkan belum menyelesaikan apa yang ingin dikatakan.
"Cukup, Risa. Jangan melewati batas kesabaranku." Vicky menatap Risa dengan tajam, sementara Risa beranjak bangun dengan mata memerah penuh air mata.
"Aku mengatakan yang sejujurnya, Kak. Aku benar-benar sangat mencintaimu, sejak dulu aku hanya mencintaimu," ucap Risa dengan cepat dan penuh penekanan. Ucapannya membuat darah Vicky seketika mendidih.
"Tolong dengarkan aku, Kak." Risa memandang Vicky dengan sayu. "Aku benar-benar mencintaimu, sejak dulu hanya kaulah laki-laki yang aku cintai. Tidak bisakah kakak menerimaku sebagai pengganti kak Friska?"
Wajah Vicky merah padam dengan gurat kemarahan yang terlihat jelas. Andai yang ada di hadapannya bukan adik dari almarhum sang istri, mungkin dia akan melakukan hal yang tidak bisa dibayangkan sebelumnya.
Risa terus memandang Vicky dengan sendu. Persetan dengan apa yang laki-laki itu pikirkan, dia sudah terlanjur basah. Maka lebih baik mandi sekalian.
"Kak."
Vicky tersentak kaget dan langsung menepis tangan Risa yang memegang tangannya. "Jangan menyentuhku!"
Risa terdiam, tetapi dia mencoba untuk tetap berani demi mendapatkan cintanya. "Kasi kesempatan untukku, Kak. Biarkan aku menjadi pendampingmu, dan menjadi ibu untuk Wildan."
Cukup, sudah cukup. Vicky benar-benar sudah tidak bisa menahannya lagi. "Segera kemasi barang-barangmu, dan besok kau harus sudah pergi dari rumahku." Dia lalu berjalan keluar dari ruangan itu tanpa melihat ke belakang.
•
•
•
Tbc.
__ADS_1