Runtuhnya Janji Suci Pernikahan

Runtuhnya Janji Suci Pernikahan
Bab 96. Memberi Pelajaran.


__ADS_3

Setelah semalaman tidak dibukakan pintu, Laura beranjak bangun dari tempat itu untuk menunggu Aksa keluar dari rumah. Beberapa tetangga yang semalam sempat mendengar keributan, tampak memperhatikannya dari kejauhan. Namun, Laura sama sekali tidak peduli. Selama ini dia tidak dekat atau pun bergaul dengan mereka.


Laura tersentak kaget saat pintu rumah itu terbuka, dengan cepat dia menghampiri Aksa yang sedang menyeret koper kecil.


"Sayang, aku mohon dengarkan aku dulu."


Aksa menarap Laura dengan tajam. Bukankah dia sudah mengusir wanita itu, tetapi kenapa Laura masih dengan tidak tahu malunya berada di sini?


"Aku tidak mau mendengar apapun darimu, jadi cepat pergi dari rumahku!" ucap Aksa dengan tajam dan penuh penekanan


Laura tidak bergeming. Dia menolak untuk pergi dari tempat itu dan terus memohon agar Aksa mau mendengarkan ucapannya.


"Apa yang aku lihat sudah menjelaskan semuanya. Jadi pergilah bersama dengan laki-laki itu, kau pasti akan mendapat kepuasan yang kau inginkan," ucap Aksa dengan sarkas. Dia membuka bagasi mobil dan memasukkan koper ke dalamnya.


"Aku salah, Aksa. Aku mohon maafkan aku," pintanya untuk yang kesekian kali. Tentu saja Aksa bukan laki-laki bod*oh yang mau menerima semua itu.


"Ah, benar. Ada sesuau yang kau lupakan," ucap Aksa sambil kembali berjalan ke arah pintu, dia membuka pintu itu dan masuk ke dalam, tetapi Laura tetap tidak diperbolehkan untuk masuk.


Laura mematung di depan pintu dengan penasaran. Sebenarnya apa yang dia lupakan, apakah ada sesuatu yang tertinggal saat sedang berhubungan dengan kekasihnya semalam?


Brak.


Laura tersentak kaget saat Aksa membuka pintu itu dengan kuat, lalu melemparkan tas dan pakaian ke tubuhnya.


"Sekarang kita tidak ada hubungan apapun lagi. Aku akan segera mengurus perceraian kita, jadi jangan ganggu aku lagi," ucap Aksa dengan tegas. Jangankan untuk kembali, dia bahkan enggan hanya untuk menatap wajah wanita itu.


Lalu, tiba-tiba Aksa kembali teringat dengan Hyuna. Apakah wanita itu merasakan hal yang sama saat dia mengganggu dan mengejar-ngejarnya? Sekarang semua itu berbalik kepadanya, dan rasanya benar-benar membuat kesal.


Setelah berusaha keras untuk masuk ke dalam mobil, Aksa langsung melajukannya meninggalkan tempat itu tanpa memperdulikan teriakan Laura yang terus memanggilnya. Terserah jika semua orang melihat pertengkaran mereka, dia sama sekali tidak peduli.


Laura menghentakkan kakinya dengan kesal. Kedua tangannya terkepal erat karena merasa emosi dengan apa yang Aksa lakukan.

__ADS_1


"Kau lihat saja, Aksa. Aku tidak akan melepaskanmu begitu saja!" gumam Laura dengan gurat kemarahan diwajahnya.


Begitulah manusia yang tidak pernah bersyukur. Saat sedang bersama, mereka malah berpaling dan menjalin hubungan dengan yang lain. Namun, saat sudah ketahuan, malah meminta untuk kembali.


Laura mengusap wajahnya dengan kasar. Dia tidak tahu harus melakukan apa untuk kembali mendapatkan Aksa, karena laki-laki itu adalah sumber uang untuknya.


"Benar. Semua ini terjadi karena mereka, jika Aksa tidak sibuk mengurus mereka, maka aku tidak akan kesepian dan bercinta dengan laki-laki lain," gumam Laura saat mengingat alasan Aksa selalu sibuk dan tidak punya waktu untuknya, tentu saja semua itu karena keluarga laki-laki itu.


"Lihat saja, aku akan membuat perhitungan dengan mereka." Laura lalu beranjak pergi dari tempat itu sambil membawa tasnya. Dia harus segera menemui mereka untuk memberi peringatan atau memberi pelajaran.


Sementara itu, di tempat lain terlihat Vicky dan semua keluarganya sudah sampai di rumah. Dia segera menelepon Hyuna untuk memberitahu jika dia sudah sampai, sekalian ingin mendengar suara wanita itu.


"Halo, assalamu'alaikum, Mas."


Vicky tersenyum saat mendengar suara sang pujaan hati, sementara disebrang telepon Hyuna sedang kebingungan karena tidak mendengar suaranya.


"Halo, Mas?"


Hyuna mengernyitkan keningnya saat mendengar ucapan Vicky, padahal dia yang tidak mendengar suara laki-laki itu, tetapi malah Vicky yang bertanya.


"Apa Mas sudah sampai rumah?" tanya Hyuna. Lupakan saja tentang tidak ada suara tadi.


"Sudah, baru saja. Apa kau merindukanku?" tanya Vicky, membuat Hyuna yang ada disebrang telepon merasa malu.


"Bagaimana dengan Mas, apa Mas merindukanku?"


"Tentu saja, aku sampai ingin kembali ke sana lagi rasanya," ucap Vicky dengan serius. Terdengar gelak tawa dari sebrang telepon membuat dia juga ikut tertawa.


Vanes dan Damian yang ada di samping Vicky menatap laki-laki itu dengan tatapan tidak percaya. Bisa-bisanya Vicky sampai mengatakan hal tidak masuk akal seperti itu, memang cinta bisa merubah manusia sampai ke tahap yang sangat mengkhawatirkan.


"Awasi tuanmu itu, Damian. Jangan sampai dia benar-benar pergi menemui Hyuna, awas aja dia!" ucap Vanes dengan geram, dan dijawab dengan anggukan kepala Damian.

__ADS_1


Setelah saling melepas rindu dengan sang kekasih, Vicky memilih untuk mengistirahatkan tubuhnya yang terasa lelah. Apalagi tadi malam dia sama sekali tidak bisa tidur karena ungkapan cinta dari Hyuna.


Pada saat yang sama, terlihat Laura sudah sampai di rumah sakit setelah meletakkan pakaiannya ke hotel yang sementara waktu ini akan dia sewa.


Laura melangkahkan kakinya dengan lebar untuk menemui keluarga Aksa, sekaligus memberi peringatan agar mereka tidak lagi mengganggu rumah tangganya dengan laki-laki itu.


Brak.


Mona dan Riska terlonjak kaget saat tiba-tiba pintu ruangan itu dibuka dengan kasar oleh seseorang, sontak Mona menajamkan pandangannya saat melihat kedatangan Laura.


"Mau apa kau datang ke sini?" tanya Mona dengan tajam.


Laura tersenyum sinis. "Enak kalian yah, ngabiskan yang suamiku di sini." Dia berucap dengan penuh sindiran sambil bersedekap dada.


"Kau bilang apa?" tanya Mona dengan tidak percaya. "Lancang sekali mulutmu berkata seperti itu, lagi pula putriku sedang sakit. Jadi tutup mulut busukmu itu." Hardiknya dengan tajam.


"Apa, sakit?" Laura langsung tergelak saat mendengarnya. "Anakmu ini bukan sakit, tapi gila. Jadi sebaiknya kau bawa dia ke rumah sakit gila, pasung sekalian biar gak bikin repot."


Mona mengepalkan kedua tangannya dengan geram. Dia lalu berdiri dari kursi rodanya, dan langsung melayangkan sebuah tamparan


Plak.


Laura tersentak kaget saat mendapat tamparan dari Mona. "Beraninya tua bangka sepertimu menamparku!"





Tbc.

__ADS_1


__ADS_2