Runtuhnya Janji Suci Pernikahan

Runtuhnya Janji Suci Pernikahan
Bab. 104. Perkara Malam Pertama.


__ADS_3

Malam semakin larut, satu persatu para tamu undangan mulai meninggalkan lokasi pesta. Kini, tingallah para keluarga inti saja yang masih berkumpul. Sebab, telah di sediakan kamar oleh Damian untuk masing-masing orang agar bisa segera beristirahat lebih tenang di hotel itu.


Wajah lesu terlihat jelas di wajah kedua pengantin. Bagaimana tidak lelah, mereka semua melakukan resepsi 2 hari berturut-turut dengan lokasi yang berbda dan cukup jauh. Sehingga waktu mereka hanya habis untuk acara, bukanlah istirahat.


"Ayo kita ke kamar, aku udah sangat lelah!" ajak Vicky kepada istrinya, sambil menggandeng dengan mesra.


Semuanya pun hanya menatap ke arah


Vicky yang terlihat begitu semangat untuk segera menempati kamarnya.


"Sabar, Mas. Yang lain saja belum pada ke kamar kok, kenapa kit-"


"Sudahlah biarkan saja, sekarang kita ke kamar aja. Aku mau cepat istirahat," jawab Vicky, seraya memberikan kode tetapi Hyuna belum bisa mengerti apa yang suaminya maksud.


"Ayo, Pa! Yeeey, akhirnya Wildan bisa tidur bareng sama Mama dan Papa. Horee ...."


Wildan bersorak penuh kebahagiaan, akhirnya waktu yang dia nantikan selama ini bisa datang juga. Dimana dia seperti kurang kasih sayang seorang Ibu, sehingga setelah adanya Hyuna kehidupan Wildan seakan berubah dan lebih berwarna lagi.


Semua orang tersenyum melihat aksi Wildan yang sangat menggemaskan ketika melompat kegirangan dalam keadaan kedua tangan diangkat ke atas.


Wildan lalu merengek sambil menarik tangan Vicky dan juga Hyuna. Bisa dipastikan, bila ternyata disini yang lebih semangat untuk tidur dengan Hyuna adalah Wildan, bukan Vicky yang sudah resmi menjadi suaminya.


"Ck, lepaskan tanganmu itu dari istriku!" ucap Vicky, mencoba untuk melepaskan tangan mungil Wildan dari tangan Hyuna.


"Is, Papa apaan sih? Wildan pengen ikut, lagian juga Papah itu udah besar. Jadi yang tidur sama Mama itu Wildan, bukan Papa!" sahut Wildan, kesal. Ketika Vicky selalu berusaha untuk menghalanginya.


"Apa-apaan ini? Aku ini suaminya, jadi aku yang berhak tidur dengan istriku. Bukan dirimu, makhluk kecil yang menyebalkan!"


Perdebatan itu mulai terjadi membuat Hyuna bingung, dia harus bagaimana? Disatu sisi ini memang malam pertamanya, jadi tidak salah bila Vicky sangat ingin tidur dengannya.


Namun, disisi lain Hyuna juga kasian melihat Wildan. Dikarenakan dia sudah sangat lama tidak merasakan tidur dengan seorang Ibu yang selalu ada di sampingnya. Sehingga, Hyuna berada di tengah-tengah. Dia tidak tahu harus melakukan apa agar membuat keduanya bisa sama-sama mengerti.


"Kau tidurlah sama Omamu itu, biar aku tidur sama Mamamu. Hari ini aja!" ucap Vicky, yang tetap tidak mau mengalah.


"Papa aja yang tidur sama Oma, biar Wildan tidur sama Mama, hari ini aja!" sahut Wildan mengikuti gaya ucapan Vicky.

__ADS_1


"Kau-"


"Sudah, jangan pada berantem. Dua-duanya boleh kok tidur sama Mama. Jadi jangan berebut ya, oke?" ucap Hyuna, berhasil membuat wajah Vicky menjadi tercengang. Dia tidak percaya bila istrinya malah memihak pada anaknya, bukan suaminya.


Semua yang dari tadi terdiam, berusaha untuk menahan tawa ketika perkataan Hyuna berhasil membuat singa jantan yang kelaparan seketika ma*ti kutu.


"Yeeyy, asyik. Wildan bisa tidur sama Mama horee, wlee ...." Wildan meledek Vicky dengan gaya khas anak kecil yang sangat menyebalkan.


"Oh, tidak bisa! Dia milikku, maka aku yang boleh menentukan dia harus tidur dengan siapa. Ngerti!"


Tanpa di sadari Vicky langsung menarik pinggang kecil istrinya untuk berada di dalam pelukannya sehingga membuat semuanya terkejut. Begitu juga Wildan, matanya sudah berkaca-kaca dan akhirnya dia pun menangis.


"Hiks ... Papah jahat, Papah tidak sayang dengan Wildan. Bukannya selama ini Wildan yang minta Mama, tapi kenapa Wildan tidak boleh tidur sama Mamah? Hiks ...."


Tangis Wildan pecah membuat Hyuna langsung berusaha melepaskan pelukan suaminya, sementara Vicky pun menjadi bingung. Sebenarnya dia cuman ingin bermanja dengan istrinya, bukan sengaja membuat anaknya menangis.


Akan tetapi, Wildan malah salah sangka kepadanya. Padahal jelas-jelas Vicky hanya meminta untuk malam ini saja, supaya dia bisa menuntaskan apa yang sedang dia tahan saat ini.


"Aduh, anak Mamah jangan nangis ya. Sini peluk dulu," cicit Hyuna menyamaratakan tinggi Wildan, lalu memeluknya.


Melihat kegelisahan di wajah Vicky, membuat Vanes langsung turun tangan. Dia pun mencoba untuk membuat cucunya mengerti, dengan bahasa yang mudah di pahami oleh anak seusia Wildan.


"Untuk malam ini Wildan tidur sama Oma dulu ya, biarkan Papa tidur sama Mama. Mereka pasti lelah, nanti kalau ada Wildan mereka tidak bisa tidur dengan nyenyak. Hari ini aja kok, besok gantian Wildan bisa tidur sama Mama. Gimana?"


"Ta-tapi, Oma. Wildan mau tidur sama Mama hari ini,"


"Katanya Wildan mau punya Adik, kalau Wildan tidur sama Papa dan Mama, gimana Wildan bisa cepat-cepat punya Adik?" ucap Vanes yang mencoba untuk merayu cucunya, tetapi dia merasa sebal juga dengan Vicky yang tidak mau mengalah.


"Nah, benar tuh kata Omamu. Malam ini Papa mau buat Adik sama Mamamu, jadi kau tunggu aja hasilnya."


Vicky langsung menyambar saking gemasnya dengan anaknya yang sedikit menyebalkan ini. Sementara Hyuna, wajahnya sudah merah padam menahan rasa malu ketika semuanya membahas masalah adik untuk Wildan.


"Ya, kalau Papa mau buat Adik sama Mama. Wildan bisa kok bantuin, biar cepet jadi Adiknya. Kalau lama-lama nanti Wildan keburu besar."


Degh!

__ADS_1


Perkataan polos Wildan berhasil mengundang gelagat tawa dari semuanya, yang merasa lucu. Bocah seusia Wilda berniat membantu kedua orang tuanya untuk membuatkan Adik.


"Ya, enggak, enggak, enggak! Kau itu bukannya bantuin, melainkan ngerecokin. Bukannya jadi malah amsyong!" sahut Vicky, yang sudah benar-benar kesal dengan anaknya yang tidak mau mengerti.


Wildan kembali menangis dengan segala amarah yang dia lontarkan. Wajar, bila kekesalahn Wildan meronta-ronta. Karena dia memang sangat merindukan sosok seorang Ibu.


Pada akhirnya Vanes berhasil untuk menjinakkan singa kecil yang sedang mengamuk itu, untuk lebih mengerti. Vicky pun sudah berjanji bila dia akan mengizinkan keesokan harinya agar Wildan bisa tidur bersamanya. Yang terpenting, malam ini Vicky bisa menuntaskan apa yang sudah dia tahan selama ini.


"Ya udah, Wildan tidur sama Oma. Besoknya Wildan tidur sama Mama ya, Papa janji enggak ngusir Wildan lagi?" ucap Wildan dengan sorotan mata yang sangat sedih, membuat Wildan tidak tega dengan anaknya itu.


"Ya, papa janji. Jadi, sekarang papa boleh ke kemar dengan Mamamu?" tanya Vicky, langsung diangguki oleh Wildan dengan berat hati.


Setelah itu dia pun pergi bersama istrinya, disaat Hyuna sudah berpamitan dengan yang lain. Selepas mereka pergi, semua pun ikut pergi ke kamarnya masing-masing untuk beristirahat.


Ceklek!


Pintu hotel terbuka, lalu Vicky menyuruh istrinya masuk lebih dulu ke dalam hotel yang telah di di desain seperti kamar pengantin.


Riasan bunga mawar sangat dominan di dalam kamar tersebut, beserta lilin aromatic yang bisa menambahkan kesan kenyaman tersendiri ketika mereka tertidur.


Mata Hyuna membelalak saat dia melihat betap indahnya kamarnya saat ini, sampai dia tidak sadar Vicky sudah mengunci pintunya. Kemudian berjalan perlahan mengikuti langkah istrinya dari arah belakang.


Degh!


Vicky memeluk pinggang Hyuna dari arah belakang. Dia mulai mendusel-duselkan wajahnya di sela-sela leher Hyuna. Hingga berhasil membuat Hyuna terdiam membeku merasakan aliran listrik menyengatnya.


"Aku mencintaimu, Hyuna." ucap Vicky dengan suara paraunya.


"A-aku lebih-lebih mencintaimu, Mas." ucap Hyuna, terbata-bata sambil menelan air liurnya sangat kasar.


Disaat tangan Vicky mulai berlari kesana-kemari, Hyuna langsung menjauh darinya dan berbalik menatap wajah sang suami.



__ADS_1



Tbc.


__ADS_2