Runtuhnya Janji Suci Pernikahan

Runtuhnya Janji Suci Pernikahan
Bab. 59. Sudah Putus Hubungan.


__ADS_3

Hyuna merasa heran kenapa ada banyak sekali panggilan tidak terjawab dari Riska, apakah terjadi sesuatu pada wanita itu?


"Ada apa, Kak?"


Yudha yang sejak tadi memperhatikan sang kakak memgernyit heran saat melihat ekspresi wajah Hyuna.


"Ini, ada banyak sekali panggilan tidak terjawab dari Riska,"


"Riska?"


Hyuna langsung menganggukkan kepalanya sambil bersiap untuk menelepon Riska, entah kenapa dia merasa khawatir dengan wanita itu saat ini.


"Riska mantan adik ipar Mbak?"


Hyuna mengalihkan pandangannya dari ponsel dan melihat ke arah sang adik. "Iya. Tumben sekali dia nelpon sampai banyak gini, mbak jadi khawatir."


Tiba-tiba Yudha langsung merebut ponsel Hyuna membuat wanita itu tersentak kaget, lalu menatapnya dengan bingung.


"Ada apa, Dek? Kenapa kau ngambil ponsel mbak?" tanya Hyuna dengan terheran-heran.


"Mbak udah enggak ada hubungan apapun lagi sama mereka, jadi untuk apa Mbak sibuk nelpon wanita itu?"


Hyuna terkesiap saat mendengar ucapan Yudha. "Apa maksudmu, Dek? Mbak cuma mau nanyak kenapa Riska nelpon, itu aja." Dia menatap Yudha dengan bingung.


"Enggak perlu, Mbak. Terserah mereka mau kayak gimana, dan siapa yang peduli sama semua itu?" Yudha menatap kakaknya dengan tajam. "Mereka saja tidak peduli pada Mbak, jadi cukup. Anggap Mbak tidak kenal dengan mereka, jadi tidak perlu khawatir atau apapun itu."


Hyuna hanya bisa menatap Yudha dengan mata melebar dan mulut terbuka, sungguh dia tidak menyangka jika adiknya akan berpikir seperti itu.


"Lebih baik Mbak sekarang istirahat."


Hyuna tersentak kaget dan kembali mendapat kesadarannya. Kemudian dia memegang tangan Yudha membuat adiknya tidak jadi melangkah pergi.


"Mbak tau apa yang kau maksud, Dek. Dan apa yang kau katakan itu memang benar, jika Mbak tidak ada hubungan apapun lagi dengan mereka." Hyuna tersenyum sambil menganggukkan kepalanya.


"Tapi bukan berarti jadi seperti yang kau katakan, Dek. Pernikahan mbak dan mas Aksa memang sudah berakhir, tapi hubungan persaudaraan mbak dengan adik-adiknya tidak bisa diputuskan, setidaknya hubungan kita sebagai sesama manusia,"

__ADS_1


"Lalu ke mana mereka saat mbak diperlakukan dengan tidak adil waktu itu?" tanya Yudha dengan tajam. "Jika apa yang Mbak katakan benar, seharusnya mereka merangkul dan melindungi Mbak sebagai saudara. Setidaknya sebagai sesama manusia seperti apa yang Mbak katakan. Tapi, kenyataannya tidak ada, kan?"


Hyuna menghela napas kasar. Andai yang dikatakan adiknya menjadi kenyataan, pasti tidak akan ada yang berani menyakiti hati orang lain.


"Kau benar, Dek. Tapi mereka juga membela mbak, kok. Apalagi Ruby, dia benar-benar membela mbak sampek akhir," ucap Hyuna sambil mengusap lengan Yudha.


Yudha hanya menghela napas kasar, apapun yang dia katakan pasti tetap akan dibantah oleh kakaknya itu.


"Dia sedang hamil, jadi mbak khawatir," ucap Hyuna sambil mengambil ponselnya kembali lalu menghubungi Riska.


Yudha mengernyitkan kening saat mendengar ucapan sang kakak. Bukankah adiknya Aksa belum ada yang menikah? Lalu, kenapa Riska sedang hamil?


Tidak mau ambil pusing, Yudha memilih untuk beranjak ke kamarnya. Jika dia sampai mendengar suara Aksa, mungkin emosinya akan kembali meledak.


Hyuna sendiri sedang sibuk menghubungi Riska, tetapi sudah beberapa kali ditelepon nomor wanita itu tidak aktif.


"Kenapa gak aktif?"


Hyuna benar-benar merasa sangat cemas, dia lalu segera menghubungi Ruby untuk menanyakan bagaimana keadaan Riska saat ini.


Nova terus melihat ke arah Riska yang kini terbaring tidak berdaya. Hatinya terasa sakit hingga membuat air mata kembali menetes, apalagi saat memikirkan bagaimana masa depan putrinya itu kelak.


"Anakku, kenapa semua ini bisa terjadi? Kenapa kau menghancurkan hidupmu sendiri, kenapa?"


Nova mengusap kaca yang ada di hadapannya, seolah sedang mengelus kepala sang putri.


Ruby yang juga sedang menatap Riska dengan sendu terlonjak kaget saat tiba-tiba mendengar dering ponselnya, dengan cepat dia mengambil benda pipih itu untuk melihat siapa yang sedang menelepon.


"Mbak Hyuna?" Ruby menatap ponselnya dengan heran, tumben sekali Hyuna meneleponnya di jam segini.


Aksa yang mendengar ucapan Ruby langsung menatap adiknya itu. "Apa Hyuna meneleponmu?"


Ruby mendongakkan kepalanya dan menatap ke arah sang kakak. "Iya, ini-" Dia tidak dapat melanjutkan ucapannya karena ponsel itu langsung di ambil oleh Aksa.


"Halo, Hyuna." Aksa langsung menjawab panggilan Hyuna dengan senang.

__ADS_1


Hyuna yang ada di sebrang telepon mengernyitkan kening saat mendengar suara Aksa.


"I-iya, Mas. Apa aku bisa bicara dengan Ruby?"


Dia langsung menanyakan tentang Ruby karena tiba-tiba mengingat ucapan Yudha tadi, dan entah kenapa dia jadi merasa tidak nyaman saat mendengar suara laki-laki itu.


"Dia sedang ada di samping. Oh ya, ada sesuatu yang ingin aku bicarakan denganmu, Hyuna. Bisakah kita bertemu?"


Hyuna terdiam saat mendengar ucapan Aksa. Memangnya untuk apa laki-laki itu mengajaknya bertemu? Apa sedang terjadi sesuatu?


"Aku menelpon karna ingin menanyakan kabar Riska, Mas." Hyuna memutuskan untuk tidak menanggapi ucapan laki-laki itu. "Semalam itu dia menelponku, tapi tidak bisa ku angkat."


Aksa langsung menghela napas kasar saat mendengar ucapan Hyuna, sampai membuat Ruby yang ada di sampingnya merasa penasaran.


"Riska, Riska ada di rumah sakit Hyuna,"


"Apa, rumah sakit?"


Hyuna langsung berdiri dari duduknya saat mendengar ucapan Aksa, lalu laki-laki itu menceritakan apa yang sudah terjadi pada Riska.


"Innalillah, aku akan segera ke sana. Assalamu'alaikum."


Hyuna langsung mematikan panggilan itu tanpa menunggu jawaban Aksa, kemudian dia beranjak ke kamar Yudha untuk mengajak adiknya itu pergi.


"Aku enggak mau!" tolak Yudha mentah-mentah, jangan harap dia mau pergi untuk bertemu dengan Aksa dan keluarga laki-laki itu.


"Kita harus melihat keadaan Riska, Yudha. Dia baru saja selesai di operasi karena mengalami keguguran, bahkan rahimnya terpaksa diangkat oleh Dokter,"


"Apa?"




__ADS_1


Tbc.


__ADS_2